
Park Hoon menyeka darah di sudut bibirnya. Lee Chan langsung berlari untuk membawa es batu dan obat obatan. Dia mengobati luka Park Hoon.
"Ada apa dengan Kang Chul manajer?" Tanya Zhan
Park Hoon hanya meringis kesakitan kala alkohol itu menyentuh bibirnya.
"Kontrak nya bersama dengan Eve sudah berakhir, ku rasa dia belum bisa menerima keputusan Eve menghentikannya"
Brakk
Alkohol ditangan Lee Chan langsung terjatuh kelantai. Park Hoon memandang wajah tidak percaya yang di berikan Lee Chan
"Apa katamu manajer? " Tanya Lee Chan memastikan apa yang dia dengar bukan sebuah kesalahan
"Dia bukan artis Eve lagi" tukas manajer Ji Wok sambil memijat pelipisnya.
"Kenapa bisa begitu, bukankah dia akan debut solo? Albumnya saja sudah selesai dirilis" kata Zhan ikut terpancing
"Entahlah, dia banyak melanggar aturan agensi dan agensi harus memecatnya"
"Ya, bukankah ini konyol. Mana ada artis yang akan berhenti setelah perilisan album selesai, bahkan tanggal debut nya sudah mendekati" Zhan mengernyitkan dahi mulai bingung dengan keadaan disini
"Ya ya, kau kira aku tahu. Aku hanya bekerja disini, yang tahu alasannya adalah direktur" tukas manajer membela diri
"Aku tidak percaya, selama ini dia melakukan yang terbaik untuk ASP maupun agensi, lalu kenapa agensi harus memecatnya?" Lee Chan menunduk
Manajer menghela nafas, dia melirik kearah Park Hoon yang justru terdiam tanpa ekspresi.
"Lantas kenapa tadi dia memukul Park Hoon, memangnya ada hubungan apa antara Park Hoon dan pemecatannya?" Seketika Park Hoon menatap Zhan yang juga menatapnya.
"Benar juga" Lee Chan ikut mendongak dan menatap Park Hoon
"Kalau dia ingin marah seharusnya dia memukul direktur bukan Park Hoon" tambahnya
"Aku juga tidak tahu hyung" kilah Park Hoon.
"Bukankah itu aneh?" Tanya Lee Chan
**
Park Hoon menggeser kursi untuk lebih dekat dengan Amel. Gadis itu tengah tertidur, bahkan tidak tahu kalau Park Hoon duduk didepannya.
Park Hoon mengelus rambut Amel, mencium kening gadis itu lalu menyandarkan kepalanya di pinggiran brangkar.
Mata sipit itu perlahan tertutup, belum sepenuhnya tertutup ketika dia merasakan brangkar Amel bergerak. Park Hoon mendongak menatap wajah Amel yang selalu dihiasi senyum
"Sejak kapan kau datang?" Tanya Amel masih belum menyadari wajah Park Hoon yang babak belur.
"Baru saja" Park Hoon menarik senyum, menyandarkan kepalanya di tangan kiri Amel. "Aku merindukanmu" ucapnya lirih.
Amel membelai rambut Park Hoon, kemudian tersenyum lembut.
"Aku juga, kata kak Kevin aku bisa pulang lusa" ujar Amel seperti hadiah untuk Park Hoon
Lelaki itu menarik senyum sambil menatap wajah Amel.
"Benarkah? Tidak bohong kan?" Tanyanya antusias.
Amel tidak menanggapi pertanyaan Park Hoon, justru dia mengusap wajah babak belur Park Hoon dengan tangan mungilnya.
"Wajahmu kenapa?" Tanya Amel dengan ketakutan yang jelas.
"Oh ini" Park Hoon menarik senyum "hanya sedikit terluka"
Dia mengecup punggung tangan Amel dengan lembut.
