
Alisa menuruni tangga dengan tubuh yang lemas. Bimbingan kali ini, membuatnya sedikit kesal. Berharap sudah tidak revisi tapi ternyata masih terlalu banyak yang harus dia benahi. Wajah putih yang terlihat lebih pucat, sejak pertengkarannya dengan Dika membuatnya kehilangan semangat. Ada rasa kehilangan tapi juga rasa marah pada suaminya itu.
"Alisa..." suara lembut itu menghentikan langkahnya dan sesaat kemudian dia pun berhenti dan menoleh.
"Al, maafin aku. Aku tidak tahu jika Bang Dika sudah menikah denganmu. Sungguh, bukan maksutku mengganggu hubungan kalian." ucap Najwa dengan merasa bersalah.
"Itu urusan keluargaku, Mbak." jawab Alisa dengan nada datar.
"Hubungan kami terlalu lama break, dan aku juga tak tau tentang pernikahan kalian." Najwa masih mencoba menjelaskan pada Alisa.
"Maaf Mbak, aku harus pergi. Oh ya, soal rumah tangga kami itu urusan kami tidak ada sangkut pautnya dengan Mbak Najwa." ujar Alisa yang kemudian meninggalkan perempuan yang masih di penuhi dengan perasaan bersalahnya.
Alisa berjalan menuju pertigaan jalan yang tidak jauh dari kampusnya. Sejak tadi dia memang ingin membeli rujak dari Abang yang mangkal di sana. Membayangkan saja membuat liurnya seolah susah untuk dibendung.
Langkahnya berhenti setelah sedan Marcy berhenti tepat di dekatnya.
"Al, sini masuk!" Suara Handoko membuat Alisa mendekatinya.
"Kamu mau kemana?" lanjut Handoko.
"Al ingin rujak di pojok sana, Pa!" tunjuk Alisa di pertigaan yang masih berjarak tujuh meteran.
"Setelah itu maukah kamu menemani Papa makan siang?" tanya Handoko membujuk Alisa.
"Tentu, Pa!" jawab Alisa yang kemudian masuk di dalam mobil.
Marcy hitam itu berhenti tepat di pertigaan. Dan kemudian Alisa turun sesaat dan kembali masuk dengan membawa dua bungkus rujak buah.
"Al, kemana mobilmu?" selidik Handoko.
"Ada Pa ... cuma Alisa males bawa mobil." jelas Alisa.
"Apa perlu papa ganti dengan yang baru?"
"Nggak usah, Pa! Al, masih suka si putih itu." jelas Alisa.
Sopir Papa Handoko menghentikan mobilnya tepat di depan restoran Jepang yang sudah di instruksikan tuannya sejak tadi.
Handoko merangkul putrinya menuju ruang Vip yang sudah dia pesan, ruangan yang tertutup dan cukup privasi. Beliau hanya ingin menghabiskan waktunya bersama Sang Putri yang selalu menyisakan kerinduan dan rasa bersalah di hati laki laki paruh baya itu.
"Papa dengar kamu kembali ke apartemen? Apa kamu ada masalah dengan Dika?" pertanyaan Handoko membuat Alisa menoleh ke arah papanya.
"Tidak, Pa! Alisa hanya ingin sementara ada di sana!" jawab Alisa membuat Handoko tersenyum ke arah putrinya. Dia masih Alisa yang sama, yang selalu menyimpan rasa sedihnya sendiri.
"Papa habis bertemu dengan Dika. Dia sudah bercerita semuanya. Al, setiap rumah tangga ada lika likunya masing masing. Saling memaafkan, saling menerima itu akan lebih baik." Melihat Alisa yang menunduk membuat handoko menjeda kalimatnya.
"Al, papa kira Dika bukan laki laki yang buruk! Dia memang bersalah, bahkan saat dia mengakui telah menamparmu, rasanya papa ingin menghajarnya saja. Tapi, setiap orang pasti akan melakukan kesalahan. Seperti Papamu ini. Lelaki yang sudah melakukan kesalahan pada tiga perempuan sekaligus. Mama Meylin, Mama Liana dan kamu, Al!" ucap Handoko dengan mata berkaca kaca. Mengingat Meylin wanita terbaik yang pernah mengisi hidupnya.
