
Park Hoon terus mengeluarkan umpatan didalam kantornya. Bahkan anak buah Park Hoon tidak bisa melacak keberadaan Amel saat ini. Syasya masuk kedalam ruangan dengan terburu buru, nafasnya masih terengah-engah.
"Tuan" ujar Syasya lirih "Dokter Kevin" ucapnya tertahan
"Ada apa lagi?" Park Hoon bangkit sambil memegangi pelipisnya.
"Dokter Kevin dirawat di rumah sakit setelah dia mencoba menerobos rumah Hideyosi dan " Syasya gemetar "dan dia dipukuli oleh anak bua h Hideyosi" ujar Syasya tertahan
"Apa kau yakin?"
Masalah ini semakin runyam. Park Hoon bingung, sebenarnya Kevin bekerja sama dengan Hideyosi atau tidak.
"Kau menemukan sesuatu?"tanya Park Hoon kepada Alex.
Alex menggeleng dengan penuh penyesalan.
"Tidak ada cara lagi, aku harus menemui Hideyosi" ujar Park Hoon
Ketika dia berada diambang pintu dia menarik sudut bibirnya.
"Alex sepertinya kita akan melakukan rencana awal" ujar Park Hoon lalu menarik knop dan berjalan pergi
**
Park Hoon dengan santai berjalan memasuki ruangan gelap dan berdebu. Diujung sana Amel tertidur pulas dengan sudut bibir yang sudah berdarah. Park Hoon bukan orang yang mudah dipancing emosinya, dia justru tertawa terbahak bahak sambil memainkan sepatu. Padahal saat ini posisinya sungguh berbahaya, dia berada di markas Hideyoshi, dengan anak buah lebih dari dua ratus orang, semuanya bersiap membidik dengan pistol masing masing.
"Kau suka tempat ini?"tanya Hideyosi sambil berjalan mendekati Park Hoon.
"Aku tidak tahu kalau pekerjaanku bisa mengantarkan aku menjadi sejahat ini" tambah Hideyosi saat dia berada didekat Park Hoon.
Lelaki jangkung dengan telinga caplang tersenyum kecut.
"Aku juga penasaran kenapa jaksa terbaik di Jepang bisa melakukan hal kotor seperti dirimu" Park Hoon benar benar tersenyum bahkan sudut gigi rapi itu terpancar.

Hideyosi tertawa kecut, apalagi saya menilik penampilan Park Hoon yang membuatnya justru terpancing emosi.
"Apa kau akan syuting, pakaianmu sungguh cerah sekali untuk ukuran seorang mafia" cela Hideyosi puas
"Aku juga merasa begitu, apa aku syuting film laga disini" dia tertawa.
"Brengsek" Hideyosi langsung memukul wajah Park Hoon kali ini mampu membuat lelaki itu tersungkur ke tanah. Dengan tenaganya, dia mencoba bangkit, lalu membersihkan celana hitam yang sudah memutih akibat debu.
Dia tidak segugup saat tahu kalau Amel di culik oleh Hideyosi.
Bugh
Park Hoon membalas pukulan Hideyosi, lelaki itu terjatuh ketanah. Tanpa pikir panjang Park Hoon langsung memukul dengan kayu yang berada disebelah Hideyosi.
"Brengsek" umpat Hideyosi.
Seluruh anak buah Hideyosi menodongkan pistol kearah Park Hoon, lelaki itu menjatuhkan balok kayu panjang yang dia bawa. Tangannya naik terangkat dengan sudut bibir masih menyunggingkan senyum.
"Sekarang kau mau apa? Membunuhku?" tanya Park Hoon dengan suara seperti biasa.
"Memangnya ada lagi niatan ku berada dititik ini?" Hideyosi bangkit dengan mengatur nafas.
"Kau yang sudah membunuh ayahku, sekarang kau yang akan ku bunuh"
Hideyosi berjalan membelakangi Park Hoon saat lelaki itu berjalan suara tembakan nyaring terdengar.
Park Hoon tertawa dengan suara tawa renyah yang dia buat. Melihat Hideyosi ambruk seperti itu dia merasa puas.
