
Min Hyuk menarik tubuh Amel supaya gadis itu tidak terjatuh dari atap. Lalu yang dia lakulan selanjutnya adalah tertawa renyah seolah ada sesuatu yang membuatnya mampu mengaduk perut untuk tertawa.
"Ha ha ha" Min Hyuk memegangi perut.
"Kenapa kau gugup sekali?" tanyanya.
Mata Min Hyuk tidak sepekat tadi, sudah berubah melemah bersama cara pandang nya yang kembali teduh.
Amel menghela nafas, mungkin agak terdengar seperti berat.
"Kau baru saja terlihat seperti orang yang ingin membunuhku" tukasnya.
Min Hyuk masih tertawa puas, menyisir rambut kebelakang dengan jari jemarinya. Mengusap rambut Amel dengan lembut.
"Aku hanya takut untuk menghianatimu nanti"
Amel menatap Min Hyuk, menatap wajah lelaki itu yang seperti tengah menyimpan banyak pemikiran.
"Maksudmu?" tanyanya.
"Tidak apa apa, mari turun"
Aneh, Min Hyuk menggenggam tangan Amel, menggenggam jemari itu sepeeti tengah menggandeng kekasihnya. Dan Amel tidak bisa menolak, genggaman itu dia rasakan semakin menguat. Sampai saat mereka menuruni tangga, melintasi koridor hingga bertatapan dengan para siswa, tangan itu tetap tidak terlepas.
Sehun yang berada di depan kelas melirik genggaman tangan mereka.
"Woaaaww apakah kalian baru saja mendeklarasikan hubungan?" tanya Sehun menghadang jalan keduanya.
Amel mendelik. Tentu kaget dengan ucapan Sehun. Buru buru dia melepaskan genggaman tangannya dari tangan Min Hyuk.
"Apa yang kau bicarakan?" tanya Amel pura pura tidak mengerti.
"Hey hey, mengakulah, kalian baru saja bergandengan tangan dari atap. Apa kalian habis berciuman?"
Suara Sehun teedengar lantang, mengundang teman temannya untuk langsung terfokus pada Amel.
"Mengarang saja" Amel melewati Sehun dengan kesal. Memandang teman sekelasnya yang sudah memandanginya.
Dia tidak perduli tetap melangkah ke arah loker dan membukanya.
Ghost, dia terpaku sebentar. Bangkai burung yang tergeletak didalam lokernya membuat Amel benar benar memaku. Kepala burung itu sudah terpenggang, kakinya sudah terpisah. Ada secarik surat yang diletakkan diatas sayap burung.
"Sebentar lagi kau akan bernasib sama"
Sialan, siapa yang tega membunuh burung hingga menjadi seperti ini. Amel ketakutan tapi dia tidak mungkin mengucapkan kalimat itu kepada teman temannya. Pilihan dia adalah menutup loker itu dan berjalan duduk seolah tidak terjadi apa apa.
Ini sudah teror yang dia amalami semingguan. Amel merasa takut apalagi pesan pesan yang diterimanya semakin membuat seperti diawasi setiap waktu.
**
Park Hoon berdiri diatas stage, melakukan gerakan dance dan bernyanyi hingga keringat bercucuran. Selesai acara mereka turun dan berkumpul diruangan khusus ASP.
Park Hoon melepaskan jaket yang dia kenakan untuk manggung barusan. Dibantu penata makeup untuk menghapus makeupnya. mereka tidak banyak bicara, sama sama membersihkan makeup.
"Park, dua hari ini kau tidak menginap di dormn, kau kemana?" tiba tiba Kang Chul membuka suara ditengah keheningan.
Zhan dan Lee Chan tidak banyak memperhatikan keduanya karena jarak duduk yang berjauhan.
Park Hoon tidak lagi tertawa, justtu dia mengangkat tangan dan menunduk.
"Sisanya biar aku yang membersihkan sendiri" tukasnya pada perias makeup.
Gadis itu berjalan pergi keluar ruangan ,sehingga di meja rias hanya ada Park Hoon dan Kang Chul yang sama sama menatap pantulan kaca.
"Aku sedang banyak urusan" jawab Park Hoon cuek.
"Aa, sesibuk itukah kau?" tanya Kang Chul sambil menyeringai
"Ya, Zhan, bagaimana kalau hari ini kita pergi kerumah Park Hoon, apa kau setuju?"
