My Husband My Hero

My Husband My Hero
37. Dangerous



Alisa tak mampu berontak ketika tangan besar itu menariknya ke dalam mobil alpard yang berhenti di tepi jalan. Di dalam, sudah ada dua orang berbadan gembul yang  duduk di jok depan termasuk di belakang kemudi dan satu orang yang menahannya kini duduk di tengah bersamaan dengannya.


Belum sampai mereka melajukan mobilnya sebuah mobil jeep berisi tiga orang dengan perawakan yang tak kalah kekar menghadang mereka serta dari belakang sebuah motor besar dengan dua orang berboncengan mengunci posisi mobil alpard tersebut.


Dua orang mengetuk pintu dengan menodongkan pistol ke arah dua orang yang duduk di jok depan yang ada di dalam mobil alpard. Sementara satu preman yang duduk di tengah bersama Alisa kini menodongkan pistol ke arah perempuan yang saat ini di landa ketakutan yang begitu hebat.


"Tok... tok... Ayo keluar!" ucap kedua penumpang jeep mengetok kedua sisi luar jendela depan mobil alpard dengan  menodongkan  senjata ke arah mereka. Melihat mobilnya di kepung lima orang bersenjata lengkap akhirnya ketiga orang tersebut keluar dengan satu orang menodongkan senjata ke arah Alisa.


Dua orang di depan langsung di bekuk setelah keluar dari mobilnya tanpa ada perlawanan dan yang satunya masih menawan Alisa.


"Menyerah saja!" Suara bariton salah satu diantara kelima orang yang menghadang itu terdengar menggelegar dengan senjata yang juga sudah siap menembak.


"Jangan mendekat atau aku tembak perempuan ini." bentak satu preman yang masih menyandra Alisa dengan wajah menegang.


Tubuh Alisa sudah mengeluarkan keringat dingin, wajahnya terlihat pucat dengan  jantung yang berdetak tak beraturan. Alisa memejamkan mata menentukan pilihan untuk mengumpulkan  keberanian ketika preman itu berusaha menyeretnya semakin menjauh.


"Ya Allah jika sebatas ini hidupku, aku ikhlas." gumamnya dalam hati.


Sekuat tenaga dia mendorong tubuh besar itu dengan kepasrahan yang penuh.


"Dor... Dor.. Dor... Dor" rentetan tembakan menggema memekakkan telinga membuat semua seolah terhipnotis dengan  situasi yang menegangkan itu.


Tubuh Alisa terpelanting membentur sebuah pagar tembok yang menjulang tinggi kemudian terjatuh meringsek. Sementara darah tercecer membanjir di sekitar tubuh besar yang tergeletak di tanah.


Alisa menggigil ketakutan dengan keringat dingin mulai membasahi tubuhnya. Kepalanya sedikit berdenyut pusing.


"Nyonya Mahardika, tenanglah!" ucap salah satu diantar mereka menghampiri Alisa yang duduk dengan tubuh terkulai lemas. Dan, satu orang sedang berdiri di dekat mayat preman yang sudah tewas tertembak dengan sibuk menelpon seseorang.


"Alisa... anaku! " teriak Mama Lucy sambil berlari dan menangis saat mendapati Alisa duduk di tanah dengan tubuh yang masih gemetar.


"Mama... perutku sakit." keluh Alisa dengan memegangi perut bawahnya.


"Tolong, bantu menantuku ke rumah sakit!" pinta Mama Lucy kepada laki-laki yang berperawakan tak jauh beda dengan anak laki-lakinya.


Dengan terburu-buru mereka membawa Alisa ke rumah sakit. Saat di perjalanan, Mama Lucy menelpon Nungky untuk segera menyusulnya.


Mobil toyota tahun 94an itu membelok di halaman sebuah klinik bersalin. Mereka di sambut Anggara dan Nungky bersama seorang perawat membawa dangkar untuk membawa Alisa ke ruangan dokter obgyn.


Mama Lucy meremas jari jarinya dengan gelisah saat menunggui dokter memeriksa Alisa. Dia berharap Alisa dan calon cucunya baik baik saja.


"Bagaimana, Dok?" tanya Lucy saat melihat dokter keluar dari ruang pemeriksaan.


"Sebaiknya ibu Alisa rawat inap beberapa hari untuk mengantisipasi hal buruk. Dia harus bed rest karena keadaan kandungannya masih sangat beresiko. Jadi jauhkan semua yang membuatnya kembali tertekan dan jangan terlalu banyak bergerak. " ucap dr. Risty perihal kondisi Alisa.


