
Kevin duduk di kursinya sambil menatap wajah serius Kang Chul. Sejak pertemuannya di lorong tadi Kevin tidak bisa bernafas lega. Kang Chul tidak pernah seserius ini sebelumnya.
"Ada apa?" Tanya Kevin
"Tidak, hanya saja aku ragu ingin membicarakan ini" ucap Kang Chul "jadi begini"
Kang Chul memajukan tubuhnya kedepan "aku tahu siapa yang menikam Amel, hanya saja aku tidak yakin untuk mengatakan ini"
"Bicaralah" ujar Kevin
"Yang menikam adikmu adalah Jhonatan"
Kalimat Kang Chul membuat Kevin mengernyitkan dahi "apa maksudmu, Jhonatan tidak mungkin melukai adikku" jawab Kevin bersikeras
"Kau tahukan Jhonatan, dia adalah anak buah Park Hoon jadi " Kang Chul menjeda kalimatnya
"Kau pasti bisa menebak siapa dalang dari ini semua" ujar Kang Chul,
Lelaki itu bangkit
"Maaf aku tidak bisa berlama lama disini" ucap Kang Chul "akan mencurigakan jika seseorang melihat aku menemui mu"
Kevin tidak menjawab, dia masih terdiam bahkan bungkam seribu bahasa. Benarkah Jhonatan yang sudah dia anggap sebagai teman mengkhianatinya? Benarkah Park Hoon yang tega mencelakai adiknya? Bukankah lelaki itu mencintai Amel ?
Kevin menggenggam tangannya kuat kuat. Dia memukul pinggiran sofa.
"Brengsek " umpatmya tertahan.
**
Amel menarik senyum saat melihat Park Hoon bermain gitar didepannya. Kondisi tubuhnya semakin membaik apalagi perawatan disini dan kehadiran lelaki jangkung didepannya. Park Hoon menghentikan permainan senar, dia menatap wajah Amel lekat.
"Mau ku nyanyikan lagu apa lagi?" Tanya Park Hoon dengan suara serak yang menenangkan. Amel menarik senyum lagi.
Park Hoon mengangkat alis, dia bingung saat Amel menatapnya selekat itu.
"Ada apa? Ada yang menganggu fikiranmu?" Tanya Park Hoon was was.
Amel menggeleng "tidak ada, aku hanya bahagia melihatmu seperti ini"
Park Hoon mencimbikan bibir, lalu menarik sebelah bibirnya.
"Maksudmu seperti ini bagaimana?"
Park Hoon menarik kursi supaya mendekati brangkar Amel, dia meletakkan gitar disisi brangkar, lalu menarik tangan Amel dan mengecup nya.
"Aku suka saja saat kau terlihat normal seperti yang lainnya"
Amel mengelus puncak kepala Park Hoon, lelaki itu membenamkan wajahnya di telapak tangan Amel.
"Maksudmu selama ini aku tidak normal?" Park Hoon tidak mengenyahkan wajahnya dari tangan Amel.
"Bukan begitu, hanya saja" Amel menghentikan kalimatnya , dia menarik sudut bibir untuk tersenyum "aku tidak menyukai saat kau bersikap kasar kepada siapapun"
Park Hoon mengangkat keplanya "kau sudah mengatakannya"
Dia tidak marah ataupun tersinggung justru memejamkan matanya dan mengecup punggung tangan Amel.
"Sudah, hentikan" Amel mengusap rambut Park Hoon
"Aku Penasaran, orang seperti apa yang bisa membuat mu jatuh cinta?"
"Seperti dirimu" jawab Park Hoon cepat
Amel tertawa, tawa yang renyah "kau yakin menyukaiku?" Tanyanya menggoda
Park Hoon tersenyum, kali ini dari bulatan matanya terpancar sebuah ketulusan yang tidak pernah Park Hoon berikan pada siapapun
"Aku bahkan lebih menyukai mu dibandingkan ayahku"
Amel menarik tangannya, lalu memukul lengan Park Hoon pelan.
"Kau kan psikopat, jadi kau tega membunuh ayahmu sendiri"
Park Hoon bangkit lalu mencekal kedua tangan Amel.
"Kau mau tahu bagaimana psikopat ini bermain"
Dia mengecup dengan lembut bibir Amel, memainkan bibir wanita itu dengan lembut. Amel membalasnya, tidak lama karena geseran dari pintu itu menghentikan mereka.
