My Husband My Hero

My Husband My Hero
20. Serangan Fajar



"Kenapa, mukanya di tekuk gitu?" tanya Dika saat keluar dari kamar mandi dan melihat Alisa duduk mematung.


"Kebiasaan cuma pake handuk doang, Mas Dika ini." protes Alisa kembali menelungkupkan selimutnya menutupi seluruh tubuhnya termasuk kepala.


"Al, cepetan mandi keburu habis waktu subuhnya." Dika menarik-narik selimut Alisa yang masih di tahan Alisa dengan kuat.


"Tadi ada telpon." ujar Alisa masih di dalam selimut.


"Siapa yang nelpon pagi sekali?" tanya Dika langsung mengambil ponselnya.


"Wanita pujaanmu!" cebik Alisa.


Dika hanya mengernyitkan dahinya saat melihat Alisa berjalan sedikit tertatih menuju kamar mandi. Saat akan beranjak mengambil kaos, pandangannya tertuju pada bercak darah yang menempel di seprei berwarna cream itu. Senyum tipis kembali tersungging, saat Dika mengingat wanitanya itu sempet meneteskan air mata saat making love.


"Mas Dika, kamu keluar dulu!" ucap Alisa dengan menyembulkan kepala dari pintu kamar mandi.


"Apaan kamu itu? Keluar ya keluar! Lagian semalam aku udah lihat semua." ucap Dika masih menatap laptop milik Alisa untuk membuat program yang akan di pake Alisa untuk mengerjakan Thesisnya.


Alisa mencebikan bibirnya, keluar dengan mengendap endap  karena hanya menggunakan handuk yang melilit di tubuhnya. Dengan kilat Alisa mamakai baju. Dan..., Alisa tersentak kaget bahkan tubuhnya  membentur lemari pakaian karena saat akan berbalik, Dika sudah berada di belakangnya.


"Astagfirullah,.. hobby banget si ngagetin?" ketus Alisa saat dadanya berdebar karena kaget.


"Mas... mau apa?"tanya Alisa was was, takut Dika mencuri start lagi karena tubuh atletis itu mulai condong ke arahnya yang masih bersandar di lemari.


"Cuma mau ambil ini!" Tangan Dika menjulur dan memberikan  satu buku nikah yang barusan diambil dari floating shelf yang terletak di dekat lemari.


"Ohhhh ...." Alisa menghembuskan nafas lega sementara smlirk licik timbul di sudut bibir dari lelaki yang pagi ini nampak segar.


"Ya sud.... hmmmmpppp" Dika membungkam Alisa dengan me****t bibir tipis itu dengan rakus.


"Sory, kamu harus wudhu lagi ya!"


ejek Dika dengan berjalan tanpa dosa setelah melakukan serangan fajar.


"Hih...menyebalkan!" rutuk Alisa dengan berjalan menuju kamar mandi untuk kembali berwudhu.


###


Alisa baru keluar kamar menuju dapur saat melihat Mama Lucy yang sedang memasak di sana.


"Maaf  Ma, Alisa baru keluar kamar." ucap Alisa merasa tak enak saat melihat mama mertuanya sudah menyiapkan makanan untuk sarapan.


"Tenang Al, mama masih cukup strong untuk mengatasi urusan dapur." ucap Lucy sambil tersenyum ke arah menantunya.


Alisa kini tinggal menyajikan semua makanan yang sudah di siapkan Lucy. Sementara Dika dan Nungky masih asyik berselancar dengan ponsel masing masing di meja makan.


"Kamu masih sakit, Al?" tanya Lucy saat melihat Alisa memakai syal.


"Nggak, Mam."


"Paling disakitin Bang Dika, Ma!" sela Nungky yang langsung mendapat pelototan dari Dika.


"Kamu pengen ponakan laki-laki apa cewek, Ky? " mendengar sahutan mamanya, Dika hanya menelan salivanya dengan kasar. Sementara wajah Alisa sudah memerah menahan rasa malu yang amat sangat.


"Cowok, biar pasukan Avanger kita lengkap." sahut Nungky.


Mama dan Alisa kini sudah berada di meja makan. Alisa mengambilkan makanan untuk Dika sementara laki laki itu tak berhenti melirik istrinya yang masih malu malu.


