
Dika melajukan motornya dengan ugal ugalan bahkan dia sempat menerobos lampu merah yang lenggang oleh pengendara lainnya. Rahangnya mengeras saat mengingat senyum manis Alisa bersama Andress di foto itu. Menurutnya, mungkin itulah alasan dari sikap dingin Alisa semalam.
Hanya beberapa menit motor sport milik laki laki berambut cepak itu sudah terparkir di halaman kos Nungky. Matanya terlihat berang saat berjalan menuju kamar adiknya. Semua anak kos di sana sudah tau jika laki laki cool itu Abang Nungky.
"Ayo pulang!" ucap Dika saat mendapati Alisa rebahan di kamar adiknya setelah dari kampus.
"Bang, ini udah hampir hujan. Suasana sudah berubah gelap." ucap Nungky yang mengerti jika abangnya sedang menahan ledakan emosi.
"Kamu mau pulang apa, nggak?" Suara dingin Dika yang kemudian diikuti Alisa yang bangkit dari rebahannya.
Melihat abangnya yang menarik paksa lengan Alisa membuat Nungky semakin mengkhawatirkan Alisa yang dari tadi mengeluhkan kepalanya sakit. Apalagi abangnya naik motor, bagaimana jika hujan turun? Kecemasan Itu yang di pikirkan Nungky.
Tanpa mempedulikan ucapan adiknya, Dika tetap saja membawa Alisa pulang dengan motornya. Dan tepat, hujan pun turun dengan derasnya saat mereka baru saja keluar dari halaman rumah kos Anyelir.
Alisa mengeratkan tanganya yang melingkar di perut Dika. Badannya terasa gemetaran saat derasnya hujan mengguyur mereka di atas motor yang melaju kencang. Dika merasakan kepala Alisa yang menyender di punggungnya membuat Dika mengendurkan tarikan gas di tangannya.
Dengan pakaian basah mereka berjalan di lobby appartemen menuju lift yang akan membawa mereka ke lantai dua belas. Alisa hanya memalingkan wajahnya bersedekap menahan hawa dingin tubuhnya saat Dika melayangkan tatapan dingin ke arahnya.
"Sakit!" keluh Alisa ketika merasakan jari jari Dika mencengkeram kuat lengan kecilnya saat membawa Alisa memasuki appartement.
"Auuuugghh..." ringis Alisa saat Dika sedikit menghempaskan tubuhnya dan mengunci kedua lengan kecil itu di dinding.
"Kau menyakitiku!" lirih Alisa Saat merasakan pergelangan tangannya sakit. Dika melepaskan lengan Alisa yang masih menyisakan bekas merah, tapi masih dengan memepet tubuh kurus itu di tembok.
"Semalam, kamu pergi kemana? Saat aku tidak di rumah." ucap Dika dengan menatap tajam mata sipit di depannya.
"Aku hanya membeli buah di swalayan depan." jawab Alisa bingung kenapa hanya hal kecil dipermasalahkan.
"Sudah kubilang jauhi Andress! Kamu itu susah banget di bilangin." bentak Dika membuat tubuh Alisa menegang.
"Kenapa selalu mengekangku? Di matamu aku yang selalu salah. Kamu pikir, pergi ke club malam, bersenang senang dengan wanita wanita murahan, apa itu contoh yang baik?"
"Maksutmu apa bersenang senang?"
"Lalu apa namanya? Aku benci kamu, benci ... !"ucap Alisa dengan memukul mukul dada Dika berulang ulang hingga tubuhnya meluruh.
"Al ... !" ucapnya tertahan saat tangannya menahan tubuh lemas Alisa agar tak terjatuh. Dengan wajah paniknya lelaki itu menggendong alisa ke kamarnya dan mengganti baju basah Alisa dengan kemejanya.
Tangannya dengan kilat memencet nama Anggara.
"Ang, cepat kemari! Alisa pingsan!" Kali ini Dika dibuat panik dengan kondisi Alisa yang diserang demam hebat. Dia tidak menyangka jika hasilnya seperti ini. Tangannya masih menggosok-gosok telapak tangan Alisa yang dingin dengan minyak kayu putih.
Sambil menunggu Anggara, Dika mengganti pakaiannya yang basah. Menurunkan suhu Ac dan kemudian berada di samping Alisa.
Mendengar suara bel, Dika bergegas membukakan pintu.
