My Idol Is A Mafia

My Idol Is A Mafia
MAFIA Awal kedekatan



Syasya meninggalkan apartemen Park Hoon setelah mendapat panggilan diponselnya. Dia buru buru pergi tidak lupa memberikan perintah pada anak buah Park Hoon untuk menjaga Amel. Gadis itu menghentakan kakinya karena merasa bosan. Akhir nya dia memilih menelfon Park Hoon saja.  Itung itung untuk protes karena tidak diijinkan meninggalkan apartemen.


Panggilan pertama tidak diangkat dan hanya terdengar suara operator. Amel semakin mendegus, dia memilih mengirim pesan kepada Park Hoon.


Amel


YA PARK HOON, AKU BOSAN. AKU INGIN PERGI MAIN


Setelah pesan terkirim dia berjalan menuju kulkas untuk menyantap salad yang di buat Syasya sebelum pergi tadi. Entah karen efek semalam dia belum makan atau apa, dua mangkuk salad ludes diatas meja. Amel memainkan ponselnya karena bosan.


Ketika dia tengah membaca salah satu akun SNS milik temannya, ponselnya bergetar ada sebuah panggilan pada ponselnya.


"Apa? " sapa Amel dengan singkat padat dan jelas.


"Istirahatlah tidak usah pergi kemana mana"


Mendengar suara Park Hoon melembut membuat Amel terdiam. Entah kenapa Park Hoon jadi bersikap lembut begini padanya.


"Aku mau pergi, aku bosan, sungguh. Aku tidak akan kabur"


Rengek Amel.


"Tunggu aku, setengah jam lagi syuting akan selesai dan kita akan pergi bermain"


Amel menatap jam dinding, setengah jam lagi berarti pukul 7 KST. Meski di Korea masih terlihat terang tapi kan itu sudah malam.


"Aku tidak mau, aku ingin bermain . Aku bosan" rengek Amel semakin terdengar lucu dan menggemaskan. Kalau tidak sedang syuting mungkin laki laki itu akan berlari menemui Amel untuk menggigit telinga gadis itu


"Sabarlah, kau makan apapun yang ada disana" kata Park Hoon mencoba menenangkan.


"Sudah, perutku sudah kenyang"


"Kalau begitu...." Belum sempat Park Hoon menyelesaikan kalimatnya Amel memotong


"Bolehkan aku menemui kak Kevin, aku merindukannya"


"Tidak boleh" jawab Park Hoon singkat. Seketika Amel terdiam, dia merasa sia sia dengan permintaanya.


Terdengar suara degusan dari dalam telepon. Itu suara degusan milik Park Hoon.


"Semalam kan sudah bertemu. Lagi pula Kevin ada operasi dadakan hari ini" jelas Park Hoon dengan nada lembut. Amel mengangguk meski tidak bisa dilihat Park Hoon tapi gadis itu sedikit merasa lega, karena alasan Park Hoon melarangnya menemui kakaknya bukan karena tidak boleh atau takut Amel kabur.


"Sudah dulu ya. Aku ada take adegan. Nanti aku segera pulang"


Setalah itu Panggilan terputus begitu saja.


**


Pukul 7 KST seluruh crew bersiap siap untuk pulang, semua alat syuting sudah di rapikan. Manager dan para member berdiri di dekat lift. Karena syuting take ke 4 di ruangan jadi saat ini mereka hendak menuju lobi.


"Malam ini kalian menginap di drom" kata manager tanpa menoleh. Lee Chan mengangguk sedangkan Kang Chul yang melipat dahi.


"Kenapa tiba tiba?" Tanya kang Chul


"Untuk mempersiapkan syuting lebih baik. Seminggu ini kita harus tekun berlatih" kata Manager.


"Tapi kan masih ada waktu siang, untuk apa kita menginap di drom?"


Kang Chul masih bersikeras menolak


"Wol yoil (senin) kita ada ujian di sekolahan" tambah Kang Chul.


Manager menyunggikan senyum lalu menoleh keearah Kang Chul


"Kenapa? Kau mau ikut ujian suneung? "


"Manager" Kang Chul menaikan suaranya.


Suneung adalah ujian masuk universitas di korea jika di Indonesia adalah SNMPTN.


Manager menoleh menatap wajah Kang Chul yang menurutnya mencurigakan. Biasanya laki laki itu selalu menuruti kemauannya tapi kali ini dia menolak.


"Ada apa denganmu Kang Chul?"


"Aku setuju dengan kang Chul hyung. Lagi pula kita harus ikut ujian senin depan" timpal Park Hoon.


