My Husband My Hero

My Husband My Hero
38. Kebenaran



Mobil yang membawa Dika kini berhenti di sebuah rumah sakit yang sudah dikonfirmasi sebelumnya. Beberapa perawat sudah menyambut dengan sigapnya, sementara Anggara dan team dokter yang akan menangani Dika pun sudah bersiap. Derap langkah yang saling berkejaran menggema di sebuah lorong rumah sakit saat sesosok tubuh yang tak sadarkan diri di dorong menuju ruang operasi. Beberapa perawat dan dokter pun sudah dipersiapkan dan salah seorang perawat pun kemudian menutup rapat ruangan yang akan di fungsikan itu.


Hampir satu jam, akhirnya Anggara dan beberapa dokter lainnya pun keluar. Anggara menarik nafas panjang, wajah putus asa dr. Muda itu jelas terbaca oleh gadis yang sedari tadi menunggunya dengan tidak sabar. Sementara para perawat masih sibuk memindahkan pasien ke ruang ICU.


"Bang Gara, bagaimana keadaan Bang Dika?" tanya Nungky dengan tatapan berharap akan jawaban yang lebih menenangkan untuk didengar. Sementara Anggara menarik tubuh gadis berambut panjang itu untuk duduk di sebuah kursi stainless panjang yang ada di depan ruangan operasi.


"Kondisinya masih kritis, sayang!" jelas Anggara lirih dengan merengkuh dan mendekap kekasihnya yang terlihat sedang menahan tangisnya.


Nungky hanya bisa menangis di pelukan dr. Anggara. Gadis itu terisak saat kabar mengenai abang sekaligus sosok pengganti papanya kini dalam kondisi kritis.


"Jangan beritahu Alisa dulu. Dan beritahu Mama dengan pelan pelan ya!" ucap Anggara dengan mengelus pundak kurus itu.


"Ya Allah ... Bang, tolonglah abangku. Aku nggak ingin terjadi apa apa dengannya!" lirih Nungky dengan meregangkan pelukan Anggara dan menatapnya penuh dengan permohonan.


"Sayang, Abang sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi, kondisi Bang Dika parah ditambah luka tusukan itu membuatnya kehilangan banyak darah."


"Ya Allah, selamatkan Bang Dika. Dia sosok yang sangat berarti dalam kehidupanku selama ini." gumam Nungky kemudian menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Dan kemudian, gadis berkulit putih itu tergugu dalam tangisannya.


"Sayang, kendalikan dirimu." Anggara kembali merengkuh bahu Nungky agar kekasihnya itu sedikit tenang.


###


Mama Lucy terduduk lemas saat mendengar kondisi putra kesayangannya itu dalam keadaan kritis. Matanya meneteskan bulir bening dengan begitu saja. Perempuan paruh baya yang biasanya selalu terlihat tangguh kini seperti kehilangan seluruh kekuatannya.


"Biar Mama Lucy aku yang antar untuk melihat Bang Dika. Kamu yang akan menemani Alisa." ujar Anggara yang memang memastikan semua akan baik baik saja.


Ditinggalkannya Nungky di klinik


Kasih Bunda sedang dirinya kini mengantar Mama Lucy ke rumah sakit dimana Dika dirawat.


"Dek, Mas Dika sudah pulang?" tanya Alisa saat melihat Nungky memasuki ruangannya.


"Belum, Mbak." ujar Nungky berusaha menutupi keadaan yang sebenarnya.


"Kenapa lama ya? Apa dia tidak Merindukan kita? Dia baik baik saja kan? " mendengar ucapan Alisa Nungky hanya bisa berdehem, tenggorokannya serasa tercekat takut salah bicara.


"Kita belum bisa menghubunginya, Mbak. Jadi belum tau kabarnya. Mbak Al, jangan mikir yang aneh aneh ya! Sebentar lagi Bang Dika pasti pulang." bohong Nungky tidak ingin kakak iparnya shock.


###


Sudah tiga hari Alisa bed rest di klinik kasih Bunda. Dia merasakan kebosanan yang teramat sangat apalagi hatinya yang selalu gelisah memikirkan suaminya yang belum pulang bahkan tanpa kabar apapun. Dia sangat mengenal Dika, jika bukan karena sesuatu, lelaki yang sudah sangat dia rindukan selalu memberinya kabar.