"Aku belum ingin membunuhmu" ujar Park Hoon berjalan mendekati Hideyosi.
"Kau tahu" dia menjeda kalimatnya sambil menampar pipi Hideyosi yang saat ini sudah diseret oleh anak buahnya.
"Anjing peliharaan mu ini" dia menunduk "sebenarnya dia adalah anjing yang sudah aku latih sejak dulu"
"Lihat" Park Hoon merentangkan tangannya "yang kau sebut anak buah tidak ada yang memihakmu" ucap Park Hoon kala melihat kaki Hideyosi sudah berdarah.
Alex serta tiga anak buah Park Hoon yang lainnya mengikat tangan Hideyosi keatas.
"Anak buah mu"
"Aah bukan, anak buah ku yang kau beri uang, dia masih mengenali tuannya" Park Hoon menepuk wajah Hideyosi.
Seluruh anak buah Hideyosi sudah jatuh ke tangan Park Hoon sejak sejam yang lalu. Park Hoon menjanjikan akan membayar mereka 3x lipat dibandingkan Hideyosi. Seharga satu miliyar untuk satu orang, tidak masalah, Park Hoon akan menyukai jika musuhnya jatuh satu persatu.
"Sebenarnya" Park Hoon mengeluarkan pistol dan memompanya "aku tidak berniat membunuhmu, tapi setelah kau membawa Jesica dan meracuni Jhonatan menggunakan Jesica, sekarang aku berniat membunuh mu"
Park Hoon menodongkan pistol kearah Hideyosi. Ketika dia menarik pelatuk hampir penuh, suara tawa Hideyosi membuat Park Hoon mengurungkan niatnya.
"Bunuh aku, kau kira dengan membunuhku, musuhmu akan habis"
"Ha ha ha" Hideyosi tersenyum smrik "aku yakin kau bukan orang bodoh, ini hanya rencana awalan saja, masih ada rencana rencana diluar sana yang siap menanti mu" tukas Hideyosi
"Benarkah?" Tanya Park Hoon "ahhh aku tidak suka orang yang banyak bicara, bagusnya orang seperti dirimu diapakan ya?"
Park Hoon menggaruk kepala dengan pistol yang ada di genggaman.
"Lebih sengsara melihat seseorang yang kita cintai mati daripada menjumpai ajal diri sendiri, benarkan, sepertinya itu jauh lebih menyakitkan dibanding menunggu kematianmu"
Park Hoon bangkit, sebelumnya dia melepaskan tali yang mengikat tubuh Amel, gadis itu diselimuti kemudian di gendong dan dia berjalan dengan santai.
"Alex habisi nyawa Jesica dan Jhonatan aku tidak membutuhkan orang seperti mereka berdua"
Mendengar kata Jesica disebutkan Hideyosi langsung meraung raung.
"Bajingan kau Park Hoon, brengsek, bajingan kau" umpatan dari Hideyosi hilang setelah Park Hoon melajukan mobil.
**
ketakutan Park Hoon ketika menuju apartemennya, Amel sempat membuka mata, sayup sayup tapi itu berhasil di sadari Park Hoon.
"Amel " panggil Park Hoon lirih
"Lebih cepat lagi" titah Park hoon pada anak buahnya
"Kau tidak apa apa?" Park Hoon membelai wajah Amel.
Amel menggeleng, dia menarik nafas berusaha membuat tubuhnya tersadar. Dia tidak ingin kalah dari obat bius yang sudah menyebar kedalam dirinya.
"Aku mengijinkan mu, kau boleh pergi, kau boleh meninggalkanku jika kau mau" Park Hoon menggenggam erat tangan Amel . Dia hanya takut, takut kalau Amel tetap ada disisinya , gadis ini akan celaka.
"Kau boleh pergi, pergilah. Aku mengijinkannya"
Air mata itu lolos turun dari mata Park Hoon, air mata yang membuat Amel merasa miris, merasa hatinya ikut tersayat ketika melihat air mata ini. Amel mengarahkan tangannya untuk mengusap air mata Park Hoon.
"Tidak akan, aku tidak akan meninggalkanmu" ucapnya lirih, sambil menarik senyum