
Park Hoon mengecup dahi Amel lalu meninggalkan gadis itu sendirian dikamarnya. Syasya sudah berada diruang tamu, dia menunduk hormat kearah Park Hoon, lelaki itu hanya menjawab dengan gestur dingin.
Setelah melewati Syasya, laki laki itu langsung berjalan menuju mobilnya. Dia tak lupa mengenakan masker sebagai penyamaran. Sesampai dimobil Park Hoon menarik gas untuk menuju tempat syuting.
Alamat syuting MV ini berada di Gyeonggi English Village (Paju Village).
Sekilas lokasi ini terlihat seperti di luar negeri, tapi sebenarnya ini English Village yang ada di daerah Paju. Karena English Village, makanya banyak bangunan yang terasa bernuansa Eropa
Disana sudah berada Kang Chul, Zhan dan Lee Chan yang duduk dengan membaca skript. Park Hoon berjalan santai sesekali melempar senyum ramah dan menunduk hormat kearah staf. Melihat kedatangan Park Hoon Lee Chan melambaikan tangan.
"Park Hoon sini" ujarnya meminta Park Hoon untuk bergabung dengan mereka. Park Hoon menunduk sembari mengucapkan selamat pagi pada mereka.
"Ya, kemarin kau tidak ikut mengantarkan Xiumin sumbe? Dia mencarimu" kata Lee Chan penuh semangat untuk memulai cerita nya.
"Benarkah, aku menyesal untuk itu. Pemotretan tidak bisa untuk ditinggalkan" dusta Park Hoon karna sebenarnya pemotretan sudah selesai sebelum waktu itu dan laki laki itu tentu sudah duduk di apartemen menunggu kepulangan Amel.
"Dia titip salam padamu, jangan menyesal. Dia tahu kau sedang sibuk" ujar Zhan menimpali "ini skript yang harus kita lakukan" kata Zhan memberikan kertas kearah Park Hoon.
**
Amel terbangun dari tidurnya, ketika matanya terbuka yang pertama kali dia lihat adalah sosok wanita berambut pirang membawa nampan kearahnya. Dia mengenakan rok mini dengan kaos warna hitam yang sengaja dimasukan. Aksesoris permata tak lupa bertengger di telinga dan lehernya. Dia tersenyum menunjukan sederetan gigi putihnya. Meski Amel sudah tahu akan ada wanita yang menjaganya tapi Amel kira wanita yang dimaksud Park Hoon adalah seorang ajumma, bukan gadis cantik seperti ini. Amel segera mengganti posisinya menjadi duduk.
"Kau siapa?" Tanyanya penuh ragu. Wanita itu tersenyum.
"Aku Syasya"
Dia mengulurkan tangan kearah Amel, tentu, Amel membalas perkenalan itu dengan canggung
"Aku Amel"
"Tahu" ucapnya "kau adiknya Kevin kan"
"Dari mana kau tahu tentang kakakku"
"Kami cukup dekat. Makanlah, setelah itu minum obat dan mandi"
Syasya hendak berjalan keluar ruangan "oh ya, aku akan membeli sayuran nanti, kau mau ikut?" Tawar Syasya kepada Amel.
Gadis itu memutar matanya, setelah difikir fikir membosankan juga jika dia harus berada di apartemen, lagi pula dia sudah merasa agak membaik.
"Baiklah, aku mandi dulu" kata Amel kepada Syasya.
Selepas mandi dan makan Amel berjalan mendekati Syasya yang tengah berdiri sembari menatap kearah jalanan melalui kaca tembus pandang.
"Pemandangan yang luar biasa" ucap Syasya begitu merasa Amel mendekatinya. Amel mengernyitkan dahi darimana pemandangan jalanan jadi pemandangan luar biasa, menurut Amel pemandangan seperti itu sangat membosankan.
Syasya menoleh menatap setiap inci tubuh Amel.
"Sudah siap?" Tanya Syasya kepada Amel yang menatapnya tanpa bergerak. Gadis itu hanya mengangguk, lalu mengekori Syasya yang berjalan keluar apartemen.

Mereka sampai di sebuah supermarket setelah menempuh perjalan kurang lebih 15 menit. Syasya mendorong troli belanjaan. Mereka masih terdiam yang dilakukan Amel hanya berjalan mengekori Syasya tanpa mengucapkan sepatah kalimatpun.