"Kalian tidak perlu khawatir, masalah itu kalian akan segera meninggalkan sekolahan. Itu juga hanya untuk promosi, saat ini kalian harus fokus pada karir ASP"


"Manager aku tidak setuju untuk itu, kenapa kita buru buru meninggalkan sekolah?" Saat ini Lee Chan ikut menimpal.


"Kau kan tahu tujuan awal kita hanya untuk promosi jadi mau tidak mau, kau harus mematuhinya" kata manager dengan suara menaik.


"Baiklah aku setuju, tapi untuk malam ini aku tidak bisa menginap di drom. Ada yang harus aku lakukan" kata Park Hoon langsung berjalan meninggalkan mereka.


Semuanya tersentak baru kali ini Park Hoon menunjukan sikap tidak sopannya pada hyung hyungnya terlebih pada manager. Karena yang mereka tahu maknae itu selalu terlihat sopan dengan siapapun. Sepertinya peermbicaraan mereka memancing kemarahan Park Hoon.


"Aku setuju dengan Park Hoon , besok saja kita mulai bicarakan untuk menginap di Drom" kata Zhan akhirnya membuka suara sebagai leader. Mau tidak mau manager hanya diam terlebih setelah Park Hoon yang berkata seperti itu.


**


Park Hoon sampai di apartemennya setelah perdebatan cukup panjang didepan lift. Lampu ruangan sudah padam sepertinya Amel sudah tertidur. Saat tiga langkah dari pintu, Park Hoon mendengar suara perempuan bernyanyi dalam kamar dengan keras. Karena penasaran laki laki itu berjalan untuk mengintip.


Amel, gadis itu tengah bernyanyi dengan mikrophone miliknya. Dia bernyanyi cukup asal, maksdunya dengan lagu yang Park Hoon belum tahu. Mungkin dia menyanyikan lagu dari Negara asalnya.


Park Hoon melangkah untuk masuk kedalam kamar sembari bersikedekap. Saat saklar sengaja dihidupkan. Amel terjingkat sembari memegang dadanya.


"Oo khamchagia (kaget)" teriak Amel.


Gadis itu menatap wajah Park Hoon yang menahan tawa, sepertinya dia merasa puasa sudah membuat jantung Amel hampir copot.


"Ya, kau harusnya ketuk pintu dulu. Jangan asal masuk" teriak Amel sembari melempar dengan bantal. Untungnya Park Hoon dapat menghindari itu.


"Ha ha ha aku kira kau senang dengan kejutanku"


Amel mengercutkan bibirnya, lelaki itu memang senang sekali berbuat seperti itu.


"Kemana?"


"Katanya mau jalan jalan"


"Sungguh"


Amel melompat dari kasur yang langsung mendapat pelototan dari Park Hoon bahkan lelaki itu sempat membentak dengan suara lantang


"Ya hati hati, kau bisa terluka"


Tapi itulah Amel yang tidak menggubris ucapan Park Hoon bahkan gadis itu sudah berlari ke walk in closet untuk mengganti pakian.



Amel sengaja mengenakan baju kotak kotak bewarna biru. Setelah keluar dari walk in closet gadis itu segera berlarian kearah dimana Park Hoon sedang meneguk sekaleng bir.


"Ayo" ajak Amel dengan senyum manis yang terpancar di wajahnya.


Laki laki itu sempat terbius tapi buru buru tersadar.



Amel mengedipkan matanya, dengan jarak sedekat ini rasanya jantung Amel kembali bergetar. Ada kupu kupu yang mengaduk aduk perutnya. Amel langsung merubah ekspresi wajahnya takut diketahui oleh Park Hoon.


"Hoon'a kau mengganti warna rambutmu?" Ujar Amel yang berjalan didepan Park Hoon. Laki laki itu berdehem.


Mereka keluar apartemen dengan Park Hoon yang mengenakan topi dan masker.


"Kita mau kemana?" Tanya Amel begitu mereka sudah sampai di dalam mobil.


"Nanti kau akan tahu" ujar Park Hoon langsung menarik gas mobil.Di dalam mobil kesunyian yang terasa. Tidak ada yang berucap, hanya suara lantunan musik yang menemani mereka sampai mobil yang mereka kendarai terhenti di tepian selatan sungai Han. Tepatnya di Banpo Bridge (rainbow fountain)


Banpo Bridge adalah sebuah air mancur di bawah jembatan yang mampu memancarkan warna warna yang dipastikan bisa membius mata. Jika saat pagi hari air mancur ini berkilau karena sinar matahari maka saat malam akan berubah menjadi pertunjukan air mancur dengan musik dan warna-warna pelangi yang cerah, bersemangat, dan tentu saja sangat cantik. 


