
Amel membenamkan wajahnya ketika suara deru motor berhasil membuat kepalanya terangkat. Gadis itu menangkap wajah Min Hyuk yang juga menatapnya dengan lekat
"Ada apa?" tanyanya penuh khawatir.
Amel menggeleng berusaha menutupi apa yang dia rasakan, lagipula apa yang perlu dia sesali. Dia tidak punya hak untuk merasa marah pada lelaki itu. Dia hanya tawanan yang bisa kapan saja mati ditangan lelaki itu.
Min Hyuk turun dari motornya lalu berjalan dan duduk di samping Amel. Entah dapat angin dari mana, gadis itu langsung menyender pada bahu Min Hyuk, seolah bahunya adalah pelampiasan terbaik untuk Amel. Tidak ada penolakan saat itu, sungguh Min hyuk terlihat seperti menerima sikap tiba tiba Amel
"Mau jalan jalan?" tanyanya
"Memang kau tidak sekolah?" tanya Amel karena menyadari mereka seharusnya pergi kesekolah bukan malah duduk dihalte.
"Aku?" seolah bertanya pada dirinya sendiri Min Hyuk menggeleng tegas.
"Kalau kau tidak sekolah, aku pun juga"
"Tapi aku belum mandi" ucapnya
"Mau kuantar kerumahmu?"
Amel menggeleng, rumaah mana? Apartemen Kevin atau Park Hoon jika Kevin maka bisa dipastikan nyawa kedua saudara itu akan di regut oleh Park Hoon. Sedangkan pulang kerumah Park Hoon sama saja dengan membocorkan rahasia kemuka publik.
"Ada apa?" tanya Min Hyuk merasa heran. Gadis itu hanya menarik senyum simpul
"Aku ingin kepemandian umum" katanya.
Mendengar itu Min Hyuk otomatis tersenyum, mereka menarik gas menuju pemandian umum terdekat, setelah sampai keduanya langsung turun.
"Amel, kau masuk dulu ya, aku akan membeli sesuatu" ujarnya.
Amel mengangguk dan memilih untuk meninggalkan Min Hyuk agar lelaki itu bisa lebih leluasa melakukan apa yang ingin dia beli.
Setelah ada 20 menit, gadis itu menoleh kesana kemari untuk mencari keberadaannya Min Hyuk tetapi lelaki itu tidak ada. Tidak mungkin kan dia meninggalkan Amel sendirian disini. Akhirnya Amel keluar dari dalam kolam air panas setelah membersihkan dirinya, dia hendak keluar tetapi seorang wanita yang bekerja di pemandian umum itu tersenyum ramah dan mendekatinya
"Dengan nona Amel?" tanyanya. Amel mengangguk
"Dari teman anda Min Hyuk" ucapnya memberikan sebuah paperbag bewarna putih. Amel sempat mengintip ternyata sepasang pakaian musim panas.
"Sekarang dia dimana?" tanya Amel
"Dia menunggu diluar"
Setelah mengatakan itu wanita yang memberikan paperbag putih langsung permisi undur diri. Amel mengganti pakaiannya dengan pakaian yang telah diberikan oleh Min Hyuk.
Amel akhirnya melangkah keluar dengan menggandeng paperbag, dia sempat bingung menoleh kekanan dan kekiri mencari keberadaan Min Hyuk.
"Mencariku" suara seseorang membuat Amel menoleh. Lalu melemparkan senyum kearahnya. Min Hyuk sempat diam memaku, gadis itu sungguh terlihat cantik dengan setelah rok dan baju biru senada yang semakin membuat terlihat cerah.

"Terimakasih" amel mengangkat paperbag ditangannya, membuat Min Hyuk tanpa sadar mengusap rambut Amel lembut.
"Kau cantik" puji Min Hyuk tulus. Mendengar pujian itu, Amel memerah, pipinya seketika terasa panas, degupan kencang kembali menjalar di dadanya. Degupan yang jauh lebih keras dibandingkan dengan saat dia bersama Park Hoon.
"Mau beli patbingsu?"
Patbingsu adalah es serut. Gadis itu mengangguk.
"Kau ganti pakaian ya?" tanya Amel setelah menyadari Min Hyuk tidak mengenakan seragam sekolah lagi.
"Ha ha ha iya" lelaki itu melangkah menuju parkiran. Amel dan Min Hyuk langsung naik keatas motor. Lalu melangkah meninggalkan area pemandian umum.
**
Park Hoon harus pergi kesekolah hari ini, sebenarnya dia merasa malas tapi dia harus pergi. Ketika didalam kelas dia tidak melihat kehadiran Amel. Bukankah gadis itu sudah pergi sejak dia masih bersama Enjo, salah satu pelacurnya.
Lelaki itu masih melirik kearah bangku Amel.
"Terimakasih ya ,nanti oppa makan" jawab Park Hoon dengan senyuman lebar. Setelah gadis itu pergi muncul banyak gadis lainnya memberikan semacam bingkisan, souvinir, nasi bekal, roti dan masih banyak lagi.
