My Husband My Hero

My Husband My Hero
23. Perasaan Perempuan



Alisa berjalan menuju balkon dengan membawakan salad buah yang barusan dia buat untuk suaminya. Sekarang dia sudah mulai tahu kalau Dika jarang sekali makan buah jika tidak di sajikan.


"Mas Dika, ini buahnya!" ucap Alisa yang kemudian duduk di sebelah Dika. Tapi, tetap tak ada jawaban dari laki laki yang saat ini menatap Macbooknya. Tentu saja, itu membuat Alisa kesal setengah mati. Dengan wajah cemberut dia akan beranjak pergi, tapi tangannya di tahan Dika.


"Mau kemana?" tanya Dika masih mantengin MacBook di depannya.


"Tidur!" ketus Alisa dengan berusaha melepaskan cekalan tangan Dika.


"Di sini dulu!" titah Dika.


"Lepaskan! Aku mau tidur." lirih Alisa dengan meronta melepaskan cekalan Dika membuat laki laki yang nanggung degan pekerjaannya itupun melepaskan genggamannya.


Alisa kemudian berjalan ke kamar. Kecewa, Dia merasa Dika benar benar tak mempedulikannya. Sebenarnya ingin menangis, tapi dia berusaha menahan semua rasa sedihnya.


Alisa merebahkan tubuhnya di kasur kemudian menutup rapat tubuhnya dengan selimut tebal. Matanya yang terpejam meneteskan butiran air yang sebenarnya sudah ingin dia tahan.


"Al, ..." Dika mencari Alisa setelah menyelesaikan perkerjaanya. Dia memutuskan kembali ke kamar untuk menemui Alisa.


"Al, jangan pura pura tidur!" ucap Dika yang kemudian merayap ke atas tempat tidur manarik tubuh kecil itu untuk menghadapnya.


"Al, kamu menangis?" tanya Dika merasa heran.


Drt ....drt... drt... Alisa mencari ponselnya yang sudah bergetar.


"Hallo..." ucap Alisa saat mengangkat telepon dari seberang.


"..."


"Iya,tunggu sebentar! Aku akan ke sana!" ucap Alisa kemudian berdiri mengambil dompet dan menyambar sweeternya dengan tergesa-gesa keluar. Dika yang merasa heran, tak sempat bertanya bahkan kali ini dia hanya tertegun sejenak. Tak lama kemudian, Dika mengejar Alisa yang sudah keluar appartement.


Alisa berjalan tergesa menghampiri seorang gadis remaja dengan sepeda di sampingnya.


"Kak Lisa ... Maaf, aku baru bisanya ke sini malam!" ucap gadis berpenampilan sederhana itu.


"Nggak apa apa, Tika." jawab Alisa.


"Berapa, Tika?" lanjut Alisa saat menerima kantong kresek hitam. Alisa memesan tak rajut buatan Tika yang akan di hadiahkan untuk Mama Lucy.


"Dilihat dulu, Kak! Itu penulisan namanya benar apa salah?" Tika berusaha mengingatkan Alisa.


"Ok-oke ... kamu pinter banget!"


Alisa memeriksa semua detail tas rajut yang dia pesan karena Alisa meminta diberi nama ' MoM LUCY' di pojokan bawahnya.


"Berapa, Tika?" tanya Alisa setelah puas dengan hasilnya.


"Lima ratus ribu, Kak!" ucap Tika.


Alisa mengeluarkan enam lembar ratusan ribu dan diberikan pada Tika.


"Kak, ini lebih seratus!" ucap Tika dengan menyerahkan selembar uang itu pada Alisa.


"Buat ganti biaya naik sepeda kamu!"


"Makasih, kak!"


"Sama-sama, hati-hati di jalan!" ucap Alisa sambil melambaikan tangan pada Tika yang kembali mengayuh sepedanya untuk pulang. Sebenarnya Alisa selain ingin memberi kado buat ultah Mama Lucy. Alisa juga kasihan melihat gadis belia itu yang membantu ibunya memenuhi kebutuhan hidup keluarganya karena ayah gadis itu sudah meninggal.


Deg... Alisa tersentak kaget. Saat berbalik, Dika sudah berdiri di belakangnya. Alisa hanya menghela nafas berat dan memilih berjalan melewati Dika. Tapi, Dika keburu menarik lengannya, hingga membuat Alisa tersentak kaget.


"Al, nggak usah bikin ulah!" tegas Dika.


"Bikin ulah?"


"Kalo begitu, lepaskan aku! Jika kamu tidak suka. Biarkan aku pergi!" Mendengar ucapan tajam Alisa membuat Dika terkejut dan mengendurkan tangannya.


