My Idol Is A Mafia

My Idol Is A Mafia
MAFIA jangan pernah coba pergi



Setelah memberikan makan pada Toben, Amel membersihkan ruang tamu. Apalagi koper lelaki itu masih diletakkan di depan pintu masuk. Tangan mungil Amel menarik koper untuk dibawanya kedalam bak baju kotor agar besok ketika seorang anak buah Park Hoon datang dia bisa tahu jika pakaian itu adalah pakaian kotor.


Park Hoon memang memiliki seorang pembatu kepercayaannya yang selalu membersihkan apartemen setiap kali lelaki itu tidak ada. Hanya sekali gadis itu bersitatap dengan pembatu Park Hoon. Seorang wanita berusia 45 an, kata Alex wanita itu tinggal di Itaewon.


Selain banyaknya bar, klub malam, serta restoran, Itaewon juga terkenal dengan kuliner autentiknya yang berasal dari banyak sekali negara seperti Amerika, Prancis, Pakistan, India, Indonesia, Mesir dan Timur Tengah. Wanita itu juga tinggal di dekat club milik Park Hoon.


Setelah selesai meletakkan pakaian kotor Park Hoon gadis itu duduk sembari menyalakan televisi. Dia melirik sekilas kearah pintu kamar. Apartemen ini sebenarnya memiliki dua kamar. Satu di fungsikan untuk kamar tidur dan satu lagi sebagai walk in closet, ya, kau tahu kan seorang selebriti akan banyak sekali koleksi pakaian, jam, tas dan sepatu.


Mungkin lelaki itu langsung tertidur, jadi dia melupakan Amel, lagipula sudah sewajarnya gadis itu memberi jarak, maksudnya dia harus sadar posisi dirinya sebagai apa.


Amel menganti saluran televisinya asal. Sampai jam 3 pagi matanya masih tetap terjaga, mungkin ini efek dia tidur dari jam 6 sampai jam 10 sore tadi.


Gadis itu sesekali menguap tapi matanya tetap terbuka lebar menatap layar televisi dihadapnnya. Melahap siaran drama dan komedi yang selalu berganti ganti menemani malamnya.


Pintu kamar Park Hoon terbuka, membuat Amel menoleh. Dia berdecak kagum ketika melihat lelaki itu sudah rapi dengan kemeja kotak kotak.


Pagi pagi begini lelaki itu mau kemana?



Amel masih terpaku menatap lelaki itu, wajahnya bersih dengan tatanan rambut yang rapi.


"Aku akan menghadiri acara di Busan" ujar Park Hoon berjalan kearah dapur.


"Jam segini, bukankah kau baru saja kembali dari Jepang" kata Amel ikut berdiri menyusul dimana lelaki itu berdiri memegang gelas berisi air putih.


"Aku ada pemotretan, setelah ini mungkin aku akan langsung syuting MV " katanya tanpa menoleh kearah Amel.


"Mau kubuatkan roti panggang? Kau belum makan dari tadi"


Lelaki itu menoleh menatap dimana gadis itu sudah berjalan membuka kulkas untuk mengambil roti.


Park Hoon menarik sudut bibirnya, rasanya menyenangkan melihat gadis itu berprilaku perhatian.


Setelah selesai memanggang roti, Amel segera menyediakan roti panggang dan mengisi gelang dengan susu. Park Hoon duduk sambil menatap wajah serius Amel.


"Kemungkinan aku akan menggarap MV selama satu minggu" ujarnya sembari memasukan roti kedalam mulut


Amel mengangguk, setelah itu dia berniat berjalan menuju dapur untuk mengambil tisu. Tapi tangannya dicekal oleh Park Hoon. Lelaki itu bangkit, dengan kecepatan kilat dia meraih bibir Amel untuk di lumutinya.


Bibir gadis itu terasa basah dan manis sebuah candu yang selalu membuat Park Hoon gila.


Tangan kekarnya mengusap pipi Amel dengan lembut, tatapan matanya teduh tidak seperti sebelum belumnya.


"Jangan mencoba kabur dariku"


Meskipun beberada detik lalu lelaki itu bersikap lembut tapi ucapan nya barusan tetap membuat Amel menegang, gadis itu ketakutan. Sampai mulutnya terbuka, dia tidak bisa mengatakan barang sepatah apapun.


Park Hoon mengeluarkan benda pipih dari saku celananya.


"Ponselmu, hubungi aku sejam sekali" katanya sembari meminum susu yang telah disediakan Amel. Lelaki itu segera berjalan meninggalkan perasaan campur aduk yang belum pernah Amel rasakan.


Dia merasa senang dengan kehangatan dan kelembutan yang dihadirkan Park Hoon tapi dia juga takut karena lelaki itu selalu memiliki cara untuk menunjukan bahwa Amel hanyalah tawanan yang dia anggap sebagai pelacur


**


Sinar matahari menerobos di celah celah tirai, gadis mungil yang terbaring diatas kasur hanya menggeliat. Sesekali mengerjapkan matanya.


Dia lekas bangun ketika menatap jam diponsel sudah menujukan pukul 6 KST. Setelah mandi dan mengenakan seragam. Amel langsung berjalan keluar, ternyata disana sudah berdiri Junhyung dengan tegap.


