My Husband My Hero

My Husband My Hero
19.



"Biar aku saja, Al!" ucap Dika tatkala melihat Alisa yang akan ikut memindahkan semua barangnya ke kamar Dika. Setelah mendapat telepon dari Nungky, jika dia dan Mama Lucy akan datang hari ini dan menginap, Dika bergegas mengambil langkah seribu untuk memindahkan kamar Alisa menjadi satu dengannya.


"Al, kenapa melamun?" tanya Dika yang kemudian memilih duduk di sofa bersebelahan dekat Alisa.


"Ntahlah ... aku mbayangin jijik sendiri, kalo liat video semalam." ucap Alisa sambil bergidik.


"Al, please... dech! Bukan aku kan yang mencium. Tapi, mereka! Lagian itu bagian dari kerjaan, Al." Mendadak wajah Dika mengiba di depan Alisa yang masih sinis.


"Enak ya, kerjaan harus ditempelin dan diciumi cewek sexy? Hih..." Alisa kembali menggelengkan kepalanya. Membuat Dika menarik tubuh kecil itu untuk mendekat.


"Ihhh...apaan sich?" sergah Alisa dengan memukul lengan Dika dan berusaha menjauhkan wajahnya dari Dika.


"Jangan pegang-pegang!


Ich... jangan dekat-dekat, Mas!" Alisa masih berusaha mengelak dan itu malah membuat Dika semakin gemas.


"Semalam dikelonin juga mau aja!" Kilah Dika membuat wajah Alisa merona.


Alisa akan beranjak pergi tapi di tarik pinggang kecil itu hingga hampir terjungkal ke belakang. Ah, tapi Dika memang sengaja membuat Alisa terduduk di pangkuannya.


"Mau kemana?" tanya Dika dengan mengunci tubuh kecil itu dengan kaki dan tangannya.


"Kalo kayak gini nanti juga aku yang disalahin. Kenapa mau dikelonin?" sindir Alisa saat tubuhnya tak bisa di gerakkan.


"Sekarang pinter protes ya?" ucap Dika dengan mencubit pucuk hidung istrinya.


"Al ..."


"Hmmm ...."


"Jika aku tak bisa menahan diri gimana? Biar bagaimanapun aku lelaki normal." lirih Dika saat menatap begitu dalam wanita di pangkuannya itu.


"Dosa nolak suami lo...." lanjut Dika saat wajahnya mulai mendekati wajah yang sudah merona seperti kepiting rebus. Kali ini Alisa hanya terdiam. Perasaan yang bercampur aduk dan jantungnya berdegup tak beraturan. Mau menolak, tapi statement suaminya memang di benarkan olehnya. Kini otaknya seperti tak mampu berfikir dengan baik lagi.


Laki laki dengan pandangan berkabut itu mulai memangkas jarak di wajah mereka, menyentuh bibir tipis dan me****tnya lembut.


Ting ...tong ...ting ...tong....


Suara bel berbunyi membuat ke duanya gelagapan. Alisa mulai mengatur detak jantungnya yang sudah berpacu seperti ingin meledak di dalamnya, baru kemudian berjalan membuka pintu untuk melihat siapa yang datang.


"Shiiittt.... " umpat Dika saat aktifitasnya terganggu. Lelaki itu kemudian berjalan mengikuti Alisa yang sudah kembali dengan bucket bunga di tangannya.


"Apa itu? Dari siapa?" selidik Dika dengan penasaran.


"Secret Admirer, happy sunday. Cuma itu saja tulisannya."


"Sini...!" Dika mengambil paksa bucket bunga mawar. Dan membawannya keluar untuk di buang ke sampah.


"Loh-loh ...kok dibuang?" Dika masih membiarkan Alisa bingung.


"Mau kemana, Mas? " tanya Alisa saat Dika melewatinya.


"Mandi! Ikut?" Dika langsung nyelonong masuk ke kamar. Nampak jelas raut kesal di wajah Dika tidak bisa disembunyikannya.


"Kenapa juga jadi uring-uringan?" gerutu Alisa dengan mengangkat kedua tangannya karena heran.


###


Sejak habis duhur, Dika mengurung diri di ruang kerja. Hingga dia tidak tau jika adik dan mamanya sudah ada di appartmen. Bahkan, ketiga perempuannya kini masih menunggunya di depan tv sambil bercengkerama.


"Al, emang kamu kalo hari libur dicuekin kayak gini?" tanya Mama Lucy sambil mengelus jidat menantunya yang tiduran di pangkuannya sambil memainkan ponsel.