"Kau tahu" syasya memecahkan keheningan sembari memilih daging "kita seperti adik kakak"
Katanya sambil memasukan daging pilahannya keatas troli.
Amel menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, dia merasa salah tingkah.
"Aku juga berfikir begitu" kata Amel.
"Kau suka makan apa? Sudah lama aku tidak memasak" kata Syasya menatap Amel yang juga ikut menatapnya. Amel terhipnotis sebentar, ternyata wanita ini selain baik dia juga cantik.
"Terserah eonni"
Mendengar Amel mengatakan kata eonni syasya mengehentikan dorongan trolinya. Dia menoleh menatap Amel yang tengah menatap sekumpulan sayur sayuran.
"Ada yang mau kau beli?"
Amel menoleh menatap Syasya yang sudah memperhatikannya sangat lama.
"Tidak, aku hanya ingat kakak ku, dia sangat suka brokoli" kata Amel menjelaskan kepada Syasya.
Mereka memilih buah buahan untuk dibuat salad nanti sore, setelah membayar dikasir. Amel dan Syasya memasukan belanjaannya dibagasi belakang. Tentu saja yang menjadi supir adalah anak buah dari Park Hoon. Lelaki itu tidak akan melepaskan Amel sedikitpun.
**
Sesampai diapartemen , Amel menghempaskan tubuhnya diatas sofa, badannya masih terasa lemas mungkin efek dari dirinya yang demam semalam.
"Istrirahatlah eonni yang akan memasak" kata Syasya membawa belanjaan kearah dapur. Merasa tidak nyaman Amel memilih mengganti pakaian nya dengan baju santai. Dia berjalan mendekati Syasya yang tengah memotong wortel.
"Eonni" panggil Amel yang hanya dijawab dengan deheman.
"Dari mana eonni mengenal kakakku?" Tanya Amel yang menghentikan Syasya memotong wortel. Wanita itu menoleh, meski tinggi Syasya dan Amel sangat berbeda tapi itu cukup membuat keduanya semakin terlihat manis layaknya adik kakak.
"Kau pasti tahu, aku adalah anak buah Park Hoon sedangkan kakak mu saat ini dia adalah tawanan Park Hoon otomatis kami saling kenal" jelas Syasya melanjutkan memotong wortel.
Potongan wortel itu diletakkan dalam mangkuk, lalu Syasya melanjutkan memotong paprika. Amel membawa mangkuk yang berisi wortel kewastafel untuk mencucinya
"Kakak mu itu baik Mel, selama dia ditawan Park Hoon dia sering mengobati anak buah Park Hoon" wanita itu menghentikan potongannya, lalu menatap Amel yang masih mencuci wortel.
"Kau tahu, dia manis sekali saat mengobati pasiennya, kenapa dia sangat baik seperti itu? Dia bisa membuat para gadis jatuh cinta " lanjut Syasya
"Termasuk eonni"
Syasya membelalakan matanya sempurna membuat Amel tertawa.
"Hey eonni aku bercanda" kata Amel membuat Syasya bersemu merah. Karena takut di ketahui Amel wanita itu memilih melanjutkan untuk memotong paprika.
"Bagaimana dengan Park Hoon?" Tanya Syasya
"Eonni kan yang lebih paham tentang dia, kenapa bertanya padaku"
Amel berjalan menuju kursi dekat dengan kompor. Memilih menatap Syasya yang berkutat pada masakan yang akan dibuatnya.
"Maksudku bagaimana sikap dia kepadamu?"
"Seperti itulah, aku tidak bisa memperdiksi sikapnya padaku. Kadang dia bersikap lembut kadang juga bersikap seperti iblis. Sejauh ini yang kutahu dia benar benar manusia yang menyerupai iblis"
Entah kenapa dengan Amel , dia merasa nyaman untuk berbagi isi hatinya pada Syasya. Padahal itu sulit dilakukan meskipun dengan Eun Ji dan Mirae atau pada Kevin sekalipun.
"Ha ha Ha" tawa Syasya meledak "kau baru tahu dia iblis. Kukira sudah dari awal"
Amel menggidik ngeri membayangkan sikap lelaki itu yang marah marah padanya.
"Seharusnya dia memiliki tanduk dikepala, itu cocok untuk dia" kata Amel asal
"Tapi tampan kan" goda Syasya
"Iya, iblis tampan" kata Amel lirih