Park Hoon berdecak lalu berjalan dan duduk di sofa. Dia menyenderkan punggungnya menatap wajah Kevin yang tengah memeriksa Amel.
"Aku ingin tahu, seroang mafia seperti apa yang bisa jatuh cinta dengan seorang wanita polos seperti adikku ini"
Ucapan Kevin tidak semena mena untuk Amel justru sengaja dia berikan untuk Park Hoon.
"Ahh " Park Hoon melonggarkan duduknya "aku juga penasaran tentang hal itu" dia menarik senyum
Kevin menegakkan tubuhnya, lalu dia berjalan pergi. Saat kepergian Kevin Amel menegakkan duduknya dan menatap wajah masam Park Hoon.
"Bisakah kau sedikit ramah pada kakak ku, bagaimana jika dia tidak merestui hubungan kita?" Ucap Amel.
"Tenang saja pistolku yang akan membuat dia merestui hubungan kita"
Mendengar kalimat Park Hoon , Amel langsung mencimbikan bibirnya.
"Ha ha " Park Hoon tertawa, mengacak rambut Amel dengan lembut
"Oppa akan ke drom, manajer meminta oppa ke sana" goda Park Hoon dengan menyebutkan dirinya oppa.
"Oppa apa, aku lebih suka memanggilmu pak mafia" Amel menjulurkan lidah.
Park Hoon hanya melambaikan tangan tanpa berniat membalas godaan amel.
**
Di drom Park Hoon dan Lee Chan sibuk bermain, mereka bermain baduk. Meski Lee Chan selalu berkahir mencak mencak kalau kalah.
"Aku tidak mau melanjutkannya" kata Lee Chan merajuk.
"Ayolah hyung, ini hanya permainan, tidak apa apa kalah" bujuk Park Hoon
"Kau selalu begitu, kau selalu mengalahkan ku"
Lee Chan bangkit dan menghentakan kakinya. Dari belakang Park Hoon merangkul Lee Chan
"Hyung sarangheooo" Park Hoon nyengir sambil mengusap rambut Lee Chan yang lebih pendek darinya.
"Apaa, kau membuatku malu" Lee Chan memainkan jari jemarinya sebagai pertanda malu.
"Ha ha ha" respon selanjutnya mengundang gelak tawa dari Park Hoon maupun Zhan
"Aigoo, lihat bayi kita ini, dia sedang marah rupanya" Zhan bangkit sambil ikut menggoda Lee Chan
"Ya, hentikan" bentak Lee Chan yang terdengar seperti rengekan
"Tidak mau, dan tidak akan" jawab Park Hoon.
"Kau mau mati" teriak Lee Chan lalu berjalan dan memukul lengan Park Hoon.
Di dunia ini seseorang yang berani memukul lengan Park Hoon adalah Lee Chan dan Amel, dua orang itu yang selalu membuat Park Hoon kalah.
Kang Chul membuka pintu dengan wajah pias, kemudian dia berjalan mendekati Park Hoon dan
Bughhh
Dia memukul wajah Park Hoon berulang ulang. Park Hoon bukan tidak mau membalas, dia sudah memperkirakan ini akan terjadi, jadi yang dia lakukan hanyalah terkapar di lantai seolah tidak memiliki tenaga untuk membalas.
"Brengsek" umpat Kang Chul membabi buta.
"Ya kang Chul hentikan" Zhan berusaha melerai dibantu dengan Lee chan.
"Hyung" suara Park Hoon melemah disela tinjuan Kang Chul.
"Ya, apa kau sudah gila" bentak Zhan langsung menarik kerah Kang Chul dan mendorongnya menjauhi Park Hoon.
Kang Chul tertawa sinis, dia menatap wajah Park Hoon yang babak belur dengan mata kemarahan berkobar.
"Bedebah brengsek, sialan kau" tunjuk Kang Chul
"Ya, Kang Chul hentikan. Ada apa denganmu?" teriak manajer Ji Wok dari belakang
Kang Chul hanya tertawa, memandangi satu persatu orang yang ada diruangan drom.
"Ternyata anjing peliharaan Park Hoon bukan hanya di sun si club, tapi juga di agensi murahan ini"
Kang Chul langsung berjalan keluar sambil menendang kotak sampah didekat pintu. Dalam hatinya dia akan menghancurkan satu persatu orang yang dicintai Park Hoon. Cinta? Tidak akan pernah ada untuk lelaki brengsek seperti Park Hoon di dunia ini. Kang Chul sudah bertekad untuk itu.