
Amel berguling diatas kasur, dia merasa bosan, apalagi saat ini ponselnya masih berada digengaman Alex anak buah Park Hoon. Tidak ada makanan yang bisa memuaskan dirinya, hanya ada cemilan dan sekaleng bir yang semakin membuat Amel jengah. Televisi juga hanya menayangkan drama drama yang membosankan. Di atas balkon tadi dia melihat pejalan kaki yang sangat beuntung bisa berjalan jalan. Sudah dua hari sejak Amel dan Park Hoon berteleponan, katanya lekaki itu akan segera mengembalikan ponsel Amel. Tapi jangan mudah percaya dengan lelaki itu, dia mudah sekali berbohong. Amel melompat lompat tidak jelas diatas sofa. Sedangkan Junghyun dan Alex mengerjap sesekali melihat tingkah ajaib tawanan bosnya.
"Ha ha ha aku seyang sekali doraemoonn" Amel masih beerlompat lompat sembari bernyanyi lagu doraemon dengan bahasa Indonesia
"Bang jali bang jali goyangnya bikin hepi bang jali bang jali"
Sungguh pemandangan di hadapannya semakin membuat Alex dan Junghyung menganga lebar. Gadis itu berjoget tak tentu arah sampai membuat rambutnya menutupi sekitar wajah.
**
Setelah selesai manggung, Park Hoon langsung naik kedalam sebuah mobil milik anak buahnya. Persetan dengan segala alasan yang akan diberikan manager Ji Wok kepada 3 member ASP. Yang penting adalah lelaki itu harus segera menemui Saboru.
Mobil mereka tepat berada didaerah Sinsekai.
Shinsekai merupakan sebuah kawasan yang sudah dibangun sejak tahun 1912 dengan mengacu pada model kota New York dan Paris. Tempat ini awalnya dirancang dengan berbagai fasilitas, salah satunya adalah sebuah taman bermain bernama Luna Park.
Namun Luna Park tersebut harus tutup pada tahun 1923, dan secara bertahap kawasan ini mengalami kemunduran hingga akhirnya disebut sebagai salah satu kawasan termiskin di Jepang paska Perang Dunia II.
Saat ini Shinseikai dikenal sebagai kawasan dengan identitas dan sejarah unik. Namun penduduk setempat masih menjaga jarak dengan kawasan tersebut, karena pada era sebelum tahun 90-an, tingkat kriminalitas di lingkungan ini memang cukup tinggi dan masih menyisakan image sebagai "kawasan yang berbahaya" bagi mereka.
Jadi ketika Park Hoon berjalan didaerah dengan tingkat kriminalitas tinggi, sudah dipastikan dia akan menemui anak buahnya.
Mereka berjalan menju gedung yang sangat lumuh, didepan gedung banyak orang orang mengenakan pakaian compang camping, sekilas mereka seperti pengemis. Tapi sungguh demi rakyat bikini boutem yang tetap mandi meski didalam air sebenarnya mereka adalah kurir pengantar narkoba, pembunuh, perampok dan penjual wanita. Pakaian mereka hanya kedok untuk mengantarkan narkoba, senjata dan wanita ke kliennya.
Pintu dibuka oleh seorang lekaki dengan tampang kusam, didalam sana sudah berdiri sejumlah lelaki dengan seragam lusuh, tapi disana duduklah seorang lelaki dengan pakian sederhana.
Semua membungkuk hormat. Lelaki yang duduk diatas kursi bangkit dan berjalan mendekat.

Park Hoon melepas maskernya, lalu dia menyeringai tajam kearah lelaki yang tak lain adalah Saboru.
"Tuan, sudah lama saya tidak bertemu denganmu" lelaki yang lebih tua dari Park Hoon itu menunduk.
"Ya, akhir akhir ini aku sangat sibuk" tukas nya lalu duduk dikursi kayu yang tua.
"Bagaimana dengan bisnis mu?" Tanya Park Hoon sembari menyalakan rokok yang menyelip diantara bibir.
