My Idol Is A Mafia

My Idol Is A Mafia
MAFIA Teror



Perlahan lahan tangis Amel sudah mereda, dia tidak lagi takut. Justru sedikit paham kenapa lelaki didepannya ini sering kali kasar dan tak segan segan membunuh. Amel justru memiliki niatan baru untuk membuat lelaki yang ada dipelukannya tidak lagi melakukan hal itu.


Mereka berjalan beriringan smabil berpegangan tangan menuju mobil. Sampai disana, Park Hoon memacukan mobil menuju apartemen.


Amel sudah tertidur lelap di sandaran kursi, lelah setelah belajar seharian ditambah menangis tadi.


Setelah memarkirkan mobil ,Park Hoon menoleh, menatap wajah lelah Amel yang masih terpancar cantik. Sejenak Park Hoon mengusap wajah gadis itu, sejak kapan dia mulai mencintai Amel? Yang dia tahu dia hanya merasa terlindungi berada disisi gadis itu, tidak ada hal lain lagi.


**


Amel melewati koridor sekolah sambil bersenandung ria. Selang beberapa saat suara Eun Ji menggelegar terdengar


"Amell Amelll"


Amel menghentikan langkah, memutar badan dan menatap Eun Ji yang setengah berlari.


"Ya, tunggu aku" katanya langsung menggandeng tangan Amel.


"Dimana Mirae?" tanya Amel


"Entah, mungkin masih pulas dikasur"


Mereka melangkah beriringan, karena masih pagi jadi tidak banyak orang yang melintas di koridor. Dikelaspun hanya ada mereka berdua.


"Sepi sekali, apa hari ini libur?" tanya Eun Ji.


Amel menjitak kepala Eun Ji pelan. Gadis itu mengaduh kesakitan


"Kau yang benar saja, jelas jelas tidak ada pemberitahuan"


Amel meletakkan tas dan berjalan menuju loker.


"Ya. Kau tahu Sehun, ku dengar dia sedang berkencan dengan kakak kelas"


Amel menoleh kearah Eun Ji yang saat ini sudah ada disebelahnya.


"Benarakah? Wah pesona Sehun memang luar biasa"


Amel menekan sandi loker, membuka loker lalu terkejut karena menemukan keadaan lokernya yang seperti itu.


Eun Ji ikut menatap loker Amel, ada bercakan darah ditisu yang diletakkan di loker, keadaan buku Amel yang sudah robek robek serta ada tulisan yang membuat mereka merinding seketika


"Aku akan membunuhmu Amelia Orchida"


Tulisan itu mampu membuat Amel maupun Eun Ji terdiam memangaga. Tulisan yang ditulis warna merah darah, bahkan darah itu masih mengalir dalam kertas seperti baru saja di tuliskan.


"Amel, apa kau tahu siapa yang menulisnya?" tanya Eun Ji disaat kesunyian menyekat sangat lama.


Amel hanya mampu menggeleng, dia begitu takut dengan darah apalagi ini darah yang terlihat nyata.


"Hello good morning"


Suara Mirae membuat Amel reflek menutup loker dengan bantingan keras.


"Ya, Mirae kau tahu loker_____"


Ucapan Eun Ji langsung dipotong oleh Amel cepat


"Eun Ji"


Eun Ji menoleh, membulatkan mata lalu menatap Mirae yang berdiri bingung


"Ada apa?" tanyanya


"Tidak, aku melupakan sandi lokerku"


"Oh ghost kau selalu pelupa Eun Ji"


Mirae mengjadiahi pukulan pada dahi Eun Ji. Meski dia tidak mengaduh kesakitan, namun tetap tidak membuat Mirae curiga.


"Kau sudah dengar kabar?" Mirae langsung menarik kursi. Menatap Amel dan Eun Ji yang diselimuti tanya.


Mereka hanya melongo. Bukan terarah pada cerita Mirae melainkan pada tisu yang bercampur darah.


"Mirae, aku ingin ketoilet" buru buru Amel berlari kecil ketoilet sambil menarik tangan Eun Ji. Untungnya Mirae tidak banyak bertanya.


Sampai di toilet, mereka berdua terdiam lama.


"Apa kau pernah memberitahukan sandi lokermu pada yang lainny" tanya Eun Ji was was


Amel menggeleng, mengigiti jari kukunya.


"Aku tidak pernah memberitahukannya" jawab Amel kemudian.