Banpo Bridge ini akan memberikan warna warna indah pada bulan Mei-Oktober.


Amel melangkah untuk duduk disalah satu bangku. Sedangkan Park Hoon lelaki itu memasukan tangannya kesaku celan dan hanya berdiri disamping Amel.


Sudah ada 4 detik mereka terdiam pada detik ke 5 air mancur yang mereka tunggu tunggu meluncur memberikan warna warna pelangi yang luar biasa, tentu dengan lantunan musik dari ASP.




Amel memilih berdiri untuk lebih mendekat pada tepi sungai. Warna itu sungguh sangat manis, di musim panas ini seharusnya dia merasa kegerahan tapi rasanya dia sangat nyaman.


"Wuaoohh deabak, igo yeouputha (wah, luar biasa. Ini cantik)"


Amel sungguh terkagung kagum dengan pemandangan ini. Sedangkan Park Hoon lelaki itu tersenyum dari balik maskernya.


Setelah pertunjukan air mancur mereka memilih kembali duduk pada bangku taman. Amel memainkan sepatunya.


"Sebentar lagi libur musim panas.  Kau mau berlibur kemana?" Tanya Amel memecahkan keheningan. Park Hoon menoleh menatap Amel yang mendongak menatapnya. Dengan tubuh sejangkung itu apalagi posisi Amel duduk, maka itu sungguh menyulitkannya.


"Entahlah, aku belum merancanakannya" jawab Park Hoon tanpa mengalihkan tatapannya. Merasa ditatap seperti itu Amel mengalihkan pandangannya asal.


Amel menatap beberapa pasangan yang tengah berjalan saling menggam tangan, betapa menyenangkan bila berada pada posisi ini bersama sang kekasih.


"Melihat apa?" Tanya Park Hoon.


"Tidak, aku hanya merasa betapa menyenangkan berada pada posisi ini bersama kekasih" kata Amel tanpa mengalihkan tatapannya.


"Kau kan sudah punya"


Amel menoleh menatap Park Hoon yang mengalihkan tatapannya kesisi kanan.


"Maksudmu apa?"


"Aku kan kekasihmu"


Setelah mengatakan itu Park Hoon lantas berjalan meninggalkan Amel. Gadis itu masih duduk sambil mematung, meski hanya sebuah kalimat tapi itukan membuat jantung Amel bergetar. Sialnya Park Hoon justru tidak menganggap ucapannya serius, lelaki itu sudah jauh meninggalkan Amel.


Dia membalikkan langkahnya merasa ada yang tertinggal. Dia menatap kebelakang ternyata gadis itu masih duduk sembari memaku menatap arah depan tanpa berniat menyusul Park Hoon.


"Ya, apa yang kau lakukan, kau tidak ingin ikut" teriak Park Hoon yang membuat Amel langsung berlari kecil untuk menyusul.


Amel berjalan sangat lambat karena kaki nya yang pendek jadi langkahnya sedikit pelan dibelakang Park Hoon sedangkan lelaki itu dia justru melangkah dengan santai dan itu sudah membuat Amel setengah berlari.


"Kau mau makan apa?" Tanya Park Hoon ketika mereka berada di depan mobilnya.


"Emmm"


Amel berdehem. mulutnya terbuka hendak menjawab pertanyaan Park Hoon tapi ponsel laki laki itu bergetar. Mau tidak mau Amel mengurungkan niatnya untuk mengatakan apa menu makan yang akan dia makan malam ini.


"Ada apa Lex?"


Suara Park Hoon tidak selembut saat mereka bersama di Banpo Bridge. Suaranya kembali dingin dan berwibawa tentu tidak lupa suara itu seperti mencengkram.


"Baiklah, aku kesana"


Ponsel itu kembali disimpan disaku celananya. Park Hkon berjalan lebih dulu.


"Makan malamnya kita tunda dulu, sekarang ada yang harus aku urus"


Ucapnya. Amel berjalan untuk membuka pintu mobil. Saat dia sudah duduk belum sempat memakai seatbeat laki laki itu sudah menarik gas dengan kencang akibatnya tubuh gadis itu limbung.


"Pelan pelan saja " ucap Amel lirih hampir tidak bisa didengar. Mendengar suara Amel melirih dan ketakutan Park Hoon mendegus, dia melupakan gadis itu lagi.


Amel memakai seatbeatnya, setelah itu terjadi keheningan sangat lama. Tapi Amel merasakan sebuah tangan menggengam tangan kanan miliknya. Dia menoleh, saat ini tatapan Park Hoon bertemu dengan matanya.


"Mulai saat ini, kau adalah milikku. Jangan pergi kemana mana" katanya