My Idol Is A Mafia

My Idol Is A Mafia
MAFIA Kembalinya ke sekolah



Park Hoon memeluk Amel dari belakang, gadis ini tengah mengenakan seragamnya.


"Tidak usah sekolah, untuk apa kau ke sekolah" ujar Park hoon sambil memainkan jari jemari Amel.


"Aku kan ingin belajar, lagi pula sudah dua minggu aku tidak sekolah"


Keadaan Amel memang sudah membaik, tusukan yang dia dapatkan kemarin tidak terlalu dalam jadi cepat sembuh dan kering. Meski Amel harus hati hati.


Kevin juga sering ke apartemen, dan Park Hoon memberi kebebasan pada keduanya. Park Hoon tidak tahu jika Kevin lah musuh yang menakutkan untuk dirinya saat ini. Tetapi untuk pengawasan pada Amel Park Hoon lebih meningkatkannya.


"Hati hati disekolah, mau aku antar?" Tanya Park Hoon sambil menyodorkan roti panggang yang dia buat.


"Tidak perlu, nanti banyak yang curiga tentang hubungan kita" ucap Amel.


Setelah mengantarkan Amel pergi, Park Hoon langsung menuju sun si club. Club ini tidak beroperasi saat siang hari, bukan, club ini tidak menjadi club tempat clubing saat siang hari, menjadi bisnis pertukaran narkoba dan senjata.


"Jasad Jhonatan sudah kami bakar di belakang gedung" ujar Alex memberitahu


"Bagus" Park Hoon duduk di mejanya "apa ada gerakan yang mencurigakan dari Hideyosi?" Tanya Park Hoon was was.


Alex menggeleng "dia mengantarkan jasad Jesica ke pemakaman kemarin, tidak banyak mencurigakan,  tidak ada yang berkunjung selain petugas rumah sakit" Tutur Alex.


"Kita harus berhati-hati, sepertinya banyak musuh yang akan membahayakan bisnis kita"


"Tuan" panggil Alex melemah " Aku justru curiga pada Kevin"


Alex menunduk tidak berani menatap bosnya.


"Kau punya bukti untuk menguatkan kecurigaanmu?"


Alex menggeleng "tapi, rumah sakit tempat nona di rawat sangat ketat penjagaan, ditambah anak buah kita yang berjaga"


"Itu hanya asumsimu, kau hanya cemburu melihat Syasya dekat dengan Kevin"


Alex memilih diam, yang dikatakan Park Hoon memang sepenuhnya benar. Dia mencintai Syasya, sejak pertama gadis itu meminta pekerjaan padanya. Dia memang menyukai Syasya hanya saja terlalu takut mengaku adalah beban baginya


Park Hoon menatap wajah gelisah Alex. Dia sudah tahu mengenai perasaan alex pada Syasya, bahkan saat gadis itu akan di bunuh Park Hoon pun, Alex lah yang menjaminkan hidupnya pada Park Hoon. Dan sekarang justru Syasya menyukai Kevin yang tidak menyukai dirinya. Bodoh, jika Park Hoon menjadi Alex dia akan mengancam Syasya dengan caranya. Bukankah itu salah satu cara untuk membuat seseorang tinggal padanya.


Maksud Park Hoon dengan memberinya ketakutan supaya dia tidak akan pergi meninggalkan park Hoon.


**


Amel duduk di kursi dengan rentetan pertanyaan dari teman sekelasnya. Mereka semua sudah mendengar kabar dari Amel, bagaimana gadis itu tergeletak diatas aspal dengan darah yang bercucuran.


"Ya, Amel kami ingin menjenguk mu kemarin, tapi kakakmu bilang kau ke Amerika, jadi kami mengurungkan niat menjenguk mu" ucap Mirae.


"Kau sudah membaik kan Amel?" Tanya Eun Ji lagi


"Kau pasti merindukanku" ujar Sehun dari belakang


"Ya Amel, bagaimana rasanya di tusuk, sakit atau___" belum selesai Kim Tan berucap, Eun sang memukul kepala belakang Kim Tan dengan buku paket.


"Kau gila, pertanyaan macam apa itu?" Teriak Eun sang.


Amel hanya tertawa melihat reaksi teman temannya, setidaknya dia merasa aman disini, teman nya tidak akan melukai dirinya.


