My Idol Is A Mafia

My Idol Is A Mafia
MAFIA Jangan membuat ku terluka



Amel buru buru menuju kelasnya, rasanya tubuhnya memanas padahal seragamnya masih basah. Ketika sudah mendekati kelas, Eun Ji dan Mirae menghadang jalannya. Mirae buru buru menarik Amel menuju roftof sekolahan. Tanpa berkata lagi Eun Ji memberikan seragam olahraga miliknya.


"Pakai ini" kata Eun Ji. Kedua temannya bertolak pinggang. Seolah tidak merasa bersalah Amel justru nyengir kuda dan mengangkat dua jari nya tanda minta damai


"Amel jelasin ke kami apa yang terjadi ?" Mirae melipat tangannya di dada, tatapannya menghunus.


"Oke" tangan Amel membuat bulatan, lalu dia menarik nafas tanda bahwa dia tengah bersiap siap untuk memulai ceritanya. " kau tahu kan aku tadi ketoilet, ditengah jalan si Jenie menghadang langkahku, tiba tiba dia mengguyur ku dengan air" Amel mengambil jeda "padahal aku tidak tahu ada masalah apa dia padaku, seolah dia memperlakukan aku sebagai orang yang bersalah padanya"


Eun Ji menggeleng merasa tidak percaya. Mirae ikut menarik nafas seolah peperangan baru akan dimulai.


"Wahh perempuan sinting itu minta diberi pelajaran"


Eun Ji menyorotkan mata marah, seolah bendera peperangan akan segera dia kibarkan. Melihat kedua temannya bereaksi seperti itu diam diam Amel tersenyum senang.


"Sebenarnya dia ada masalah apa dengan Amel, apa karna dia tidak melapor pada Jenie saat Amel pertama sekolah? "


Rambut Mirae diterpa angin, anak rambut ikut menutupi wajah cantiknya, seragamnya bergoyang goyang. Sedangkan Eun Ji gadis itu masih bersungut kesal tidak memperhatikanĀ  kancing bajunya terbuka dibagian atas.


"Apa karena Min Hyuk oppa?" suara Eun Ji membuat Mirae dan Amel menatapnya.


"Kenapa dengan Min Hyuk oppa?" tanya Mirae masih bersidekap. Amel menaikan alisnya menatap wajah Eun Ji lebih teliti.


"Kau belum mendengarnya, Jenie adalah mantan kekasih Min Hyuk, Gadis itu yang mencampakan Min Hyuk lebih dulu"


Reflek Amel membuka mulutnya sedangkan Mirae menutup mulutnya tidak percaya. Musim panas seolah hanya menjadi pelengkap untuk mereka, diatas Roftof mereka saling berpandangan. 30 detik mereka terdiam mencermati isi fikiran masing masing.


"Bukankah ini lucu, dia semacam balas dendam kepadamu" Mirae membalikan tubuhnya menatap sekumpulan anak yang tengah bermain basket dilapangan, tatapannya masih menyapu sekeliling sedangkan Amel gadis itu sulit berkata apa apa, sebagaian dirinya merasa terluka tapi sebagain lagi merasa tidak apa apa. Hanya bagian kecil yang membuatnya tercekat.


Eun Ji menepuk pundak Amel, membuat si empunya menoleh. Tatapan itu berlangsung lama, kesunyian yang berhasil menduduki tahta.


"Sudahlah, ayo kita ganti baju mu"


Amel hendak berjalan tapi fikirannya beralih pada Park Hoon, lelaki itu sedang apa? Apa dia tahu keadaanya disekolahan? Apa dia akan tertawa melihat keadaan Amel sekacau ini. Tiba tiba dia teringat panggilannya, ponselnya tertinggal di bawah bantal ruangan kesehatan. Amel menepuk dahi.


"Eun ji'a, Mirae'a ada yang tertinggal dirungan kesehatan"


Amel buru buru berlari menuju ruangan Kesehatan, dia berlari sangat cepat. Sampai dia berada di ruang kesehatan. Disana Amel menghentikan langkahnya sembari terus menyimak dua orang yang tengah berada di dalam.


Mereka terlibat percakapan yang serius, saat ini yang bisa dilakulan Amel hanya diam mematung sembari mendengarkan setiap inci percakapan mereka.


"Dengarkan aku dulu" suara Jenie terdengar melemas seolah tidak memiliki kekuatan didalamnya


"Kau boleh marah padaku, tapi aku memiliki alasan untuk melakukannya" sambung Jenie


"Alasan apa? Karna kau selingkuh dengan salah satu ajjussi itu"


"Tidak, aku tidak melakukannya. Aku terpaksa melakukan itu, sungguh"


Min Hyuk tertawa tapi sorot matanya terlihat kecewa.


