My Idol Is A Mafia

My Idol Is A Mafia
MAFIA Hideyosi



Syasya berhasil masuk kedalam rumah Hideyosi menggunakan identitas pelacurnya. Maksudnya dia menawarkan diri untuk melacur kepada Hideyosi.


Saat melihat lelaki itu duduk di kursi roda sambil mengisap rokoknya, Syasya berjalan dan mengecup bibir Hideyosi sekilas.


"Kau mau bermain denganku?" Tanya Syasya.


"Ha ha pelacur murahan" cela Hideyosi, "kau kesini atas perintah Park Hoon " kata Hideyosi


Syasya tersenyum, dia meletakkan tas miliknya diatas meja, lalu menunduk sopan.


"Tidak juga, Park Hoon sudah kalah dari mu, jadi untuk apa aku memihak dia" jawab Syasya menyilakan kaki.


"Kau kira aku bodoh, kau anak buah Park Hoon yang paling setia" cicit Hideyosi marah.


"Benarkah, aku lupa akan hal itu" Syasya mendekati Hideyosi, gadis itu mengecup bibir Hideyosi.


Hideyosi menerimanya dengan lembut kemudian mendorong Syasya hingga Syasya terjatuh diatas meja. Hideyosi meludah tepat kewajah Syasya.


"Cuih aku tidak sudi bermain dengan wanita murahan sepertimu" Hideyosi memutar kursi rodanya "keluarlah selagi aku masih bersikap baik"


"Kau kasar sekali" teriak Syasya "baiklah aku akan pergi"


Syasya menunduk, dia pergi tanpa membawa tas miliknya. Menyusuri rumah Hideyosi dengan santai. Didepan gerbang, dia menutup gerbang itu dengan menyeringai.


Tangannya mendial nomor Hideyosi. Bunyi tersambung langsung menyambutnya.


"Kau masih tidak punya malu rupanya" cela Hideyosi sarkatistik "wanita jalang seperti mu, tidak pantas bercinta denganku " sombongnya


"Tenang dulu, kau selalu berlagak seperti itu saat diujung ajal ya" balas Syasya.


"Apa maksudmu?"


"Ha ha ha" Syasya tertawa renyah "kau ini bodoh rupanya"


Syasya menarik nafas "sepuluh detik lagi, bom yang ada di ruanganmu akan meledak, dan itu akan membakar seluruh rumahmu beserta anak buah kesayangan mu itu"


"Brengsek, keparat kau Syasya"


"Jangan marah marah. Tidak ada yang ingin kau sampaikan sebelum ajal"


"Ya, kalian yang diluar, keluarkan aku sekarang juga"


"Jangan teriak teriak, tidak ada orang di rumahmu. Mereka yang kau sebut anak buah sudah lebih dulu menyelamatkan dirinya" pungkas Syasya sambil memperhatikan cat kuku kuku yang mengelupas.


Syasya menatap beberapa anak buah yang keluar rumah tanpa memperdulikan Hideyosi lagi, tapi sepertinya itu terlambat. Syasya mematikan panggilan.


"Tiga, dua" saysaya menarik senyum"satu"


Duarrrrr


Bom itu benar benar meledak, seluruh rumah terbakar. Bahkan anak buah Hideyosi yang berusaha membuka pintu semakin kebingungan. Api merambat dengan cepat.


"Cepat, kita tidak punya waktu, selamatkan Kevin sekarang" tukas Syasya memberi titah pada anak buahnya.


Melawan anak buah Hideyosi akan sulit karena jumlahnya terlalu banyak, tapi membakar rumah itu akan memudahkan mereka menyelamatkan Kevin. Siapa yang akan tetap bertahan ditengah api, semua orang akan lari saat melihat kebakaran. Tanpa mengenali dan peduli siapa yang menerobos masuk.


**


Amel disekap di sebuah gedung tua. Tangannya di ikat, mulutnya ditutup oleh lakban.


Amel sudah menangis apalagi melihat Min Hyuk yang berdiri dengan tampang datar seperti itu. Min Hyuk duduk dengan menimpa kaki sebelahnya.


"Kau ingin tahu kenapa aku bisa membencimu sebanyak ini" kata Min Hyuk sambil menatap sudut mata Amel yang berair.


"Kau tidak salah, hanya saja kau tetap diam saat tahu kalau Jenie mati karena ulah Park Hoon"


Amel meneteskan air matanya, sungguh dia tidak tahu tentang meninggalnya Jenie. Bahkan Park Hoon tidak pernah mengatakan tentang itu.