"Tidak apa apa Mel, kami akan menjagamu mulai sekarang" Sehun mengelus punggung tangan Amel.


"Kau mau mati" teriak Eun Ji sangat keras, bahkan mampu memecahkan gendang telinga sekalipun.


"Ya, kau bisa diam tidak" ujar Kim Tan langsung memukul punggung Eun Ji dengan penuh tenaga.


Gadis itu menggaduh kesakitan, Sehun yang tahu langsung berdiri.


"Kim Tan, kau mau mati" teriak sehun "kenapa kau memukul kekasihku"


"Eun Ji" panggil Amel.


"Kau berkencan dengan sehun?" Tanya Amel dengan miris menatap Eun Ji.


Eun Ji hanya menunduk sambil mengangguk, setelahnya yang terjadi adalah benar benar mengejutkan untuk Amel.


"Bukan hanya itu, mereka bahkan berciuman dikelas saat kami olahraga, Untung aku memergoki mereka" ucap Mirae.


"Kau gila" teriak Eun Ji "aku kan sudah berkata rahasiakan masalah itu" teriak nya lebih membabi buta.


"Aku kan tidak sengaja mengatakannya" elak Mirae tidak mau disalahkan.


"Bagaimana tidak sengaja, jelas jelas kau berkata semantap itu"


Mirae justru melipat tangan , dia memandang Eun Ji dengan belagu.


"Memangnya kenapa, itu benar terjadi kan, kau berciuman dengan sehun di kelas"


Eun Ji terduduk, dia menangis sangat keras, seperti bayi yang meraung raung, bahkan air matanya meluncur deras.


"Mirae, kau membuat Eun Ji menangis" kata Amel berusaha menenangkan Eun Ji.


"Ya, maaf aku kan hanya bercanda" Mirae ikut duduk dan menenangkan


**


Kevin duduk di depan Hideyosi dengan wajah kusut, meski sekarang pergerakannya sudah bebas semenjak tidak ada Jhonatan, tapi meninggalnya lelaki itu benar benar memukul hati Kevin. Dia merasa terluka oleh kabar meninggalnya Jhonatan.


"Sepertinya kau kesini bukan untuk menunjukan wajah masammu itu"ucap Hideyosi membelah keheningan.


"Apa kau tahu soal kematian Jhonatan?" Tanya Kevin dengan suara parau.


"Aku tidak tahu, maksudku untuk apa aku tahu tentang anak buah Park Hoon " ujarnya berbohong.


"Dia meninggal, kudengar bersama adiknya. Aku hanya mendengar tentang adiknya sekilas tapi tidak banyak"


Kalimat Kevin membuat Hideyosi menggeretakkan giginya, dia merasa muak perihal Jhonatan maupun Jesica, semuanya sama sama membuat Hideyosi ingin membunuh lelaki caplang itu.


"Ha ha benarkah?"


"Apa rencana kita selanjutnya untuk menghancurkan Park Hoon?"


Hideyosi tersenyum, rupanya lelaki berjas putih didepannya ini benar benar tolol. Dia tidak tahu bahwa dirinya sedang dipermainkan oleh Hideyosi. Lebih tepatnya untuk memuluskan rencananya menghancurkan Park Hoon.


"Kau tenang saja, bekerja samalah dengan Kang chul"


Kevin mengernyitkan dahi "Kang Chul?" Ulangnya merasa tidak asing dengan nama yang disebutkan barusan


"Kau pasti mengenal dia, dalam kondisi ku saat ini aku tidak bisa membalaskan dendam kita"


"Lalu Kang Chul, ada masalah apa dirinya dengan Park hoon?" Tanya Kevin mulai bingung.


"Kau tidak mendengar berita, baru baru ini dia diberhentikan dari Eve karena ulah Park Hoon"


"Maksudmu hanya karena itu?"


Kevin masih tidak paham sampai saat ini bahkan tentang Hideyosi sekalipun dia masih tidak mengerti


"Ha ha " lagi lagi Hideyosi tertawa "kau hanya perlu bekerja sama dengannya, dan kau akan tahu semua" ucap Hideyosi sepenuhnya jujur.


Cepat atau lambat Kevin akan tahu bahwa ada dendam apa antara dirinya dan Park Hoon serta kenapa selama ini Kang Chul selalu menaruh dendam pada Park Hoon.