
Setelah puas bermain di sungai Han, Amel diantar pulang oleh Min Hyuk, tentu saja dia minta diantar sampai halte.
"Kau benar tidak apa apa aku turunkan disini?" tanya Min Hyuk tanpa turun dari motornya
"Tidak apa apa, justru kalau kakak ku tahu aku diantar laki laki, nanti urusannya bisa panjang" dusta Amel. Min Hyuk menatap sebentar wajah Amel lalu mengenakan helm.
"Jangan lupa hubungi aku" ujarnya lalu menarik gas motor untuk menuju rumahnya.
Amel mendegus lega, setelah itu dia berjalan menuju apartemen Park Hoon yang letaknya dekat dari sini. Dia melirik kearah jam tangannya, masih pukul 2 KST. Lelaki itu pasti masih disekolahan. Setelah melihat pintu lift terbuka, Amel berjalan menuju kedalam apartemen dengan bersenandung ceria, rasanya lebih menenangkan tanpa kehadiran Park Hoon.
Sayangnya fikiran damai itu langsung lenyap kala dia melihat lelaki itu duduk dengan kaki terangkat. Matanya menatap Amel penuh selidik, bahkan seperti sensor yang bergerak dari atas sampai bawah. Park Hoon bangkit mendekati gadis itu.
"Dari mana kau?" tanya Park Hoon dengan suara dingin. Suaranya mampu membuat Amel gemetar. Park Hoon mendorong tubuh Amel hingga gadis itu membentur tembok. Di abaikannya rasa sakit meski tubuhnya sudah bergetar tapi dia tidak ingin terlihat lemah dihadapan Park Hoon
"A-aku aku dari sungai Han" jawab Amel jujur
"Arggg, memang nya siapa kau bisa seenaknya pergi tanpa seizin dariku" teriak Park Hoon sangat lantang.
"Kenapa aku harus meminta izin padamu?" bantah Amel tak kalah kuat.
"Kau, kau harus sadar, kau adalah tawananku. Aku bisa saja membunuhmu sekarang"
Demi apapun mata Amel sudah berkaca kaca, selama hidupnya dia belum pernah diperlakukan seperti ini, apa lagi melihat lelaki ini. Mata Park Hoon sudah menyalah marah. Tangannya menggenggam kuat bahu Amel hingga gadis itu merintih kesakitan
"Kau pergi dengan siapa?" teriak Park Hoon
"Berhentilah berteriak, aku tidak tuli"
Park Hoon mencengkram rahang Amel, gadis itu sudah tidak bisa mempertahankan air matanya, dia sudah terisak.
"Jawab aku, kau dengan siapa?" teriak Park Hoon lagi.
Lelaki itu melepas cengkranannya.
"Kau bisu? Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku" teriaknya
"A-aku pergi dengan Min Hyuk"
Mendengar nama Min Hyuk, Park Hoon langsung meninju tembok dibelakangnya membuat Amel menutup wajahnya dengan tangan.
"Brengsek, kau harus tahu posisimu Amel. Kau disini tawananku, jangan mencoba membuatku marah"
Park Hoon meraih bibir Amel, menciumnya dengan sangat panas, menggigit bibir Amel karena gadis itu tidak membalas ciumananya. Lelaki itu berpindah ketubuh Amel, meraih kerah bajunya dalam satu sentakan Park Hoon berhasil merobek bajunya.
Amel menangis ketika tubuhnya dicumbui secara kasar oleh Park Hoon, sungguh seumur hidupnya dia tidak pernah diperlalukan seperti pelacur
"Tolong hentikan Hoon'a" mendengar Amel memanggilnya Hoon'a, lelaki itu menghentikan perbuatannya. Park Hoon menjauhkan tubuhnya dari Amel, sampai tubuh gadis itu terjatuh kelantai. Dia menangis, merasa bahwa dirinya hina.
Ditatapnya bibir Amel yang bersarah, serta tangisan yang semakin membuat Park Hoon frustasi
Park Hoon menjambak rambutnya frustasi, kenapa dia tidak bisa mengontrol dirinya seperti ini. Bahkan saat Amel kembali ke apartemen, dia menatap wajah gadis itu berseri, kenapa? Kenapa gadis itu tidak pernah merasa sebahagia itu hidup dengannya.
Lelaki itu berjalan mendekatinya, melepaskan kaosnya dan memakaikan pada Amel.
"Jauhi Min Hyuk atau dia akan kubunuh" Park Hoon bangkit lalu berjalan menuju kamarnya. Sungguh, dia tidak berniat berkata seperti itu meski kalimat membunuh Min Hyuk memang akan dia lakukan tapi bukan itu, dia ingin berkata "maaf" tapi sangat sulit dia ucapkan.
Amel masih meringkuk dengan tangisnya yang pecah.
"Papa, mama, Amel ingin pulang" ujarnya. Dia berusaha mencari ponselnya, tapi tidak dia temukan. Gadis itu mendegus pastilah ponselnya ada ditangan Park Hoon.
