My Idol Is A Mafia

My Idol Is A Mafia
MAFIA Kejujuran



Min Hyuk masih menyusuri jalan di sekitar club, dia enggan pulang. Menunggu di luar club sambil memasukan tangan di saku celana. Hampir dua jam dia disini. Menunggu sesuatu yg mungkin tidak berguna bagi dirinya.


Sampai pukul empat pagi sekalipun, kegiatan club hanya monoton, tidak ada tanda tanda kedatangan seseorang yang berpangkat besar. Hanya lelaki dan perempuan yang keluar masuk. Menelan kecewa Min Hyuk memacu motornya menuju rumah, dia membanting tubuh di atas kasur kala sudah sampai di rumah.


Selang dari sana pintu kamarnya diketuk seseorang dari luar. Bangun dan membuka pintu, wajah Min Hyuk langsung berubah masam.


"Ada apa? Kau tidak senang kakak mu berkunjung ke sini?"


Itu adalah suara berat Kang Chul yang berjalan memasuki kamar milik Min Hyuk.


"Aku baru tahu, selebriti terkenal seperti dirimu mau membuang buang waktu menemui ku"


Min Hyuk menyender di belakang pintu, bersidekap.


Lelaki berperawakan tinggi itu tersenyum "ku dengar kau sedang menyelediki kematian mantan pacarmu"


Kang Chul tidak menoleh kearah Min Hyuk, dia sibuk menatap pantulan dirinya di cermin.


"Dari mana kau tahu?"


"Kau lupa siapa aku? Mudah saja aku mendapatkan informasi tentang mu"  Kang Chul menoleh


"Kau kira menaklukkan Sunsi Club semudah yang itu?" tanya kang Chul sambil memiringkan senyum


"Sunsi Club sangat ketat penjagaan, belum lagi dia bekerja sama dengan para pejabat"


"Jadi apa maumu kesini? Hanya mau memberitahu ku tentang infromasi Sunsi club yang tidak berguna itu" Min Hyuk memanas.


Kang Chul melangkah, menepuk bahu Min Hyuk dengan cengiran


"Sabarlah, kita bisa menyelesaikan ini" tukasnya


Min Hyuk menepis kasar tangan Kang Chul, dia berjalan kekasur nya. Merebahkan diri disana dan menutup mata.


"Kita punya misi yang sama saat ini, aku berniat menawarkan untuk kau bergabung dengan ku"


Pelan pelan Min Hyuk membuka mata "apa maksudmu?"


"Ha ha" Kang Chul tertawa seolah dia baru saja mendengar kalimat yang menggelikan untuk ditertawakan "maksudku, aku mengenal siapa pemilik Sunsi Club"


Min Hyuk bangkit, menatap wajah sumringah Kang Chul.


"Terserah kau percaya atau tidak, kalau kau mau bergabung, berhentilah mendatangi Sunsi karena itu akan percuma"


Kang Chul hendak membuka pintu, tapi dia masih berdiri, menggantungkan tangan di knop pintu.


"Oh ya, dekati terus Amel, karena itu menguntungkan untuk pergerakan kita"


**


Amel menggeliat di pelukan Park Hoon pagi ini. Lelaki itu nyenyak tertidur setelah semalam mereka bermain game.


Sejenak Amel menatap wajah mulus lelaki didepannya, dengan bibir tipis, rahang kokoh. Amel mengelus wajah Park Hoon, lelaki itu tidak bergerak.


"Kenapa kau mau mengatakan kalau aku tampan?" perlahan mata Park Hoon terbuka.


Amel langsung bangkit, menyibak selimut dan berjalan ke kamar mandi. Dia hanya malu saja pada lelaki itu. Selesai mandi dan mengenakan pakaian.


Amel keluar dari kamar. Memperhatikan Park Hoon yang tengah memasak didapur. Dia mengerutkan dahi, bingung


"Kau bisa masak?" tanyanya


Park Hoon menoleh, kembali menatap sayur miliknya dan membumbui dengan garam.


"Tentu saja"


Selesai menghidangkan masakan mereka berdua duduk di meja makan. Menyantap sarapan tanpa banyak bicara. Saat ini hanya suara piring yang beradu dengan sendok yang mengisi ruangan.


"Sepulang sekolah aku ingin mengajak mu ke suatu tempat"


Amel mendongak, menggantungkan sendok dibibir.


"Kemana?"


Amel bertanya itu takut kalau kalau Park Hoon akan mengajaknya pergi ke Sunsi Club, dia takut saja saat disana.


"Kau akan tahu nanti"


Park Hoon bangkit "selamat belajar"


Lelaki itu hanya mencium puncak kepala Amel, lalu masuk kedalam kamar.


