
Mereka berempat duduk diatas kursi kantin dengan menyantap makanan masing masing. Semuanya tengah tertawa, sesekali mengusap wajah mereka karena merasa takjup oleh cerita Lee Chan, lelaki itu memang selalu mengambil alih pembicaraan.
"Hal yang lebih gila lagi saat aku konser adalah seorang saesang membuka roknya untuk menggodaku" semua tertawa, lelaki itu memang senag sekali membagikan pengalamanya saat manggung atau pergi keluar negri
"Aku sudah membaca artikel itu, dan kau bereaksi seperti ini"
Sehun melirikkan matanya sembari membuka mulut.
"Aah tidak seperti itu, aku hanya bereaksi sewajarnya" sangkal Lee Chan
"Tidak Chan, kau sungguh bereaksi seperti yang Sehun katakan" sergah Kang Chul membenarkan asumsi Sehun.
"Ya (hei), ada apa denganmu hyung, kenapa kau membelanya?" Lee Chan mencimbikan bibirnya sebagai tanda protes. Melihat itu Mirae hanya menatap Lee Chan yang sungguh sangat tampan.
"Jawab aku oppa, apa kau tergoda dengan gadis itu?" tanya Mirae sembari mengerjabkan matanya. Yang dimakasud gadis itu adalah saesang yang membuka roknya di muka umum
"Tentu tidak" jawab Lee Chan tegas
"Ohh no no no, saat itu kau berkata seperti ohh Wowww"
Ekspresi Zhan terlihat serius, matanya membulat sempurna, mulutnya membentuk huruf o.
"Aku tidak melakukannya"
"Lalu bagaimana dengan mu hyung, bukankah ada seorang saesang yang membawa tulisan " perkosa aku" pada konsermu di Thailand? " ucapan Sehun membuat kedua mata Zhan melotot, lelaki itu merasa bahwa dia baru saja jatuh dari ketinggian lantai 16, tepat saat dia jatuh pada kotoran sapi. Itu sungguh menjijikan.
"Yaa kenapa kau membahas itu, aku membencinya" Zhan berkata cukup keras membuat seisi kantin menoleh kearah mereka.
"Hyuuung pelankan suaramu, mereka bisa mendengarnya" protes Lee Chan dengan suara tertahan tapi masih bisa didengar yang lainnya
"Kenapa? Aku hanya tidak suka dengan ucapan byeongari ini "
Zhan menunjuk wajah Sehun, yang ditunjuk sontak mendelik
"Hyung, kenapa kau memanggilku dengan sebutan anak ayam"
"Bukankah itu benar, kau memang terlihat seperti anak ayam"
"Whaaa kau benar benar menganggumkan hyung, kau tidak takut denganku?" suara Sehun terdengar menaik, tapi sungguh itu terlihat lucu.
"Apa? Apa yang perlu kutakutkan pada anak ayam seperti mu"
Zhan mendongakkan wajahnya, menantang Sehun yang hampir berapi api.
"Aku ini gengster di sekolahan, kau tidak takut untuk ku bully?"
"Ha, kau gengster, gengster macam apa yang hanya berani pada adik kelas"
"Stoooppppp"
Lee Chan membentangkan tangan ,memberi jarak pada Zhan da Sehun yang sebentar lagi akan melandaskan tinju.
"Jangan seperti anak anak, hyung kau sudah dewasa, jangan seperti itu pada Sehun" Lee Chan membela Sehun karena menurutnya Zhan terlalu terkanak kanakan membalas ucapan Sehun dengan sebuah tikaian.
"Ya. Kau membela anak ayam ini"
"Aa bukan begitu, Kang Chul Hyung tolong beritahu Zhan Hyung"
Lee Chan menatap Kang Chul dengan popyeyes nya membuat semua temannya tertawa tak terkecuali Sehun dan Zhan.
Mendengar mereka bergurau sangat asyik Amel hanya tersenyum sesekali memakan nasinya. Entah kenapa rasanya ada yang kosong dalam diri dia. Keehampaan menyelimuti hatinya, rasanya dia malas pergi kesekolah. Dia malas bercanda dengan Eun Ji atau Lee Chan yang selalu memiliki sikap ajaib. Ditambah dia juga sudah merasa bosan melihat Sehun bertingkah jahil.
"Amell, hei Amel" tangan Eun Ji mengibas didepan mata Amel. Membuat gadis itu segera tersadar dari lamunanya.
"Kau tidak apa apa? Sedari tadi kau hanya diam, tidak sesemangat biasanya" kata Chung Ha yang berada dihadapannya. Sumpit miliknya masih menggantung diujung bibir, wajahnya cerah dengan tatanan rambut rapi. Chung Ha memang selalu serapi itu, jauh berbeda dengan Sehun.
"Aku tidak apa apa" jawab Amel kembali menatap nasi.
Mereka melanjutkan makan masih diselingi dengan tawa. Setelah makan siang selesai Amel berjalan menuju toilet, jalannya sedikit lemas tanpa semangat sepatah pun. Saat didepan pintu toilet langkahnya dihadang seorang gadis berambut panjang, alisnya tebal dengan senyum yang selalu manis, tapi sungguh, Amel merasa wajah gadis itu selalu menyebalkan.
"Apa kabar Amel?"
Gadis itu menarik tangan Amel untuk memasuki toilet, didalam sana pintu toilet dikunci rapat. Amel hanya berusaha berdiri tegap. Tidak ada ketakutan dalam dirinya, entah dia memiliki keberanian dari mana. Tapi batinnya selalu berkata bahwa kekuatan gadis itu masih di bawah Park Hoon jadi Amel menyikapinya santai.
