My Idol Is A Mafia

My Idol Is A Mafia
MAFIA Serigala Lain



Kematian Jenie benar benar menghancurkan hati Min Hyuk. Meski lelaki itu sering acuh padanya tapi dia juga masih menyayangi Jenie.


Jenie adalah anak sebantang kara saat ini jadi untuk mengurus prosesi pemakanan, Min Hyuk yang melakukannya. Lelaki itu berdiri sebagai wali.


Sebagian mahasiswa, guru juga mendatangi untuk memberi penghormatan yang terakhir padanya.


Amel datang dengan Eun Ji dan Mirae. Setelah meletakkan bunga dibagian bawah bingkai, Amel menunduk untuk memberikan penghormatan pada Jenie, dia juga memberikan penghormatan pada Min Hyuk.


Wajah Min Hyuk pucat pasi, Amel mengelus bahunya


"Tolong kuatkan dirimu" ujar Amel.


Min Hyuk mengembangkan senyumnya, dia menunduk.


Acara pemakanan Jenie dilakukan dengan tertib. Tidak banyak yang melayat bahkan dari Sunsi club tidak ada yang datang melayat.untuk apa mereka datang toh merekalah yang sudah menbunuh Jenie.


Amel berjalan menyusuri koridor masih mengenakan baju hitam sebagai tanda belasungkawa nya.


Berita kematian Jenie sudah menyebar bahkan sudah diberitakan dimedia media. Saat jasad diatopsi tubuh Jenie di temukan obat halusi. Kasus Jenie juga telah diselesaikan dan dinggap upaya bunuh diri.


Sesederhana itu, Amel membuka pintu apartemen, dia langsung duduk dengan tatapan lemas. Dia tidak menyangka pertemuan dengan Jenie dibawah tangga adalah pertemuan terakhirnya.


"Sudah pulang?" Suara berat seseroang membuat Amel menoleh, dia menatap Park Hoon dengan pakaian rapi keluar dari kamar.


"Kau sudah selesai?" Giliran Amel yang bertanya.


Park Hoon menggendong Amel untuk diletakkan dipangkuannya. Dia melumuti bibir Amel.dengan halus. Sedangkan Amel gadis itu hanya memegang erat kemeja Park Hoon.


"Aku merindukanmu" ucapnya menyembunyikan wajahnya ditekut Amel.


"Aku baru saja dari pemakaman Jenie" kata Amel "apa kau tahu gadis itu meninggal bunuh diri?"


Ada nada sesal yang menggelayut disetiap ucapan.


"Aku sudah tahu" ujarnya


"Kau tidak kesana, bagaimana pun dia pernah bekerja denganmu"


Park Hoon tidak menjawab dia justru mengecup bibir ranum Amel. Lama sekali mereka saling mengecup. Saat ini Amel hanya akan bersikap baik dan menurut, dia tidak akan memberentok, semakin dia memberontak semakin nyawa kakaknya terancam.


Park Hoon melepaskan pungutannya. Dia memeluk Amel dengan erat.


"Boleh aku bertanya sesuatu?" Kata Amel terdengar ragu


"Silahkan" jawab Park Hoon menyembunyikan wajahnya didada Amel.


"Kemaren sebelum kematian Jenie aku melihat Alex datang kesekolahan. Apa kematian Jenie ada hubungannya denganmu?"


Park Hoon mendongakkan wajahnya dengan alis terangkat, dia mengukir senyum manis.


"Aku tidak melakukannya, dia menemui salah satu pelacurku, untuk ikut ke Indonesia bulan depan"


Amel mengganguk saat matanya melihat binar kejujuran diwajah Park Hoon ,dia langsung percaya tanpa menaruh curiga.


"Syutingmu sudah selesai?"


"Sudah, sebentar lagi akan perilisan album. Dan aku akan mulai sibuk"


Amel berdiri untu mengganti pakaiannya.


"Kau mau kencan?" Tanya Park Hoon


"Untuk apa kencan, kalau kau keluar rumah sudah banyak fans yang ingin menerkam mu" jawab Amel dari dalam kamar. Amel keluar dengan setelan santai. Kaos putih serta celan jeans diatas lutut.


"Akhir akhir ini kau baik padaku, ada apa? " Amel bertanya saat melihat Park Hoon memakan es cream yang ada dikulkas.


"Karena kau adalah wanitaku"


Ucapan Park Hoon membuat Amel terpaku. Dia senang karena Park Hoon mengatakan kalimat itu, tapi dia cukup ragu, getaran yang selama ini hinggap dihatinya apakah itu cinta? . Atau hanya imajinasi konyol yang hadir karena takut oleh Park Hoon.


"Kenapa kau tidak suka menjadi wanitaku?" Tanya Park Hoon menarik pinggang Amel untuk mendekat.


"Kau meragukannya?" tannya Park Hoon kembali.


"Entahlah" Amel melepaskan pelukan Park Hoon dari tubuhnya.


