My Idol Is A Mafia

My Idol Is A Mafia
MAFIA Tembakan



Amel berada dikantin bersama dengan Min Hyuk, menyantap makanan kantin tanpa banyak obrolan yang menyita perhatian. Mirae dan Eun Ji masih sibuk menggoda Sehun.


"Kau kenal Park Hoon?"


Pertanyaan Min Hyuk hanya membuat Amel hampir tersedak, tidak benar benar tersedak. Pertanyaan seperti itu memang kerap kali dia dapatkan sebagai seorang pelajar dari luar Korea.


"Sudah tentu aku kenal. Dia member ASP yang terkenal, apalagi kita sudah pernah satu kelas" jawab Amel.


"Tidak, maksudku kenal secara dekat"


"Uhuk" kali ini kalimat Min Hyuk membuatnya tersedak. Amel mendongak, menatap wajah Min Hyuk yang menunggu jawaban.


"Enggaklah, bagaimana aku bisa kenal dia?" dusta Amel.


Buru buru Amel menyelesaikan makannya, berulang ulang harus tersedak karena terburu buru.


"Pelan pelan saja" tukas Min Hyuk.


Selesia makan Amel buru buru pergi, lagi pula ini sudah bel masuk. Min Hyuk seperti orang lain saat tertarik dengan Park Hoon atau dia sudah tahu tentang hubungannya dengan Park Hoon.


"Tunggu memangnya ada hubungan apa aku dengan dia" rancau Amel lirih saat tengah berganti dibilik toilet.


Mereka berbaris dihalaman, memulai pelajar olahraga. Amel berdiri di lapangan, jauh dari Eun Ji dan Mirae. Dia melakukan pemanasan sambil sibuk memikirkan kalimat Min Hyuk barusan.


Sedari tadi suara Kim Tan dan Sehun yang banyak mengisi kegiatan olahraga mereka. Dua lelaki itu masih sibuk saling menggoda bahkan tak segan saling meendorong.


Saat Kim Tan terlalu keras mendorong Sehun, lelaki tinggi itu menubruk punggung Amel, sehingga mereka berdua langsung ambruk ketanah.


Bersama dengan jatuhnya Sehun dan Amel, sesuatu yang berbunyi keras menghantam ring basket. Cukup mengagetkan karena bunyi itu memberi lubang pada ring.


"Apa itu tadi?" tanya Kim Tan mendekat kearah ring.


Amel menoleh ke sisi kanan, dimana pada gedung toilet kelas tiga. Amel melihat seseorang berjaket hitam tengan memindahkan senapan dari wajahnya, beberapa detik kemudian dia langsung pergi.


Bahkan sekelebatan bayangan tisu bercampur darah dengan tulisan yang akan membunuhnya terlintah di fikiran Amel. Jika saja, tadi Sehun tidak membuatnya jatuh mungkin dia sudah tertembak.


Amek kembali menoleh kearah gedung kelas tiga. Tidak ada siapa siapa disana.


"Amel" panggil Eun Sang.


Amel menoleh. Mendekat kearah kerumpulan orang orang didekat ring.


"Coba kau lihat ini, aku tidak mengerti bahasa Indonesia"


Eun Sang memberikan secarik kertas. Secarik kertas yang ditulis dengan huruf latin. Dengan bahasa Indonesia yang semakin membuat Amel ketakutan.


"Apa isinya ?" tanya Eun Ji.


"Ha?"


Amel tersadar dari lamunan


"Ini, ini nama nama hewan saja" dusta Amel.


Kemudian dia permisi pergi diikuti Eun Ji, Sepertinya gadis itu paham kalau isi surat tadi bukan seperti yang di ucapkan Amel.


"Ada apa?" tanya Eun Ji mulai ikut kelihatan gelisah. Sampai di kelas mereka duduk berdua, Amel mengambil nafas, meneguk air mineral dibotol yang ada ditasnya.


"Tadi itu ada orang yang mau menembakku" ujar Amel


"Maksudmu apa?"


"Kau tahu suara ledakan tadi, itu ada peluru pistol. Jika Sehun tidak membuatku jatuh, aku yang akan tertembak" jelas Amel.


"Bagaimana kau bisa yakin soal ini?"


"Disurat ini, dia bilang bahwa dia akan terus membuatku menderita"


"Ditulis dalam bahasa Indonesia?" tanya Eun Ji masih tidak percaya.


Amel mengangguk


"Heol"


Mereka sama sama terdiam saling adu pandang untuk berfikir.


"Aku rasa, dia tidak berniat membunuhmu" tutur Eun Ji "kalau dia ingin membunuhmu, pasti peluru itu tidak akan menembak ke ring, karena tinggimu tidak setinggi ring basket"


"Maksudku, dia sengaja menembakkan peluru ke ring supaya tulisan ini bisa jatuh dan kau baca" tutur Eun Ji dengan perspeksinya.


Amel terdiam saat mendengar penjelasan Eun Ji, semua yang dikatakan gadis itu memang terdengar seperti masuk akal.