Sore itu sayup sayup terdengar perbincangan di luar ruangannya. Semakin di dengarkan suaranya mirip dengan suara Nungky dan Anggara. Rasa penasarannya membuatnya turun dari tempat tidur.


"Bukan begitu, Bang! Aku takut jika mbak Al mengetahui kondisi Bang Dika yang kritis! " ucap Nungky dengan suara pelan penuh penekanan.


"Ceklek... " sepasang kekasih yang sedang bersitegang itu menoleh bersamaan ke arah Alisa.


"Apa yang terjadi dengan Mas Dika? " tanya Alisa yang sudah berdiri di tengah pintu dengan satu tangannya memegang dinding ruangan.


"Mbak Al...! " panggil Nungky dengan suara tercekat, kali ini dia dibuat bingung bagaimana menjelaskan semua ini pada Alisa.


Gadis itu kemudian membawa Alisa untuk duduk di kursi. Sebelum mengatakan sesuatu, matanya melihat Anggara yang kemudian mengangguk menyetujui dengan apa yang akan di katakan Nungky.


"Mbak, Bang Dika di rumah sakit! "


"Apa? " Seketika Alisa terhenyak kaget.


"Mas Dika kenapa? Bagaimana keadaanya?" cecar Alisa yang saat ini menatap Nungky dengan mata berkaca-kaca.


"Gini aja, sebaiknya kita melihat Bang Dika saja!" sela Anggara.


"Tapi mas Dika baik baik saja kan?" selidik Alisa masih dengan rasa penasaran. Menatap kedua orang di depannya secara bergantian.


"Iya... Sayang ayo bersiap-siap! Aku akan mengurus administrasinya." lanjut Anggara kepada Nungky, dia pun kemudian pergi menuju bagian administrasi rumah sakit.


Kali ini mereka memang tidak punya pilihan lain selain memberi tahu yang sebenarnya kepada Alisa. Nungky rasanya tidak tega saat Alisa menahan semua rasa sedihnya, perempuan itu seperti berusaha menahan semua kesedihannya.


Nungky masih mendorong kursi roda yang di duduki Alisa menuju sebuah ruangan di mana Dika di rawat. Air mata perempuan yang saat ini akan menjadi seorang ibu pun tak bisa di bendung lagi. Hatinya terasa ngilu saat orang yang selalu memberinya banyak kekuatan kini tergolek tak berdaya dengan selang yang menempel di tubuhnya.


"Mas Dika...! " isakannya memang terdengar lirih tapi air matanya meluncur begitu deras saat dia berada di dekat tubuh suaminya.


"Mas, bangunlah! Rasanya aku sudah terlalu lama menunggumu. Jangan biarkan aku menunggu lagi. Aku sudah sangat merindukanmu apa lagi anakmu ini! " isakannya mulai tak bisa dikendalikan, memberi jeda pada kalimat yang terucap, kemudian digenggamnya tangan yang selalu memberi ketenangan itu dan kemudian menciumnya berulang- ulang.


"Mas, jangan biarkan aku sendirian. Bukankah kamu tau, jika aku bukan perempuan hebat. Hidupku tidak ada artinya ketika tanpamu. Bukankah kamu sendiri tau jika aku wanita setengah gila yang karena dirimulah aku belajar menjadi wanita yang kuat. Apa kamu akan membiarkanku berjuang sendiri? Tidurku pun gelisah tanpamu. Lalu... Apa jadinya jika hidupku tanpamu? " Alisa kini menangis tergugu mengingat semua yang sudah dilaluinya bersama laki laki yang saat ini terbaring lemah dengan wajah pucatnya. Tangisnya sudah tak bisa di kendalikan lagi membuat Nungky kembali masuk menghampirinya.


"Mas Dika... Aku tak bisa jika tanpamu!" Nungky memegangi bahu kecil yang berguncang bermaksud membawa Alisa keluar, tapi tangan besar itu menggenggamnya lebih erat saat Alisa akan melepasnya.


"Dek, tangan Mas Dika!" ucap Alisa membuat Nungky terkesiap untuk memanggil Dokter.


Bersambung