"Lusa aku akan menjemput dan membawamu ke apartemen"
"Apa aku tidak boleh pulang ke apartemen kak Kevin?" Tanya Amel lirih
Park Hoon melepaskan tangannya dari tangan Amel, dia menarik jas yang di sampirkan disandarkan sofa. Berjalan sambil mengenakannya tanpa menolah Amel. Di depan pintu dia berhenti
"Kau akan pulang bersamaku, bukan bersama kakakmu"
Park Hoon memilih keluar rumah sakit, ketika dia didepan mobilnya, seseorang yang mengenakan jaket hitam berjalan mendekati Park Hoon. Lelaki itu menyenderkan tubuhnya dimobil Park Hoon sambil menyulut sebatang rokok
"Apa kabar?" Tanyanya
Park Hoon tertawa pelan sambil menunduk kemudian dia mengangkat kepalanya, menatap dengan belis lelaki yang tidak punya urat ketakutan didepan nya ini.
"Kau sedang mengantarkan nyawa mu padaku?" Tanya Park Hoon sambil memainkan lidahnya didalam bibir.
Lelaki itu dengan berani tertawa, dia menghembuskan asap. Sepertinya dia merasa senang menemui Park Hoon dalam keadaan wajah babak belur seperti ini.
"Aku kira idol sepertimu cenderung merawat wajahnya" kalimat itu menggantung
"Aku tidak suka berbasa basi, katakan saja apa maunya?"tanya Park Hoon pada Hideyosi. Ya, lelaki yang berdiri mengenakan jaket hitam dengan rokok yang terselip di bibirnya adalah Hideyosi.
"Aku membawa kabar baik untukmu" tukas Hideyosi.
Lelaki itu maju selangkah, tersenyum sehingga deretan giginya terlihat. Dia merogoh saku celana, membuka ponsel dan menyodorkan pada Park Hoon.
"Ada yang ingin berbicara padamu"
Park Hoon setengah terkejut menatap Amel yang disekap di sebuah gudang. Sejak kapan para bedabah ini berhasil membawa Amel keluar dari kamarnya.
Hideyosi tertawa terbahak bahak. Dia merebut ponselnya dan memasukan kedalam saku celana.
"Kau ingin kekasihmu? " Tanya Hideyosi beserta cengiran yang melekat di bibir
"Mudah saja" ucap Hideyosi "akan kukirim alamatnya"
Dia melambaikan tangan dengan santai menuju mobil. Beberapa saat dari itu Hideyosi masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan Park Hoon
Kepergian hideyosi membuat Park Hoon langsung berlari menuju ruangan inap Amel dimana gadis itu berada. Saat pintu digeser tidak ada Amel, tidak ada penjaganya , tidak ada siapapun disini
"Brengsek" umpat Park Hoon, ketika dia balik kanan, Kevin dengan teteskopnya berjalan ke arah Park Hoon.
"Ada apa" tanyanya bingung
"Kau tidak tahu soal ini?" Tanya Park Hoon memastikan sambil menarik kerah Kevin dan melemparnya didalam ruangan Amel. Kevin terjatuh kelantai.
"Apa maksudmu, aku baru saja keluar dari ruang operasi" decaknya
Kevin bangkit menilik kearah brangkar dan terkejut kala mendapati Amel tidak ada disana.
"Kemana perginya Amel?" dia menarik kerah Park Hoon dan meninju rahang lelaki itu
"Brengsek, apa kau tidak tahu kalau dia perlu perawatan" tukas Kevin mulai terpancing emosi.
"Sudah kubilang, kau bisa membunuhku, tapi jangan dengan adikku"
"Shiit" teriak Park Hoon frustasi "ini bukan ulahku, tapi ulah Hideyosi"
Kevin terperajak, langsung menoleh kearah Park Hoon.
"Kenapa bisa lelaki itu membawa Amel pergi?"
Park Hoon menoleh, mendegus kesal dan menggeretakkan rahangnya. Sungguh, dia tidak bisa menjelaskan perasaannya, kalau dia bisa membunuh semua orang disini akan dilakukan Park Hoon termasuk membunuh Kevin. Dia juga tidak tahu kenapa Kevin berlagak tidak tahu apa apa saat dia bekerja sama dengan Hideyosi, mungkinkah ini taktik dari mereka.
Park Hoon pergi sambil membanting pintu, dia mendial nomor Alex setidaknya lelaki itu bisa mencari tahu dimana keberadaan Amel serta anak buah yang sudah mulai mengkhianatinya.
"Akan ku pastikan kalian mati satu persatu di tanganku, bajingan"