
Amel dan Kevin duduk di sofa. Mereka saling diam dan mengijinkan jam dinding yang banyak bersuara.
Ponsel di saku Kevin bergetar, nama Hideyosi terpampang disana.
"Kau bisa kesini?" Tanya Hideyosi di ujung seberang.
"Untuk apa?" Tanya Kevin
"Aku ada berita baik, tapi kau harus melihatnya langsung"
"Tapi aku harus menjaga adikku"
"Ya. Kau mau menjadi anak buah Park Hoon, adikmu tidak akan kenapa Napa" ujar Hideyosi menyakinkan.
"Tap___"
"Musuh mu dan adikmu adalah Park Hoon sedangkan dia dan anak buahnya sudah menjadi buronan polisi saat ini" ujar Hideyosi mengagetkan
"Apa maksudmu?"
"Kemarilah"
Panggilan itu harus terputus begitu saja. Kevin menatap Amel yang sudah mereda, dia sudah tenang berkat kehadiran Kevin.
"Amel, kakak harus pergi sebentar, kau duduklah disini, jangan Kemana mana" ujar Kevin.
"Kakak mau kemana?"
Pertanyaan Amel tidak lagi di indahkan oleh Kevin, justru Kevin sudah membanting pintu. Kepergian Kevin membuat Amel kembali merasa takut. Ponselnya bergetar, lagi lagi pesan gambar yang sama itu dikirim kembali oleh nomor orang yang tidak Amel ketahui.
Amel memilih meletakkan saja ponselnya, tapi ponselnya bergetar kali ini sebuah panggilan suara. Amel mengangkat panggilan itu.
"Halo"
"Amel tolong aku, Amel tolong aku" teriak seseorang dari seberang
"Amelllll"
Amel kebingungan, siapa orang yang menelponnya dan meminta tolong, apakah Eun Ji atau Mirae.
"Halo siapa ini?" Amel hampir berteriak bahkan dia sudah bangkit.
"Kau ingin temanmu selamat, datang ketempat yang kukirimkan" panggilan itu harus terputus.
Amel buru buru keluar kamar, masih mengenakan seragam sekolah, dia menuruni tangga. Sampai di lobi entah kebetulan atau apa, Min Hyuk tengah bercakap dengan seorang satpam. Yang ada dikepala Amel saat ini adalah menyelamatkan orang yang menelponnya tadi.
"Min hyuk'a" panggil Amel.
"Ada apa?" Tanya Min Hyuk kebingungan "kau bagaimana bisa disini?"
"Antarkan aku ke alamat ini" Amel tidak menjawab pertanyaan Min Hyuk justru dia menyodorkan ponselnya agar Min Hyuk mengantarkan ke alamat tujuan.
Min Hyuk menurut, dia mengantarkan Amel ke alamat yang di tuju, Amel terus mengatakan cepat pada Min Hyuk tanpa dia tahu kemana Amel akan dibawa lelaki itu.
Sampai disebuah gedung tua, Min Hyuk dan Amel langsung masuk kesana, bahkan sampai di roftof pun orang yang menelponnya tidak kunjung di temukan. Tidak ada siapa siapa disini.
Amel mencoba menghubungi orang yang memanggilnya, ponsel itu terdengar tapi bukan dari orang lain melainkan di saku celana Min Hyuk.
Kang Min Hyuk mengeluarkan ponsel dan mengarahkan pada Amel.
"Kenapa kau menelfonku?" Tanya Min Hyuk masih belagak tidak tahu
Amel menatap layar ponsel, bukan nomor Min Hyuk, ini adalah nomor orang yang menelponnya barusan
"Kau_kau" Amel mundur selangkah
"Ternyata dengan membodohi Eun Ji bahwa aku ingin memberi kejutan padamu benar benar ada gunanya" Min Hyuk tersenyum, kali ini beberapa orang sudah berkumpul di belakang Amel.
**
Kevin duduk didepan Hideyosi tanpa tahu apa yang terjadi. Sedari tadi dia menunggu Hideyosi menyelesaikan panggilannya.
