
Amel menghapus air matanya lalu berjalan menuju dapur, diteguknya air putih. Tatapannya tetap kosong, tapi dia tidak boleh lemah, jika dia terlihat lemah maka Park Hoon akan semena mena padanya.
Gadis itu membanting tubuhnya diatas sofa. Tatapannya kosong, setelah perlakuan Park Hoon tadi dia merasa hina dan marah.
Ketika pintu kamar terbuka Amel enggan menoleh tapi mendengar seperti sesuatu yang ditarik mau tidak mau gadis itu menoleh. Sebuah koper ditangan Park Hoon.
"3 hari ini aku ada konser di Jepang, selama itu juga jangan coba coba keluar dari apartemen" ancam Park Hoon. Lelaki itu berjalan kearah dapur menegak sekaleng bir. Ketika Amel menatap Park Hoon meneguk bir. Dia menatap tangan Park Hoon memar.
Ada gejolak simpati pada dirinya, tapi masih Amel tahan. Lelaki itu membuang asal kaleng bir lalu dia berjalan ke wastafel membasuh tangannya dengan air

"Aww" Park Hoon menggeram merasakan pedih ditangnya. Amel bangkit menuju kamar yang disadari oleh Park Hoon, lelaki itu mengambil tisu untuk mengelap tangannya.
Ketika tangan kananya tengah mengelap tangan kiri, sebuah tangan mungil menarik tangan Park Hoon paksa. Gadis itu mengoleskan obat merah dengan telaten. Lalu meniup tangan Park Hoon agar lelaki itu tidak merasa pedih.
Gadis itu adalah Amel, meski dia diperlakukan buruk dengan Park Hoon tapi dia masih punya hati untuk tidak mengabaikannya.
Setelah selesai Amel hendak bangkit tapi tangannya dicekal oleh Park Hoon hingga gadis itu terjatuh di pelukan Park Hoon.
Amel berusaha untuk bangkit tapi pelukan Park Hoon semakin kuat. Dengan posisi tubuh Amel menindihi tubuh Park Hoon diatas sofa. Lelaki itu membenamkan kepalanya dileher Amel.
"Jangan pernah pergi" ucap Park Hoon tulus. Amel mengernyit mencoba menjauhkan tubuhnya dari tubuh Park Hoon.
"Maaf" ucap Park Hoon lirih. Amel hanya bisa pasrah karena tenaga Park Hoon lebih besar darinya.
Dengan posisi berpelukan mereka sama sama terdiam, ada rasa nyaman yang menjalar di tubuh Amel, gadis itu enggan melepas pelukannya justru dia berniat membalas pelukan itu tapi Park Hoon sudah lebih dulu menjauhkan tubuhnya. Dia mengacak rambut Amel.
"Oppa pergi ke Jepang dulu ya " tukasnya. Gadis itu hanya bisa mengangguk pasrah. Orang macam apa Park Hoon ini detik sebelumnya dia membuat Amel memaku takut, tapi detik ini dia membuat Amel merasa nyaman.
**
Park Hoon memutar tubuhnya menatap sekumpulan awan di atas pesawat, sedangkan Lee Chan, Kang Chul dan Zhan sudah tertidur pulas. Mamager Ji Wok yang berada disampingnya menatap heran
"Ada apa dengan tanganmu?" Tanyanya.
Park Hoon tidak menjawab hanya menyunggingkan senyum
"Di Jepang nanti aku ingin menemui Saboru" tukas Park Hoon tanpa menoleh kearah manager Ji Wok
"Nanti aku atur agar kau bisa meloloskan dari wartawan" katanya.
Park Hoon menatap kearah jendela, fikirannya kosong. Rasanya dia tidak rela meninggalkan Amel diapartemen, padahal kenapa? Bukankah dia seharusnya membenci gadis itu. Berkatnya dia tidak bisa lebih leluasa mengontrol bisnis dan hanya terpaku pada kegiatan gadis itu. Belum lagi kecemasan tentang Min Hyuk. Sial, memikirkan lelaki itu membuat rahang Park Hoon mengeras.
Hampir 1 jam 20 menit menempuh perjalanan udara anggota ASP langsung di sambut antusias oleh sejumlah penggemar yang menunggu di Bandara itami. Member ASP melambaikan tangan yang langsung diteriaki histeris oleh penggemar.

