
Kevin mengacak rambutnya frustasi, sedari tadi dia sudah berada di rumah, fikirannya tetap tertuju pada adiknya. Dia merasa bersalah telah membuat adiknya terjatuh di bawah dunia Park Hoon apalagi lelaki itu sering mengingkari janjinya.
Suster Han Jae masuk kedalam ruangan Kevin membawa tumpukan map
"Dokter, ini data pasien yang bergolong darah A" ucap Han Jae sembari menatap lekat kearah Kevin
"Oh ya, terimakasih Han Jae"
"Apa ada yang mengganggu fikiranmu?"
"Maksudmu?"
"Sedari tadi aku perhatikan kau melamun terus seperti ada yang sedang kau fikirkan" ujarnya.
Kevin hanya melempar senyum manisnya, lalu berdiri untuk merapikan jas putih yang sedari tadi dia kenakan.
"Tidak ada, aku akan pergi sebentar"
Kevin melepas jas putihnya lalu keluar hanya mengenakan kemeja putih, diluar sudah ada Jhonatan yang menunggunya. Lelaki itu tidak pernah melepaskan pengawasan kepada Kevin sedikit pun. Setelah berjalan menuju kearah mobil miliknya, Kevin dan Jhonatan masuk kedalam mobil yang sama, mereka duduk berdua saling terdiam
"Apa Amel baik baik saja?" tanya Kevin kepada Jhonatan. Ya, Jhonatan selama ini baik kepadanya meski dia berstatus anak buah Park Hoon dan kapan saja bisa berpotensi menyakitinya tapi Jhonatan seperti teman untuk kevin.
"Seperti yang aku ketahui, adikmu baik baik saja. Dia tetap sekolah seperti biasanya"
Kevin menacapkan gas menuju kearah Markas Park Hoon ,disana lelaki itu sudah membangun lab khusus untuk Kevin, agar lelaki itu lebih leluasa dalam membut obat mulpong, juga alat disana tidak kalah lengkap dengan di rumah sakit.
Ketika mobil berhenti di sebuah parkiran VVIP, Kevin segera turun diikuti Jhonatan di belakangnya
"Kau tahu sekarang dimana Park Hoon?" tanya Kevin tanpa menoleh kearah lawan bicaranya
"Sepertinya dia sedang sekolah"
Kevin memencet pintu lift, setelah bunyi Lift terbuka lelaki itu langsung menekan kelantai 13 dimana laboratoriumnya berada. Disana ada Syasya yang menyambutnya dengan pakain mini. Sempat membuat dahi Kevin mengerut tapi selepasnya lelaki itu memasang wajah datar.
"Ada apa kau disini Sya?" tanya Jhonatan
"Entahlah, aku hanya ingin kesini" jawab Syasya tanpa mengalihkan pandangannya kearah Kevin. Lelaki itu sempat risih karena setiap Kevin ke Markas gadis itu selalu saja mengekorinya.
Tanpa berkata sepatah katapun Kevin langsung berjalan menuju ruangan laboratoriumnya, berkutik kembali pada penemuannya untuk membuat mulpong lebih banyak agar adiknya bisa selamat.
**
Amel berdecak sebal ketika dia berada diapartemen lelaki itu, justru tidak ada makanan yang bisa dia makan, padahal gadis itu sudah kelaparan.
"Aku lapar" gerutu Amel kembali. didalam kulkas tidak ada satupun makanan, dan yang lebih parah lelaki brengsek itu tidak meninggalkan sepeserpun uang untuknya. Bahkan Alex yang menjaga dia justru tidak ada dan entah pergi setelah Park Hoon berkata dia ada latihan bersama dengan ASP.
Amel mengambil ponsel diatas nakas mengetik nama Park Hoon, oh ya gadis itu sempat lupa dia kan tidak punya nomor ponsel lelaki itu
"Astaga kalau gini caranya aku bisa mati kelaparan" Amel berteriak kencang, seolah dia menyalurkan kemarahannya
"Pengen nasi padang, otak otak, nasi goreng, mie ayam"
"Aaaaaaaa aku laper mama"
Amel berjalan kembali menuju kulkas, membukanya yang hanya ada minuman kaleng, entah karena lapar atau memang Amel malas membaca, gadis itu langsung meneguk saja minumannya.
Ponsel miliknya bergetar, segera Amel berjalan menuju dimana ponselnya berada. Ada nomor baru yang menghubunginya. Tanpa fikir panjang gadis itu langsung memecet jawab.
"Yeobeseo (Halo) " sapa Amel ramah
"Apa Alex sudah kembali kesana?" tanya lelaki diseberang sana. Amel sempat mengernyitkan dahi, merasa bingung dengan sipenelfon ini tapi sedetik kemudian gadis itu membelalakan matanya. Siapa lagi yang menelfon jika bukan Park Hoon
"Hei, kemana saja kau, aku lapar. Kau tidak meninggalkan aku makanan sedikit pun, kau tidak memberikan aku uang. Aku lapar" teriak Amel kencang
"Bringsik, kau bisa berhenti mengoceh tidak. Aku sedang latihan. Nanti pulangnya akan aku bawakan kau makanan"
"Apa? Pulangnya. Kau tahu ini jam berapa? Sekarang sudah jam 11 malam. Kalau aku menunggu latihanmu selesai aku bisa mati"
"Tidak akan"
"Apa katamu? Kau ini gila apa semacamnya. Sudah tahu dari sekolah tadi aku tidak jadi makan gara gara mu"
"Berhentilah mengoceh Amel" ucapan Park Hoon terdengar lembut, seperti mampu membuat Amel sedikit bungkam
"Kau mau makan apa?" tanya Park Hoon masih dengan intonasi lembut
"E- A-aku. Aku mau apa saja yang bisa mengenyangkan perutku" ucap Amel sedikit gemetar
"Baiklah, aku aku pesankan. Kau diam saja disana"
"Kau belum menjawab pertanyaanku"
"Yang mana?" tanya Amel mengernyitkan dahi
"Apakah Alex ada disitu?"
