
BAB 6 PERTEMUAN DUA KELUARGA
RESTO S.F
Diruangan VVIP , Ibu Elvina sedang bercengkrama dengan teman masa kuliahnya.
"Eh Fir, kamu masih ingetkan gimana dulu suami mu itu ngerjar- ngejar kamu sampe aku tuh dibikin pusing gara-gara kamu curhat sama aku kelakuan suamimu itu , haha"
"Hhaa iya iya aku inget ,, aduhh rasanya aku ko jadi malu sendiri ya "
"Assalamualaikum, Mama, Tanteu maaf Aku terlambat " ucap Seseorang yang baru saa datang
"Iya Sayang gak papa ko, lagi pula Suami sama Anaknya Tanteu Safira juga belum datang"
"Papa kemana Ma"
"Papa mu lagi ke toilet, Ayo duduk "
"Fir ,kenalin nih anakku satu-satunya Mirza Bayu Putra Pratama"
"Halo Tanteu, " sapa Mirza
"Hai Mirza ,, kamu ganteng banget sihh Za ,, tanteu sampe jadi pengen nikah lagi deh hahaha "
"Ish kamu ini Fir kalau ngomong suka asal ceplos aja "
"Hehe maaf ya Mirza, Tanteu cuma bercanda ko jangan dianggap serius Oke"
"Iya tenang aja Tanteu, Mirza juga orangnya gak gampang masukin kehati omongan orang"
"Fir, Suami sama Anakmu sudah sampai mana ?" tanya Gilang Papanya Mirza yang baru saja kembali dari toilet
"Mungkin sebentar lagi deh Lang, bentar ya Aku telpon dulu " saat Safira ingin menghubungi Elvina, pintu ruangan VVIP terbuka dan nampaklah disana Elvina dan Damar diambang pintu
"Maaf kami terlambat, jalanan sedikit macet tadi " ucap Damar lalu dia berjabat tangan dengan Gilang dan Naila . Saat dirinya ingin menjabat tangan Mirza dirinya terkejut dan merasa heran, kenapa Tuan Mirza bisa ada disini ? Apa dia anaknya Gilang ? Seperti itulah yang ada dipikiran Damar
"Tuan Mirza ?" ucap Damar
Mirza yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya langsung mengangkat wajahnya dan menatap orang yang memanggilnya tadi
"Tuan Damar ,, " ucap Mirza terkejut
Elvina pun tak kalah terkejutnya saat dirinya melihat Mirza ada diruangan yang sama dengan dirinya
"Mati aku, kenapa coba aku harus bertemu dengan dia lagi sih. Bisa -bisa dia tau identitas aku yang sebenarnya " gerutu hati Elvina
"kalian sudah saling kenal ya rupanya ?" tanya Gilang
"Iya Pah, Tuan Damar adalah rekan bisnis Mirza . Baru saja kami bertemu untuk menandatangani kontrak kerjasamanya" ucap Mirza
"Jadi Mirza ini anakmu Lang ?" tanya Damar
"Iya Damar, Mirza ini anakku "
"Astagfirulloh,, aku benar-benar tidak mengetahui nya Lang, aku kira hanya nama Pratama nya saja yang sama. Ternyata memang iya dia anakmu" ucap Damar
"Fir apa itu putrimu ?" tanya Naila
"Ah iya aku sampe lupa buat ngenalin dia, iya ini anakku Elvina Septiani Utomo" ucap Safira
"Wahh anakmu cantik banget sihh Fir, mamanya aja kalah deh sama anaknya" canda Naila hingga membuat semua orang tertawa kecuali Elvina dan Mirza, mereka berdua hanya tersenyum saja
"Kamu masih kuliah apa sudah lulus Elvina ?" tanya Naila
"Elvina masih kuliah Tanteu " jawab Elvina diakhiri dengan senyum
"Kuliah dimana Elvina ? Terus ngambil jurusan apa ?"
"Di Universitas Darma Bangsa Tan, ambil Manajemen Bisnis "
"Berarti kamu satu kelas dong sama anak Tanteu?"
