
Alisa menggeliat di bawah selimut tebal, dengan tubuh tanpa sehelai benang pun. Semua tulangnya terasa patah, dan badannya pun rasanya sudah tak bertenaga.
"Al, kenapa?" ucap Dika saat Alisa terlihat gelisah dalam tidur.
"Aku laper, Mas! Tapi masih capek, apalagi bagian pinggangku." ucap Alisa masih dengan memejamkan mata. Dika memang bangun lebih dulu, karena banyak pekerjaan yang harus dia laporkan pagi ini.
"Susu sama roti, mau?" tawar Dika.
"Boleh, susu coklat saja!" pinta Alisa sambil tersenyum ke arah Dika.
Laki laki itu kemudian keluar kamar hanya menggunakan boxer, sedang Alisa memungut dan memakai kaos Dika yang tergeletak di dekatnya. Dan kemudian kembali memejamkan matanya karena masih ngantuk.
"Al, Bangun!" ucap Dika dengan membawa nampan yang berisi segelas susu coklat serta setangkup roti berisi ceres. Wanita dengan kaos kedombrangan itu akhirnya duduk menikmati roti dan segelas sususnya.
"Al, jangan balik tidur! Temani aku melek." ujar Dika saat melihat Alisa menaruh nampannya di atas nakas.
"Ya Allah...ternyata, nyata jika ada istilah tak ada yang gratis di dunia ini." ucap Alisa dengan menyenderkan tubuhnya di kepala ranjang berukuran king size itu. Matanya menatap Dika yang duduk di sofa dengan Macbooknya.
"Al, semalam ada pesan dari Mama Liana! Aku pikir kamu tak perlu datang, Al!" mendengar ucapan Dika membuat Alisa meraih ponselnya.
"Kenapa, Mas? Tapi aku penasaran apa yang diinginkan Mama Liana! Tumben sekali mama ngajak ketemu."
"Aku besok nggak bisa nganter kamu. Aku pun pulang agak malam."
"Aku pergi sendiri ya? Lagian besok aku mau ke kampus, mau balikin buku di perpus." Mendengar ucapan Alisa, Dika hanya menghembuskan nafas kasar.
"Jangan khawatir, Mas! Lagian ketemunya kan di tempat umum." Dika tak mampu menjawab Alisa yang masih memaksa. Laki laki itu hanya menatap istrinya yang tersenyum ke arahnya dan kemudian mengangguk.
###
Alisa memarkir mobilnya tepat di depan perpus. Sudah lama mazda putih itu tidak mampir di kampus. Sejak dia menikah karena Alisa lebih sering diantar Dika. Sebelum keluar mobil, Alisa mengirim pesan pada Dika.
My Husband
'Jangan main sama cewek sexy di club malam'
Sesaat kemudian Alisa langsung mendapat balasan dari Dika
Siap, sayang! ♡
My Husband
"Oh Tuhan, aku bisa gila karenamu Mahardika Setya Praja! Dimanakah sesungguhnya cintamu berlabuh?" Alisa menghela nafas panjang dan kemudian turun dari mobil.
Siang menjelang sore, dengan sepatu flat dan mendekap beberapa buku yang akan dikembalikannya di perpus, Alisa berjalan menuju perpus.
"Alisa..." sapa gadis berkerudung dengan senyum di wajahnya.
"Mbak Najwa..." balas Alisa sedikit kaget.
"Apa kabar? Kamu ada kuliah?" tanya Najwa masih dengan senyum yang tak menyurut.
"Nggak ada mbak, ini cuma mau balikin buku." jawab Alisa dengan memperlihatkan beberapa buku kepada Najwa.
"Bisa ...kita ngobrol? Aku di sini belum punya banyak teman."
"Tentu saja...tapi, aku masuk dulu ya!" ucap Alisa kemudian meninggalkan Najwa di depan perpus. Oh Tuhan, cobaan macam apa lagi ini? Batin Alisa.
"Kita ke kantin saja, Mbak!" ajak Alisa. Akhirnya mereka berjalan bersama menuju kantin. Memilih tempat duduk di dekat pohon agar lebih nyaman dengan angin yang bertiup lembut.
"Al, kamu tau Bang Dika tinggal di mana? Kemarin, aku ketemu Nungky dan pas aku tanya, dia keburu di jemput temannya.
"Di appartemen dekat Swalayan Sains, Mbak!"
"Mbak Najwa, sepertinya juga dekat dengan Mas Dika?" selidik Alisa.
"Oh itu, dulu kita pacaran. Waktu SMU Kita jadian, tapi sebenarnya kita udah saling suka dari SMP. Tapi, jadiannya waktu SMU. Kita sebenarnya sekolah di SMU berbeda, tapi justru itu kita bisa jadian. Sayangnya, Ummi dan Abi akhirnya menjodohkanku dengan putra teman Abi sebelum aku berangkat ke Mesir." Najwa menghela nafas panjang , seperti ada yang tertahan di dalam hatinya.
