My Idol Is A Mafia

My Idol Is A Mafia
MAFIA Agensi dan Park Hoon



Amel pulang lebih dulu setelah diberi izin oleh Yoona. Dia duduk menunggu bus, hampir setengah jam tidak ada bus yang datang. Suara motor yang semakin terdengar jelas membuat Amel mendongak, Min Hyuk berdiri menyangga motor sambil melepaskan helmnya.


"Mau aku antar?" Tawar Min Hyuk bagai malaikat.


Amel tidak tahu kenapa lelaki ini bisa keluar dari sekolah, apa dia membolos? Jika iya, bagaimana caranya dia membolos dengan motor ninja miliknya.


Amel hanya menatap Min Hyuk tanpa berniat mengangguk atau menggeleng. Dia bingung, sejujurnya Amel mulai menaruh curiga pada Min Hyuk. Setiap kali dia mendapatkan teror dia selalu melihat Min Hyuk di sekitarnya.


Maksudnya ketika teror pertama bunga Lily di loker, saat itu Amel menoleh ke jendela dan Amel melihat Min Hyuk berjalan didepan kelasnya. Memangnya untuk apa Min Hyuk yang kelas akhir ada di gedung kelas dua. Teror penembakan bulan lalu, itu terjadi di toilet kelas tiga. Dan anehnya Min Hyuk selalu ada disekitar Amel, kalau tidak sengaja kenapa bisa terjadi berulang ulang.


Amel bingung mencerna ini semua, tapi kenapa Min Hyuk meneror Amel?  Apa karena Jenie? Jika iya, seharusnya Min Hyuk membalas dendamnya pada Park Hoon? Atau dia sudah tahu mengenai hubungan Park Hoon dan dirinya?


"Amel" panggil Min Hyuk "mau ikut atau tidak? Aku ada lomba basket sehabis ini, aku tidak bisa berlama lama"ujar Min Hyuk.


"Kau keluar sekolahan karena ada lomba?" Tanya Amel.


Min Hyuk mengangguk "memangnya seorang siswa bisa berkeliaran di jam sekolah?" Min Hyuk tertawa


"Mau ikut atau tidak?"


Amel mengangguk dia langsung duduk di jok belakang dengan berpegang tangan. Diperjalanan pun mereka sama sama terdiam, tidak ada yang membuka suara sepatah kata pun. Di halte dekat apartemen, Amel meminta diturunkan


"Sampai disini saja" kata Amel sambil melepas helmnya.


"Aku penasaran apa yang kau lakukan di sini, bukankah apartemen Kevin tidak disekitar sini?"


Deg


Amel terpaku dengan pertanyaan Min Hyuk, bagaimana dia bisa mengenal Kevin. Amel tidak pernah bercerita tentang kakaknya kepada siapapun.


"Ituu__" Amel gelagapan "bagaimana kau bisa mengenal kakak ku?"


"Oh dokter Kevin, dia bekerja di rumah sakit milik keluarga ku, keluarga Kang" Min Hyuk tersenyum , dia memasang helmnya.


"Pokoknya hati hati ya, aku harus main basket"


Amel mengangguk disusul suara motor berbunyi. Min Hyuk sudah memacu motornya diatas aspal tanpa memperdulikan Amel yang memandanginya.


Amel tidak ingin memikirkan tentang Min Hyuk terlalu banyak, dia berjalan menuju apartemen Park Hoon, ketika tangan nya menekan digital apartemen ada pesan masuk untuknya.


+82455xxxxx


Jangan terlalu senang sampai rumah, kau bisa mati disana kapan saja


Amel langsung menoleh, dia bahkan gemetar. Darimana orang ini tahu kalau dirinya ada didepan pintu. Amel sungguh ketakutan, dia buru buru menekan digit apartemen dan menutupnya.


Ketika ada didalam apartemen pun Jantungnya masih berpacu. Dia benar benar ketakutan.