"Apa lagi"
Belum selesai Amel berucap gadis itu mengguyur tubuhnya dengan air. Tubuh Amel basah kuyup, matanya menyorotkan kebencian. Tidak ada kebencian selain membenci Jenie.
"Kau ini kenapa? Apa kau ada masalah denganku?" suara Amel menaik seperti tengah berteriak kepada orang yang congkak setengah mati. Sedangkan Jenie dia tengah berkacak pinggang
"Aku membencimu sejak pertama kali" jawab Jenie dengan tatapan melotot.
"Ha, hanya itu, hanya kau tidak menyukaiku kau bisa seenaknya dengan hidupku"
"Ya" Amel berteriak kencang, membuat Jenie menoleh.
"Apa kau mau berkelahi denganku? "
Jenie melipat tangannya didada, seolah dia memiliki banyak keberanian untuk menghabisi Amel. Gantian Amel yang berkacak pinggang, dia menujuk wajah Jenie
"Ayo, aku tidak takut dengan preman sepertimu"
Tanpa aba aba, Jenie menarik rambut Amel, gadis itu langsung membalas.
"Aaa, mati kau Amel" kata Jenie masih terus menarik rambut gadis itu.
"Ya, kau harus minta maaf dengan kelakuanmu"
Diluar pintu tampak terdengar kegaduhan, Min Hyuk, Eun Ji, Mirae dan yang lainnya berada di luar pintu.
"Ya, siapa yang didalam" suara gedoran itu tidak membuat Amel ataupun Jenie berhenti.
"Lepas" perintah Jenie merasa tarikan Amel lebih keras. Gadis itu menarik kembali rambut Amel dengan kekuatannya.
"Ya, apa yang kalian lakukan, cepat buka pintunya"
Suara gedoran itu semakin terdengar bringsik tapi mereka tetap melajutkan pertikaian. Sampai sebuah pintu berhasil di dobrak.
Seseorang memisahkan mereka, Jenie dan Amel bersitatap tidak suka.
"Ya, Amel Jenie berhenti"
Mereka menoleh kompak menatap Min Hyuk yang juga menatap keduanya tidak suka.
Lelaki itu menatap sekilas wajah Jenie dengan tatapan tidak suka beralih kewajah Amel, bekas cakaran diwajahnya serta rambut yang acak acakan.
Dia menghembuskan nafas berat, lalu menarik tangan Amel tanpa persetujuan darinya.
"Yaaa Min Hyuk'a, aku juga terluka" Jenie berteriak lantang tapi perkataannya tidak cukup membuat lelaki itu menghentikan langkahnya. Dia terus menarik Amel untuk mendudukannya di ruang kesehatan. Amel masih menunduk tidak seberani itu menatap wajah Min Hyuk, mungkin karena dia merasa bersalah.
"Kau ini, bukannya sudah dewasa, kenapa harus berkelahi" ujar Min Hyuk datar seolah dia merasa kecewa dengan perbuatan Amel.
"Aku hanya membela diri, lagi pula dia menyiramku" bela Amel.
"Sudahlah, benarkan dulu rambutmu yang acak acakan. Aku akan belikan Minuman"
Min Hyuk berjalan keluar ruangan kesehatan. Setelah kepergian Min Hyuk, ruangan menjadi senyap hanya terdengar suara dentingan jam yang terus berputar.
Ponsel disakunya bergetar, dengan malas Amel merogoh saku kemejanya. Tertera nama Park Hoon si brengsek. Amel mendegus, kenapa lelaki itu menelfonnya.
"Halo" jawab Amel demgan malas.
"Kau ini tidak mendengarkanku ya, aku kan sudah bilang kabari aku sejam sekali"
Suara Park Hoon terdengar menaik, semacam sebuah umpatan yang membuat Amel terpaku. Suaranya datar tapi berhasil memberikan nada mengancam khas Park Hoon.
"Kenapa diam?"
Belum sempat Amel menjawab pintu sudah terbuka, buru buru Amel menyembunyikan ponselnya dibawah bantal, takut ketahuan Min Hyuk.
"Ini minumlah" Min Hyuk memberikan air dingin untuk Amel, gadis itu melempar senyum.
"Kenapa kau tadi berkelahi dengan Jenie?" suara Min Hyuk terdengar melemas tidak ada tenaga didalam suaranya.
"Dia mengguyur tubuhku dengan air"
"Lain kali jangan lakukan itu, dia berbahaya. Dia bisa melukai mu kapan saja“
Ucapan itu berhasil membuat Amel diam, dia menatap mata Min Hyuk semacam ada rasa yang berusaha dia sembunyikan.
"Kau tidak apa apa sumbe?"
Min Hyuk menggeleng, tangannya meraih tangan Amel dan menggenggamnya erat.
"Kau tahu aku khawatir tadi" dia mengambil jeda pada ucapannya, kemudia tersenyum dengan wajah sendu menawan miliknya. "Aku menyukaimu Amel"
Suara itu terdengar melemah, hampir tidak bisa Amel dengar.
"K-kenapa?" tanya Amel berusaha menyakinkan pendengarannya, suara Amel tercekat, dia merasa jarak keduanya semakin menipis, apalagi melihat tatapan Min Hyuk seperti itu semakin membuatnya merasa tenang. Tidak seperti saat dia menatap Park Hoon. Tunggu kenapa Amel jadi memikirkan lelaki itu. Amel buru buru menggelengkan kepalanya.
"Ada apa Mel?"
"Tidak apa apa, sumbe aku harus kekelas dulu" ucap Amel sembari menunduk kearah Min Hyuk dan berjalan tergesa gesa meninggalkan ruangan kesehatan
Dia sampai melupakan ponselnya dibawah bantal, dia lupa bahwa teleponnya belum sempat dia matikan, dan masih tersambung dengan panggilan Park Hoon.