
Setelah selesai bersenang senang, Park Hoon kembali ke apartemennya dengan wajah sedikit cerah, bagaikan dia baru saja menemukan sumber kekuatannya dengan membunuh Luchas. Kau ingin tahu bagaimana kabar Luchas setelah dipanggang. Lelaki itu sudah lemas tidak sadarkan diri, lalu Park Hoon menghubungi Kevin untuk mengambil paksa organ tubuhnya.
Kevin tentu menolak, tapi bukan Park Hoon namanya jika dia tidak bisa memaksa Kevin.
"Kau mau adikmu yang tengah tertidur itu tidak akan pernah bangun selamanya?" ujarnya. Kevin menatap Park Hoon dengan penuh rasa benci. Demi Tuhan rasanya dia ingin membunuh Park Hoon sekarang juga.
"Kalau kau mau membunuhnya kenapa tidak kau lakukan dari dulu? " tantang Kevin
"Mudah saja" ujarnya "kau belum dengar ya, kalau adikmu sudah resmi menjadi pelacurku bahkann" Park Hoon menatap Kevin dengan menyunggingkan senyum
"Aku sudah menidurinya" lelaki itu hendak bangkit dari duduknya "kau belum pernah mencicipi adikmu yang virgin itu?, kau mau tahu? Suara desahan adikmu sungguh merdu"
"Brengsek, kau sudah berjanji padaku untuk tidak menyentuh adikku" Kevin hendak menyerang Park Hoon sayangnya lelaki itu terlalu lemah oleh tenaga Alex setelah dia dihajar habis habisan di apartemennya
"Aku tidak berjanji untuk itu, aku hanya berjanji untuk tidak membunuhnya" Park Hoon berjalan, ketika tiga langkah dari jalannya dia berhenti
"Aku mau pulang, dan mendengarkan desahan adikmu yang manis itu. Kalau kau tidak ingin aku menjualnya lakukan perintahku"
Ah bayangan wajah Kevin yang memerah karena kemarahan membuat wajah lelaki itu berseri. Apalagi dengan membohongi Kevin kalau dia sudah meniduri Amel. Padahal lelaki itu memang ingin merentas habis virgin Amel, tapi dia berusaha menolak, mau bagaimanapun lelaki itu sudah sadar, jika Amel bukan gadis biasa yang bisa dia tinggal dengan mudahnya. Tapi gadis itu bisa berpotensi membuat dirinya bergetar, bukan sebuah kebohongan ketika dia menatap gadis itu bersama lelaki lain, ada semacam rasa sesak yang melanda dirinya.
Jadi Park Hoon memutuskan untuk tidak menyetubuhi gadis itu, karena dia tahu jatuh cinta adalah musuh terbesarnya saat ini.
Kebulan asap memenuhi balkon apartemennya, tatapannya datar menuju lantai bawah. Sampai jam 5 pagi, lelaki itu tetap membuka matanya, udara sejuk Seoul semakin membuat rasa kantuknya terusir. Lelaki itu membuang putung rokok asal, lalu berjalan menuju kulkas untuk mengambil satu kaleng bir.
Lampu yang semula mati tiba tiba menyala terang, lelaki itu menoleh menatap gadis mungil tengah berdiri menatap Park Hoon dengan tatapan terkejut.

Matanya membulat sempurna. Jantungnya berdegup kencang, bukan karen dia terkejut dengan kehadiran Park Hoon tapi lebih terkejut karena lelaki itu tengan telanjang dada.
Tubuhnya atletis, dengan wajah datar yang semakin membuat Amel meneguk air liurnya susah payah. ABS itu hanya pernah Amel lihat di layar ponsel atau laptop kini benar benar nyata dihadapannya. Gadis itu memaku masih tidak percaya dengan ulah lelaki satu ini

Park Hoon berjalan mendekati Amel, membuat gadis itu melangkahkan kakinya mundur, beberapa langkah sampai tubuhnya terpentok pada sebuah dinding di belakang.
"Kau sungguh sexsy ketika bangun tidur" bisik Park Hoon ditelinga Amel. Gadis itu menahan nafas, karena tubuhnya dan tubuh Park Hoon saling menempel, aroma tubuh Park Hoon sungguh semakin membuatnya berdegup kencang. Lelaki itu menatap wajah kecil gadis dihadapannya.
Sama halnya dengan Amel, jantung Park Hoon berdegup kencang, sial. Dia merasa ingin menyetubuhi gadis ini sekarang juga. Mereka saling berhadapan dengan nafas yang memburu, Park Hoon mencoba menahan hasratnya. Tapi kedua bola matanya tidak mau pindah dari bibir ranum Amel bahkan dia menekan kuat dinding yang dia jadikan tumpuan untuk menahan tubuh Amel.