Setelah dia bisa terbebas dari retetan hal yang membuatnya merasa tercekat. Park Hoon berdiri diatas roftof memandangi lapangan sepak bola. Menatap sekumpulan siswa yang tengah berlarian mengejar bola. Tapi fikirannya yang tidak kearah pemainan itu melainkan tentang kejadian tadi pagi, tentang gadis itu yang tidak pergi kesekolah.
Degupan itu kembali muncul hanya dengan memikirkn Amel, sejak gadis itu menginjakan diri di apartemennya, Park Hoon sudah merasa tertarik padanya. Tapi hanya sebatas tertarik biasa tidak sepenuhnya dia menginginkan Amel.
Tapi diluar dugaan ternyata gadis itu memilikk kekuatan untuk membuatnya merasa kacau seperti saat ini, saat dia tahu gadis itu tidak pergi kesekolah. Park Hoon merogoh saku celana nya mengambil ponselnya dan mendial salah satu nomor anak buah yang dia tugas kan untuk mengawasi semua gerak gerik Amel.
"Halo, bagaimana dengan Amel" ucap Park Hoon begitu panggilannya telah diangkat
"Dia sedang berada di sungai Han bersama seorang laki laki" ucap Jonghyun
"Apalaki laki? siapa dia? Apa itu Kevin?"
"Bukan tuan, sepertinya dia seorang siswa di sekolahan nona" jawab Jonghyun
"Kirim foto mereka, cepat"
Setelah itu Park Hoon langsung menutup panggilannya. Demi apapun rasanya seluruh pasokan oksigen menghilang, seolah tidak ada orang dibumi. Ada gejolak lain yang selalu ikut serta dia rasakan ketika mendengar Amel bersama lelaki lain, tapi apa itu?
Ponselnya kembali berbunyi, menampilkan sebuah gambar dua orang yang tengah tertawa bahagia bersama. Tawa yang belum pernah Park Hoon lihat dari Amel. Senyum yang selalu disembunyikan dari Amel.

"Min Hyuk" gumam Park Hoon. Lelaki iti adalah Min Hyuk.
"Brengsekkk"
Park Hoon berjalan turun dari roftof ketika berbalik matanya menatap Kang Chul yang juga menatapnya heran. Secepat kilat Park Hoon merubah ekspresi marahnya menjadi ekspresi senang.
"Kudengar kau menyebutkan kata brengsek. Ada apa?" tanya Kang Chul. Lelaki itu menyunggingkan senyum hingga sederetan gigi putih memancarkan kilauan cahaya.
"Aku mendapatkan komentar buruk di SNS ku" jawab Park Hoon berusaha menyembunyikan alasan sebenarnya. Kang Chul mengangguk, entah yakin atau sebaliknnya, yang jelas Park Hoon harus selalu hati hati dengan lekaki satu ini, karena lelaki ini bisa berpotensi mengkhianatinya.
Park Hoon hendak melangkah tapi Zhan dan Lee Chan melambaikan tanganya kearah Park Hoon, mereka berjalan mendekatinya setelah muncul dari pintu rooftof.
"Ada Park Hoon juga rupanya" kata Zhan lalu merangkul Park Hoon untuk kembali mendekati Kang Chul.
"Aku bawa birrr" sorak Lee Chan memamerkan paperbag yang dia bawa ditangan kanannya.
"Hyung, kita tidak boleh minum di sekolahan" tegur Park Hoon dengan suara lembut seperti anak kecil
"Ahh, lagian kita ini sudah tua. Kita juga bukan siswa, santai saja" ujar Lee Chan membela diri. Melihat tingkah Lee Chan itu Zhan tertawa terbahak bahak. Mereka akhirnya menikamati sekaleng bir, menenggelamkan pikiran mereka masing masing, membawa mereka lebih hanyut diterpa sinar mentari yang tidak terlalu terik.
"Hyung" pangil Park Hoon membuat ketiganya kompak menoleh
"Manager Ji Wok kemarin memberitahuku" ujar Park Hoon lagi
"Katanya kita harus segera meninggalkan sekolahan, kau tahukan, sebentar lagi kita akan syuting MV dan tanggal perilisan comeback kita sudah dekat, jadi dia meminta kita bersiap siap untuk meninggalkan sekolah"
Mendengar ucapan Park Hoon seolah dihantam ribuan batu dari langit, mungkin hanya untuk Lee Chan karena Zhan dan Kang Chul hanya mengangguk sembari kembali meneguk birnya.
"Apa? Kenapa kita harus meninggalkan sekolah" protesnya
"Kenapa? Bukankah kau tidak menyukainya" ujar Zhan merasa heran dengan sikap member satunya ini.
"Aku baru mulai menyukainya, kenapa kalian setega ini kepadaku? " Lee Chan semakin mendramatiskan keadaan dengan duduk dilantai dan memainkan kakinya seolah tenagh protes
"Hahaha" melihat itu Kang Chul, Zhan dan Park Hoon tertawa. Sungguh member yang satu ini selalu bisa mencairkan suasana.