"Sebenarnya ada apa ini?" Tanya Kevin begitu Hideyosi selesai dengan teleponnya.
"Oh itu" Hideyosi mendorong kursi roda miliknya.
"Kang Chul sudah berhasil mendapatkan data bisnis Park Hoon dan sekarang data itu sudah ditangan pemerintah. Semua nama pemerintah yang terkait sudah berhasil ditangkap"
"Secepat itu? Maksud ku, aku bahkan belum tahu kabar ini" tukas Kevin
"Ha ha ha aku dan Kang Chul sudah merencanakan ini, sekarang Park Hoon sudah benar benar kalah" Hideyosi menjeda "dia tidak bisa meninggalkan Korea, mungkin dia akan terus bersembunyi dan sembunyi"
"Bagus, ini kesempatan aku dan Amel melarikan diri" Kevin bangkit tapi suara serak Hideyosi membuatnya berhenti
"Kau kira ini sudah selesai, kau tidak tahu rupanya. Adikmu sudah menjadi sandra kami"
Kevin membalikan badannya "apa maksudmu?"
"Maksudku adalah, gadis itu akan mati sebentar lagi"
"Brengsek, apa kau menjebakku?" Kevin naik pitam
"Kau benar"
Saat Kevin melangkah sesuatu benda keras menghantam tekuknya, Kevin terjatuh ketanah lalu sesuatu seperti suntik menyentuh lengan Kevin, dia kehilangan kesadaran, tertidur pulas dan tidak tahu keadaan sekitarnya.
"Aku menanti saat seperti ini, ternyata memanfaatkan Kevin dan Jhonatan ada gunanya" ujar Hideyosi.
Dia teringat bagaimana membawa Jesica didepan Jhonatan, bagaimana dia mengiming imingi Kevin tentang kebebasan. Sekarang semua berhasil dia raih, sebentar lagi Park Hoon akan hancur ditangannya.
**
Park Hoon masih berputar di ruangan, dia tidak bisa keluar dari gedung ini. Jika Park Hoon keluar, polisi akan menangkapnya. Apalagi direktur Kang Bok So beserta manajer Ji Wok sudah berhasil di tangkap polisi. Kepala Kim beserta jajaran pemerintah yang lain sudah lebih dulu ditangkap.
"Syasya, kalau Amel benar dijadikan Sandra mereka itu artinya Kevin tidak tahu masalah ini" ujar Park Hoon "carilah Kevin, selamatkan dia. Aku yang akan menangani Amel"
"Tapi tuan" tolak Syasya.
"Kau hanya harus terfokus pada Kevin, Amel biar menjadi urusanku" Park Hoon memijat pelipisnya "kau dan sisa orang disini, temui Hideyosi bila perlu bunuh dia"
Syasya mengangguk paham, dia berlalu pergi bersama anak buah Park Hoon juga Alex. Syasya tahu keberadaan Hideyosi, lelaki brengsek itu akan di habisi oleh anak buah Park Hoon.
Sedangkan Park Hoon dia yang akan datang sesuai alamat yang dikirimkan Kang Chul, membalaskan dendam nya pada lelaki brengsek itu.
Park Hoon benar benar pergi seorang diri, menggunakan mobil Alex dia membelah jalanan Seoul menuju Busan.
Sejak tiga jam yang lalu Kang Chul sudah memberi tahu alamat dimana Amel disekap. sebuah gedung tua, tentu tempat itulah yang akan menjadi penyandraan Amel.
Park Hoon masih ingat bagaimana dia menemui Hideyosi. Sekarang dia akan membunuh Kang Chul apapun yang terjadi.
Disaat keluar dari mobil Park Hoon sudah mendapatkan tembakan pada kakinya. Dia ambruk ketanah.
"Brengsek" umpat Park Hoon. Dengan tertatih Park Hoon berusaha membuka pintu. Beberapa orang berjas hitam sudah memenuhi gedung, tetapi tidak ada Amel.
"Dimana Amel, Dimana?" Teriak Park Hoon.
Kang Chul menyeriangai dengan tatapan belis
"Dia sudah mati" ujarnya