My Idol Is A Mafia

My Idol Is A Mafia
MAFIA Akhir segalanya



Kang Chul merenggangkan tangan penuh kesombongan. Apalagi saat melihat lelaki di hadapannya sudah berjalan dengan tertatih.


"Dongsaeng ada apa denganmu?" Tanya Kang Chul pura pura tidak tahu


"Dimana Amel?" Tanya Park Hoon dengan suara menaik


"Sabarlah, kau perlu duduk, atau perlu aku obati?" Tanya Kang Chul


Park Hoon menyeringai, langsung melangkah dan melemparkan balok kayu yang ada ditangan.


Kang Chul sempat menghindar, tanpa ba-bi-bu, dia menendang dada Park Hoon hingga lelaki itu tersungkur kebelakang.


Belum puas, Kang Chul meninju rahang Park Hoon hingga rahang lelaki jangkung bertelinga caplang itu membiru.


"Bangun brengsek" teriak Kang Chul dengan emosi yang meluap.


Park Hoon merasa lemas, dengan sekali hentakan Kang Chul menarik kerah Park Hoon dan menendang pada bagian dada.


Park Hoon tergeletak tanpa tenaga diatas tanah.


Kang Chul tersenyum menang, tidak ada kepuasan selain melihat Park Hoon tergeletak diatas tanah dengan wajah babak belur.


Park Hoon tertawa meski dia terbatuk-batuk dan mengeluarkan darah dari dalam mulut.


"Kau terlalu membenciku, sampai kau melupakan hal lain selain menghancurkan diriku" ujar Park Hoon melemah.


Dia menegakkan tubuhnya meski kesulitan, tangan kanan yang digunakan menompang badan sudah bergemetar, matanya membengkak, padangannya kabur.


"Apapun akan aku lakukan untuk melihatmu jatuh"


Kang Chul menyeret Park Hoon. Lelaki itu tegak, meski dia tidak sepenuhnya berdiri tegak.


"Kau boleh membunuhku, tapi dimana Amel?" Tanyanya


Kang Chul melempar tubuh Park Hoon hingga tubuhnya membentur tembok. Dia tidak melawan, tidak mencoba bangkit hanya menatap langit langit gedung yang kumuh dengan sisa nafasnya.


"Ternyata benar kata orang, wanita yang dicintai adalah kelemahan bagi lelaki kuat" Kang Chul tertawa


Park Hoon sudah kehabisan tenaganya ketika peluru itu tepat mengenai kaki sebelah kanan, apalagi Kang Chul yang membabi buta menghajar. Park Hoon terjatuh diatas tanah dengan nafas tengsengal sengal.


Kang Chul duduk didepan Park Hoon. Dia memberi titah pada anak buahnya untuk menegakkan Park Hoon. Mata sembab oleh pukulan itu dipaksa tebuka.


"Ya, Park Hoon ini bukan dirimu"


Plak


Kang Chul menampar pipi Park Hoon dengan puas. Ini yang ditunggu tunggu olehnya, melihat Park Hoon tidak berdaya dan kalah.


Park Hoon benar benar lemah, bahkan dia tidak bisa membalas kalimat Kang Chul sedikitpun.


"Kau pasti bertanya tanya, mengapa aku selalu tidak suka padamu?"


Kang Chul menepuk nepuk pipi Park Hoon supaya lelaki itu tetap membuka matanya. Mulut Park Hoon terbuka, air liur yang menjadi satu dengan darah menetes dari sana. Cairan merah juga mengalir dari balik rambut Park Hoon.


"Kau tahu, ibu yang kau sebut wanita murahan yang membuat ibu mu meninggal itu adalah ibuku" teriak Kang Chul.


"Kau kaget?" Tanya Kang Chul "benar, wanita bodoh itu, dia memilih meninggalkan anaknya demi bersama ayahmu, orang brengsek yang mengantarkan istrinya untuk dibunuh anak tiri biadap seperti dirimu"


Kang Chul meneteskan air mata, bahkan dia menatap Park Hoon penuh kebencian.