Elvina terdiam, dia bingung harus jawab apa, jawab Iya , terbongkar sudah identitas aslinya. Kalau jawab enggak, pasti Mirza jawab Iya
"Em,, Iya Tanteu"
"Tuhkan bener, Elvina yang dikampus iti beneran dia. Tapi ko penampilannya beda ya?" gumam Mirza dalam hati
"Sudah-sudah wawancaranya nanti lagi, sekarang kita makan aja dulu . Perutku udah laper nih " seru Safira
Dia sengaja melakukan itu karena dirinya tau bahwa putrinya itu sedang tidak nyaman
"Eh iyya , baiklah ayo kita makan dulu "
Dua keluarga itupun mulai menyantap makanan yang sudah tersedia diatas meja
"Gimana caranya ya biar aku tau alasan dia menyembunyikan identitasnya untuk apa" batin Mirza
Setelah selesai makan, mereka melanjutkan kembali perbincangan mereka . Namun kali ini bukan membahas Elvina, melainkan Mirza
"Em,, Mirza bukankah kamu masih kuliah ya, tapi ko kamu sudah punya perusahaan sendiri? Gimana caranya ? " tanya Safira
"Oh itu ya Tan, em gimana ya hhee . Awalnya sih Mirza cuma iseng-iseng aja gitu buat ngilangin kejenuhan, eh tapi Alhamdulillah, akhirnya Mirza sampe bisa mendirikan perusahaan sendiri, tanpa bantuan dari Papa sama Mama"
"Wahh,,, kamu hebat juga ya ternyata. Sama kaya Papamu itu " ucap Damar
"Iya dong, siapa dulu dong yang ajarin nya " ucap Gilang menyombongkan dirinya
Semua orang tertawa karena tingkah Gilang
"Oh ya Mirza , Om mohon bantuannya dari kamu untuk tidak memberitahukan teman-teman kampus kamu kalau Elvina itu adalah anaknya Om " ucap Damar serius
"Memangnya kenapa Om ? "tanya Mirza heran
"Karena itu permintaan Elvina sendiri . Dia tidak ingin orang-orang tau kalau dia adalah anak dari pemilik Yayasan kampus, Elvina gak mau orang-orang baik sama dia cuma karena dia adalah anak dari yang punya Yayasan. Oleh sebab itu dia memilih menjadi orang biasa-biasa saja kalau dikampus. Kamu lihat sendiri bukan bagaimana penampilan dia dikampus ? Bahkan dia sampe rela di bully dan dikatai wanita jorok sama teman-temannya " Elvina terkejut darimana Ayahnya tau kalau dirinya suka dibully dan dipanggil wanita jorok dikampus, padahal dia gak pernah cerita kepada Ayah dan Ibunya
"Iya Om, Mirza janji, Mirza tidak akan menceritakan siapa Elvina sebenarnya sama temen-temen yang lain"
"Baguslah kalau gitu " Damar tersenyum kepada Mirza
"Jadi itu alasannya dia menyembunyikan identitasnya"gumam Mirza dalam hatinya
"Mohon perhatiannya, Sebelumnya saya minta maaf kepada Elvina dan Mirza , mungkin ucapan saya nanti akan membuat kalian terkejut "
"*Ada apalagi ini, ko aku jadi gak enak hati gini ya "kata hati Elvina
"Ayah mau bicara apa sih, kayanya serius banget deh " batin Mirza*
"Jadi begini Mirza, Elvina . Maksud dari pertemuan kita disini itu karena ingin membicarakan soal perjodohan kalian "
Elvina dan Mirza membelalakan matanya karena terkejut dengan ucapan Gilang
"Perjodohan?" ucap Elvina
"Iya El, Ayah Ibu sama Om Gilang dan Tanteu Naila sudah merencanakan perjodohan kalian dari kalian masih kecil" ucap Damar
"Tapi kan Yah, ini udah bukan jamannya jodoh-jodohan " ucap Elvina
"Iya sayang, tapi kami sudah terlanjur berjanji jika anak kami nanti sejodo maka kami akan menjodohkannya" ucap Ibu Safira
"Bagaiman Mirza ? Apa kamu menerima perjodohan ini ?" tanya Damar kepada Mirza yang daritadi hanya diam
"Em,, apa kalian bisa kasih Aku dan Elvina waktu untuk perpikir ?" tanya Mirza ragu-ragu karena takut permintaannya ini ditolak
