My Idol Is A Mafia

My Idol Is A Mafia
MAFIA Siapa Dia



Berita kencang Sehun dan Eun Ji memang membuat Amel benar benar terkejut. Lelaki yang selalu jahil dan membuat ulah itu bisa jatuh cinta pada sahabatnya. Bahkan setelah istirahat Amel tidak henti-henti nya memandang keduanya. Ada bahagia sekaligus iri yang menyelimuti Amel. Andai Park Hoon senormal Sehun, Kim Tan, dan teman sekelas lainnya


Dalam artian dia bukan seorang mafia, bukan pengedar narkoba, pembunuh atau semacam psikopat yang selalu membuat Amel ketakutan . Bahkan kalimat Kevin yang selalu berkata bahwa dirinya mengindap sydrome selalu terngiang. Benarkah dia hanya merasa kasihan pada Park Hoon? Benarkah ini bukan cinta?


"Amel" Mirae yang berada di sebelahnya memanggil, bahkan menggoyangkan lengan Amel.


"Oh, apa?" Tanya Amel langsung tersadar.


"Kau dipanggil Min Hyuk" Mirae menunjuk Min Hyuk dengan dagunya.


Amel menatap arah yang tunjukkan Mirae. Disana didekat mesin pendingin, lelaki itu berdiri. Amel mengerjap, menurutnya wajah Min Hyuk tidak seramah dulu, dia tidak menemukan rasa nyaman pada sahabat seperti dulu. Entah kenapa setiap kali dia dekat dengan Min Hyuk selalu ada rasa aneh, mungkin hanya perasaannya saja.


Min Hyuk melambaikan tangan sambil meminta Amel kesana. Amel menggeser kursi.


"Aku kesana dulu" katanya.


Dia berjalan mendekati Min Hyuk, agak aneh itulah yang dirasakan Amel. Hanya saja dia merasa ada yang berbeda dari Min Hyuk. Entah apa itu.


"Sudah sembuh?" Min Hyuk mencondongkan tubuhnya, sehingga jarak wajahnya dan Amel sangat tipis.


Amel memundurkan diri "sudah" jawabnya.


"Apa lukanya parah?" Tanya Min Hyuk menyodorkan air kemasan.


"Sedikit"


Eun Ji, Mirae dan Sehun berjalan kearah Min Hyuk dan Amel. Melihat kedatangan teman Amel, Min Hyuk mengusap puncak kepala Amel.


"Yasudah , aku hanya memeriksa keadaanmu. Sampai jumpa nanti malam" katanya berlalu pergi.


Amel menatap kepergian Min Hyuk dengan rasa biasa Saja.


"Woooo Amell, kau benar benar berkencan dengan saudaraku?" Tanya Eun Ji.


Amel menoleh, lalu menggeleng sambil menghela nafas.


"Tidak dan tidak akan" dia menjulurkan lidah


"Apa kau sudah punya kekasih?" Tanya Mirae langsung menyeimbangi langkah Amel.


"Emmmm, ada" Amel menarik senyum, membayangkan Park Hoon yang tersenyum membuatnya ingin pulang


"Siapa?" Tanya Amel dan Eun Ji bersamaan.


"Rahasia"


Mereka sama sama tertawa menuju kelas, dikelas Mirae langsung duduk. Sedangkan Eun Ji dia sibuk berpacaran dengan sehun . Amel berjalan kearah loker, ketika loker dibuka, dia sontak berteriak.


"Ada apa Amel?" Tanya Mirae mendekati dimana posisi Amel berada.


Disana, bukan lagi bangkai burung, bukan sebuah surat ancaman. Melainkan bangkai seorang kucing, bukan tapi kucing itu belum dalam kondisi mati. Tidak tidak bangkai, kucing itu sengaja di sembelih pada bagian leher, namun sengaja tidak dalam supaya kucing itu masih bisa bergerak.


"Oh my good, siapa orang gila yang berani melakukan ini"


Mirae mencari handuk kecil miliknya yang selalu di bawa. Di selimuti kucing itu, beberapa saat Kim Tan, Eun sang masuk kedalam kelas.


"Ada apa" tanya Sehun penasaran.


"Ada seseorang yang membunuh kucing dan meletakkannya di dalam loker Amel" ujar Eun Ji.


"Apa?" Eun sang langsung mendekat.


Dipandanginya kucing itu, lalu pandangannya berpindah pada Amel yang pucat pasi.


"Kau tidak apa apa?" Tanya Eun sang mengelus lengan Amel.