"Aku ragu soal itu, kau selalu kasar padaku"


"Itu kulakukan karena kau selalu membangkan ucapanku"


Park Hoon menarik tubuh Amel untuk lebih mendekat


"Aku berjanji akan bersikap baik padamu" katanya sembari memeluk Amel lebih erat


"Tolong buktikan padaku"


Amel membalas pelukan Park Hoon. Disisi ini menjadi fansgirl sangat merugikan untuk Amel. Gadis itu sudah terpikat oleh Park Hoon sejak awal belum bertemu, meski dia tahu kelakuan Park Hoon yang biadap, Amel justru memakluminya.


"Gosip tentang kita akan segera mereda" ujar Park Hoon merendahkan kalimatnya


Amel mengangguk tanpa curiga pada rencana Park Hoon


**


Kevin memukul stir mobilnya saat dia duduk bersama seorang lelaki. Wajahnya terlihat marah dengan tatapan belis kearah lelaki itu.


"Kau bilang, rencana ini akan berjalan lancar, mana buktinya?" Cela Kevin sembari menatap dengan tajam


"Aku kira dengan rumor berkencannya Amel dan Park Hoon bisa membuat jarak laki laki itu renggang dengan Amel. Tenryata dugaanku salah" katanya tak kalah dingin


"Kau membuatku harus membunuh seorang gadis yang tidak bersalah" cicit Kevin


"Tenanglah aku sudah menyiapi rencana cadangan"


"Cuih. Kalau rencana murahan seperti ini yang kau maksud, aku tidak akan ikut. Lebih baik aku melepaskan Amel dengan caraku"


"Sabar dokter Kevin, kau lupa dengan perjanjian kita" lelaki itu menyeringai


"Brengsek" umpat Kevin.


Hideyoshi tertawa, dia menepuk bahu Kevin sebelum keluar dari dalam mobil dengan penyamaran. Kevin tidak tahu apa yang ada di otak lelaki itu, apakah dia hanya memperalat Kevin atau memang dia ingin membantunya.


Kevin keluar dari dalam mobil dan langsung dikagetkan dengan kehadiran Jonathan.


"Kau mengangetkan saja" Kevin berusaha menetralkan ekspresinya.


"Ada apa? Apa ada masalah?" tanya Jhonatan


"Aku selalu punya masalah karena aku terikat dengan orang yang selalu buat masalah"


Kevin berlalu begitu saja meninggalkan Jhonatan. Sampai diruangan miliknya dia dibuat terkejeut oleh kehadiran seorang lekaki.


"Selamat siang dokter Kevin?" ujar lekaki itu dengan tersenyum ramah.


"Oh siang Kang Chul, senang bertemu denganmu"


Lelaki itu tersenyum ramah. Iya dia adalah Kang Chul, member ASP yang juga pemilik rumah sakit tempat dimana Kevin bekerja. Kevin sendiri tidak tahu kalau Kang Chul adalah seorang idol.


"Bagaimana kabarmu dok?" tanya Kang Chul sembari menyesap rokok miliknya.


"Kau masih merokok"


Kevin mengibaskan jari jarinya untuk mengusir kepulan asap.


"Aku akan sehat, aku kan memiliki dokter hebat macam dirimu" katanya tersenyum ramah.


"Kenapa akhir akhir ini kau tidak pernah mengunjungiku?" tanya Kevin pada Kang Chul


"Aku menemui rekan bisnis ku di Jepang" Kang Chul menjeda kalimatnya "dokter bisa kau memberiku vitamin, akhir akhir ini aku sering merasa kelelahan"


Kevin berjalan menuju loker obatnya mengambil infus vitamin lalu memasangkan ditangan Kang Chul


"Jaga kesehatanmu, sekarang banyak orang jahat yang berusaha melukai siapapun tanpa pandang bulu"


Kang Chul meneyeringai tapi tidak disadari Kevin "aku akan menjaga kesehatanku"


Dia merebahakan kepalanya di kursi "bagaiaman dengan adikmu? Kudengar dia sudah dikorea"


Kevin menghentikan tangannya saat mengatur infus. Dia menatap selang dengan kabur. Amel, dia sedang dalam bahaya, bersama sekumpulan srigala yang kapan saja bisa memakannya. Kasihan Amel dia hanya anak kelinci yang senang bermain.


Kevin menarik sudut bibirnya, berusaha tersenyum agar tidak menaruh curiga pada Kang Chul


"Dia baik baik saja"


"Dokter, kau tahu kan. Kau sudah bekerja dengan ku sangat lama" Kang Chul menjedanya "aku harap kau bisa memberitahuku saat kau ada masalah"


"Apa yang akan kau lakukan jika aku melakukan itu?"


"Tentu saja, aku akan menolongmu"


Kang Chul menyeringai. Bukankah seringai itu seringai yang sama saat Park Hoon membunuh seseorang.


Oh , demi Planet EXO , sepertinya ada tawanan baru yang ditemukan seekor srigala, atau lebih tepatnya ada anak kelinci lain yang tidak sadar ada serigala yang mengantainya.