**
Kevin masih berkutat pada operasinya, ketika dia selesai dia langsung membuang masker dan pakaiannya dikotak sampah. Tatapannya nanar, nafasnya memburu. Jhonatan, lelaki itu mendekati Kevin dengan pakaian santai. Dia memang selalu berpakaian santai jika sedang mengawasi Kevin.
"Sial, dia kira aku ini anjingnya" Kevin menggenggam kuat tangannya.
"Aku seharusnya menyelamatkan nyawa pasien, tapi ini harus membunuhnya diruanagn operasi"
"Tapi ini kosekuensinya kau mau bekerja sama dengan tuan"
Kevin menoleh menggeretak giginya. Matanya menyorotkan kemarahan
"Apa katamu? Bekerja sama. Dari awal aku tidak mau bekerja sama dengan dia. Lelaki itu yang mengancamku dengan menggunakan Amel"
"Aku tahu, tapi golongan darah pasienmu sama dengan golongan clien tuan."
"Argghh sial" kevin meninju tembok. Lalu dia berjalan menuju kantin rumah sakit diikuti Jhonatan
"Apa yang akan kau lakukan nanti? " tanya Jhonatan ketika mereka sudah duduk dikantin rumah sakit
"Entahlah, aku hanya bingung. Kau tahu untuk menyelamatkan adikku aku harus membunuh orang yang tidak bersalah apa apa" kata Kevin memandang kearah sekumpulan anak kecil yang berlarian riang.
"Bersabarlah" kata Jhonatan. Ya, Jhonatan sudah menjadi teman Kevin selama Amel tidak ada. Lelaki itu memang kejam tapi dia tidak pernah memperlakukan Kevin dengan kejam. Apalagi nasib kedua nya sama. Sama sama terpaksa untuk bergabung dengan Park Hoon, apalagi Kevin sudah tahu tentang Jhonatan.
"Bagaimana kabar Amel?" tanya Kevin terdengar lemah.
"Aku belum bertanya pada Junhyun"
Kevin menatap kosong didepannya. Rasannya dunia nya sudah berakhir ketika dia bertemu Park Hoon. Rasanya ruang geraknya terbatas, dia tidak bisa untuk sekedar menelfon orang tuanya karena ponselnya sudah disadap oleh anak buah Park Hoon. Dan apalagi saat ini bukan hanya Jhonatan satu satunya anak buah Park Hoon yang mengawasinya tapi masih banyak lagi. Berbagai alat pelacak sudah diletakkan Park Hoon pada dirinya sehingga kemana pun Kevin pergi lokasinya akan dengan mudah ditemukan Park Hoon.
"Kudengar hubunganmu dengan Syasya semakin membaik" kata Jhonatan menyadari kekosongan pada Kevin. Lelaki itu tersenyum kecut
"Aku hanya bersikap baik pada wanita" ujarnya bangkit tanpa menyentuh makanan yang sudah dia pesan.
"Kevin" panggil Jhonatan
"Bersabarlah, aku akan memcari cara untuk membantumu" kata Jhonatan meninggalkan Kevin. Lelaki itu masih diam ditempat.
"Kau tidak perlu repot repot membantuku, kau bebaskan adikmu saja. Nasib ku lebih beruntung dibandingkan kau" ujar Kevin entah kepada siapa. Karena Jhonatan sudah berlalu meninggalkannya.
Kevin berjalan dengan tatapan kosong menuju ruangannya. Han Jae tersenyum cerah ketika menatap Kevin.
"Dokter, operasi anda dijadwalkan jam 7 KST" kata Han Jae membuat langkah Kevin berhenti.
Kevin mengegam gangang pintu dengan kuat. Itu artinya jam 7 nanti dia akan membunuh seseorang. Tanpa sadar Park Hoon sudah menjadikannya iblis. Tapi dia tidak bisa untuk menolak, karena setiap geraknya yang berbahaya akan membuat nyawa adiknya sebagai taruhan.
Kevin menoleh dan tersenyum kearah Han Jae lalu berjalan untuk masuk kedalam ruangannya.
Disana dia melempar benda apapun, hingga beberapa map terjatuh dan menghasilkan Suara bising. Pintu terbuka, Kevin yakin itu adalah ulah Han Jae
"Dokter ada apa?" tanya Han Jae heran ketika melihat bahu Kevin naik turun. Lelaki itu terlihat sangat marah entah kenapa?
"Tadi ada tikus, aku hanya takut" dusta Kevin
"Yasudah kalau begitu"
Setelah Han Jae keluar kevin menarik laci mejanya, mengambil obat Xanax.
Obat itu berfungsi sebagai penenang, untuk depresi dan kecemasan.
Sepertinya Kevin memerlukan pelampoasan dan pelampiasan yang bisa Kevin lakukan bukan kepada wanita tapi kepada obat penenag. Hingga membuatnya lupa apa yang terjadi saat ini.
Kadang memang kita memerlukan sesuatu pelampiasan yang bisa membuat kita sekedar merasa baik baik saja ditengah kecemasan dan rasa takut yang sebenarnya tidak baik.