My Idol Is A Mafia

My Idol Is A Mafia
MAFIA ujian pertama



Kevin duduk sembari mengetukkan jari jemarinya diatas meja, setelah mendapat surat misterius diatas mejanya, dia sempat berfikir, akankah dia pergi menemui sipengirim atau tidak. Karena penasaran akhirnya laki laki itu melepaskan jas kedokteran dan melangkah menuju mobil untuk menemui sipengirim. Tidak lupa dia mematikan ponselnya agar Park Hoon tidak bisa melacak keberadaan Kevin.



Setelah mengetik selamat ulang tahun pada Amel, Kevin langsung menuju kuil Woljeongsa yang  terletak di hutan sebelah timur lembah pegunungan Odaesan. Kuil ini terdiri dari 60 kuil dan 8 wihara. Terletak di Pyeongchang-gun, Gangwon-do.


Hutan cemara yang tebal adalah pemandangan yang bisa di lihat saat berkunjung ke Woljeungsa. Saat musim dingin, salju di kawasan ini tidak akan mencair hingga bulan Mei. Saat itulah Woljeungsa menjelma menjadi kuil yang memiliki keindahan luar biasa. Kevin bisa merasakan keindahan alam kuil tersebut dengan berjalan-jalan melalui lembah di sebelah kuil.


Meski dia sudah menunggu hampir sejam di sini tapi Kevin tidak merasa bosan hitung hitung dia sedang tamasya. Setelah memesan hadiah untuk Amel di salah satu penjualan online di Korea. Dia memutuskan menunggu si pengirim didalam kuil, setelah tadi dia bertemU biksu dan biksu sempat berkata "kalau kau Kevin, tunggulah didalam"


Kevin tidak paham apa maksudnya tapi tidak ada salahnya dia ingin tahu siapa si pengirim itu. Setelah menunggu hampir dua jam, pintu kuil terbuka, ada seorang laki laki dengan mengenakan jas rapi yang seumuran dengan Kevin tersenyum kearahnya. Dari gerak geriknya Kevin bisa menebak kalau lelaki inilah yang mengiriminya surat misterius.


"Dokter Kevin?" Tanya laki laki itu. Kevin mengangguk, setelahnya si laki laki itu duduk dihadapan Kevin.


"Aku Hideyoshi kau tidak akan mengenalku, tapi ayah ku bekerja untuk Park Hoon. Dan aku sudah tahu semua tentangmu" ucapnya tanpa menoleh kearah Kevin, dia menatap patung Budha yang berada dihadapannya.


Kevin memilih diam dan mendengarkan lelaki ini menyelesaikan kalimatnya.


"Kau kenal Jhonatan?" Tanya Yoshi kepada Kevin. Lelaki itu mengangguk sebab sebelum dia kesini Kevin harus lebih dulu mengalikan pengawasan dari Jhonatan.


"Adiknya tengah kabur dan menemuiku" tambah Yhosi. Kevin tidak paham permainan apa yang sedang dimainkan orang orang disekitarnya tapi Kevin sudah jengah.


"Maaf, aku tidak tertarik untuk semua itu. Langsung saja keintinya, aku tidak suka berbelit belit"


Yoshi tertawa, dia menatap Kevin dengan sisa tawanya. "Seperti dugaanku, kau memang selalu blak blakan" puji Yoshi.


"Aku seorang Jaksa di Jepang. Tapi ayahku tidak tahu kalau aku punya bisnis di Korea"


Ah lelaki ini masih saja berbelit belit, Kevin hendak bangkit tapi menyadari dirinya di kuil dan pemandanngan yang begitu memukau lelaki itu memilih mendengarkan basa basi Yoshi hingga selesai.


"Tujuanku menemui mu adalah aku ingin membebaskan kau sebagai tawanan Park Hoon dan membalaskan dendam padanya"


Kevin menarik nafas panjang, menjadi tawanan saja sudah menyulitkan dirinya apalagi membuat rencana sebesar itu. Kevin paham siapa Park Hoon lelaki itu sangat berbahaya.


"Apa kau yakin bisa memebebaskanku, aku sendiri tidak yakin akan hal itu. Aku memiliki adik yang berada digenggamannya"


"Ah Amel, kau tenang saja. Lelaki itu tidak akan menyakiti adikmu, karena sepertinya lelaki itu sudah jatuh hati pada adikmu"


Kevin menegang apa benar yang di katakan Yoshi padanya, itu sangat tidak mungkin. Amel tidak akan menyukai Park Hoon, demi planet EXO dia tidak akan mengijinkan hal itu terjadi.


"Melihat ekspresimu, kukira kau belum tahu akan hal ini"


Yoshi mengeluarkan beberapa lembar foto yang berada di saku dalam jasnya.


"Ini adalah foto kemesraan Park Hoon dengan Amel" katanya menyeringai menang


"Aku tidak paham ini semua. Apa maksudmu?" Rahang Kevin mengeras, dia ingin marah dan sungguh sungguh ingin marah terutama pada Park Hoon.


"Kelemahan Park Hoon ada di adikmu sekarang, dan kau harus bisa membawa adikmu kembali ke Indonesia, aku akan menggunkan cara untuk menghubungimu dengan perusahaan milik papamu" kata Yoshi.