**


Matahari yang semula terik sudah kehilangan cahayanya. Amel dan Park Hoon berdiri di depan pohon. Mereka sama sama terdiam, Park Hoon menatap pohon itu dengan sendu.


"Eomaa" adalah kalimat pertama dari kebisuan yang melanda mereka.


Amel menoleh, dia tidak tahu kalau sedari tadi mereka berdiri didepan kuburan ibu Park Hoon.


"Aku datang" sambung Park Hoon. Ada nada tercekat di sana. Park Hoon mengenggam tangan Amel dengan erat.


"Aku datang bersama seorang gadis" tambahnya.


Saat seperti ini, Amel ingin menumpahkan tangisnya.


Amel dan Park Hoon memilih duduk didekat pohon. Park Hoon menyenderkan kepalanya di bahu Amel, memejamkan mata sambil menarik nafas.


"Kau tahu. Ibu meninggal saat usiaku tiga belas tahun" tutur Park Hoon


"Saat itu aku benar benar sendirian, aku selalu seperti itu"


Park Hoon masih memejamkan mata, meski begitu dari kalimatnya sudah tergambar kepedihan yang luar biasa.


"Kau tahu, aku ingin membunuh ayahku saat itu, tidak aku sudah membunuhnya"


Kalimat itu membuat Amel tertegun, bahkan Amel berusaha tidak takut, namun tetap gagal.


"Ayahku membuat ibu bunuh diri, lalu dia membuat aku melakukan proses pemakaman seorang diri"


Park Hoon menegakkan kepalanya, dia menggeretak rahang. Ada rasa marah yang seketika hadir kala mengungkit perihal kejadian itu.


"Kau tahu dimana ayahku saat itu?"


Amel menggeleng


"Dia menghadiri acara sekolah anak simpanannya, saat itu bahkan dia belum pernah menghadiri acara sekolahku satupun"


Mata Park Hoon memerah, dia tidak mengeluarkan air mata sedikitpun. Justru menarik senyum miring yang membuat Amel takut


"Aku menelfonnya, menangis dan mengatakan kalau ibu sudah meninggal" Park Hoon menoleh, menatap Amel dengan mata kemerahan


"Kau tahu apa yang di katakan ayahku?"


Lagi lagi Amel menggeleng


"Dia berkata, dia tidak perduli urusan ibu dan aku"


Park Hoon mencengkram lengan Amel kuat kuat, matanya membulat sempurna, memerah seakan dia tengah menahan tangis.


"Jadi aku membunuhnya, aku tidak salah kan?"


Amel menangis, ketakutan saat melihat mata elang yang sudah berubah memerah itu.



"Jawab aku Amel, aku tidak salah kan?" ulang Park Hoon dengan suara naik satu oktaf.


Amel menggeleng, kali ini dia tidak setuju dengan kalimat Park Hoon.


"Meski begitu tidak ada anak yang akan membunuh orang tuanya" suara Amel terdengar melemah dengan ketakutan yang mencekatnya.


"Itu hanya akal seorang manusia, pada zaman dewa wajar membunuh keluarga terdekat seseorang. Kronos dewa terbaik di antara mereka membunuh Ayahnya, Uranus dengan sabit dan membuang mereka ke neraka"


Park Hoon mencetak sebuah senyum yang menakutkan. Rasanya Amel ingin lari dari hutan ini, rasanya dia merasakan ketakutan.


Kenyataan bahwa lelaki didepannya adalah seorang pembunuh benar benar membuatnya takut.


"Kau adalah dewa. Itu maksudmu?"


Ragu ragu Amel berdiri, dia tidak tahan disini. Mungkin akan pergi andai tatapan elang itu tidak berubah melemah tanpa daya seperti saat ini.


"Andai aku dewa, mungkinkah aku akan mengizinkan dia membunuh ibuku" suara itu melemah sambil tertunduk.


Amel kehilangan kepercayaan diri untuk meninggalkan lelaki jangkung ini disini


"Aku pasti sudah membunuh pria tua dan istri barunya terlebih dahulu, lalu menyelamatkan ibuku dari derkapan iblis sepertinya"


Amel terjatuh ,memeluk Park Hoon. Dia menumpahkan tangisnya. Tidak, Park Hoon bukan iblis, dia memiliki penyesalan dalam kalimatnya saat mengingat kejadian itu. Dia terpaksa menjadi iblis untuk melindungi dirinya.


Park Hoon tidak menangis, dia tidak akan meneteskan air matanya. Hanya saja tubuh dingin itu semakin membuat Amel merasa iba.