My Idol Is A Mafia

My Idol Is A Mafia
MAFIA Kematian Jenie



Setelah keluar dari Sun Si club Jenie berjalan limbung, dia tidak tahu dia harus kemana, sedangkan tatapannya terus menatap seisi jalanan kosong. Min Hyuk yang entah sejak kapan mengikuti mereka saat menarik tangan Jenie hingga tersungkur ke lantai. Angin malam membawa mereka lebih dekat, membawa tangisan Jenie menggema.


"Kau tidak apa apa?"


Jenie merasa sendiri, dia menepis tangan Min Hyuk lalu berlari menghindari dirinya, dia merasa hina.


**


Suasa sekolahan masih terasa biasa, hari ini ujian terakhir sebelum menyambut liburan musim panas. Amel duduk dibawah tangga sembari menyantap banana milk yang di belikan Park Hoon tadi pagi, sebenarnya minggu minggu ini lekaki itu sedikit melunak dengan Amel, dia bersikap baik tidak memukulnya seperti pertama kali bertemu. Padahal dia masih sibuk sibuknya syuting MV, dan mulai kemarin Park Hoon menginap di drom.


Amel mengayun ayunkan kakinya, sambil membaca dia menatap sekeliling, dia duduk di tangga menuju roftof, sebenarnya tangga ini sangat sepi. Saat hendak bangkit Amel menatap Jenie yang hendak naik keatas sembari melirik kearah Amel.


"Kau mau kemana?" pertanyaan itu muncul karena takut gadis itu akan melakukan hal yang fatal. Bukan sebuah tidak mungkin seseorang berniat menghabisi nyawanya ketika frustasi, Amel takut jika Jenie akan melakukannya.


Jenie menghentikan langkahnya ketika suara Anel mengintrupsinya untuk berhenti


"Peduli apa kau?" suara itu masih sama dingin dan menusuk, suara yang Amel yakini sangat membenci dirinya dari nada bicara Jenie


"Aku mau bicara" kata Amel pelan


"Aku tidak tahu siapa yang menyebarkan rumor itu, tapi aku tidak pernah bercerita pada siapapun. Sungguh"


Amel menunduk kali ini ada ketakutan yang terbesit dihatinya


"Aku juga sama seperti mu" suara Amel kian melemah


"Tidak, kau tidak sama seperti ku" Jenie menoleh sembari menatap Amel yang sudah mengeluarkan air mata


"Jangan bicara seperti itu, aku juga sama seperti mu"


"Setidaknya kau lebih beruntung dari ku, kau tidak sendiri"


Amel menunduk setelah mendengar ucapan Jenie.


"Kakak ku" Amel membuka suara ketika Jenie menaiki satu tangga "dia sangat menyayangiku, sampai sampai dia rela melakukan apapun demi membebaskanku"


Amel menyeka air matanya "kita selalu punya beban yanng tidak pernah orang lain tahu, sampai saat semua orang tahu kebenarannya. Kau harus kuat, kau bisa melakukannya"


Kriiing


Amel buru buru merapikan bukunya dan menyeka air matanya. Dia akan ke kelas untuk melakukan ujian terakhir.


"Jenie, mungkin kata kata ku sedikit tidak berarti untuk mu, kau harus hidup untuk melihat Park Hoon kalah, kau aku dan semua orang yang terluka karena dia"


Amel sudah berjalan kekelasnya. Dia meninggalkan Jenie yang terududuk lemas di tangga. Saat Amel akan masuk kekelas tak sengaja dia melihat Alex yang menepikan mobil di parkiran. Kelas Amel ada di lantai 3, dikelas teratas. Dekat dengan roftof jadi Amel bisa melihat apapun dari kelasnya.


**


Jenie sedikit mundur saat Alex mendekatinya. Demi apapun yang pernah Jenie makan tadi pagi, seringai Alex terlihat menakutkan. Alex membawa paksa Jenie ke roftot. Dengan jalan yang dipaksa secepat mungkin untuk mengikutinya, Jenie langsung di lepar ke lantai roftof begitu sudah sampai disana.


"What are you doing?" suara Jenie setengah berteriak. Dia marah melihat Alex memperlakukannya tidak baik saat ini.


Leki leki itu masih tersenyum sembari merogoh saku jasnya. Dia mengeluarkan sebuah benda hitam yang langsung dipompa untuk diletakkan diatas kepala Jenie.


"Aku ada berita baik untukmu"


Tidak akan ada berita baik saat semua orang menatap seringai iblis dri makluk itu. Jenie sudah ketakutan, tapi mau bagaimana lagi hanya ada mereka berdua diatas roftof kalaupun dia berteriak itu justru semakin membahayakannya. Jenie berusaha meminta pertolongan orang lain, tapi entah apa itu. Gadis itu tengah berfikir keras sembari meremas tangannya kuat kuat.