"Kau seharusnya melapor pada polisi, kau seharusnya bilang padaku, bukan hanya diam saja" pekik Min Hyuk keras. Matanya memerah dengan urat urat yang menimbul.


Amel menggeleng, dia ingin mengatakan bahwa dirinya tidak tahu tentang ini.


"Amel, aku pernah menyukai mu" Min Hyuk menunduk "sungguh, meski aku tetap mencintai Jenie saat itu"


Min Hyuk menangis, mengingat bagaimana momen bahagia bersama Jenie semakin membuat dirinya terluka.


Min hyuk mencengkram rahang Amel, dia tersenyum, senyum smrik yang menakutkan


"Kau akan membalas semua kesalahan Park Hoon"


"Tidak, aku akan membuat Park Hoon menderita dengan kematianmu"


Min Hyuk mengeluarkan pisau yang ada di sakunya, belum sempat pisau itu keluar, seseorang menendang tubuhnya kebawah.


"Haiss, Kang Min Hyuk kau ditangkap atas kasus penculikan"


Detektif Seo langsung memborgol tangan Min Hyuk, lelaki ini mendongak menatap anak buahnya yang sudah ditangkap polisi.


"Amelllll" Eun Ji keluar dari balik pintu.


"Kau tidak apa apa?" Tanya Eun Ji melepaskan ikatannya "Aku sedari tadi mengikuti Min Hyuk , kukira dia benar benar akan memberimu kejutan. Aku tidak tahu kalau dia berniat jahat padamu"


Amel memeluk Eun Ji, gadis itu menumpahkan ketakutannya.


**


Kevin berhasil diselamatkan meskipun dia harus mendapatkan pertolongan medis. Kevin sempat kehabisan oksigen didalam.


"Kau tidak apa apa?" Tanya Syasya cemas.


Kevin menggeleng, dia berusaha mengusir rasa pusing yang menyerangnya. "Dimana Amel?" Tanyanya.


"Kita masih belum tahu, apa kau tahu tentang Amel?"


Kevin menggeleng "Hideyosi menyandera Amel"


Kevin terbatuk, dia menegakkan tubuhnya, meski limbung Kevin berusaha berdiri.


"Bagaimana dengan Park Hoon, kudengar dia menjadi buronan"


"Kita tidak tahu kondisi lelaki itu, yang jelas dia berusaha membebaskan Amel saat ini"


Syasya mengelap wajah Kevin, dia menyodorkan air mineral pada lelaki itu.


"Aku tidak tahu kalau Hideyosi berniat jahat pada Amel" Kevin menunduk menyesali mengapa dia pernah mengiyakan bergabung dengan lelaki biadap seperti Hideyosi.


"Kau pasti mengira Park Hoon lah yang memberi perintah Jhonatan untuk menikam Amel"  tebak Alex dari belakang.


"Lelaki itu sudah menghianati kita sejak adiknya jesica bebas dari cengkraman Park Hoon"jelas Alex.


"Maksudmu?"


"Kau tidak akan mengerti, Jhonatan menjadi anak buah Park Hoon karena adiknya, sama seperti dirimu. Hanya saja Jesica di sembunyikan di Jepang oleh Park Hoon supaya Jhonatan bisa di kendalikan. Jhonatan anak yatim piatu, ayahnya meninggalkan aset terbesar di Korea Utara dan itu memerlukan hak kuasa Jhonatan untuk menggunakan asetnya.  itu sebabnya Park Hoon menjadikan lelaki itu tawanan" pungkas Alex lebih detail


"Saboro yang harusnya mengawasi Jesica justru lengah karena putranya Hideyosi, lelaki keparat  seperti Hideyosi justru jatuh cinta pada Jesica dan berjanji akan membebaskan Jhonatan dan Jesica"


"Sudahlah, kita jangan membuang waktu sekarang, yang penting sekarang kita harus____" ucapan Syasya terhenti, dia menilik ponselnya yang bergetar. Nomor tidak di kenal menghubungi dirinya.


"Halo"


"Eonii, bisakah kau memberi tahu dimana Park Hoon, psikopat itu tidak bilang padaku bahwa dia menjadi buronan" isakan dari seberang telepon membuat Syasya tercengang


"Amel, kau Amel?" Tanya Syasya langsung menegakkan tubuhnya


"Kau dimana sekarang, aku akan menjemputmu"


**dari author untuk pembaca setia mafia


sabar ya, bentar lagi mafia tamat, jadi kuharap tetap setia membaca mafia sampai akhir


Follow juga ig author @asiihsyd


nanti author apdate cast mafia####**