Zhan mendongak, sedangkan Park Hoon mengurungkan niatnya berdiri. Dia menatap Kang Chul dengan kerutan diwajahnya.
"Bolehkan kami mengunjungi rumahmu?" tanyanya dengan menyeringai.
Park Hoon sepenuhnya tahu bahwa Kang Chul hanya berniat menjatuhkannya saat ini.
"Hyung, aku ingin pergi mengunjungi nenek sebentar, nanti kabari aku jika kalian akan kerumah" setelahnya dia pergi melewati Manajer Ji Wok yang berada di ambang pintu.
Sesekali Park Hoon menunduk, menyapa para staf dengan keramahannya. Menggunakan masker dan melintasi jalan belakang supaya tidak bertemu para wartawan dan penggemar. Dia memacu mobilnya menuju club, dengan pacuan yang cepat sehingga mobil itu melesat dengan sempurna dijalanan.
Sampai disana dia melemparkan kunci mobil ke pengawal yang bersiaga di pintu VVIP. Sambil mengendorkan dasi dia mendorong pintu ruangannya.
Duduk, dan menyesap sebantang rokok, dia memperhatikan sesekali sebuah tablet yang baru beberapa detik di sodorkan Alex.
"Apa Saboro sudah di Korea?" tanyanya.
Alex mendekati Park Hoon. Dia mengangguk sekilas.
"Dia ada di markas sekarang tuan"
"Bagus" senyum licik itu lagi lagi tercetak di wajah Park Hoon.
Dia berdiri, merapikan jas dan pergi lebih dulu dibandingkan Alex. Park Hoon tidak akan menggunakan mobilnya melainkan ikut duduk di belakang mobil pengawal.
Sampai digedung kumuh yang mereka sebut markas. Sebenarnya gedung ini terletak di dalam hutan, dengan pintu yang sudah reot, bangunan tua serta beberapa kaleng kaleng berserakan.
Park Hoon berjalan sembari mengamati jam tangan. Ini hanya tentang waktu bagaimana anak buahnya satu persatu akan mati ditangan Park Hoon jika berani menghinatinya.
Saboro yang terikat di kursi meronta meminta dilepaskan. Sorot mata ketakutan serta bekas pukulan yang menghiasi wajahnya.
"Sialan, brengsek" suara itu langsung menyambut Park Hoon kala plaster dilepaskan dari mulutnya.
Park Hoon hanya tertawa terbahak bahak saat suara Saboro menghilang ketika Alex menodongnya pistol.
"Aku juga ingin tahu kenapa aku bisa sebrengsek ini"
Park Hoon mendekati Saboro, lelaki tua bangka yang berani menghianti kerja sama dengan Park Hoon.
Lelaki jangkung bertelinga caplang itu menggeser kursi dan duduk di depan Saboro. Dia mengangkat sebelah kakinya. Mengeluarkan sebantang rokok dan menyulutnya.
Beberapa detik, hening yang menakutkan terasa diruangan. Park Hoon sesekali menyeringai saat kebulan asap rokok memenuhi ruangan.
"Kau tahu" Park Hoon membuang putung rokoknya, kali ini dia memainkan pistol yang ada digenggaman "Aku membenci seseorang yang menghianatiku"
Dia memompa pelatuk pistol kemudian meletakkan pistol pada dahi Saboro.
Lelaki itu gemetar, tidak mampu bergerak sedikit pun.
"Apa yang sudah kulakukan sampai kau menyebutku menghianti?"
"Ha ha" Park Hoon tertawa renyah
"Bukankah kau yang melepaskan adik Jhonatan?" dia menyeringai sambil mengelus elus wajah Saboro dengan pistol
"A_Aku" Saboro mulai tergagap
"Mau menyangkalnya eh?"
Park Hoon menekan kuat dahi Saboro
"Kau yang melepaskan Jesica dan membiarkan gadis itu lolos bersama anakmu kan"
Saboro menciut, tidak berani meronta atau pun menyangkalnya. Dia tahu saat ini nyawanya diambang kematian.
"Pertama tama"
Park Hoon berjalan dibelakang Saboro
"Aku ingin mempermainkan anakmu dulu" katanya
"Bagaimana dengan permulaan melihat ayahnya mati"
Dorr
Selanjutnya adalah darah yang mengalir pada kepala Saboro. Lelaki tua itu ambruk kelantai bersama dengan seringai puas dari Park Hoon.
Apa sekarang dia terlihat menakutkan? Dia hanya membenci sebuah penghianatan.