"Perkembangannya luar biasa. Pemesan narkoba naik daratis tapii" Saboru menghentikan kalimatnya, berusaha berfikir bagaiamana cara dia menyampaikan berita tanpa membuat tuannya marah
"Ada apa Saboru? , apa ada yang membuatku kecewa? "
"Ti tidak tuan hanya saja..." Saboru menatap tuannya bingung, air mukanya berubah pucat. Sedangkan Park Hoon sebenarnya lelaki itu sudah tahu masalah sebenarnya
"Jesica, gadis itu melarikan diri lagi" ucap spontan Park Hoon yang berhasil membuat Saboru duduk bersimpuh dikaki tuannya.
"Ma maafkan aku tuan, kami sudah mengerahkan anak buah untuk mencarinya"
"Kau selalu tidak becus melakukan tugas mu Saboru"
Saboru tidak bisa berkata kata lagi, lelaki itu semakin bersimpuh dikaki tuannya tanpa berani mendongak.
"Kau sudah ku perintahkan untuk selalu mengawasi Jesica, tapi kau selalu kehilangan dia" ujar Park Hoon sakartistik
"Maaf tuan, tolong maafkan aku kali ini"
"Kau tahu, akhir akhit ini pemerintah Jepang mengawasi gerak gerikmu"
Mendengar itu Saboru mendongak dengan air muka terkejut.
"Aku memiliki salah satu mata mata di sana, polisi tengah menyelidiki tentang penjualan narkoba dan senjata. Aku rasa itu ulah Jesica" ujar Park Hoon menatap lekat kedua manik mata Saboru.
"Jadi aku mau, kau membuat anakmu menutup kasus itu"
"Tapiii tuan"
Park Hoon mengangkat tanganya, membuat sebuah senjata tertodong tepat dikepala Saboru. Bahkan semua anak buah Saboru langsung mengeluarkan senjata untuk membidik Saboru.
"Hanya ada dua pilihan ketika kau menolak perintahku, pertama kau akan mati mengenaskan, kedua kau akan mati disiksa secara perlahan"
Saboru sadar menolak petintah Park Hoon sama dengan menyerahkan nyawanya. Tapi membuat anaknya harus terjun dalam bisinis mengerikan ini juga sungguh menyulitkan bagi Saboru, apalagi anaknya adalah jaksa. Dia tidak tahu menahu seputar bisnis papanya.
"Ba baiklah"
Park Hoon bangkit untuk mengambil sesuatu yang tergeletak diatas meja, itu adalah sebuah senjata. Park Hoon memompanya, menodongkan pistol itu kearah dahi Saboru hingga lelaki itu bergemetar
Dooooorrrrrrrrr
Dengan cepatan kilat peluru itu mengenai tikus yang berada di ujung tembok, semua mata sontak terkejut sangking terkejutnya Saboru terjatuh pingsan.
**
Seorang gadis duduk diatas sofa sembari menggigit kuku jempolnya, dia tak henti hentinya menatap kearah jam.
"Bagaimana jika kita ketahuan ayahmu?" Tanya gadis itu dengan nada ketakutan
"Tidak akan, dia tidak mungkin mencurigaiku"katanya
"Tapi aku takut"
Lelaki dengan mata sipit itu berjalan kearah gadis yang tengah ketakutan diatas sofa. Dia memeluk gadis itu dengan rasa sayang luar biasa.
"Jangan takut, aku akan melindungimu dengan kekuatanku" ujarnya. Gadis itu menangis diatas pelukan lelaki yang sangat dia sayangi
"Dulu kakakku juga berkata begitu, tapi kami berpisah. Kami berpisah karena iblis yang..." Ucapannya terputus, tenggorokannya tercekat, tidak ada rasa sakit yang teramat sakit ketika dia mengingat seputar kejadian dimana orang tuanya dibunuh, dan kakaknya dijadikan budak oleh iblis itu.
Tidak ada yang mengeluarkan kalimat sedikitpun, mereka berdua sama sama hanyut dalam iringan jam. Rasanya terlalu menakutkan dunia diluar sana.
Gadis itu memeluk dengan erat seolah dia benar benar takut kehilangan lelakinya. Seolah dia benar benar akan mati dan tidak akan bertemu keesokan harinya.
"Kau janji tidak akan meninggalaknku" ucap gadis itu dengan suara melemah.
"Aku berjanji, dan aku bersumpah. Tenanglah sayang"
Lelaki itu mengelus punggung gadis nya lembut, membuat gadis itu merasa sedikit tenang.