Persetan dengan rasa nyaman yang akan dihadirkan ketika Park Hoon selesai berciuman dengan Amel. Lelaki itu langsung membawa tubuh Amel lebih mendekat, lalu mencium bibirnya dengan lembut.
Terasa manis dan lembut, Park Hoon menekan tekuk Amel untuk memperdalam ciumannya, tidak ada penolakan kali ini yang ada hanya sebuah penerimaan. Amel membalas ciuman Park Hoon, gadis itu mencoba menikmati sengatan listrik yang berhasil mereka hasilkan. Ciuman mereka bertambah panas sampai tidak mengijinkan keduanya untuk mengambil nafas barang sedetik.
Tapi gadis itu tidak tahu apa itu yang semakin membuat area sensitif nya merasa terdorong sesuatu. Padahal ini hanya ciuman, gadis itu ingin menoleh tapi seperti tahu apa yang akan dilakukan Amel , Park Hoon semakin memanaskan ciumannya.
"Terimakasih morning kissnya" ucap Park Hoon menghentikan ciumannya lalu berjalan cepat menuju kamar. Didalam sana lelaki itu berdecak melihat kemaluannya sudah berdiri menatang, sial.
Diraihnya ponsel didalam saku.
"Alex kirimkan aku satu jalang ke apartemen, sekarang" titahnya.
**
Amel diam memaku ketika tanpa sadar dia membalas ciuman Park Hoon, ciuman lelaki brengsek itu. Tapi disatu sisi lain. Batinnya merasa senang karena dia melakukan ciuman mesra bersama idolanya.
Pipinya merona namun Segera hilang kala terdengar bunyi bel apartemen. Gadis itu melangkah untuk membuka pintu, diluar ada seorang gadis dengan pakaian mini menatapnya lekat. Gadis itu lebih tinggi dari Amel, dengan rasa canggung Amel membuka suara
"Cari siapa?" tanya nya merasa aneh, karena dia belum pernah menerima tamu ketika dia tinggal bersama Park Hoon
"Park Hoon" ucapnya langsung nyelonong masuk. Amel berdecak, sungguh gadis ini tidak tahu sopan satun.
"Seharusnya kau permisi dulu dengan yang punya rumah" protes Amel. Gadis itu menoleh
"Kau bukan pemilik apartemen ini nona"
Gadis itu berjalan menuju kamar, lalu membanting pintunya. Amel masih mendegus geram, ketika perlahan dia mendengar suara
"Ahh, emmmm ahhh" suara itu keluar dari dalam kamar. Suara apa itu, semacam suara desahan. Tapi desahan siapa? Karena penasaran Amel melangkah menuju pintu kamar. Sengaja dia mengintip dari lubang kunci, sial, dia melihat Park Hoon bertelanjang dan melakukan hubungan intim dengan gadis itu.
Seketika dia merasa kesal dan marah ,padahal kenapa? Dia tidak memiliki urusan untuk harus marah kepada Park Hoon tapi sungguh dia merasa benar benar marah dan ingin menangis.
"Brengsek" ucap Amel lalu berjalan keluar apartemen. Entah dia mau kemana yang jelas dia berhenti di halte, dengan hanya memakai pakaian rumah. Butiran bening keluar dari matanya. Dia terisak, Padahal tadi Park Hoon menciumnya begitu manis, tapi setelahnya lelaki itu melakukan hubungan intim dengan perempuan lain.
Amel menggigit bibirnya berusaha untuk menghentikan tangisannya.
"Brenngsek, kau satu satunya lelaki terbrengsek di dunia ini Park Hoon"
Hati Amel terasa seperti sakit, padahal dia tidak berhak untuk menyebut itu. Dia hanya tawanan disini, bahkan diposisi sekarang pengawal tetap menatapnya dari dalam mobil. Bahkan Amel tidak pernah lepas dari pengawasan lelaki brengsek itu. Tapi apa? Kenapa dia merasa terluka? Kenapa dia merasa tersanjung telah melakukan ciuman semanis itu dengan idolanya. Padahal tadi dia merasa bahwa dia dicintai dengan lelaki brengsek itu.
Amel membenamkan wajahnya. Sungguh dia belum pernah diperlakukan sekejam ini, bahkan pada siapapun.
Gadis itu akhirnya menangis kencang bersama mentari pagi yang hampir muncul penuh