My Husband My Hero

My Husband My Hero
36.Emosi Berujung Manis



"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Dika saat melihat Anggara berada di kota L.


"Tentu saja liburan, dan mengantar kekasihku pulang. Tapi, mampir di sini dulu..." jawab Anggara dengan santai kemudian duduk di antara Alisa dan Dika.


"Sayang... ke sinilah!" panggil Anggara. Dengan rasa takut Nungky mendekati mereka. 


Seketika Dika membelalak melihat adiknya bersama Anggara yang menyebutnya kekasih.


"Apa-apaan ini!" gertak Dika dengan menatap tajam sepasang kekasih itu secara bergantian. Sementara Alisa yang melihat suaminya tersulut emosi mengulurkan tangan, menggenggam lengan kokoh itu untuk menenangkan.


"Maksudnya apa, Ky?"


"Biarkan dia duduk dulu!" Alisa menyela pertanyaan Dika dan membuat Nungky memilih duduk di dekat kakak iparnya saat tatapan berang abangnya mulai  mengintimidasinya.


"Gini, bang..." ucap Anggara menggantung, sejenak dia mengatur nafas memberi jeda untuk menjelaskan semuanya.


"Sejak kapan aku jadi abangmu? Jangan macam macam dengan adiku kamu, Ang! Bisa kuremukan tulang tulangmu." geram Dika menatap sahabatnya yang kini memacari adiknya.


"Serius Bang, Aku mencintai Nungky." Anggara masih berusaha meyakinkan sahabatnya itu.


"Sudahlah Mas, nanti saja kita bahas. Sekarang kita makan dulu. Kata Dika junior, dia sudah lapar." bujuk Alisa membuat Dika membuang nafas kasar.


Di sebuah ruangan rumah bergaya paris classic suasana menegang saat Dika berusaha menolak hubungan antara Nungky dan Anggara. Menurutnya Anggara adalah seorang player, yang suka berganti ganti wanita.


"Kali ini aku serius, Dik. Percayalah, aku sangat mencintai Nungky." Dokter yang biasanya memasang tampang konyol itu mendadak serius saat Dika meragukan niatnya.


"Ingat... aku bisa membuatmu lumpuh, jika kamu mempermainkan adiku."


"Tidak akan." tegas Anggara di depan sahabatnya itu.


"Sekarang pulanglah! sebelum emosiku meledak." pinta Dika.


"Terus...aku dan Nungky?" Anggara tetap mencari ijin kepastian dari calon kakak iparnya.


"Biar Nungky yang memutuskan ..."lirih Dika dengan mencecak puntung rokoknya.


"Baiklah, aku pulang. Besok aku akan menemui Nungky." tidak mendapat jawaban dari Dika, Anggara keluar dari rumah itu.


Alisa menuruni tangga setelah keluar dari kamar Nungky yang ada di lantai dua. Melihat ruang tamu yang sudah kosong membuatnya mencari suaminya ke kamar.


"Ceklek..." seketika pandangan Alisa tertuju pada suaminya yang sedang menikmati rokoknya di sofa dekat jendela.


Lelaki yang hanya mengenakan celana jeans dan menunjukkan otot otot kekar tubuhnya itupun hanya menoleh saat Alisa masuk ke kamar. Bahkan, rokoknya seperti lebih berharga dari pada yang lainnya.


Alisa berjalan mendekati Dika. Dia tau jika suaminya sedang berfikir dan meredamkan emosinya.


"Al, jangan mendekat. Aku sedang merokok." ucapnya saat melirik Alisa yang berjalan mendekat.


"Makanya jangan merokok di kamar!" jawab Alisa yang masih ngotot berjalan ke arahnya membuat Dika mengepulkan asapnya yang terakir dan mencecak batang rokok yang masih separo.


Seperti dikomando Alisa duduk di atas pangkuan suaminya . Menyandarkan tubuhnya dan melingkarkan tangannya di tubuh kekar suaminya.


"Mas, berilah mereka kesempatan. Siapa tau mereka memang berjodoh." Setelah mencari penjelasan dari Nungky, Alisa mulai membujuk suaminya. Bahkan, dia tau cara yang ampuh untuk melemahkan penolakan hubungan antara adik dan sahabatnya itu.


"Al, tapi Anggara itu player. Aku tau semua kartu tentang dia." kilah Dika dengan membalas memegang pinggang istrinya yang masih di atas pangkuannya.


"Mama sudah pulang, Al?"