**


Amel berjalan menyusuri trotoar jalan seorang diri, setelah dia singgah di minimarket untuk membeli minuman. Dia kembali ke apartemen.


Suara televisi yang terdengar di ruang tamu membuat Amel menebak kalau lelaki itu tengah menonton televisi.


"Menonton apa?"


Amel meletakkan tas tanpa berniat mengganti pakaian. Dia mengambil bantal untuk menutupi paha, memakan cemilan disamping.


"Film pemberontakan" kata Park Hoon.


"Untuk apa kau menontonnya, kau kan sudah paham bagaimana cara memberontak"


Mendengar ucapan Amel yang segampang itu, Park Hoon menoleh.


"Apa maksudmu?"


Amel menoleh "kau mau lihat ujian tes psikopat ku?"


Amel mengeluarkan selembar kertas didalam tas. Tes itu diberi nilai normal dipojok kiri.


"Aku mendapatkan nilai normal pada tes ini, itu artinya aku bukan seorang psikopat"


Lembaran itu diterima Park Hoon, dibaca sekilas soal soalnya "untuk apa sekolahmu mengadakan tes ini?"


Amel mengedikan bahu, memasukan snack kedalam mulut "entah, mungkin meminimalisirkan orang orang psikopat seperti dirimu"


Park Hoon menoleh, menatap Amel yang terlihat menikmati tontonan didepannya


"Apa maksudmu?"


"Apa kau seorang psikopat?"


Mereka bertatapan, tidak lama hanya saja Park Hoon yang lebih dulu berdehem dan mengalihkan arah pandang


"Bukan" jawab nya tegas


"Hey hey, ayolah mengaku saja. Kau pasti seorang psikopat. Kau kan senang membunuh orang , juga suka menyiksaku"


Kalimat itu lancar di ucapkan Amel, seolah bukan sebuah perkara besar yang harus membuat Amel takut mengucapkan kalimatnya barusan


"Kau tidak takut mengatakan kalimat selancang itu pada orang yang menyiksamu"


"Apa itu, bukan kah dia gila. Dia membunuh pacarnya sendiri"


Amel justru menunjuk kearah televisi, menyembunyikan wajahnya dibalik telapak tangan.


"Tontonan macam apa ini, apa seorang psikopat suka tayangan seperti ini?" Amel menggeser letak duduk, sehingga mereka berdua berdekatan, Park Hoon memeluk pinggang Amel posesif, mengelus lengannya.


"Tidak, psikopat suka  film sexsual" ujar Park Hoon sesekali mencium puncak kepala Amel


"Kenapa?" Amel mendongak, menatap rahang kokoh lelakinya


"Karena dia memaklumi kekerasan dengan cara menyenangkan"


Jadi itu alasan Park Hoon selalu tersenyum saat melihat lawannya mati. Pernahkan dia melakukan itu? Amel menggeleng, selama dia melihat Park Hoon membunuh seseorang tidak ada senyum di wajahnya, atau dia yang belum mengetahuinya.


"Tapi kenapa Psikopat melakukan itu?"


"Dia tidak peka terhadap perasaan" sejenak Park Hoon menghentikan kalimatnya, dia menoleh "apa sekarang kau menganggapku Psikopat?" tanyanya


"Sedikit, kau kan memang sering membunuh orang" Amel melingkarkan tangnya di pinggang Park Hoon.


"Tidak, kecuali orang itu mengancam hidupku" Park Hoon menjeda, mengulang kembali memorinya saat dia menusukkan belati tepat di dada ayahnya, saat suara ayahnya meraung, saat saudara tirinya dia tembakan peluru di kepala. Saat itulah setiap tidur dia selalu tidak menemukan kenyenyaan.


"Apa kau membunuh orang untuk bersenang senang?"


"Aku melakukannya hanya untuk melindungi diriku" pungkasnya.


Amel terdiam, memilih menghirup aroma lelaki dipelukannya. Membiarkan kesunyian yang mengambil ruang kosong antara mereka.


"Kau punya musuh?" adalah kalimat pertama setelah setengah jam mereka diam membisu


"Banyak" kata Park Hoon "Semua orang yang ada di sekelilingku adalah musuhku"


Amel mengangkat kepala, menyibakkan rambut panjangnya di belakang telinga


"Maksudmu?"


"Kau tahu, mereka yang bekerja denganku tidak selamanya setia padaku. Kau dan mereka pasti akan menghinatiku suatu hari nanti"  Park Hoon menarik nafas "jadi sebelum itu terjadi aku selalu menyiapkan senjata untuk melindungi diri"


Amel terdiam, berusaha mencerna kalimat Park Hoon, apa benar dia akan menghianati lelaki didepannya, lekaki pemilik mata elang yang kapan saja bisa membunuhnya, tapi kenapa dia justru semakin yakin untuk berada di samping lelaki ini.


Amel memeluk Park Hoon. Memeluk dengan pelukan paling erat miliknya.


"Aku janji tidak akan menghianatimu" setelahnya dia mendengkur halus didada Park Hoon