"Eun Ji'a, kau membuatku takut"


"Ha ha ha" Eun Ji justru tertawa lebar. "Sudahlah kita lupakan saja kejadian tadi, anggap saja itu hanya keisengan teman sekelas"


Amel memilih melupakan kejadian lokernya. Saat dia berjalan bersama Eun Ji melewati koridor. Min Hyuk datang menghampiri.


"Nanti makan siang bareng ya" pinta Min Hyuk pada Amel.


Eun Ji hanya memberikan reaksi deheman.


"Boleh" jawab Amel tanpa ragu.


Setelah berpisah dengan Min Hyuk, mereka Amel dan Eun Ji masuk kelas disusul wali kelas Yoona.


**


Park Hoon mengetukkan jari diatas meja. Menatap laporan keungan yang diberikan SyaSya padanya.


"Kemarin. Aku mengajak Amel menemui ibu" suara itu lirih dilafalkan Park Hoon.


Syasya mengangguk "apa tuan sudah yakin soal Amel?" tanya Syasya


"Entahlah, aku hanya merasa terlindungi didekatnya" Park Hoon mengalihkan tatapan dari tablet ke jendela "ngomong ngomong. Bagaimana kabar Kevin?"


"Dia masih sibuk dengan pekerjaannya, tidak banyak pergerakan dan perlawanan yang dia lakukan" jawab Syasya.


"Aku menaruh curiga pada Jhonatan"


Park Hoon berdiri ,merapikan jas dan berjalan mengambil minuman.


"Sebenarnya___"


Tok tok


Bersama dengan ucapan Syasya, Alex keluar dari balik pintu. Lelaki bermata elang, dengan tatapan dingin itu berjalan kearah Park Hoon. Dia membisikan sesuatu, sesuatu yang mampu untuk membuat Park Hoon membanting kaleng sodanya.


"Brengsek, berani beraninya dia main main dengan ku"


Park Hoon meenggeram dengan mata menyolot kemarahan


"Tangkap Saboro, lelaki tua biadap" pungkas nya langsung berjalan pergi meninggalkan ruangan.


Dia menuruni pintu lift, menggunakan penyamaran dan memacu mobilnya menuju rumah sakit Kevin.


Dia tidak akan mengambil resiko untuk mendatangi dokter itu, yang perlu dia lakukan hanyalah membuat Kevin yang mendatanginya.


Sampai di halaman rumah sakit, Park Hoon mendial nomor Kevin, berhasil membuat lelaki itu menghentikan pemeriksaan pasien dan berjalan menemuinya didalam mobil.


Jhonatan tampak menjaga dari luar mabil. Didalam sana mereka sama sama terdiam hanya asap rokok dan hembusan dari mulut Park Hoon yang terdengar.


"Ada apa?" suara dingin Kevin mulai terdengar.


"Tidak, aku hanya ingin mengecekmu"


Kevin tertawa, menoleh Park Hoon dengan tatapan garang "kau fikir aku anak kecil, setelah kau menjebakku disini dan sekarang kau mengatakan ingin mengecekku. Aku rasa Park Hoon belum sebodoh itu"


Park Hoon tertawa renyah "syukurlah kau menyadarinya"


"Kudengar kau bertemu dengan Hidoyeshi akhir akhir ini"


Park Hoon menghembuskan asap, sehingga kebulan itu tepat didepan Kevin. Tidak ada waktu untuk menghidari kebulan asap itu, yang diperlukan dia saat ini adalah mencari celah untuk mengelak.


"Kenapa, bingung mengelaknya?"


Park Hoon menyeringai


"Jangan macam macam denganku, kalau kau lupa, Amel sedang berada ditanganku sekarang" pungkas Park Hoon menantang


Kevin tertawa, menoleh kearah Park Hoon yang saat ini sudah ingin meledakkan pistolnya tepat dikepala Kevin.


"Kau fikir kau bisa melukai dia" Kevin menjeda "kau sudah menggap Amel lebih dari tahananmu kan"


Park Hoon terdiam, kenyataan dimana dia sudah menaruh hati pada gadis itu memang tidak bisa dibantah lagi. Dia memilih diam, mengikuti permainan para musuhnya termasuk Kevin


"Ada apa, sepertinya diam mu membenarkan ucapanku tadi"


Kevin menatap Park Hoon penuh kemenangan, setelah nya dia membuka pintu, sebelum benar benar pergi, dia mengetuk kaca mobil sehingga kaca itu turun sebagian


"Aku mengingatkan sekali lagi, jangan macam macam berkeliaran di rumah sakit ini, kalau tidak ingin ada orang yang mengetahui keiblisanmu"