
Amel tersadar ketika berada di apartemen Park Hoon. Lelaki ini memutuskan untuk membawa Park Hoon keapartemen dari pada harus ke rumah sakit. Disana dia tidak bisa leluasa mempererat keamanan.
Saat jemari jemari Park Hoon mengangkat tangan Amel dan mengecup nya, gadis itu samar samar membuka mata. Ketika lelaki jangkung yang dia kenali ada didepan mata, Amel langsung menarik tubuh Park Hoon kepelukanya. Gadis itu menumpahkan semua ketakutan menjadi air mata dipelukan Park Hoon.
"Aku takut" ucap lirik Amel,
Lelaki ini berusaha menarik sudut bibir, dia mengelus punggung Amel supaya gadis ini sedikit merasa tenang.
Semuanya memang kesalahan Park Hoon, kalau lelaki ini tidak membawanya kesini ,Amel tidak akan menjadi sasaran atas musuh musuhnya.
"Ada aku disini" Park Hoon berusaha menangkan.
Pelukan itu perlahan bisa dilepaskan oleh Park Hoon. Wajah ketakutan Amel benar benar terpancar dari sini, dia merasa takut dalam waktu bersamaan.
Park Hoon membelai rambut Amel, membawa nya kebelakang telinga dan mengecup dahinya.
"Akan ku panggilkan kevin, supaya kau bisa diperiksa"
Amel tertegun, kalau Park Hoon bersikap baik seperti itu pada Kevin itu artinya lelaki didepannya ini tidak tahu kalau sebenarnya Kevin lah yang membawa Amel pergi dari rumah sakit, membawanya kepada lelaki keparat yang menamparnya. Amel juga takut untuk mengatakan ini, takut kalau Kevin akan menjadi sasaran atas kemarahan Park Hoon.
Lagi pula Amel belum mendengar alasan tentang mengapa Kevin menyerahkan dirinya pada orang itu.
Park Hoon sudah pergi, meninggalkan Amel yang menatap langit langit kamar. Beberapa jam dari tidak ada nya Park Hoon, Kevin membuka pintu dengan wajah babak belur. Amel memejamkan mata, tidak sepenuhnya tertidur hanya saja banyak fikiranĀ fikiran yang memenuhi otaknya.
Kevin mengelus rambut Amel, meski begitu Amel tidak membuka matanya.
"Amel"panggil Kevin.
Perlahan Amel membuka mata, menatap wajah kakaknya yang saat ini berubah menjadi mengerikan. Amel menegakkan posisi tidur, dia memandangi wajah Kevin yang banyak menyimpan rahasia rahasia darinya.
"Jelaskan apa maksudnya?" Tanya Amel menggunakan bahasa Indonesia.
"Mel" Kevin sudah tahu kalau Amel akan bertanya soal ini, dia menggenggam tangan adiknya.
"Kakak tahu kamu akan kecewa sama kakak, tapi kakak lakukan ini demi kita"
"Demi kita apa? Kakak tahu lelaki itu, dia menampar ku, aku belum pernah di perlakukan seperti itu" Amel menjeda "tidak, menurutku hanya Park Hoon yang boleh memperlakukan itu padaku"
"Amel sadarlah, jangan libatkan perasaanmu di situasi seperti ini, kamu mengindap Stockholm Syndrome, kita harus berfikir realistis, kita harus bisa memihak siapa yang bisa mengeluarkan kita dalam kondisi saat ini" Kevin menekan kalimatnya supaya Amel bisa sadar
Amel mengusap wajahnya frustasi. Kevin menghela nafas berat, masalahnya semakin bertambah runyam ketika Amel dan Park Hoon harus terjebak cinta.
"Kamu hanya harus percaya pada kakak, kakak janji akan mengeluarkan mu dari sini" tukas Kevin.
Kevin membenarkan selimut Amel "keadaanmu sudah lebih baik, kakak akan memberikan suntik vitamin saja, obat obatan sudah kakak sediakan"
Setelah memberikan suntik vitamin, Kevin bangkit dan berjalan keluar tapi langkahnya harus berhenti ketika mendengar suara Amel.
"Park Hoon lelaki brengsek itu" Amel menggantungkan kalimatnya "dia pernah meminta ku pergi, belum lama ini tapi aku menolaknya"
Amel meneteskan air mata saat mengingat dia berada dipangkuan Park Hoon. Bagaiman wajah lelaki itu cemas, bagaimana dia mengkhawatirkan dirinya.
"Aku tidak ingin pergi dari nya, aku mencintainya" Amel terisak. Jauh lebih sakit saat memikirkan pergi dari Park Hoon.
"Kakak boleh menyebut ini sydrom, tapi aku hanya ingin mencintainya. Hanya ingin, aku hanya ingin berada di samping lelaki menyedihkan itu"
Kevin menggegam erat tangannya, dia membuka pintu langsung membantingnya saat tahu kalau Park Hoon tengah duduk bersama Alex. Tidak ada salam yang di ucapkan Kevin, dia berlalu pergi meninggalkan Park Hoon dan Alex diruangan ini.
