My Husband My Hero

My Husband My Hero
21 Minta Upah



Sepulang dari kampus. Alisa meletakan tas dan buku di pojokan ranjang. Buku yang barusan dia pinjam dari perpustakaan untuk referensi revisi Thesisnya. Sementara itu, dia menjatuhkan tubuhnya di kasur. Kepalanya terasa pusing karena setelah bimbingan tadi siang, dia menghabiskan waktunya di perpus sambil menunggu Dika menjemputnya.


Dika berjalan dengan  menggulung lengan kemejanya mendekati Alisa yang meringkuk tak beraturan di atas kasur.


"Kenapa, Al?" ucap Dika sambil melepas sepatu flat dari kaki Alisa. Kemudian memilih duduk di tepi ranjang di dekat kepala Alisa.


"Kepalaku pusing, Mas?" jawab Alisa masih memejamkan mata.


"Pusing beneran? Apa pusing pusingan?"


"Dua duanya, Mas. Semalam tidur cuma dua jam, kan? Terus tadi bimbingan dan besok harus datang bimbingan lagi. Itupun revisian harus sudah jadi. Soalnya Profesornya mau study banding dua minggu ke jepang."


"Revisi ya, dikerjainlah...tinggal benerin, kan?" Dika menarik kepala Alisa ke pahanya dan memijit lembut kepala istrinya.


"Yah, justru itu.... yang paling susah dari revisi adalah membenarkan yang kita anggap benar sesuai versi dosen pembimbing. Tapi,.. ngomong-ngomong enak pijitannya Mas Dika." celoteh Alisa membuat Dika memukul pelan jidat putih itu.


"Mas...!"


"Hmmm..."


"Nggak ada Mama sama Nungky sepi, ya?"


"Hmmm... " jawab Dika hanya dengan deheman. Lelaki itu masih memijit kepala istrinya yang masih ngoceh terus.


"Mas, jawabannya cuma gitu." protes Alisa saat semua omongannya terjawab dengan deheman.


"Udah belum ini pusingnya?"tanya Dika.


"Belum..."


"Ya aku lanjut pijitnya, ntar malam upahnya ya?"


"Udah ... udah sembuh kepalaku!" Mendengar kata upah, Alisa langsung bangkit dan membenarkan posisi duduknya.


"Ya sudah, upahnya besok malam!" lanjut Dika


"Eh eh...gimana nich? Kan, aku nggak minta?"


"Kan, aku udah telanjur mijatnya!"


"Ntar kalo aku hamil gimana? Kita nggak pake pengaman."


"Baguslah!" jawab Dika saat bangkit dari duduknya.


"Nggak-nggak...!" Mendengar jawaban Alisa membuat Dika berhenti dan menoleh.


"Kenapa?" Dika menajamkan tatapannya.


"Nggak mau, jika anaku terlahir bukan karena cinta!"


"Maksutmu kamu nggak cinta sama aku?" tanya Dika penuh penekanan.


"Aku cinta ...tapi Mas Dika yang nggak cinta sama aku.ups..." Alisa menutup mulutnya saat keceplosan mengatakan cinta.


"Aku nggak mungkin melakukan dengan wanita tanpa cinta!" ucap Dika sambil berjalan keluar karena suara bel berbunyi. Alisa terbengong ...antara yakin dan tak yakin dengan apa yang didengarnya.


"Kalo benar cinta? Kenapa ngomongnya sambil lalu dan masih ambigu. Benar benar nggak romantis. Kalo aku salah denger.... masak iya aku sudah budek?" gerutu Alisa yang kemudian bangkit akan mengejar Dika mencari kejelasan.


"Mas Dik ...." ucapannya menggantung saat melihat Ajeng dan Arsen sudah duduk di ruang depan.


"Mbak Al...?" lirih Ajeng dipenuhi banyak pertanyaan, sementara Arsen menatap Dika dan Alisa bergantian membuat Alisa salah tingkah.


"Kemarilah, Al!" pinta Dika dengan menepuk sofa di sebelahnya.


"Apa kabar, Jeng? Alisa menjulurkan tangan dengan tersenyum kaku sebelum duduk di sebelah Dika. Arsen menatap tajam Dika mencari jawaban atas semua yang sedang dia lihat.


"Iya,,,, kami sudah menikah!"


"Benarkah? Selamat ya! Aku sudah memprediksi kok, saat racun ubur ubur itu menebarkan cinta hahaha." Sorak Ajeng kegirangan hingga mendapat pelototan Arsen. Sejak hamil Ajeng memang terkesan lebih Absurd.


"Sayang hati hati.... ada baby kita!" ucap Arsen mengingatkan Ajeng yang hampir jingkrak-jingkrak.


