My Idol Is A Mafia

My Idol Is A Mafia
MAFIA Lelaki berjaket hitam



Amel merapikan buku buku dan membawanya pulang,lebih dulu, Amel menunggu kelas sepi dan membuang burung itu bersama dengan Eun Ji.


"Heol aku tidak percaya ada orang yang tega melakukan ini padamu"


Mereka sama sama berjalan menyusuri trotoar jalan.


"Entahlah, apa yang sudah kuperbuat sampai dia tidak menyukaiku" ucap Amel lirih


"Apa sebaiknua kita lapor polisi saja?" saran Eun Ji.


Amel menggeleng, "Tidak usah, selama ini tidak membahayakanku"


Mereka berdiri menunggu lampu hijau, disaat lampu menyala Amel dan Eun Ji berjalan bersama kerumulan orang yang menyebrang.


Amel berjalan dibelakang Eun Ji, merasa seseorang menabrak bahunya. Setelahnya hanya ada rasa perih dan sakit diarea perut. Amel ambruk bersama dengan perutnya yang berdarah. Ini sebuah tikaman, tapi Amel tidak berhasil menemukan pelakunya, atau orang yang sengaja menabraknya.


"Oh my good, adik kau tidak apa apa?" salah satu pejalan kaki yang tahu Amel terjatuh dan bercucuran darah sontak berteriak. Mengundang pejalan kaki lainnya mendekat.


Amel hanya melihat seseornag berjaket hitam yang setengah menoleh dengan seringai tajam.


"Amel, Amel" panggil Eun Ji.


Amel kehilangan kesadaran, sayup sayup dia mendengar suara Eun Ji yang meminta pertolongan, setelahnya kegelapan yang dia temui.


**


Park Hoon menyila tangan dengan menatap LSD didepannya. LSD adalah obat sejenis ganja yang dosisnya lebih tinggi dibandingkan ganja.


Pintu ruangaan dibuka oleh Alex dengan keras. Park Hoon menoleh menatap wajah Alex yang tetap datar dengan mata elang menghunus.


"Amel ditikam oleh seseorang"


Kalimat Alex membuat Park Hoon menggeser kursi. Dia bangkit dengan kecamasan yang terlalu ketara.


"Diamana dia sekarang?"


"Rumah sakit dokter Kevin"


Park Hoon hampir berlari. Bahkan dia tidak mendengar suara Syasya yang memanggilnya.


Mobil itu dia kemudikan dengan kecapatan maksimal, tidak ada penyamaran kali ini. Bahkan ketika dia berada di latar rumah sakit, Park Hoon justru berlari yang semakin membuat fokus orang orang tertuju padanya.


Dia menuju ruangan Kevin, ruangan kosong yang tidak ada siapa siapa didalamnya.


Han Jae membuka ruangn Kevin dan setengah terkejut melihat Park Hoon berdiri dengan memijat pelipisnya.


"Permisi ada yang bisa saya bantu?"


Park Hoon menoleh "Pasien atas nama Amelia Orchida dirawat di ruangan mana?" tanyanya sarkatistik


Han Jae hanya terpaku, dia bingung, ada hubungan apa antara Amel dan lelaki didepannya.


"Bukankah kau Park Hoon anggota ASP"


Kali ini Park Hoon benar benar ingin marah.


"Tolong katakan dimana ruangan Amel"


Han Jae yang baru pertama kali mendengar Park Hoon berbicara selantang itu setengah terkejut


"Kamar VVIP nomor 404"


Srek


Park Hoon sudah mengeser pintu dan berlarian menuju ruangan yang disebutkan Han Jae.


Dia sudah tidak memperdulikan beberapa pasang mata yang memperhatikan dirinya. Bahkan sudah mengambil fotonya.


Dia menggeser pintu dengan degupan yang masih setia di dadanya. Menatap Amel yang tergeletak tidak sadarkan diri dibrangkar. Ini jauh lebih menyakitkan dibandingkan saat dia harus kehilangan ayahnya.


Kevin yang duduk di kursi langsung menggeser kursi kala melihat Park Hoon mendekat.


"Apa dia tidak apa apa?"


Bugh


Kevin memiliki keberanian sehebat itu untuk menghabisi nyawa Park Hoon kali ini. Dia tidak peduli jika nyawa Kevin sebagai gantinya.