**
Hideyosi berdiri menangisi jasad Jesica. Setelah dua hari yang lalu keparat Park Hoon membunuh kekasihnya, dia harus duduk dengan kursi roda akibat kakinya yang di potong oleh anak buah Park Hoon. Hideyosi menangis tersedu sedu, dia sangat mencintai Jesica. Gadis itu lah yang membuatnya terjun kedalam dunia hitam seperti ini, karena gadis itulah dia mengorbankan ayahnya.
Seseorang menepuk bahu Hideyosi, lelaki itu menoleh.
Hideyosi menarik sudut bibirnya lega, setidaknya kematian Jesica tidak akan sia sia jika ada Kang Chul disampingnya.
"Aku menghormati itu " kata Hideyosi lirih.
"Bagaimana dengan kevin, apa dia percaya pada kita?"
"Sejauh ini Kevin masih bisa kita permainkan, kau bisa menggunakan adikmu untuk menyerang Amel" Hideyosi menyeka air mata, dia memutar kursi roda untuk menatap Kang Chul
"Maksudmu Kang Min Hyuk?" Tanya Kang Chul dengan alis Menaik disisi kanan.
Hideyosi mengangguk "dia sudah bekerja sama denganku, beberapa kali ini dialah yang meneror Amel disekolahan, sepertinya membuat gadis itu terkena gangguan jiwa lebih menyenangkan dari pada membuat gadis itu mati"
Kang Chul mengangguk paham "aku kira kau hanya memperalat Jhonatan untuk membunuh Amel ternyata kau sudah memperalat adik tiri ku juga"
"Bila perlu aku akan memperalat Tuhan untuk menyingkirkan bajingan seperti Park Hoon"
Hideyosi mengepalkan tangannya kuat kuat.
"Aku akan membantumu untuk memperalat Tuhan"
Kang Chul kembali dengan topi hitam serta masker hitam. Dia berjalan pergi meninggalkan Hideyosi didepan pemakaman.
Lelaki itu pergi menemui Zhan, dia sudah lebih dulu mengirim kepada Zhan tempat yang akan mereka datangi.
Sampai disebuah cafe yang tidak terlalu ramai, Kang Chul melepaskan topi serta maskernya. Cafe ini terletak di sebuah gang sempit di Hongdae, meski Hongdae terkenal keramaiannya, cafe ini selalu sepi. Terkenal dengan pemiliknya yang memiliki penyakit kulit serta makanan yang disajikan terlalu tidak enak, membuat beberapa pengunjung tidak minat untuk makan disini.
Zhan melambaikan tangan dengan senyum yang terpampang. Kang Chul menggeser kursi dan duduk di depan Zhan
"Sudah lama hyung?" Tanya Kang Chul
"Baru saja" jawab Zhan "ada apa ingin menemui ku?"
"Ha ha " Kang Chul tertawa lucu "ya, apa karena aku sudah keluar dari ASP lalu kau tidak ingin bertemu dengan ku?" Ucap Kang Chul dengan nada kecewa.
"Bukan seperti itu, hanya saja terasa aneh setelah kabar keluarnya kau dari agensi dan aku menemui mu" Zhan memainkan jari diatas gelas.
"Hyuunggg aku hannya merindukanmu" jawab Kang Chul sepenuhnya bohong.
"Aku juga, sepi tidak ada kau" Zhan tersenyum" oh ya, kenapa kau bisa keluar dari agensi?"
Sebenarnya inti dari pertemuan ini adalah memancing Zhan untuk menanyakan alasan dia keluar dari agensi. Kang Chul mencari orang untuk memihak nya.
"Aku tidak yakin ingin mengatakan ini" tukas Kang Chul lirih
"Ada apa? "
"Park Hoon tidak menyukaiku" Kang Chul menunduk
"Apa maksudmu? Apa hubungannya Park Hoon dengan kontrak mu? Apa dia mengadukan pada direktur?" Terka Zhan
"Tidak, Eve sebenarnya milik Park Hoon"
Brak
"Kang Chul aku tidak suka kau seperti ini, mana mungkin Park Hoon pemilik agensi, sedangkan dia debut bersama kita. Kau tahu sendiri kan dia selalu ada di drom ketika masa traine " Zhan mulai tidak suka arah bicara Kang Chul yang terdengar tidak masuk akal
Kang Chul sudah menduga ini, tidak, Kang Chul tidak akan memberikan bukti. Dia hanya ingin memunculkan spekulasi mengenai Park Hoon. Jika Zhan sudah mendengar ini, Zhan akan mencurigai Park Hoon, itu yang akan membantu Kang Chul untuk melakukan rencananya.
"Terserah kau hyung percaya atau tidak, yang jelas kau, aku dan semua orang yang ada di Eve kita bekerja untuk Park Hoon"