"Makasih, Jeng. Berapa minggu?" tanya Alisa.


"Ayo, kita ngobrol sendiri saja!" Ajeng menarik lengan Alisa untuk menjauh dari dua lelaki itu.


"Ceritanya panjang, bahkan aku tak menyangkanya. Kami menikah diam  diam."


"Jangan bilang dia sudah hamil?"


"Nggak lah! Emang gua cowok yang suka kredit? Gua tipe cowok kontanlah. Lebih gantle!"


"Pas di puncak kemarin?"


"Iya, kami sudah menikah." Mereka akhirnya saling bercerita, bahkan Arsen hampir melupakan jika tujuan pertama datang untuk memberi undangan di acara syukuran calon babynya, jika saja Dika tak menanyakan itu.


###


Alisa menunggu Dika yang sedang memarkir mobilnya di baseman mall. Alisa memilih untuk menunggunya di dekat food court. Dari kejauhan Alisa melihat Dika yang dikejar-kejar seorang spg cantik dengan memberika brosur dan menjelaskan sesuatu.


"Hae,,, kita ketemu lagi."  ucap Revi membuat Dika dan SPG itu menoleh. Dika hanya terdiam, melihat Alisa yang menatapnya dengan tatapan kesal ke arahnya.


"Eh, tunggu abang ganteng!"Revi menarik lengan Dika membuat Spg itu memilih mundur ke belakang.


Melihat temannya memegang lengan suaminya membuat Alisa beranjak pergi ke bazar kebutuhan pokok dengan wajah jengkel.


Sebal, rasa itu memenuhi hatinya saat ini. Seharusnya dia dan suaminya akan makan terlebih dahulu. Kini, Alisa harus berjalan sendiri berkeliling mencari belanjaan.


"Al ...!" Dika mengejar Alisa saat berada di stand sayur dan buah.


Mendengar ucapan Dika Alisa hanya terdiam dan memilih sayuran yang akan di masukan ke dalam troli.


"Al...jangan merajuk! Aku nggak pandai merayu!" ucap Dika dengan menahan troli dan mengambil alih untuk mendorongnya.


"Aku tidak minta dirayu!" sahut Alisa saat mengambil buah dan beberapa daging.


"Al...cup...!" Dika mencium pipi Alisa membuat wanita itu terkaget.


"Gila kamu, Mas!" ucap Alisa dengan memukul-mukul lengan Dika. Alisa tak menyangka jika Dika akannmenciumnya di tempat umum.


"Makanya jangan merajuk. Aku nggak bisa merayu!"


"Aku nggak merajuk, aku cuma lapar!"


"Ohhh... kirain cemburu!" Mereka sengaja belanja seperlunya karena ingin mensegerakan makan malam.


Dika membawa belanja saat berjalan bersama Alisa menuju mobilnya yang sudah terparkir di baseman.


"Wouuu ... pasangan serasi sekali!" suara itu membuat Alisa dan Dika menoleh bersamaan.


"Kamu lagi ..kamu lagi. Tuan Tajir!"


"Bagiamana penawaranku, Tuan Hacker?"


"Sory tuan, saya tidak bisa!"


"Bagaimana jika dia yang akan membuatmu menerimanya?"ucap Andres yang akan menarik lengan Alisa, tapi untung saja Alisa cepat menghindar ke belakang Dika.


"Jika kamu gantle, kamu tidak akan melibatkan wanita untuk urusan kita!" tegas Dika dengan emosi tertahan.


"Aku akan melakukan apa saja untuk melancarkan usahaku!"


"Dan aku akan mengobrak abrik kasino dan judi onlinemu. Aku harap anda berfikir seribu kali nenyentuh wanitaku!" Dika menarik lengan Alisa meninggalkan tiga orang laki laki dengan tampilan parlente itu.


"Sial...siapa dia berani mengancamku!" geram Andress. Yah, dia memang membutuhkan kecerdasan Dika, tapi sayang dia tak bisa memaksanya begitu saja. Andress semakin dibuat penasaran dengan sosok Dika. 


"Al ...kamu takut? Dari tadi diam saja!" tanya Dika saat perjalanan pulang. Alisa memang mengajak Dika langsung pulang dan memutuskan untuk food delivery saja untuk makan malam.


"Sedikit."


"Jangan takut, dia itu masih manusia, bukan Tuhan!" lanjut Dika dengan satu tangannya menjulur menggenggam jemari dingin Alisa.


Bersambung


Jangan lupa vote ya...


Cerita racun ubur ubur antara Dika dan Alisa ada di novel Cinta Untuk Jodohku