
Pagi pagi sekali, suara gesekan dari kasur membuat Amel membuka mata. Dia melihat , Park Hoon sudah bangun dan berjalan kearah kamar mandi.
"Jam berapa sekarang?" tanyanya
Semenjak dia tinggal di Korea, jarak malam ke pagi terlalu cepat, baru saja menutup mata matahari sudah memancarkan sinarnya.
"Masih jam tiga, tidurlah, aku harus ke dorm" katanya.
Amel menarik selimut memejamkan mata dan lelap tertidur kembali. Beberapa saat dia merasakan sesuatu menempel di dahinya, sebuah ciuman. Amel membuka mata, menatap mata elang milik Park Hoon.
"Kau mau berangkat? " Amel menegakkan posisinya. Menyibak selimut dan berjalan dibelakang Park Hoon.
"Nanti kami akan hadir diacara musik , sekaligus akan menerima deaseng ke sembilan"
Park Hoon mengenakan sepatu kets, saat dia berdiri Amel justru melingkarkan tangannya di pinggang Park Hoon ,gadis itu memeluknya dari belakang.
"Aku menyukaimu" ucapnya pelan.
Park Hoon membalikan badan, sehingga Amel langsung jatuh ke dadanya.
"Benarkah?" tanyanya memastikan
"Aku sudah memutuskan akan menyukaimu" Dia meletakkan dagunya di dada Park Hoon.
"Aah aku ingin berada dirumah saat seperti ini"
Pelukan itu bertambah erat.
"Tapi" Amel menggantungkan ucapannya
Karena terlalu menggantungkan Park Hoon mengambil nafas dan berbicara.
"Apa?" tanyanya tak sabaran
"Janji kau tidak boleh membunuh satu orang sekalipun, juga jangan menyiksaku" Amel menyembunyikan wajahnya di dada Park Hoon.
Lelaki jangkung bertelinga caplang dipelukannya tidak langsung menjawab, dia membisu seribu kata. Memikirkan jawaban apa yang akan dia berikan pada Amel.
"Kau tidak bisa ya?" Amel mundur, melepaskan pelukannya. Saat tangan itu sudah berlalu, Park Hoon menariknya, memeluk Amel dengan erat.
"Tidak, aku akan melakukannya untukmu" dia menciumi puncak kepala Amel.
Karena waktu yang semakin berlalu ,dengan perasaan tidak rela Park Hoon melepaskan pelukannya.
"Sekolah yang rajin" dia mengacak puncak kepala Amel, berlalu dari apartemennya. Saat itu juga Amel melambaikan tangan, memberi ciuman udara yang mengundang gelak tawa Park Hoon
Dia menutup pintu, melangkah kekamar nya dan membaringkan tubuh disana. Saat itu terjadi senyum terus menghiasi wajah cantik Amel, gadis itu masih tersenyum malu malu.
"Tiduuurr Amell besok sekolah" ucapnya pada diri sendiri.
Selang dari Amel menutup mata suara getaran dari ponsel membuatnya membuka mata. Awlanya dia kira adalah pesan dari Park Hoon namun dia salah. Sebuah pesan dari nomor tidak dia kenal.
Pesan itu membuat Amel duduk. Menatap kata yang tertulis di ponselnya
"Nikmati waktu bersenang senangmu bersama dia sebelum kamu mati"
Itu artinya orang ini ada diluar, melihat saat Amel melambaikan tangan atau dia menyimpan kamera pengintai didalam sini.
Amel langsung berjalan keluar, menyalakan lampu dan mengacak acak apartemen Park Hoon. Tidak dia temukan sama sekali kamera atau benda yang mencurigakan.
Amel masih bisa bernafas lega, sebab dia selalu dalam pengawasan anak buah Park Hoon, tapi pesan ini
Amel buru buru mengambil ponsel untuk mendial nomor yang mengirimi pesan misterius barusan.
Tidak bisa, bomor itu sudah tidak aktif.
"Sialan" umpat Amel.
Dia benar benar ketakutan dengan pesan itu. Dia sungguh takut.
Tapi Amel masih bisa bernafas lega saat teringat kalau Park Hoon menyadap ponselnya. Setidaknya jika dirinya ada masalah lelaki itu akan menolong nya atau dia tahu.
Amel membaringkan tubuhnya diatas kasur. Memejamkan mata dan menarik nafas berulang ulang. Ponsel itu bergetar lagi, dengan sigap Amel mengangkat panggilan dari nomor yang tidak dia kenal sebelumnya.