"Apa kau sejenis pelacur yang harus terpaksa mengaku selingkuh dengan ajjussi"


"Apa katamu?" Jenie seolah tidak percaya


"Kukira hanya aku yang bodoh, ternyata tidak, banyak orang yang bodoh yang sedang kau permainkan"


"Apa maksudmu?"


"Kau ingin tahu, setiap malam kau selalu ke club bersama pria pria yang berbeda. Dapat uang berapa kau?"


Plakkk


"Kau keterlaluan, jika kau tidak menyukaiku tidak masalah. Cukup dengarkan alasanku saja, tidak perlu kau mengataiku seperti itu"


Suara Jenie gemetar, sebentar lagi pertahannanya akan melemah, dia sudah tidak kuat. Dengan langkah gontai dia keluar dari ruangan kesehatan, langkahnya begitu cepat sampai dia tidak menyadari ada Amel yang berdiri didepan pintu.


Amel masih terpaku ketika Min Hyuk melangkah didepannya.


"Sedang apa?" tanya Min Hyuk dengan nada suara lemah. Amel gelagapan berusaha mengatakan sesuatu tapi lidahnya kelu. Rasanya dia baru saja melakukan kesalahan dan itu baru saja ketahuan.


Min Hyuk tersenyum, lalu mengacak rambut Amel dengan manis.


"Aku ke kelas dulu ya"


Gadis itu hanya mengangguk, setelah kepergian Min Hyuk, Amel.merasa bersalah karena menguping pembicaraan mereka.


Gadis itu berjalan menuju brangkar dimana dirinya terbaring tadi.


**


Sekolah berakhir pukul 9 malam. Semua berhamburan keluar, ada yang menuju perpustakaan, tempat les atau pulang. Amel memelankan langkahnya, ada yang dia tunggu. Mungkin tawaran dari Min Hyuk. Sejak kejadian di ruangan kesehatan lelaki itu sedikit berubah, bahkan saat jam makan siang, Min Hyuk tidak berada di kantin atau di kelasnya. Entah kemana perginya lelaki itu.


Lee Chan bersiul ria di sepanjang koridor. Meski saat ini kepopulerannya cukup mampu membuat gadis jatuh pingsan tapi dia sering tebar pesona membuat penggemarnya kejang kejang. Lee Chan merangkul bahu Amel.


"Ya, kau mau kemana setelah ini?" tanya Lee Chan kepada Amel. Kang Chul dan Zhan berjalan dibelakang mereka. Sepertinya mereka adalah satu paket kecuali Park Hoon karena kemanapun member ASP, mereka selalu bersama.


Amel berdehem sembari meletakkan jari telunjuknya diatas bibir, matanya melirik keatas seolah dia sedang berfikir keras.


"Aku males pulang, enaknya kita kemana ya?"


Gadis itu balik bertanya kepada Lee Chan.


"Sebenarnya aku ingin mengajakmu bermain, tapi... Aku ada pemotretan malam ini"


Wajah Lee Chan tertekuk, membuat Amel terkekeh geli. Wajahnya begitu lucu dengan bibir tipis yang sengaja dibuat mengerucu.


Amel menepuk bahu Lee Chan, gadis itu tersenyum menyalurkan tenaganya kepada Lee Chan.


"Tenang oppa, aku akan menyemangatimu. Hwaiting"


Lee Chan menarik sudut bibirnya, rasanya senang mendengar semangat dari penggemarnya. Seolah dia baru saja disuntikan 1000 vitamin kedalam tubuhnya, Kang Chul berjalan sembari tangannya merangkul bahu Zhan.


"Ya, Lee Chan kita harus menemui Xiumin. Dia akan segera wamil besok"


Kata Kang Chul kepada Lee Chan


"Xiumin? Xiumin oppa artis yang baru saja debut dengan sigle terbarunya?"


Mirae yang berada di belakang Kang Chul bertanya cukup lantang membuat Amel dan yang lainnya menghentikan langkah.


Eun Ji memukul pelan tengkuk Mirae, membuat siempunya mengaduh kesakitan tak lupa dengan tampang tidak terimanya


"Sakit Eun Ji"


"Kau ini selalu berkata dengan keras, bagaimana jika telinga Kang Chul oppa terluka?"


Eun Ji semakin mendramatiskan keadaan membuat ketiga member ASP tertawa bersamaan.


"Kau ini ada ada saja Eun ji" kata Lee Chan masih dengan sisa tawa sedangkan Kang Chul mengusap puncak rambut Eun Ji.