"Kau, sudah membunuh adik ku dan ibuku"


Plak


Park Hoon hanya menoleh ketika telapak tangan Kang Chul menamparnya.


"Kenapa, kenapa kau membunuh ibuku?"


Kang chul benar benar menangis, dia tidak mampu mengingat kabar itu, bagaimana ibunya mati mengenaskan ditangan Park Hoon, anak tiri sialan.


"Ibu ku, ibu ku tidak pernah menangis sebelumnya " suara Park Hoon lirih terdengar, lelaki itu mengumpulkan kekuatannya untuk menjawab pertanyaan Kang Chul "dia selalu menangis setelah ayah ku menikahi ibumu"


Park Hoon tertawa, dia mengangkat kepalanya dengan sisa tenaga "apa kau tahu, bagaimana rasanya melakukan pemakaman ibumu seorang diri?"


Park Hoon menggeretakkan giginya meski tidak sekuat tadi.


"Banyak alasan"


Bugh


Kang Chul menendang rahang Park Hoon, lelaki itu ambruk diatas tanah tanpa tenaga . Park Hoon menyerah, dia menyerah untuk bertahan.


"Kau ingin tahu bagaimana caraku membunuh ibu dan adikmu?" Meski tidak bertenaga mulut Park Hoon tetap mengoceh dengan nada lirih.


Kang Chul berhenti menyiksa Park Hoon, dia menatap lelaki ini tidak berdaya diatas tanah.


"Aku tidak menyesalinya" Park Hoon menoleh, menatap Kang Chul yang berdiri gagah dengan urat kemarahan "Setidaknya aku membuat mereka lebih cepat pergi keneraka"


"Biadap kau Park Hoon" Kang Chul menyeret tubuh Park Hoon. Membawanya ke drum penuh air, memasukan kepala lelaki itu kedalam sana tanpa mengijinkan barang sedetik pun untuk menarik nafas.


"Kau__ kau ingin bertemu ibumu?" Tanya Park Hoon, Kang Chul melempar lelaki itu keatas tanah.


Nafas Park Hoon melemah, jantungnya ikut melemah. Dia menutup mata meski sepenuhnya masih tersadar oleh rasa perih di wajah


"Kau seharusnya bersyukur, berkat ku kau jadi bisa bertemu ibu mu ke neraka" Park Hoon tertawa "aa kau berfikir ibumu masuk surga ya?"


Park Hoon membuka mata, memaksakan dirinya untuk duduk meski kepala berat itu semakin menyulitkan


"Wanita murahan yang berusaha meracun ibuku, kau pikir orang seperti dirinya bisa masuk surga?"


"Ya, aku akan menemui ibuku, tapi aku tidak akan sendiri ke nereka, sebab aku akan membawa mu pergi ke neraka, nanti disana aku ingin menyaksikan Tuhan menghukum mu" Kang Chul tertawa "Tidak, aku tidak yakin bisa menemanimu ke nereka, mungkin aku akan mengirimu ke nereka lebih dulu"


Park Hoon menatap Kang Chul yang masih menatapnya dengan kemarahan.


"Kau berfikir Tuhan memihakmu sekarang?" Tanya Park Hoon "tidak, Tuhan tidak memihak kita. Seharusnya kau membalas dendammu pada Tuhan bukan padaku"


"Berhenti berbicara brengsek" umpat Kang Chul mulai jengah.


"Mau tahu bagaimana rasanya punya ibu tiri?" Tanya Park Hoon "aaa kau sudah merasakan hal itu ya" Park Hoon tertawa lagi


Kang Chul menarik kerah Park Hoon, meninjunya berulang ulang hingga lelaki itu benar benar kehabisan tenaga.


"Bagaimana rasanya kalah?" Tanya Kang Chul menginjak leher Park Hoon.