"Mama tidur di toko bersama karyawan yang lembur, soalnya ada pesenan part besar." jawab Alisa yang kemudian mengalungkan tangannya di leher suaminya.


"Mas, bukankah dulu Mas Dika juga benci sama aku, kan?" Alisa nencoba meyakinkan kembali Dika. Kemudian, perempuan itu mencium hidung mancung suaminya.


"Al,..." erangnya diantara ingin menghentikan cerita yang dulu dan membuat istrinya mengerti jika saat ini dia bisa tergoda dengan tingkah polahnya.


"Iya Mas... " goda Alisa yang berpura pura tidak mengerti dengan apa yang  maksud Dika.


"Apa salah, jika aku menggoda suamiku sendiri?" kilah Alisa dengan kerlingan matanya.


"Jangan salahkan aku, Al." Dika mengangkat tubuh kecil itu dengan memberikan ciuman sambil berjalan menuju ranjang. 


Alisa mulai terkikik dengan menyembunyikan wajah di dada bidang Dika saat lelaki itu akan menaruhnya di atas ranjang.


Tanpa banyak bicara lagi Dika ******* bibir Alisa dan kemudian turun ke leher bahkan meninggalkan beberapa kis***k di sekitar tulang selangka istrinya. Tatapannya penuh gairah melihat tubuh yang saat ini terlihat lebih seksi, kini bergerak memancing gairah yang sudah tak tertahan.


"Pelan-pelan, Mas." ucap Alisa diantara lenguhan nikmat yamg diberikan oleh suaminya.


"Iya sayang...." jawab Dika masih menikmati sentuhanya dan mencumbu tubuh yang selalu mengundang hasratnya.


Permainan yang cukup panas, meski dilakukan dengan berlahan dan penuh hati-hati itu berakhir hingga tengah malam.


Melihat Alisa yang masih memejamkan mata karena kelelahan,Dika kembali teringat jika mereka belum makan malam.


"Sayang... kamu belum makan malam." ucap Dika yang sejak tadi menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang.


"Aku masih lelah, Mas." lirihnya dengan masih memejamkan mata.


Dika melorotkan tubuhnya kembali memeluk tubuh kecil Alisa.


"Mas Dika, aku benar-benar lelah. Jangan memulainya lagi!" Mendengar ucapan Alisa membuat Dika seketika tergelak.


"Kamu mau makan apa?" bisik Dika di telinga Alisa.


"Nasi goreng." jawab Alisa sekenanya.


"Ini namanya ngelunjak, Al."


"Bukanya tadi ditawari?" Dibilang ngelunjak membuat Alisa langsung membuka matanya.


"Iya ya..." Dika langsung mandi terlebih dahulu sebelum keluar rumah untuk mengabulkan permintaan istrinya yang menginginkan nasi goreng tengah malam.


###


Pagi pagi seekali, Dika mengantarkan Alisa ke toko Mama Lucy sebelum berangkat tugas.


"Al, jangan menungguku. Malam ini aku tidak pulang. Jaga diri baik baik." pamit Dika dengan mencium kening Alisa. Alisa tidak menjawab suaminya. Perempuan yang saat ini matanya sudah berkaca kacapun memeluk suaminya begitu erat.


"Hati hati, Mas. Cepat pulang!"


Dika kini berlutut memeluk perut Alisa. Menciuminya berkali kali hingga rasanya dia enggan melepasnya."boy, jaga Mama sampai Papa pulang!"  bisiknya di perut datar istrinya.


Dika menghampiri Mamanya yang ada di tengah pintu. Mencium punggung tangan wanita yang sangat berharga di hidupnya.


"Mam, doain Dika dan titip menantu dan calon cucu Mama." Mama Lucy memeluk anaknya.


"Hati hati cepat pulang, doa mama bersamamu." 


Alisa dan Mama Lucy melambaikan tangannya mengiringi kepergian Dika. Kali ini dia harus ikut ke lokasi karena banyaknya sistem keamanan yang sudah canggih yang harus mereka tembus untuk mengamankan markas dan gudang persenjataan target operasi.


"Ma, Alisa akan membeli nasi uduk di ujung jalan sana." pamit Alisa yang kemudian berjalan menuju penjual nasi uduk yang tidak terlalu jauh dari toko Mama Lucy.


Sebelum sampai pada tujuannya, sebuah mobil alpard berhenti tepat di sampingnya. Satu orang dengan perawakan besar itu memaksa Alisa untuk masuk ke dalam mobil.


Bersambung...


Jangan lupa tinggalkan jejak ya.... komen or vote