"Brengsek" decih Kevin


Park Hoon menyeka darah disudut bibir dengan jempol tangan. Dia bangkit, tersenyum kecut.


"Kau baru saja mengotori wajah tampanku" katanya datar


"Apa kau belum cukup menyiksa Amel sejauh ini?"


Kevin mencengkram kerah Park Hoon lebih erat.


"Kau ingin berapa pun jumlah mulpong dan ingin memperalat aku , aku tidak masalah. Tapi kembalikan Amel padaku brengsek"


Seseorang menggeser pintu ruangan, Kevin melepaskan cengkraman itu. Dia menatap Alex yang berjalan menuju arah mereka.


Park Hoon memberi kode kepada pengawalnya untuk menyeret Kevin keluar. Tentu lelaki tinggi itu setengah memberotak.


"Apa kau menemukan sesuatu?" tanya Park Hoon pada Alex


"Nona Amel mengalami teror"


Alex menyodorkan beberapa bukti yang baru dia dapatkan


"Sial" decih Park Hoon "Cari siapa pelaku yang menusuk Amel"


Park Hoon menggeser kursi dan duduk di sisi brangkar. Dia menggenggam tangan Amel, menciumi tangan wanita itu dengan penuh kehangatan. Rasa takut kehilangan serta rasa marah yang bercampur menjadi satu


"Kau boleh pergi" katanya mengusir Alex


Lelaki bermata elang itu menunduk. Setelahnya hanya terdengar bunyi pintu tertutup yang tidak dia toleh.


Amel terbaring dibranglar dengan selang infus serta bantuan oksigen. Park Hoon mengelus punggung tangan Amel, membawa tangan mungilnya ke pipi Park Hoon.


"Ku mohon bangunlah" kata Park Hoon melemah.


Dia membenci kehilangan, sesuatu yang menjadi miliknya harus tetap menjadi miliknya. Ada pilihan untuk melepaskan apa yang dia punya yaitu dengan keadaan rusak atau mati.


Park Hoon membenci sesuatu mati bukan karena dirinya. Tapi karena orang lain.


"Biadap mana yang berani melakukan ini padamu?"


Park Hoon bersumpah. Dia akan menghabisi nyawa siapapun yang berani membunuh Amel, siapapun itu. Rahang Park Hoon mengeras, giginya menggeretak.


**


Sayup sayup Amel membuka mata, sesuatu yang membuat tangan kanannya terasa dicengkram dengan kuat membuatnya meringis. Dia melirik kearah bawah, Park Hoon, lelaki itu tengah tertidur dengan memegangi tangan Amel.


Wajah damai dan lelah bercampur menjadi satu, pahatan dari Tuhan yang selalu mampu membuat Amel terbius. Tangan Amel terangkat mengusap puncak kepala Park Hoon dengan lembut. Park Hoon menggeliat, mungkin merasa sesuatu aneh yang memegangi kepalanya.


Pelan pelan Park Hoon juga membuka mata, dia setengah terkejut melihat Amel yang sudah sadarkan diri.


"Kau tidak apa apa? Ada yang sakit? Mau aku panggilkan dokter?" tanyanya bertubi tubi.


Amel menggeleng, membalas genggaman erat dari tangan Park Hoon. Perlahan dia menarik sudut bibir nya untuk tersenyum.


"Siapa biadap yang berani membuatmu seperti ini?" tanya Park Hoon dengan tatapan sendu.


Matanya hampir berair, memerah hingga geretakan dari rahangnya terlihat. Amel menggeleng, berusaha mengatakan tidak ada yang melukaiku supaya Park Hoon tidak bertindak terlalu jauh. Sayangnya tenaga Amel masih terlalu lemah jadi dia kesulitan mengatakan kalimat itu.


Park Hoon membelai wajah Amel, membawa anak anak rambut kebelakang telinga lalu mengecup dahi Amel.


"Tidurlah, kau perlu istirahat" tukas Park Hoon, mengusap rambut Amel dengan lembut.


Amel menarik sudut bibir, mengerjapkan mata lalu mulai menutup mata perlahan. Sepertinya obat bius masih bekerja dalam tubuh Amel.