ZHAN

LEE CHAN

KANG CHUL

PARK HOON
Mereka sesekali melambaikan senyum diantara sorotan kamera dan terikan histeris penggemar. Penjaga juga memperketat keamanan, setelah mereka berhasil masuk kedalam mobil untuk membawanya ke hotel, Lee Chan mendegus keras
"Waw apakah ini Jepang, mereka sungguh luar biasa?" Ucap Lee Chan nampak tidak percaya melihat banyaknya penggemar.
"Kau seperti baru pertama kali melihat mereka" kata Kang Chul
"Biasanya juga kau yang sering tebar pesona kemereka" timpal Zhan
"Bukan hyung, tapi mereka sungguh luar biasa. Aku merasa seperti malaikat"
"Ya kau benar, kau malaikat. Tapi malaikat pencabut nyawa " Zhan tertawa terbahak bahak yang justru mendapat jitakan keras dari Lee Chan.
"Tidak apa apa, aku hanya tidak enak badan" ucapnya kembali menoleh kearah jalan. Bukan itu, bukan itu yang dia rasakan tapi sebuah kekosongan yang hinggap di hatinya. Rasanya dia merasa kehilangan, merasa sesak saat jauh dari Amel.
Mereka akhirnya sampai di hotel Osaka. Tepat disana sudah banyak kerimunan penggemar memadati halaman hotel sampai petugas keamanan dikerahkan untuk membatasi ruang gerak mereka. Member ASP keluar dengan melambaikan tangan sesekali tersenyum.
Setelah sampai dikamar masing masing, Park Hoon langsung membanting tubuhnya. Dia memejamkan matanya ketika sebuah tendangan lembut mengenai kaki, dia membuka mata
"Hei, kau pindah sana. Ini punyaku" kata Kang Chul. Mata Park Hoon membulat, memangnya ada yang berbeda dari kasur ini, bukankah sama saja.
Karena enggan berdebat Park Hoon berjanlan menuju kasur yang terletak tak jauh dari sana. Mendapat jatah kamar yang sama dengan Kang Chul hanga membuang tenaga saja. Park Hoon berjalan hendak keluar namun suara berat Kang Chul membuatnya berhenti
"Mau kemana?" tanyanya penuh kesombongan. Park Hoon berusaha memasang senyum palsu
"Mencari angin" katanya langsung menutup pintu. Park Hoon berjalan kearah roftof disana dia menyesap sebatang rokok yang dia selipkan di saku celana. Tatapannya kosong menuju jalanan. Rasanya ada yang aneh yang menyelimuti dirinya
Park Hoon merogoh saku celana untuk mendial nomor seseorang.
"Alex, dia sedang apa?" tanya Park Hoon pada Alex seseorang yang dia hubungi
"Saya juga heran apa yang dia lakukan, tapi dia uring uringan dan mengucapkan bahasa Indonesia" kata Alex yang membuat Park Hoon langsung tertawa. Bahkan Alex merasa heran, tuannya ini belum pernah tertawa seperti itu ketika di telepon .
"Berikan telponnya pada dia" perintah Park Hoon
"Baik tuan"
"Apa" suara perempuan diseberang telepon membuat Park Hoon tanpa sadar menarik sudut bibirnya
"Kau sedang apa?" tanya Park Hoon yang sedetik selanjutnya merasa aneh dan jijik dengan pertanyaannya sendiri
"Kenapa kau tanya tanya? " suara Amel menaik membuat Park Hoon kembali tertawa, entahlah kenapa dia bisa sebahagia ini hanya mendengar suara Amel.
"Kaaaauuu, kau menertawakanku"
Tawa Park Hoon berhenti meski sudut bibirnya masih mengembang sempurna
"Kau berani membentakku hanya karna aku jauh ya?"
"Ti-tidak siapa juga yang membentakmu" sangkal Amel. Mendengar Amel gugup seperti itu Park Hoon kembali tertawa.
"Aku sudah sampai di Jepang" katanya
"Memangnya apa peduli ku, kau sampai dimanapun tidak ada urusannya denganku"
Ah benar juga, Park Hoon merasa malu sendiri dengan dirinya. Kenapa dia bisa mengatakan hal yang tidak penting seperti itu pada Amel.
"Kau kesepian?" tanya Park Hoon mengalihkan pembicaraan
"Kalau kau tahu kenapa kau bertanya. Kau tidak memberiku ponsel, kau melarangku keluar. Jadi aku ini harus bagaimana. Menonton televisi, membaca bukumu yang supertebal itu, melihat semua album anggotamu. Aaaa ini membosankan, kau tahu?"
Seolah Amel tengah meluapkan kemarahannya membuat Park Hoon tersenyum, rasanya senang mendengar gadis itu tidak lagi marah padanya.
"Nanti aku akan menyuruh Alex untuk memberikan ponsel mu, tapi ingat jangan macam macam"
"Sejak kapan aku macam macam, lagipula kau juga sudah menyadap ponselku"
Park Hoon cukup terbelalak, dari mana gadis itu tahu kalau dia menyadap ponselnya
"Dari mana kau tahu?"
"Aku bukan orang bodoh Hoon'a, waktu aku ingin makan nasi goreng malam itu tiba tiba kau memberikanku sarapan nasi goreng yang entah kau beli dari mana"
"Ha ha ha , kau cukup cerdik" ujar Park Hoon dengan masih tertawa.
"Sekarang kembalikan ponselku, dan ijinkan aku keluar apartemen"
"Tidak, aku tidak akan mengijinkanmu keluar apartemen sampai aku kembali"
"Tapiiii" belum selesai Amel berucap Park Hoon sudah lebih dulu memotong
"Nanti aku akan mengirimkan mu teman"