"Kau pernah bilang pada Hideyosi kan, bahwa lebih menderita melihat kekasih mati dibandingkan berada diambang kematian, apa kau sudah merasakan menderita"


Injakan itu semakin kuat, Park Hoon kehabisan nafas dia sudah menyerah. Tetapi dia tidak akan menyerah untuk mencintai Amel.


Kang Chul melepaskan injakan, memberi kesempatan Park Hoon untuk mengambil nafas.


"Kau ingin melihat jasad Amel?" Tanya Kang Chul penuh kemenangan.


Anak buah Kang Chul menyeret Park Hoon dan meletakkannya di atas kursi.


Park Hoon tidak bisa melihat dengan benar, semuanya kabur, dia hanya memejamkan mata.


Braakkk


Anak buah Park Hoon membuka pintu sambil menodongkan pistol. Hanya tersisa tiga belas anak buah Kang Chul yang berada di dalam ruangan.


Semuanya sudah mengangkat tangan ketika leser tepat mengenai jantung mereka. Kang Chul masih menyeringai, apalagi saat ini dia benar benar berhadapan dengan Alex.


"Kau puas" ujar Kang chul pada Alex. Dia menyeringai, menodongkan pistol kearah Park Hoon.


"Ya, kalau kau pikir bisa menghabisi ku kau salah" Kang Chul masih bisa memberikan tampang tidak berdosa nya.


"Aku akan membawa lelaki biadap ini ke nereka bersamaku"


Dooorrrrr


Park Hoon terjatuh dari atas kursi, dia memuntahkan darah ketika peluru pistol menembus jantungnya.


Dooorrrrr


Kang Chul menyeringai meski peluru itu menembus pelipisnya. Dia ambruk.


"Habisi mereka" teriak Alex memberi titah pada anak buah Park Hoon untuk menghabisi anak buah Kang Chul, suara tembakan itu mengisi ruangan, Amel dengan tenaganya berlari menuju Park Hoon.


"Park Hoon 'a" panggil Amel "Park Hoon'a" Amel mengguncangkan tubuh Park Hoon.


Samar samar lelaki itu membuka matanya, dia menarik sudut bibir.


"Anyeong Amel" senyum itu dengan tulus tercetak di wajah Park Hoon. "Senang melihatmu, meski hanya didalam mimpi" lelaki itu tersenyum. "Aku mencintaimu"


Park Hoon menutup matanya, Kevin segera berlari memeriksa Park Hoon. Kevin menuduk, dia meneteskan air matanya.


"Maaf" ujar lirih Kevin. Amel menangis tersedu sedu. Dia memeluk Park Hoon, lelaki itu terbujur lemah dengan darah yang mengalir. Amel kehilangan Park Hoon, lelaki yang membuatnya mengidap sydrom. Lelaki yang selalu membuatnya takut barang sedetik untuk bernafas.


"Tidak, tidak" Amel terus mengguncangkan tubuh Park Hoon.


"Bangun, kumohooonn" teriak Amel.


"Park Hoon, ya brengsek, iblis, keparat, kau harus bangun. Kau harus bertanggung jawab, kau harus di hukum oleh negara ini, aku tidak mengijinkan mu mati" Amel terisak, dia memeluk tubuh Park Hoon yang melemah.


Park Hoon sudah tidak bernyawa, tergeletak bersama dendam dendam di dadanya, setidaknya lelaki itu meninggal dalam keadaan tersenyum. Dia bahagia sudah menemukan seseorang yang memahami dirinya lebih dari apapun, seseorang yang tidak akan mengkhianatinya.


Jika nanti dia harus keneraka, dia tidak menyesal sebab dia sudah lebih dulu menemukan surganya. Kini Park Hoon akan bertanggung jawab atas dosanya.


Dia meninggal membawa kenangan orang tuanya, bersama dendam nyawa nyawa yang sudah di bunuh selama Park Hoon hidup.