"Pa, jangan seperti itu! Papa tetap lelaki terbaik yang Alisa punya!" Alisa menggenggam erat tangan Papanya.
"Putriku, peluklah Papamu ini. Papa rindu kamu, Al!" Alisa memeluk papanya, hati Alisa terenyuh saat kata kata rindu itu terdengar begitu dalam.
"Putriku jangan biarkan masalah itu terlarut lebih lama. Itu akan membuat hubungan kalian tidak sehat." ujar Handoko dengan mengelus sayang kepala Alisa.
"Al, jaga diri baik baik! Dan jadilah istri yang bijak." ucap Handoko dengan kembali memeluk erat putrinya.
Mereka telah menghabiskan waktu siangnya hanya untuk saling berbagi, rasa ingin menumpahkan kerinduan yang sudah lama tertahan. Alisa menolak, saat Papa Handoko menawarkan untuk mengantarnya karena Alisa harus belanja terlebih dahulu.
"Al, ..." suara bariton itu membuatnya menoleh.
Laki laki tegap itu tengah membawa koper dan ranselnya berjalan ke arah Alisa yang akan membuka pintu apartemennya.
"Aku akan pindah bersamamu, Al!" ucap Dika dengan wajah memelas.
"Terserah kamulah, Mas. Aku bilang jangan pun kamu tetap maksa masuk!" jawab Alisa dengan membuka pintu appartemen.
Dika menghela nafas berat, mengumpulkan semua kesabarannya untuk menghadapi wanitanya yang sekarang menjadi galak dan jutek.
Alisa meletakkan kresek hitamnya dan mengambil dua piring dan sendok.
"Makan dulu, Mas! aku tidak masak tadi cuma beli udang saus tiram dan capcay."
"Kamu masih sakit, Al?"tanya Dika dengan penasaran.
"Nggak, Mas. Cuma sedikit lelah. Mas Dika makan, dulu! Aku mau rebahan!" Dika menatap punggung Alisa yang berlahan menghilang dari pandangannya.
Dika mendudukkan bokongnya di kursi dengan tertegun. Semarah apapun, Alisa tak pernah mengabaikannya dan itu justru membuat rasa bersalah yang kian menyiksanya.
Dika membawa sepiring nasi dengan udang saus tiram menghampiri Alisa.
"Al ... makan dulu ya!" ucap Dika dengan menghampiri Alisa yang berbaring lemah.
"Aku lagi nggak pengen, Mas!" jawab Alisa yang kemudian memunggungi Dika.
"Al, maafkan aku. Tapi, jangan karena kesalahanku membuatmu sakit!" lirih Dika dengan sudut matanya yang sudah berair.
Mendengar istrinya terisak lirih membuat hatinya terasa ngilu," Al ...jika kehadiranku menyakitimu, aku akan pergi, Al!" lirih Dika dengan menyentuh pundah Alisa.
"Mas, Dika...!" Alisa bangkit dan memeluk erat laki laki yang ada di depannya dengan isakan yang tertahan.
"Maafkan aku, Al" ucap Dika. Dika meregangkan pelukan Alisa dan menatap perempuan itu dengan mata berkaca kaca.
"Kita akan memulainya lagi, Mas!" lirih Alisa dengan mendongak menatap manik mata hitam milik suaminya.
"Dengan Cinta. Aku mencintaimu istriku, wanitaku!" ucap Dika yang kemudian mencium kening wanita di depannya.
"Sekarang makanlah! Aku akan menyuapimu." ucap Dika dengan mengambil kembali piring yang sudah diletakkannya di atas nakas.
"Aku tidak ingin makan nasi, Mas! tadi aku membungkus rujak di dekat kampus."
"Al ... makan nasi dulu, baru makan rujak!" bujuk Dika sekali lagi.
Drt ...drt...drt
Dika mengambilkan ponsel Alisa yang ada di sebelahnya. Mama Liana? Dika sempat mengernyitkan dahinya saat Nama Mama Liana terpampang jelas.
"Iya halo, Ma!" jawab Alisa saat mengangkat telponnya dan hanya selang beberapa saat tubuh Alisa meluruh tak sadarkan diri.
"Al..." teriak Dika dengan paniknya.
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan jejak ya ...vote atau komen.