Sebuah suara yang mirip monster dia dengar.
"Halo Amel" itu kalimat pertama yang mampu membuat Amel bergetar, suara yang sama seperti monster monster didalam film. Atau sebuah tayangan boraks saat dia di Indonesia dulu.
"Kau siapa?"
Orang itu tertawa, tawa yang membuat Amel ketakutan
Amel mengernyitkan dahi, apa dia tahu kalau tadi Amel mencari sebuah alat penyadap.
"Brengsek, siapa kau?"
"Aku" suara itu terjeda "aku adalah orang yang menginginkan kau dan Park Hoon mati"
Setelahnya panggilan mati. Amel berusaha menghubungi lagi. Tapi sayang nomor itu tidak aktif.
**
Amel meletakkan kepala diatas meja dengan berat, setelah kejadian seseorang menghubunginya secara misterius tadi pagi ,dia tidak bisa tidur semalaman.
Suara Eun Ji dan Mirae yang baru datang membuat Amel justru memejamkan mata.
"Ya Amel, kau pagi pagi sudah mengantuk" cela Mirae.
Amel masih tidak berniat membuka mata, dia hanya menarik nafasnya dan menghembuskan dengan berat.
"Kau kenapa?" tanya Eun Ji yang selalu peka terhadap apa yang di rasakan Amel.
Amel menggeleng tidak jelas diatas meja.
"Ceritalah pada kami" bujuk Mirae untuk membuat Amel mengangkat kepala.
Amel hanya membuka matanya, tapi tidak mengangkat kepala. Dia berkedip, mengingat bagaimana suara orang yang menghubunginya membuat dia merinding seketika.
"Mel setelah libur musim panas itu, kau jadi pendiam"
Kalimat Mirae membuat Amel mengangkat kepala. Setelah musim panas itu sebenarnya hubungan dia dan Park Hoon lebih baik, tapi muncul masalah baru yaitu orang yang menerornya beberapa hari ini.
"Tidak, aku hanya merindukan negaraku" dustanya.
"Sudahlah, negara kami akan bersikap baik padamu" mirae menyemangati, menepuk bahu Amel sehingga gadis itu perlahan lahan menarik sudut bibir.
"Bagaimana kalau nanti pulang sekah kita makan Sundae"
Mirae bertepuk tangan senang.
"Aaa kul" ucap Amel dengan senang.
**
Eun Ji, Mirae dan Amel berjalan menuju kantin. Sebelum sampai Min Hyuk mencegah jalan mereka. Dia memasukan tangan ke dalam saku celana.
"Amel, ikut aku ke atap" ajaknya
Amel mengusap tengkuk, sebuah kebiasaan dikala dia kebingungan.
"Ada yang ingin aku bicarakan" katanya.
"Pergilah, kami akan membelikanmu makanan ringan" kata Eun Ji
"Juga susu pisang" tambah Mirae.
Amel menarik senyum, kemudian mengangguk dan berjalan mengikuti Min Hyuk di sebelahnya. Mereka menaiki anak tangga menunju atap kelas dua yang jaraknya tidak terlalu jauh.
Sampai disana mereka sama sama terdiam, menikmati udara yang berhembus kencang.
"Ada apa?" tanya Amel mengawali pembicaraan mereka.
Min Hyuk menendang bebatuan kecil didepannya, memasukan tangan kedalam saku celana dan mendongak menatap Amel.
"Apa kau menyukaiku?"
Kalimat Min Hyyk membuat Amel tertegun bahkan dia merasa sangat gugup saat ditanyai dengan tatapan setajam ini. Min Hyuk maju selangkah, membuat Amel mau tidak mau memundurkan langkahnya.
"Itu___" Suara Amel seketika tercekat di kerongkongan. Dia bingung mau memberi jawaban atas pertanyaan Min Hyuk seperti apa.
"Apa kau tidak menyukaiku?" ulangnya
Semakin Min Hyuk melangkah maju, Amel juga mengambil langkah mundur, sampai betis kakinya menabrak pembatas roftof. Kalau Min Hyuk mencondongkan tubuhnya Amel akan terjatuh, ini benar benar mengerikan. Ketinggian lantai tiga sangat membuat Amel takut.
"Min Hyuk'a" dia memanggil nama Min Hyuk tidak senyaman dulu, justru malah berganti menakutkan
"Tidak atau iya?" tubuh Min Hyuk mencondong maju.
Amel tidak nyaman berada dijarak sedekat ini hingga dia memundurkn tubuhnya.