"Nggaklah, Ma! Mama sudah lama datangnya?" sela Dika yang tiba tiba nongol. Lelaki itu kemudian mengambil punggung tangan mamanya dan kemudian menyentil kening Alisa.


"Abang, tangannya jail sekali." dengus Mama Lucy dengan melototkan mata ke arah Dika.


"Itu bisa termasuk KDRT!" sahut Nungky yang sempat melirik kelakuan abangnya. Gadis itu masih asyik di depan laptop milik Alisa karena sedang menonton film trailer kesukaanya.


"Kata Nungky, Alisa sakit karena Abang marahin?" Alisa mendongak mencari wajah suaminya saat mendengar ucapan Mama Lucy.


"Khilaf, Ma."


"Alasan! belajar sabar, Bang. Marah sama istri juga sama saja marah sama diri sendiri, jika Abang mengerti arti suami." Kali ini Mama Lucy mengeluarkan jurus sindirannya.


"Iya, Ma...iya." ucap Dika dengan menunduk mencium kening Alisa.


"Ih ...abang pornografi di depan anak di bawah umur!" sergah Nungky membuat wajah Alisa kembali merona.


Dika memilih menyingkir ke ruang gym dari pada meladeni ke tiga wanita yang super heboh itu. Apalagi makhluk Tuhan bernama Nungky yang paling heboh diantara ketiganya.


♡♡♡


Setelah makan malam, mereka membiarkan Mama dan Nungky untuk istirahat. Alisa masih menatap laptopnya tak menyadari jika Dika sudah Ada di belakangnnya. Bahkan hembusan nafasnya kini terasa di telinga kiri Alisa.


"Kenapa, serius sekali?" tanya Dika sambil menatap layar laptop Alisa.


"Masih bingung jika membuat gambar rangkaian untuk Thesisku." ucap Alisa masih mengotak atik dan memencet beberapa tombol laptop di depannya.


"Kalo aku kasih tau, imbalannya apa?"


"Jangan suka mem..." Kalimat Alisa menggantung saat dia menoleh ke arah kiri bertepatan dengan bibir Dika.


Saat ini keberuntungan sedang berpihak pada lelaki itu. Dika tidak membuang kesempatannya, sejurus kemudian lelaki itu ******* dengan rakus bibir mungil Alisa. Dengan membiarkan laptop yang masih menyala, Dika menggendong Alisa menuju tempat tidur dan menikmati malam panjang mereka yang saling memiliki untuk pertama kalinya.


(Kita skip aja ya ...Thornya lagi kencan juga heeee)"


Dika masih mengeratkan pelukannya di tubuh ringkih yang nampak kelehanan. Lelaki yang sedang tersenyum itu memandangi mata sipit Alisa yang masih tertutup.


"I love you, Al. Aku tak menyangka jika akhirnya cintaku akan berlabuh padamu." lirih Dika dengan mencium lembut istrinya yang masih pulas.


Dika pov


Terkadang aku merasa heran. Ntah, sejak kapan aku mulai mencintaimu. Setelah kita hidup bersama atau sebenarnya sejak aku merasa tidak menyukaimu, justru aku mulai mencintaimu. Aku pikir hanya takdirku yang tak bisa lepas darimu, ternyata hatiku juga. Aku berusaha mengelak dengan dalih kamu bukan tipeku. Tapi ternyata cinta itu memang tak butuh tipe. Selalu mengalahkan ideslisme seseorang. Aku mencintaimu, Al.


Melihat Alisa yang berganti posisi memunggunginya membuat Dika tersenyum. Dan kembali memeluknya dan mendusel di ceruk istrinya.


"Mas Dika, Aku sudah lelah!"lirih Alisa merasakan hembusan nafas suaminya di lehernya.


"Ayo bangunlah! Ini sudah hampir subuh."


"Iya...sabar." Alisa bangun dengan menahan selimut agar tidak melorot.


"Kita mandi bareng, yuk!"


"Nggak ...nggak!" dengan cepat Alisa menggeleng.


"Apa benar, jika teory menyatakan kalo setelah pelepasan laki laki akan bisa mengungkapkan perasaannya? Ah nyatanya tidak, Mas Dika tidak menyatakan cinta padaku." Alisa hanya menggeleng menatap Dika yang sudah masuk ke dalam kamar mandi. Kali ini yang dipikirkan bukan cintanya Dika ,tapi rasa nyeri di area sensitivenya.


"Mungkin dia sudah menahannya sejak lama ha ha ha." Alisa hanya tertawa pelan membayangkan suaminya menahan hasrat selama ini.


Ponsel Dika terus bergetar saat Alisa melihatnya, ternyata panggilan dari Najwa.



Bersambung...