"Itu tidak mungkin, kau tahu untuk lepas dari Park Hoon aku sangat kesulitan"


Yoshi tertawa lagi kali ini dengan tawa yang sedikit dia buat buat.


"Kau lupa siapa aku, aku akan membantumu" katanya mengambil jeda "sebagai gantinya aku ingin kau bekerja sama denganku, untuk menusuk Park Hoon. Aku membutuhkan orang sepertimu" kata dia.


**


Park Hoon tidak ikut sekolah sejak kemarin karena manager sudah mengemumkan bahwa ASP resmi berhenti melakukan promosi dan akan fokus pada syuting MV mereka.


Park Hoon juga sudah pergi sejak pagi buta, pukul 3 dia sudah pergi ke drom. Dan pagi ini Amel memutuskan untuk pergi dengan menggunakan bus. Dia menunggu bus ada setengah jam, setelah bus datang dia langsung masuk kedalam bus. Saat dia duduk di ujung jendela bus, seseorang ikut duduk disebelahnya. Amel menoleh menatap Min Hyuk yang tersenyum kearahnya.



"Ada apa? Apa aku menganggetkan?" Tanya Min Hyuk, Amel menggeleng meski dia merasa tidak nyaman.


"saeng-il chughahae Amel"


Amel menoleh menatap boneka beruang yang sudah berada didekat dirinya ditambah sebuket bunga.


Amel tersenyum, perlakuan kecil seperti ini sebenarnya membuat hatinya senang. Min Hyuk memang lebih tau dirinya dibanding orang lain.


"Kemarin aku ingin menemui mu tapi kau tidak mengangkat telfonku" kata Min Hyuk


"Sumbe, apa sumbe tidak apa apa naik bus?" Tanya Amel mengalihkan pembicaraan keduanya


"Aku sudah bilangkan jangan memanggilku Sumbe, panggil saja oppa atau Min Hyuk" tegas Min Hyuk. Amel mengangguk tapi fikirannya tetap melayang pada Park Hoon entah kenapa dia merasa tidak nyaman dekat dengan lelaki lain selain Park Hoon.


Setelah lima belas menit Amel sampai disekolahnya, ternyata banyak siswa yang tengah belajar sembari berjalan anehnya lagi tidak ada yang tersandung atau dia kesusahan dalam jalan.


Amel melangkah santai menuju kelasnya, pandangan pertama yang dia lihat adalah fokus teman temannya pada buku masing masing.


"Pagii teman teman" sapa Amel pada yang lainnya, tidak ada yang menjawab sapaannya. Semuanya masih terfokus pada buku.


Amel mendegus dasar teman temannya bagaikan mayat hidup yang hanya tau belajar dan belajar.


Amel membuka bukunya, ujian pertama adalah matematika. Dan matematika disini lebih sulit dibandingkan di Indonesia.


**


Jam istirahat berbunyi semuanya berjalan menuju kantin, Eun Ji dan Amel memilih untuk menyantap makanan di meja ujung sedangkan Mirae gadis itu masih sibuk belajar.


"Ya, apakah Mirae tidak bosan membaca buku terus terusan?" Tanya Amel kepada Eun Ji


"Kau ini bagaimana, dia kan rajanya belajar" cerca Eun Ji. Gadis itu meletakkan sumpit diatas piring, lalu membuat ekspresi sesedih mungkin.


"Kau sudah dengar anggota ASP tidak akan pergi sekolah lagi, promosi mereka sudah selesai" kata Eun Ji sedih.


"Tidak apa apa Eun Ji lagi pula mereka pernah bilang pada kita kalau mereka akan selalu siap untuk pergi bermain bersama kita, jadi kapan kapan kita akan mengujunginya" hibur Amel


"Lagipula kenapa promosi dilakukan sebelum mereka comeback, biasanya promosi akan dilakukan menjelang perilisan, ini apa? Belum membuat MV agensi sudah berani beraninya membuat promosi" kata Eun Ji geram


"Ya, kau terdengar seperti antis yang tidak terima ASP melakukan promosi"


"Bukan begitu, aku hanya tidak mau berpisah dengan mereka" kata Eun Ji frustasi.


Setelah selesai makan keduanya kembali kekelas, tapi Amel memilih ke toilet dulu, dan Eun Ji meninggalkan Amel sendirian. Amel mencuci tangannya di wastafe ketika dia mendengar disalah satu bilik ada suara seorang gadis yang muntah muntah.


Amel memilih tidak perduli tapi ketika dia melihat seorang wanita yang dia kenal keluar dari salah satu bilik mata Amel terbelalak. Dia setengah kaget tapi buru buru mengalihkan pandangannya kearah kaca. Dia melihaat ekspresi gadis itu sama kagetnya.


"Kau sudah tahu tentang aku kan, jadi jangan biacaran tentang ku pada orang lain" tegas Jenie, ya dia adalah Jenie. Jenie Angela seorang gadis yang bekerja di salah satu club milik Park Hoon.


"Aku tidak tertarik pada dirimu, jadi aku tidak akan menyebarkan berita apapun mengenai itu" kata Amel memilih berlalu meninggalkan Jenie.