"Boleh, mungkin kalian masih terkejut untuk sekarang . Kami kasih kalian waktu dua hari dari sekarang untum berpikir" ucap Gilang
" Dua hari ?" ucap Elvina dan Mirza bersamaan
Elvina menatap Mirza tajam begitu sebaliknya
Sedangkan kedua orangtua mereka hanya mengulum senyum
"Iya dua hari. Papa rasa itu sudah cukup Za " ucap Gilang
Mirza menghela nafas " Baiklah " ucapnya
"Bagaimana Elvina ?" tanya Gilang
"Baiklah Om, Elvina juga setuju" ucap Elvina pasrah
"Em, Pah, Om apa boleh Mirza ajak Elvina keluar ?" tanya Mirza
Elvina menatap tajam Mirza
"Boleh Nak Mirza, lebih sering kalian jalan berdua itu lebih baik" ucap Damar, membuat Elvina kesal dengan jawaban sang Ayah
"Kenapa Ayah malah kasih izin sih"gerutu Elvina dalam hati
"Iya boleh Za. Sekalian kalian bicarakan untuk masalah perjodohan ini . Dan semoga saja kalian bisa menerima perjodohan ini " ucap Gilang
"Terimakasih Pah, Om sudah kasih Mirza izin untuk ajak Elvina keluar"
"El ayo " ajak Mirza sambil beranjak dari duduk
Mau gak mau Elvina menerima ajakan Mirza
"Yah,Bu El pergi dulu . Mari Om,tanteu . Assalamualaikum " pamit Elvina sopan meskipun dalam hatinya dia sangat kesal namun dia sebisa mungkin untuk tidak menunjukan kekesalannya dihadapan orangtuanya dan dan juga Mirza
"Ternyata Mirza gerak cepat juga dia" ucap Naila setelah Elvina dan Mirza keluar dari ruangan VVIP
"Apa menurut kalian mereka mau menerima perjodohan ini ?"tanya Safira
"Sepertinya mereka mau menerima perjodohan ini, apalagi Mirza. Dia pasti setuju-setuju aja cuman ya dia so jual mahal lah " ucap Gilang
"Ko Papa bisa yakin gitu ?" tanya Naila
"Karena Papa belakangan ini nguntitin dia Ma. Dan apa Mama tau apa yang Mirza lakukan belakangan ini ?" Naila menggelengkan kepala
"Mirza itu diam-diam suka merhatiin Elvina Ma. Makannya Papa yakin,dia pasti akan langsung mau kalau dijodohkan sama Elvina, cuman dia so jual mahal "
"Kamu ini Lang, bisa-bisa nya ko sampe nguntitin anak sendiri " ucap Damar
"Soalnya belakangan ini tuh dia tingkahnya aneh banget, gak kaya biasanya " ucap Gilang
**
"Kita mau kemana ?" tanya Elvina karena dirinya merasa sangat asing dengan jalanan yang dia lewati daritadi
"Nanti juga kamu tau " jawab Mirza singkat tanpa melirik kearah Elvina
Merasa tidak puas dengan jawaban dari Mirza, Elvina pun memilih untuk melihat-lihat kearah luar mengingat apa saja yang dia lewati, jaga-jaga siapa tau saja nanti dirinya ditinggal oleh Mirza dia ada sedikit petunjuk untuk nanti pulang. Pendek sekali pemikiran Elvina ini . Mana mungkin Mirza tega melakukan itu kepada orang yang dia kagumi secara diam-diam
Beberapa menit berlalu, Mirza menghentikan mobilnya ditepi danau yang luas yang dihiasi dengan lampu - lampu yang indah
"Ayo turun " ucap Mirza dingin
Elvinapun menuruti perintah Mirza karena dia tidak ingin berdebat dengannya
Setelah Elvina keluar dari dalam mobil, Mirza meraih tangan Elvina lalu menggandengnya menuju kursi yang tak jauh dari mobil Mirza terparkir
Elvina tidak menolak, dia hanya diam dan patuh dengan apa yang dilakukan oleh Mirza terhadapnya . Selagi itu masih dibatas wajar
"Kenapa kita kesini ? Apa kamu mau buang aku kedanau ini ?" tanya Elvina setelah mereka duduk dikursi tersebut
Mirza tidak menjawab ucapan Elvina, dia hanya tersenyum evil, hingga membuat Elvina menjadi ketakutan
**Bersambung,,,,
JANGAN LUPA UNTUK KASIH
- LIKE 👍
-KOMENTAR💬
-VOTE⭐️
-FAVORITE♥️
-FOLLOW➕**