
Kevin gemetar ketika dirinya menghadap tubuh pasien yang terbaring di brangkar rumah sakit, sebuah pisau bedah berada ditangan kanan. Kevin terdiam mematung, membuat semua timnya kebingungan. Lelaki itu menjatuhkan pisau bedah. Tubuhnya gemetar, kepalanya terasa berat. Tidak, dia tidak ingin membunuh pasien itu, sungguh dia tidak mau dan tidak akan.
"Dokter are you okey?" Tanya Han Jae. Lelaki itu sempat menoleh kearah samping dimana mata gadis itu menatap lekat kearah Kevin, sedangkan dirinya dia sangat linglung
"Dokter" sentakkan dari Han Jae berhasil membuat lamunannya buyar. Dia segera menggeleng
"Aku tidak apa apa" dustanya. Dia sedikit melangkah tapi sungguh dia tidak bisa berbuat apa apa selain diam memaku. Semua mata tertuju padanya.
Hanya diam, lelaki itu sempat diam mematung tanpa sempat menyentuh tubuh pasien dengan pisau bedah. Seketika alat monitor hemodinamik memberikan informasi gelombang denyut jantung, oksigen dan frekuensi pernapasan sudah tidak ditemukan. Ditambah seorang lelaki yang berdiri di ujung menatap alat elektrokordiogram yang memberi indormasi seputar denyut jantung pasien.
"Dokter,denyut jantung pasien menghilang" ujarnya terasa gugup
"Berikan dokter defribillator" tukas Han Jae.
"Tidakkk" kata Kevin terdengar parau. Semuanya berhenti menatap Kevin yang tengah menatap pasiennya nanar
"Maksud dokter apa?"
"Dia sudah tidak bernafas, detak jantungnya tidak ada. Dia sudah meninggal"
"Dokterrr" Han Jae setengah membentak Kevin, bahkan ini pertama kalinya gadis itu bersikap buruk kepada atasannya. Semua menegang. Keadaan disini terlihat lebih ruyam dari pada sebelumnya.
"Dia sudah meninggal" kata Kevin lebih keras
"Untuk apa kita memberinya alat kejut jantung, dia sudah menyerah dalam hidupnya"
"Dokterrr" suara Han Jae melemah sepeti dia tidak percaya dengan ucapan Kevin barusan
Lelaki itu biasanya paling semangat dan tidak menyerah dengan kehidupan pasien.
"Berikan Aku defibillator" kata Han Jae mengiktruksi salah satu timnya
"Seo Ji An meninggal "
"Tidaakkk dia belum meninggal" ucap Han Jae meronta,
"jam 08.45 KST pada tanggal 24 Agustus 2019 karena penyakit jantung koroner sebelum dilakukan operasi"
Setelah Kevin mengumumkan kematian pasien, dia berjalan keluar ruangan operasi dengan mendengar Han Jae terisak.
Kevin hampir terjatuh ketika dia berada di ruang ganti, dia mengepalkan tangannya kuat, wajahnya dia usap secara kasar. Tangannya gemetar air matanya sudah lolos.
Itu bukan sebuah kematian murni dari pasiennya tapi sebuah medical eror yang Jhonatan buat buat. Ya, lelaki itu, kalau Kevin tidak akan mampu membunuh pasiennya maka Jhonatan lah yang menggantikan Kevin, lelaki itu memberikan potasium kedalam selang infus pasien sehingga detak jantungnya akan berhenti beberapa saat.
Kevin semakin terisak, sungguh ini diluar dugaannya. Tangannya gemetar, tidak ada yang bisa dia lakukan selain menangis. Pintu ruangan ganti terbuka menampakan lelaki yang sedari tadi ada di fikirannya. Lelaki itu berjalan penuh wibawa menepuk bahu Kevin keras.
"Maaf aku harus membunuh pasienmu" ujar nya dengan nada dingin
"Bukan kau, tapi aku" tukas Kevin masih dengan sisa isakan.
"Yang perlu kau lakukan hanyalah mengambil mata dan hati pasien. Dia hanya mengindap penyakit jantung tetapi hati dan matanya berfungsi baik" kata Jhonatan sembari melangkah pergi. Tidak ada rasa bersalah yang dia tunjukan, hanya ada sifat dingin. Kevin mengacak rambutnya frustasi dia yakin Park Hoon dan anak buahnya akan melakukan apapun untuk mendapatkan tubuh pasien itu.
**
Setelah menemui Saboru, Park Hoon berjalan santai menuju hotel, disana sudah berkumpul member ASP dan manager Ji Wok di kamarnya. Masing masing terfokus pada ponselnya.
"Hoon'a apa kau tahu tadi ada saesang gila yang menerobos ruang ganti. Heeolll aku sungguh tidak percaya" ujar Lee Chan menggebu ketika menatap Park Hoon yang baru saja masuk dari pintu.
Zhan langsung menimpuk kepala Lee Chan dengan bantal, membuat lelaki itu mengaduh kesakitan.