Amel menoleh "aku takut" ujarnya.


"Tenanglah, pertama kita selamatkan dulu kucing ini, dia belum sepenuhnya mati" tukas Eun sang.


Sehun berlari setelah menyelesaikan kalimatnya.


Kim Tan mundur selangkah, dia penakut, takut pada darah. Eun sang yang tahu hanya memutar mata nya malas.


"Amel, mau ke ruang kesehatan. Sepertinya kau tidak sehat" Eun sang menggoncang lengan Amel.


Gadis itu masih ketakutan bahkan panggilan dari Eun sang tidak membuatnya tersadar.


"Amell" panggil Eun Ji.


Amel mengerjapkan, kemudian tersadar. Dia benar benar ketakutan bahkan untuk menarik nafas pun dia merasa takut. Ponsel didalam saku nya bergetar, buru buru Amel membuka, siapa tahu itu dari Park Hoon.


679xxxxxx


Apa kau sudah menerima hadiah ku? Bagaimana kau suka?


Amel menoleh kanan dan kiri, tidak ada siapa siapa selain teman sekelasnya.


"Ada apa?" Tanya Eun Ji mulai khawatir.


Chung Ha masuk kedalam kelas ditemani Kim Tan. Mereka menatap wajah pucat Amel yang benar benar menakutkan.


"Amel wajahmu benar benar pucat" tukas Chung Ha.


"Bagaimana? Siapa yang mengantar kucing itu?" Tanya Eun sang tanpa memperdulikan pertanyaan Chung Ha.


"Sehun dan Mirae, mereka pergi diantar Jang sam" kata Kim Tan menjelaskan.


"Oh ya, kau di panggil Yoona Sam"


**


Kevin tidak tahu, sejauh ini siapa yang harus dia percaya. Park Hoon yang sudah membuatnya masuk kedalam lingkaran hitam atau Hideyosi yang baru dia temui beberapa saat lalu.


Kalau Park Hoon benar yang meminta Jhonatan untuk menikam Amel, itu artinya dia hanya berpura pura mencintai Amel, sedangkan gadis itu, dia sudah jatuh hati pada Park Hoon.


Kevin tidak bisa membedakan mana orang yang berniat menolongnya atau berniat mempermainkannya, semua sama, sama mengaku untuk menolong Kevin. Meski Park Hoon tidak pernah mengatakan kalimat itu, tapi Kevin yakin dia akan melakukan hal yang sama kalau tahu Kang Chul terlibat disini.


Pintu ruangan digeser seseorang, Syasya masuk membawa kotak bekal seperti biasanya, dengan senyum ramah yang selalu membuat Kevin jenuh.


"Ada apa lagi?" Tanya Kevin selalu sinis.


"Kau, beberapa kali aku kesini kau selalu berkata seperti itu" Syasya meletakkan kotak bekalnya.


"Kudengar Amel sudah mulai sekolah hari ini"


Kalimat Syasya terdengar seperti memberitahu dari pada bertanya. Kevin berdehem


"Sebenarnya apa yang kau sukai dari aku?" Tanya Kevin tanpa berniat memakan makanan yang dibuat Syasya.


"Kau masih ingat, di lorong ruangan Park Hoon, setelah kau membunuh karyawan club saat itu kau menolong ku" Syasya menarik seulas senyum saat membicarakan itu "kau memberiku sapu tangan untuk menghapus air mata"


Dia menatap wajah Kevin "sejauh ini aku belum pernah diperlakukan seperti wanita normal"


Kevin ingat kejadian itu, saat itu di mata Kevin semua orang patut dia tolong, saat itu dia belum pernah berfikir orang jahat selain Park Hoon.


"Kau tidak normal rupanya" jawab Kevin mengambil sumpit dimeja. Dia mulai memakan makanan yang di bawa syasya.


"Kau sudah mendengarnya? " Disela sela Kevin mengunyah makanan, dia membuka suara.


"Mendengar apa?" Tanya Syasya, menggeser duduk disebelah Kevin.


"Mengenai Jhonatan" Kevin menghentikan makan. Dia menatap wajah Syasya lekat.


"Apa benar dia yang menikam Amel?"


Syasya mengangguk, tapi sungguh dia tidak tahu kalau yang dimaksud Kevin adalah apakah ini ulah Park Hoon. Tidak, Syasya dan Park Hoon tahu pelaku nya adalah Jhonatan tapi bukan mereka yang membuat lelaki itu menikam Amel.