Lelaki itu akan terus mengawasinya, padahal dia berniat untuk menemui Kevin hari ini. Amel mencimbikan bibirnya lalu menghentakkan kakinya secara kasar keluar apartemen tanpa menyantap makanan sedikitpun.


Dia berhenti didepan halte menunggu bus datang. Pikirannya masih berkecamuk tentang ciuman manis Park Hoon tadi pagi, bahkan rasanya bibir halus itu masih bermain diantara celah rongga mulutnya. Membuat sebagian dirinya merasa terbang. Amel segera menggelengkan fikiran tentang Park Hoon


"Tidak Amel dia hanya menganggapmu tak lebih dari pelacur" ujar nya masih menggeleng.


Bus berhenTi didepan Amel, bersama kumPulan siswa dan pekerja kantoran tubuh mungil Amel menyelinap diantara mereka. Dia memilih duduk di nomor ketiga menikmati lantunan musik dari earphonenya. Ketika bus berhenti dia segera turun.


"Oke Amel, mari kita bergembira. Hwatiing"


Gadis itu berjalan setengah berlari menuju kelasnya ketika sampai dipintu kelas Amel mengatur nafasnya. Eun Ji dan Mirae yang duduk di kursi melambaikan tangan ketika melihat Amel.


"Amell sini" kata Eun Ji penuh semangat.


Amel berjalan mendekat, ketika dia sudah berada dikelas dia mentap Lee Chan yang duduk diatas meja Kang Chul serta Zhan yang sibuk mengobrol dengan Sehun di ujung kelas.


"Oppa, bukannya kau harus ke Busan?" tanya Amel reflek saat menatap Lee Chan yang tengah sibuk bergurau dengan Mirae. Lelaki itu sontak menatap Amel dengan alis bertautan.


"Busan?" ucapa Lee Chan mengulang pertanyaan Amel.


"Kenapa aku harus kesana?"


Amel langsung menggelengkan kepalanya, dia juga merasa heran. Toh Park Hoon selalu punya alasan untuk pergi, dia kan tidak hanya menjadi artis tapi juga bisnis mafianya. Dia melangkah untuk meletakkan tasnya diatas meja lalu mengeluarkan buku matematika.


"Amelll kau kemarin kemana?" tanya Mirae yang duduk di bangku depan.


"Hanya dirumah" jawab Amel tanpa semangat


"Hem pasti membosankan" kata Mirae melipat tangannya untuk membuat jembatan agar dagunya bisa bertompang diatas.


"Ya begitulah" Amel memutar bola matanya malas. Semalas saat dia harus mengingat 3 hari libur hanya mengendap di rumah. Wekend dan tanggal merah yang seharunya Amel isi dengan hangeout justru malah mengendap di apartemen lelaki itu.


"Oppa kudengar kau kemarin ke Jepang, bagaiman disana?" tanya Mirae berbalik kearah Lee Chan.


Lelaki itu mengelus hidungnya, lalu bertompang dagu.


"Emmm luarr biasaa" ucap Lee Chan penuh semangat.


"Apa kau tahu, Dia sampai tidak ingin pulang" timpal Kang Chul dengan suara nyaring.


"Ha ha ha benarkah?" Eun Ji langsung antusias. Ya ya ya, gadis itu selalu seantusias itu jika Kang Chul yang angkat bicara.


"Aku membaca artikel tentang konsermu di Jepang ,kudengar banyak pujian untuk kalian"


Eun sang yang entah dari mana ikut duduk di samping Mirae. Sedangkan Amel hanya mendengarkan apa saja yang mereka bicarakan.


"Ha ha tidak juga, kami sudah biasa mendengar itu" kata Lee Chan sombong


"Ngomong ngomong dimana Park Hoon oppa?" tanya Eun Sang mencari keberadaan Park Hoon dikelas.


"Park Hoon ,dia ada pemotretan majalah bio di Busan, mungkin nanti sore dia akan kembali ke Seoul" kata Zhan dari arah belakang.


"Majalah fasion itu ya, aku sering membaca komentar seputar majalah bio. Katanya majalah itu laris berkat Park Hoon oppa ya. Waah dia benar benar menakjubkan."


Mirae berdecak kagum sambil melipat tangannya tidak menyangka.


"Kau tahu, aku lebih kagum pada diriku" ujar Sehun tidak mau kalah. Semua mata menoleh kearahnya


"Kenapa? Apa yang perlu kau kagumi?" tanya Kang Chul


"Karena aku bisa sekelas dengan kalian" jawab Sehun dengan suara terbahak bahak. Amel memutar badannya menghadap lelaki yang ditakuti seantero sekolahan. Tapi dia tidak akan menyerang teman sekelasnya, semacam iljin yang baik hati.


"Sehun'a kudengar kau punya peliharaan bernama Vivi? " ucap Amel sembari tersenyum menggoda.


Sehun diam mematung sedangkan yang lainnya justru antusias menatap wajah Sehun.


"Iya, betul itu. Waktu kami main kerumah Sehun , anjing Sehun sangat lucu" tambah Lee Chan ikut berdiri didekat Sehun


"Oooowww Sehun'a ternyata kau punya sisi feminim" kata Mirae ikut mengedipkan matanya.


Pipi sehun sudah merah padam, wajahnya disembunyikan di pundak Zhan. Melihat reaksi itu seisi kelas tertawa terbahak bahak.


"Preman kampungan" kata Kang Chul masih dengan sisa tawa