"Aa Alex dia pergi setelah kau pergi. Belum kembali"
"Baiklah, aku hanya memperingatkanmu, jangan coba coba kabur"
"Iya iya crewet" ucap Amel dalam bahasa Indonesia, gadis itu memutuskan sambungan telepon sepihak. Lalu menghentakan kakinya menuju kekamar Park Hoon. Entahlah kenapa, padahal saat ini kesempatannya kabur sangat luas tapi dia merasa sudah pulang ,padahal pulang sebenarnya ada di kakaknya Kevin dan orang tua nya di Indonesia.
Amel mendegus diatas kasur seketika itu matanya terasa berat dan dia mulai mengantuk.
**
Tepat jam 3 pagi Park Hoon kembali keapartemennya, ditatapnya Alex yang berdiri didekat pintu
"Bagaimana hasilnya?" tanya Park Hoon skartistik
"Dia mencoba menipu kita lagi dengan kedok yang sama"
"Hahah dia belum tahu kita siapa ya"
"untungnya sekarang dia sudah kita sekap di gudang"
"Bagus"
Park Hoon hendak berjalan menuju kamarnya namun dia berhenti kala menatap sekotak chiken hot yang dia pesan belum tersentuh
"Apa Amel belum makan?" tanya Park Hoon kepada Alex
"Sedari saya kembali ke apartemen nona sudah tidur bahkan kurir sudah menunggu 30 menit" aku Alex sembari menunduk
Lelaki bertubuh jangkung dan bertelinga caplang berjalan menuju kamarnya, dilihatnya gadis itu tergeletak acak acakan. Rambutnya menutupi wajah mungil miliknya. Bau alkohol tercium di hidung Park Hoon. Ternyata gadis itu kelaparan sekali sampai tidak sadar meminum alkohol di kulkas
**
Amel mengerjap beberapa kali, pandangannya kabur, tapi sedari tadi dia tidak melihat siapapun dikamar, mungkin Park Hoon belum pulang.
Gadis itu berjalan menuju kekamar mandi keluar dari sana hanya mengenakan handuk yang menutupi bagian dada dan atas pahanya.
Amel membuka pakaiannya untuk mengganti dengan pakaian sekolah. Tanpa sehelai pakaian pun dia bersenandung ria.
"Kau sedang menggodaku ya" ucapan seseorang sukses membuat Amel bergetar, dia kira hanya ada dirinya di kamar. Amel masih terpaku tanpa bisa bergerak sedikitpun. Ketika tubuhnya merasa ada sesuatu yang menempel seperti kain dan hembusan nafas diarea lehernya. Gadis itu memaku tanpa bisa bergerak sedikitpun.
Sebuah kecupan singgah di leher jenjang Amel. Gadis itu menahan untuk tidak memekik, bau mentol membuat Amel sadar dia adalah Park Hoon. Tapi sedari tadi dia bangun lelaki itu tidak ada di sana.
Park Hoon sedikit berjongkok sesekali mengecup paha dan bokong Amel. Lalu dia membalutkan handuk yang dibuang asal Amel tadi.
"Setelah kau meminum bir ku semalam sekarang kau berlagak seperti pelacurku saja"
"Aku sudah membuat sarapan, keluarlah"
Park Hoon berjalan keluar kamar semakin membuat Amel menghela nafas lega juga merasa aneh. Kenapa lelaki itu tiba tiba bersikap baik kepadanya.
Dimeja makan Amel sempat tercengang pasalnya ada nasi goreng makanan khas Indonesia yang disajikan untuknya
"Semalam kudengar kau tertindur tanpa menyantap makanan yang sudah kupesan" ujar Park Hoon membuat Amel mendongak
Amel hanya diam memaku, kemudian kembali menyantap makanannya.
"Aku sudah memutuskan" ucap Amel membuat Park Hoon mendongak
"Apa?" tanyanya skartistik
"Aku tidak akan mencoba kabur, kata Alex, jika aku menurut kau akan membawa ku kembali pada kakak"
Park Hoon menatap wajah Amel lekat
"Apa" tantang Amel mendongakkan wajahnya
Lelaki itu mengernyitkan dahinya merasa heran dengan perubahan Amel yang cepat, tadi dia bersikap lembut sekarang lihatlah gaya menantangnya
"Awalnya aku berniat seperti itu sayangnya kau membuat ku marah kemarin"
Amel menatap belis Park Hoon, yang ditatap justru acuh
"Dasar iblis kau mengikari janjimu" teriak Amel