"Hyung apa yang kau lakukan?" rengeknya seperti anak kecil
"Biarkan Park Hoon masuk dulu dan duduk baru kau bercerita" kata Zhan dengan raut muka kesal yang di buat buat. Lee Chan hanya mendegus pasrah sembari mengercutkan bibirnya
"Aigoo Lee Chan hyung jangan bertingkah lucu seperti itu, aku ingin mencium bibirmu" goda Park Hoon sembari terkekeh
"Dari mana kau?" Tanya Kang Chul yang masih menatap ponselnya
"Kau tidak dengar kataku, dia sedang mengunjungi penggemarnya yang mengindap kanker" timpal Manager Ji Wok terdengae memanas.
"Ya ya, semudah itu dia lepas dari sorotan wartawan sedangkan kita bertiga tidak bisa"
"Aahh aku lupa, yang bersikap dewasa hanya Park Hoon dan Manager ya" Kang Chul bangkit sembari merapilan kemejanya
"Aku lupa, sejak kapan terakhir kali kau memperlakukan kami seimbang" ujarnya hendak berlalu tapi masih Park Hoon cekal
"Hyung berhentilah bersikap seperti ini padaku"
Kang Chul menepis tangan Park Hoon kasar. Dia menatap Park Hoon belis lebih belis dari biasanya
"Kau tahu, selama ini aku mengalah hanya untuk menutupi semua masalahmu. Lagipula aku baru tahu kau idola yang baik" Kang Chul keluar sembari membanting pintu.
Park Hoon ingin marah dan membunuh Kang Chul sekarang juga tapi rasanya masih bisa dia tahan mengingat masih ada Lee Chan dan Zhan disini.
"Sabarlah Hoon'a mungkin dia marah karena hubungannya dengan Han Sae Yoon tengah buruk jadi dia melampiaskan kekesalannya padamu" ujar Zhan menenangkan Park Hoon. Lelaki itu menyunggingkan senyum.
"Tidak apa apa aku mengerti, karena aku dia harus mendapatkan gelar player dari penggemarnya" kata Park Hoon melemah.
Lee Chan merangkul Park Hoon yang lebih tinggi darinya sehingga dia harua berjinjit untuk hal itu
"Sudahlah tidak apa apa, rumor itu sudah berlalu. Sekarang apa kau mau mendengar cerita tentang saesang gila ?" Lee Chan membimbing Park Hoon untuk duduk diatas kasur. Sedangkan Zhan lelaki itu bangkit.
"Aku akan menemui kang Chul untuk meredamkan emosinya" kata Zhan kemudian berlalu keluar kamar.
Park Hoon menatap Lee Chan seolah dia bersiap mendengerkan cerita darinya.
"Kau tahu tadi saat aku tengah berganti pakain seorang wanita masuk kedalam ruangan. Awalnya aku pikir itu kau tapi ternyata itu adalah saesang, ya kukira juga dia staf yang mau memberitahuku. Bukankah tidak sopan, dia mengintip tubuhku" ucapnya dengan suara antusias.
"Benarkah, lalu apa yang kau lakukan hyung?" Tanya Park Hoon tampak antusias padahal lelaki itu tidak berminat mendengarkan celotehan Lee Chan.
"Aku berkata seperti ini , Yea (hei) apa yang kau lakukan disini?, lalu dia jawab heol kau memiliki abs yang kecil oppa, aku ingin memperkosammu sekarang juga"
Lee Chan bergidik ngeri saat menceritakan itu, rasanya dia masih dapat mengingat bagaimana momen yang baru saja dia lewati barusan.
"Bukankah dia gila. Aaa aku membenci semua tentang dia, bahkan aku hampir trauma karenanya"
"Tapi kau terlihat baik baik saja, dan menurutku kau seperti memiliki sebuah kenangan yang indah"
"Ha apa terlihat seperti itu?"
Lee Chan berjalan dan menghentakan kakinya secara kasar.
"Hyung kau mau kemana?" Tanya Park Hoon karena lelaki itu beniat untuk keluar kamar
"Menyusul Zhan" ucapnya tanpa berbalik. Setelah Lee Chan sudah berlalu manager Ji Wok menatap lekat kearah Park Hoon
"Kau mendengarkannya?" Tanya manager jI Wok dengan lipatan dahi
"Tentu, meski dia kadang mengesalkan tapi dia lucu" Park Hoon membaringkan tubuhnya, menatap langit langit hotel yang bewarna putih
"Bukan, maksudku saesang yang dia katakan" ulang manager Ji Wok merasa tidak puas
"Ya"
"Aku kira dia bukan saesang" ujar manager, mendengar itu Park Hoon menegakkan tubuhnya
"Maksudmu apa?"
"Saat itu ruangan dijaga ketat oleh keamanan, jadi tidak akan ada satu orang pun yang bisa menyusup" manager Ji Wok berkata sembari bertompang dagu, tangan kanannya mengelus bibir seolah tengah berfikir "dia juga memiliki kartu nama, semacam seperti mata mata" tukasnya.
"Maksudmu, dia kesini hanya untuk mematai matai..." Park Hoon menghentikan kalimatnya
"Binggo" suara jentikan dari tangan membuat Park Hoon menoleh "dia seperti mata mata yang ditugaskan untuk mematai mu, aku rasa itu masih berhubungan dengan bisnis mu" kata manager Ji Wok memelankan suaranya.
"Apa ada hal yang bisa kau ingat tentang dia?"
"Kacamatanya? Dia memiliki kacamata yang bisa merekam, dan sebuah tanda CA di bagian leher bajunya"
"CA?" Ulang Park Hoon merasa aneh.