"Bukan seperti itu, Al!" ucap Dika dengan mengejar Alisa yang sudah berjalan kembali menuju appartemen. Dika hanya berjalan di belakang Alisa hingga mereka masuk apparteman.


"Al, bukan seperti itu!" ucap Dika masih mengekor di belakang Alisa.


"Aku tau Mas, jika aku memang bukan orang istimewa. Aku cukup tau diri,Mas!"


"Al ...!" Seketika Dika memutar tubuh Alisa untuk menghadapnya.


"Lepaskan, Mas! Karena aku bisa beranggapan beda!"


Alisa berjalan menuju kamar. Dia hanya duduk di tepi ranjang dengan jari jari meremas sprei. Matanya kini kembali berair.


Dika berdiri di tengah pintu dengan memandangi tubuh kecil yang saat ini sedang menunduk terisak. Ada rasa bersalah dan rasa sedih karena membuat istrinya menangis. Dika memang tak tahu harus bagaimana untuk membujuk Alisa, tapi membiarkannya saja juga bukan pilihan yang baik.


"Al, maafkan aku!" lirihnya saat berada di depan istrinya.


"Al, maafkan aku! Aku tak bisa memahamimu!" ucap Dika dengan menekuk lututnya untuk bisa sejajar dengan istrinya, sedangkan Alisa masih duduk dengan menangis tergugu.


"Aku bukan tipe orang yang punya seribu alasan, Al. Aku hanya bisa meminta maaf jika sudah menyakitimu!" ucap Dika dengan membingkai wajah ayu yang lembab karena air mata . Diciumnya kening Alisa dan mengusap air mata yang membuat wajah Ayu itu nampak basah.


"Aku tau ucapanku kasar! Karena aku khawatir, kamu keluar tergesa gesa tanpa bilang apapun. Maafkan aku Al! Sekarang katakan apa yang membuat moodmu sangat buruk?"


"Aku berusaha memahamimu, Mas. Tapi, kamu tak pernah peduli dengan apa yang aku lakukan untukmu... !"


"Salad tadi?" tanya Dika yang diangguki Alisa.


"Ayo berdirilah !" perintah Dika.


"Aku sudah males, Mas!" Mendengar ucapan Alisa membuat Dika mengangkat tubuh kecil yang duduk itu berada dalam gendongan depan.


"Mas Dika, apa apaan ini? Turunin, Mas!" ucap Alisa saat berada di gendongan depan tubuh Dika dengan kaki melinggar di pinggang yang mirip anak koala.


Dika membawa Alisa menuju meja Dapur. Menunjukkan mangkok salad yang sudah kosong.


"Aku sudah habis memakannya. Terima kasih, sayang!" Mendengar ucapan Dika Alisa hanya bisa tersipu malu. Ya, malunya dia sudah menganggap suaminya tak peduli. Dan panggilan sayang dari Dika membuat hatinya terbuai indah.


"Maafkan aku, Mas. Selalu berfikiran buruk tentangmu. Tapi, seperti itulah perasaan perempuan. Sudah dihargai saja rasanya sudah bahagia." ucap Alisa dengan melingkarkan tangan ke leher Dika.


"Kalo begitu, saatnya meminta upahku!" bisik Dika dengan membawa Alisa yang masih dalam gendongannya menuju ke kamar. Matanya menatap dalam istrinya yang masih merona.


"Satu saja, ya!" lirih Alisa dengan malu-malu.


"Iya .. besok yang satunya!" ucap Dika kemudian ******* bibir tipis milik istrinya. Membaringkannya di bawah kungkungan tubuh atletisnya dan memenuhinya dengam ciuman memuja, tatapan Dika yang penuh gairah membuat Alisa semakin merona. (Skiipp dulu ...yeee...).


Tengah malam mereka menyelesaikan ritual berci***nya. Hampir tiga jam Alisa di buat kewalahan dengan tingkah suaminya. kini dia tertidur dengan bertumpu pada sebelah lengan tangan Dika. Nafasnya terdengar halus, hembusanya menyapu dada telanjang lelaki yang selalu menatapnya dengan mendamba. Dika meneliti setiap inci wajah ayu Alisa , kulit putih yang terlihat masih basah karena keringat.


"Makasih, sayang. Aku mencintaimu!" ucap Dika yang kemudian mencium pucuk kepala istrinya yang masih tertidur.


Mendengar notifikasi di ponsel Alisa Dika bermaksud untuk membukanya.


Mama Liana


Alisa, besok Mama ingin bertemu. Bisakan kita ketemu di kedai jepang dekat mall?


Dika meletakkan kembali ponsel Alisa otaknya kembali berfikir. Rasanya aneh, kenapa nggak mengundangnya ke rumah papa Handoko?


Bersambung.