"Terus..." sela Alisa dengan menatap wajah ayu di depannya.
"Tapi perjodohanku gagal karena suatu hal. Ntah, harus bersyukur atau bersedih. Tapi, sebenarnya aku masih mencintai Bang Dika." Mendengar kalimat Najwa, Alisa seperti susah menelan salivanya. Hatinya sedikit sesak, mana mungkin dia bisa bersaing dengan perempuan seistimewa Najwa?
"Aku terakhir ketemu Bang Dika, dia masih menggunakan gelang yang sama, seperti yang aku pakai!" Najwa menunjukan gelang dengan butiran butiran hitam yang melingkar di tangannya. Ah, rasa apa lagi ini? Seketika Alisa merasakan dadanya mencelos saat mengingat Dika membentaknya karena gelang itu. Segitu cintakah kamu, Mas Dika? Jiwanya ingin menangis tp tidak mungkin di depan seseorang yang terlibat dalam kisah cintanya.
"Aku yakin Bang Dika masih menyimpan perasaan yang sama padaku, karena Sampai saat ini dia masih sendiri."
Sebuah notifikasi pesan masuk di ponsel Alisapun terdengar, ternyata pesan dari Mama Liana yang sudah menunggunya.
"Mbak, aku ada janji sama Mamaku. Jadi, maaf jika aku balik duluan." pamit Alisa. Sebenarnya dari tadi memang dia ingin beranjak pergi. Ntahlah, mendengar cerita masa lalu suaminya rasanya nyesek banget.
Dengan menjabat tangan Najwa, Alisa meninggalkan Najwa. Langkahnya sedikit terburu karena rasanya dia sudah tak tahan dengan air matanya yang mendesak ingin keluar.
Alisa membuka pintu mobilnya. Sesaat, Alisa terdiam dengan air mata yang menetes.
"Akhirnya semua seperti boom waktu. Dan jika saatnya tiba semua harus berakhir. Ya,,,ini adalah konsekuensi yang harus aku terima karena jatuh cinta di dalam hubungan yang sebatas rekayasa."
Alisa melajukan mobilnya dengan pelan. Pikirannya sedikit kacau, rasa sedih, cemburu dan takut kehilangan membuncah menjadi satu dalam hatinya. Membayangkan Dika meninggalkannya saja, hatinya terasa sangat ngilu apalagi jika itu benar terjadi. Tapi, siapa yang mampu menolak wanita istimewa Najwa? Apalagi, Alisa tau jika suaminya sangat mengaguminya.
Alisa memarkir mobilnya di sebuah kedai makanan jepang yang sudah di tunjuk oleh Mama Liana. Setelah mendapat petunjuk dari kasir, Alisa memasuki ruang VIP yang sudah dipesan.
"Sore , Ma!" ucap Alisa saat membuka pintu geser sebuah ruangan.
"Masuk, Al!" ucap Mama Liana ditemani seorang notaris.
"Langsung aja, Ma. Setelah ini, Aku harus cepet sampai appartemen!"
"Wah, istri solehah kamu ya!" Mendengar ucapan Liana, Alisa hanya terdiam.
"Baiklah, aku akan to the point saja. Sebenarnya, Mas Handoko sudah membagi semua hartanya. Tapi, Mama menginginkan perkebunan yang ada di puncak itu, Al."
"Terus...!"
"Sama papamu, itu akan diberikan padamu. Semua sertifikat dan sebagainya akan di berikan saat cucunya lahir. Tapi, mama menginginkan perkebunan dan villa itu."
" Aku yakin papa juga pasti memberi Mama Liana tidak sedikit. " tebak Alisa yang sangat mengenal papanya.
"Aku hanya ingin perkebunan dan villa itu. Kamu boleh memiliki beberapa saham dan rumah, Al. Tapi, aku menginginkan perkebunan itu." Jelas Liana tanpa basa basi.
"Maaf , Ma! Itu kenangan dari Mama Meylin dan aku yakin karena alasan itu, Papa memberikannya padaku. Aku akan mewujudkan keinginan Mama Meylin untuk menjadikannya perkebunan bunga krisan." Alisa memberanikan diri menolak tawaran Liana.
"Al, pikirkan lagi. Jangan sampai aku memilih jalan pintas!"
"Terserah, Mama. Tapi, aku tak bisa merubah keputusanku, Ma." Alisa beranjak pergi dengan tergesa gesa meninggalkan kedai itu.
Perkebunan itu, kebun bunga krisan dan pohon tatebuya adalah impian mamanya. Matanya kembali berkaca kaca mengingatkan rasa kehilangan 13 tahun yang lalu.
"Bugh..."
"Aduch..."
Alisa menabrak tubuh tinggi atletis, laki laki itu sengaja menghadang Alisa saat melihatnya berjalan dengan tergesa dan menunduk.
Bersambung ....
Jangan lupa vote n tinggalkan jejas ya gaes.