"Kematianmu akan dimajukan sekitar" Alex menatap jam rolex nya "20 menit lagi"


Sungguh wajah Alex begitu menyeramkan. Jenie tidak mau mati sebelum dia bisa membalaskan dendamnya pada Park Hoon. Dia ingin hidup untuk melihat laki laki itu menderita. Tidak sekarang dia mati.


"Shitt, ternyata kau kesini karena dibayar untuk membunuhku ya?"


Jenie berusaha membuat dirinya terlihat biasa saja "bagaimana dengan investasi yang sudah aku lakukan di club mu?"


"Apa perlu aku menyanjungmu atas investasi murahan yang sudah kau lakukan di club tuan Park?"


Jawaban Alex masih dingin dengan seringai yang semakin membuat jantung Jenie bergetar.


"Aku akan membuat mu seolah olah kau memang melakukan bunuh diri"


Jennie meludah, matanya berkobar "cuihhh "


"Kau ingin tahu semenjijikan apa aku?"


Alex mendorong tubuh Jenie lebih mendekat di pagar roftof. Sungguh gadis itu ketakutakn tapi dia tidak ingin menunjukan apapun


"Kau ingin tahu lagi, namamu sudah aku daftarkan di asuransi. Jadiiii"


Pelatuk Pistol dia usapkan di bibir Jenie "setelah kau mati kami akan mengambil uang itu sebagai kenang kenang atas kematianmu"


"Bajingan"


Jenie hendak melawan sayangnya rahangnya di cengkram kuat oleh Alex, lelaki itu tertawa puas. Gadis itu meronta sambil memukul mukul tangan Alex.


Alex mengeluarkan sebuah suntikan untuk dia suntikan di tubuh Jenie.


"Argghh" gadis itu meringis kesakitan.


Alex melepaskan cengkramannya begitu suntikan yang dia lakukan sudah selesai.


"Brengsek, kau apakan tubuhku?" tanya Jenie dengan nada tidak bersahabat.


Alex lagi lagi menatap pergelangan tangannya, seperti orang sombong dia membanggakan jam rolex yang baru dia beli kemarin. Sembari merapikan jasnya yang terkena sedikit debu, Alex tersenyum puas.


"Lima menit lagi obat itu akan membuat mu berhalusinasi dan kau akan melompat dengan suka relawan" katanya


"Apa katamu?" ulang Jenie


"Apa perkataanku kurang jelas, kau akan menutupi gosip gosip antara hubungan Amel dan tuan. Jadi bersiap lah untuk mati"


Alex berjalan sedikit menjauh sembari terus menatap jarum jam. 10 detik lagi waktu yang tersisa. Dan Jenie, gadis itu sudah kabur tatapannya. Tidak sejernih tadi pagi, wajahnya langsung pucat. Dia menggeram kesakitan pada perutnya.


9


8


7


6


5


4


3


2


1


Alex melambaikan tangannya sembari bibirnya mengucapkan kata " L O M P A T"


Jenie tanpa sadar membalikan tubuhnya untuk berjalan kearah dinding roftof. Tidak, Jenie belum sempat membalas dendamnya pada Park Hoon, tapi akal gadis itu sudah tidak bisa dia kendalikan lagi. Seperti ada yang membisikan kata untuk lompat, seperti ibunya memanggilnya dari arah depan, ternyata ini adalah sejenis suntikan obat penghalusinasi.


Obat ini biasanya di minum orang orang jika dia terkena flu berat, biasanya bisa menyerang saat musim dingin.


Tubuh Jenie sudah terbaring diatas tanah dengan mulut mengeluarkan darah. Matanya kian melemah diiringi detak jantung yang sudah tidak beritme.


**


Amel dan teman temannya bagaikan dihantam 10 triliun benda mati, karena dari jendala seperti ada sesuatu yang melintas tapi itu bukan sesuatu biasa. Sejak ujiannya sudah selesai 3 menit yang lalu, sesuatu itu langsung menyedot perhatian.


"Ada orang mati" teriak Kim Tan yang berada tak jauh dari jendela.


"Benarkah?" tanya Eun Sang memastikan. Semua merapat untuk melihat ke bawah. Bahkan banyak sekali yang memilih untuk langsung turun.


"Siapa?" tanya Amel pada Eun Ji dan Mirae.


"Ya ya ya , Jenie bunuh diri"


Ucapan dari Sehun sontak membuat Amel menutup mulutnya dengan tangan. Tidak, dia tadi masih melihat Jenie dengan binar semangat hidup, meski dia berniat keatap tapi bukan berarti dia akan mengakhiri hidupnya kan.