+826577xxxx


Pesan gambar


Amel melempar ponselnya sambil berteriak kencang. Foto itu adalah foto Jenie. Foto yang diambil ketika Jenie terkapar diatas tanah.


Amel benar benar ketakutan, dia sungguh takut. Seseorang menepuk bahunya dari belakang. Kontan Amel menjerit, sebuah jeritan yang begitu melengking di ikuti pecahnya tangisan.


"Aku takut" katanya sesegukan.


"Ada apa?" Park Hoon mengelus punggung Amel dengan lembut.


"Aku disini"


**


Zhan masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan Kang Chul kemarin. Bahkan kalimat itu terus terngiang di kepala Zhan.


"Lee Chan, apa kau percaya jika agensi ini milik Park Hoon?" Tanya Zhan ketika Lee Chan sibuk bermain baduk sendirian.


Lee Chan menoleh, mencimbikan bibirnya. "Tidak, mana mungkin dia pemilik agensi"


"Betul juga kan, dia debut bersama kita. Dan dia selalu latihan, gayanya juga tidak terlihat seperti pemilik agensi" Zhan berusaha menghilangkan fikiran buruk mengenai Park Hoon.


"Tapi hyung, kau kenapa bisa berfikir seperti itu?"


Zhan terdiam, setelah bertemu dengan Kang Chul semalam, fikiranya tidak menentu. Semalaman dia harus terjaga untuk memikirkan mengenai Park Hoon, bahkan data agensi pun di jelaskan nama nama pemilik saham, dan itu tidak ada yang menyebutkan Park Hoon sebagai pemilik saham atau pemilik Eve.


"Hanya saja" Zhan menyenderkan kepalanya di senderan kursi.


"Akhir akhir ini Park Hoon selalu sibuk, bahkan dia tidak menginap di drom" Lee Chan merenggangkan tangan


"Bagaimana reaksi manajer Ji Wok dan direktur saat tahu kalau Park Hoon tidak menginap disini?" Tanya Zhan penasaran.


"Emmm" Lee Chan meletakkan jari telunjuk pada bibir bawah "aku rasa mereka biasa saja"


Lee Chan membanting tubuhnya diatas sofa, memeluk boneka lobak kesayangnya tanpa memperdulikan Zhan yang terlihat bingung.


Zhan masih tidak habis pikir, bagaimana seorang artis yang tidak menginap di drom selalu dibebaskan. Sedangkan Lee Chan, Kang Chul dan artis lainnya akan terkena teguran


Apakah yang dikatakan Kang Chul sepenuhnya benar? Atau sedang ada kegiatan diluar grup yang tidak diketahui Zhan.


Zhan menggoyangkan kaki Lee Chan supaya lelaki pendek itu duduk dan menatapnya.


"Apa lagi?" Tanya Lee Chan sebal


"Kau tidak merasa perlakuan agensi terhadap Park Hoon dan kita berbeda?" Tanya Zhan.


"Berbeda bagaimana, sama saja, bahkan Park Hoon belum pernah syuting film, debut solo atau kegiatan diluar grup selain model. Agensi selalu memberikan itu semua pada kita"


Zhan mengangguk, memang benar Park Hoon justru terkesan tidak banyak jadwal.


"Tapi untuk skandal skandalnya, kenapa agensi ingin menutup skandal tentang dia, dan juga agensi selalu mengikuti kemauan Park Hoon"


"Maksudmu skandal bertemu para pejabat dan dating antara Park Hoon dan Cindy?"


Lee Chan menghela nafas "hyung kau kan tahu skandal itu melibatkan pejabat negri, sedangkan Cindy, dia adalah anak presiden. Bagaimana kau ini?"


Zhan menyenderkan kepalanya di Sandara sofa, apa yang dikataan Lee Chan sepenuhnya benar. Tidak seharusnya Zhan mencurigai hal yang tidak masuk akal seperti ini.