"Baiklah, Dok! Lakukan yang terbaik untuk anak saya!" pinta Mama Lucy dengan berpasrah agar melakukan terbaik untuk Menantu dan anaknya.


💕💕💕


Semua pasukan sudah siaga sesuai dengan formasi yang sudah di rencakan. Medan lokasi yang terpencil di kelilingi hutan dan di batasi laut lepas membuat


Dua orang ahli IT yang sudah dipersiapkan oleh Dansatgas itu berhasil membobol semua pintu dengan sistem keamanan double. Bahkan  Dika berhasil membuka sebuah ruang kedap udara yang berisi brankas dan banyak bahan peledak.


Dika melihat sekelebat bayangan saat tatapannya mengarah ke sebuah lorong gelap di dalam gedung tua yang di bangun sedemikian  rumit. Jelas saja itu membuatnya  penasarannya, lelaki yang saat ini di rundung rasa ingin tahunya pun memilih untuk membuntuti kemana bayangan itu pergi.


"Andress... " gumam Dika saat matanya melihat dengan jelas siapa yang saat ini berjalan melalui jalan rahasia.


Melihat target besarnya akan melarikan diri, membuat Dika memutuskan mengikutinya. Jalan yang cukup gelap dengan  udara yang sangat pengap karena ruang yang sangat sempit. Laki laki yang selalu tampil parlente itu tak menyadari jika dari belakang diikuti seseorang  karena langkahnya yang cukup tergesa untuk sampai ke bibir pantai untuk melarikan diri dengan kapal selam yang sudah dia siapkan.


Dika terlihat cukup heran ketika sinar mulai menembus dari sebuah lorong. Ternyata markas itu terhubung langsung dengan laut lepas tak berpenghuni.


"Berhenti tuan, Andress! " teriak Dika dengan menodongkan pistol ke arah lelaki yang terhenyak kaget, Andress  dengan spontan juga mengacungkan pistol ke arahnya.


"Menyerahlah...!" perintah Dika.


"Ciiihhh... Sebaiknya biarkan aku pergi! Jika tidak, kita akan mati bersama disini. " sinis Andress dengan senyum licik di sudut bibirnya.


"Aku tidak punya alasan  untuk melepaskanmu!" jawab Dika dengan tegas.


"Benarkah? Bukankah kau akan menjadi seorang ayah? Bukankah kamu punya seorang istri yang selalu menunggumu. Ha ha ha.


Pikirkan lagi, jangan bodoh kau!" sergah Andress.


"Aku lebih bodoh jika melepasmu!"


"Doorrr... " seketika Andress menarik pelatuk pistolnya mengenai bahu Dika, membuat senjata lelaki yang kemudian menggulingkan badannya ke depan menendang tubuh Andress yang tak jauh dari posisi ya pun, terlempar.


Melihat serangan Dika yang spontan menendang kakinya membuatnya terpelanting jatuh bahkan senjata yang dipegangnya pun terlepas hingga beberapa meter.


Andress pun bangkit dan menghajar Dika dengan tangan kosong, meskipun sudah terluka, Dika tetap bertekat membalas bahkan keinginan meringkus pentolan mafia itu sangat besar.


"Dengar! Aku tetap akan menangkapmu demi anak anak yang lain, demi ibu ibu yang lain agar generasi ini tidak hancur karena narkoba." ucap Dika masih memukul tubuh yang tak kalah besar darinya dengan geram.


"Arrrkhh... " teriak Dika saat sebuah tusukan pisau lipat mengenai perutnya. Kini Andress balik menghajar Dika habis habisan. Dengan luka di perut dan bahunya membuat Andress dengan mudah menghajarnya, bahkan yang terakhir kalinya andress menendang tubuh tubuh yang sudah terkulai lemas hingga terpental jauh.


"Selamat tinggal! " Ucap andres dengan  mengepak kepakan kedua telapak tangannya setelah menghajar Dika hingga tak berdaya.


"Dooorrrr..... dooor ...dooorr!" Kali ini peluru itu tepat mengenai punggung dan kepala lelaki yang akan meninggalkan daratan Indonesia.


Setelah serangkaian pertarungan  sengit itu, para team baru menemukan Dika yang tergeletak tak sadarkan diri  dan memberinya pertolongan  pertama sebelum membawanya ke rumah sakit.


Bersambung


Jangan lupa vote dan komen ya...


Jangan Lupa mampir di karya aku Merindukan Jingga dan Rahasia Cinta Zoya nggak kalah seru lo