"Ayo masuk!" ucap Dika saat melihat Anggara yang sudah berdiri di depan pintu dengan senyum khasnya.
"Kau ini, semalam melakukan berapa kali? Hingga istrimu kecapekan seperti ini." ucap Anggar saat melihat Alisa mengenakan kemeja Dika.
"Jangan bertele-tele!" sergah Dika jengah dengan kelakuan konyol dokter satu itu.
"Dia cuma butuh istirahat. Lihatlah lingkar hitam di matanya. Bukankah semalam kamu mengajaknya bergadang, heee...?" ucap Anggara dengan menaik turunkan alisnya diikuti senyum mengejeknya.
"Dokter gila, sana pulang!" usir Dika saat menerima coretan resep dari Anggara.
"Hahaha aku suka menggodamu saat panik. Bukankah itu fenomena langka?"
"Sial..." umpat Dika dibalas Anggara dengan tawanya yang berlahan menghilang.
"Al, maafkan aku!" ucap Dika dengan menempelkan dahinya di pelipis wanita di sampingnya.
Alisa mengerjapkan mata, merasakan hembusan nafas Dika di wajahnya membuat Alisa menoleh.
"Jangan menyentuhku! Kamu jahat!" Mendengar ucapan istrinya membuat Dika semakin mengeratkan pelukannya meski hatinya merasa sedih. Tubuh Alisa yang lemas hanya bisa terdiam.
"Kamu salah faham, Al! Aku bukannya bersenang senang. Di sana aku sedang tugas." ucap Dika tanpa beralih sama sekali dari tubuh mungil itu.
"Maksutnya?" Alisa masih ingin tau alasan Dika.
Tangan Dika langsung menjulur meraih ponsel di nakas sebalah Alisa. Dia menunjukkan isi pesan yang menyatakan malam itu dia harus ikut patroli karena personel inti mereka yang kurang.
"Jangan menjauhiku, Al!"
"Wanita itu?"
"Aku tidak tahu. Saat di sana mereka langsung duduk di sebelahku." ucap Dika.
"Dari dari mana kamu tau?"
"Temanku mengirimkan video Mas Dika ke aku."
"Kenapa tidak konfirmasi dari semalam?"
"Apa hakku, Mas?"
"Kamu istriku."
"Tapi kamu tidak mencintaiku." Mendengar kalimat yang di lontarkan Alisa membuat Dika seketika terbungkam. Laki laki yang saat ini masih memeluk tubuh kecil yang di landa demam itu tak mampu berkata apapun.
###
Liana menemui Andress, dengan tujuan akan membuat Andress bertindak lebih cepat. Liana memasuki ruang tamu yang cukup besar dan mewah. Interior yang antik pun banyak terpampang di setiap sudutnya. Si pemilik kini menunggu tamunya duduk di sebuah sofa dengan menikmati secamgkir teh.
"Silahkan duduk, Tante!" ucap Andress saat melihat Liyana mendekat ke arahnya.
Wanita cantik separuh baya itu pun duduk di sofa yang ada di depan Andress.
"Kenapa kamu sangat lamban, Andress! Kenapa tidak segera menghabisinya saja." ucap Liyana tanpa basa-basi.
"Laki laki yang berstatus suaminya bukan orang sembarangan. Dia pintar sekali membaca situasi. Beberpa kali anak buahku gagal. Dan seharusnya kita menyusun rencana yang cukup matang. Dia cukup misterius, sangat susah untuk dilacak. Lagian Alisa gadis yang cukup menarik. Rasanya sayang jika harus cepat di habisi." ucap Andress dengan tenang.
"Jangan katakan kamu tertarik, Andress!" selidik Liyana.
"Sedikit. Aku hanya ingin bersenang senang sebentar."
"Kalo kamu tak bisa melakukannya bilang saja. Aku sudah tidak sabar, jangan sampai secara yuridis ketika Alisa mati laki laki itu yang akan mendapatkan hartanya."
"Aku pikir laki laki itu sudah membaca pemikiranmu, Tante. Tapi aku yakin dia punya tujuan yang lain." Andress begitu tenang menghadapi Liana yang semakin menggebu gebu setelah mendengar asumsi Andress.
Bersambung...
Ayo komen n like nya agar author bisa next chapter ya... terima kasih udah rela baca tulisan recehku.