"Ehmmm....sabar, Bang. Pake jeda gitu loh!" ucap Nungky saat melihat abangnya yang menatap terus kakak iparnya.


"Kamu itu ...otaknya dibenerin!" ucap Dika sambil menunjuk jidat gadis di depannya.


"Aduhhh... Mbak Al, kamu kok mau sama Bang Dika? Udah galak, songong, nggak romantis dan satu lagi kurang tajir." 


"Ngoceh terus apa potong uang saku!"mendengar ancaman Dika, seketika Nungky langsung mendelik dan membungkam mulutnya.


"Kalian, nggak pada kuliah atau berangkat kerja?"


"Al, besok bimbingan Thesisnya"


"Kamu, Ky?" tanya Lucy pada anak gadisnya.


"Bolos, Ma." jawab Nungky sambil nyengir. Mama Lucy hanya berdecak.dan menggelengkan kepala mendengar jawaban Nungky.


Setelah membereskan sarapan, Alisa kembali ke kamar. Dilepasnya syal di lehernya dengan menatap pantulan dirinya di cermin.


"Maaf...!" ucap Dika yang tiba tiba melingkarkan tangannya memeluk istrinya dari belakang dan mencium pucuk kepala Alisa.


Alisa malah menjadi malu sendiri, saat melihat banyaknya kismark di sekitar lehernya.


"Pantas saja, ketahuan Nungky dan Mama. Ada yang tak bisa ketutup!" gerutu Alisa sambil menoleh ke kanan dan kiri memperhatikan lagi lehernya.


"Mau ditambahin lagi? " goda Dika saat menaruh dagunya di pundak Alisa.


"Jangan macam macam, Mas!" Ancam Alisa saat melihat wajah mesum suaminya. Ntah, sejak kapan wajah cool itu mendadak menjadi mesum.


Suara ponsel membuat mereka terganggu, seketika wajah Alisa cemburut saat tau yang menelpon Najwa.


"Waalaikum salam, Na?" ucap Dika saat mengangkat telepon dari Najwa.


" ... "


"Iya, kayaknya bulan depan. Aku juga belum tau pastinya."


"... "


"Waalaikum salam" setelah menjawab salam Dika kembali menghampiri Alisa yang sedang melepas seprai yang semalam mereka pake untuk diganti dengan yang baru.


"Al..." panggil Dika


"Hmmm ... " Alisa hanya menyahut dengan deheman. Dika bisa mengerti jika Alisa sedang marah dari perubahan raut wajahnya.


Alisa menyakup sprei dan sarung bantal untuk di bawa ke belakang. Tapi, Dika kembali menghadangnya.


"Al,..."


"Minggir, Mas! Tidak akan selesai nanti." Melihat Alisa menatapnya tajam membuat Dika pun menyingkir. Ditatapnya tubuh kecil itu menuju loundry di belakang.


Sampai di belakang, Alisa baru bisa mengekspresikan apa yang dia tahan dari seperkian menit di dalam.  Mungkin, suaminya memang sering berhubungan dengan gadis itu. Pikiran Alisa hanya tertuju di situ, saat pagi-pagi buta saja Najwa sudah menelponnya. Ah,,, rasanya bikin nyesek di hati saja. Alisa memasukkan sprei kotor ke dalam mesin cuci.


"Aku nggak memaksamu nyuci, Al. Kenapa pake nangis segala?" ucap Dika yang dari tadi memperhatikan Alisa sambil bersandar di pintu.


"Aku nggak nangis." jawaban Alisa membuat Dika tertawa sinis dan berjalan mendekat. Tentu saja, Alisa menegang karenanya.


"Kamu ingin semua orang tau, jika aku sangat memujamu!" ucap Dika sambil memasangkan syal di leher Alisa.


"Ehemmm..." deheman Nungky membuat keduanya salah tingkah.


"Bang, abang ini nggak tau tempat dan waktu. Sabar bang, di tahan! Masih terlalu pagi!" protes Nungky saat melihat keduanya pada posisi tak berjarak. Sejak tadi gadis itu sudah memperhatikan abangnya yang stalking dengan Alisa.


"Seperti parasit kamu!" cetus Dika yang selalu dibikin kesal oleh adik perempuannya.


"Ini...ada yang mengirim bunga!" setelah menyerahkan buket bunga itu, Nungky meninggalkan mereka.


To: si cantik Alisa.


Happy monday, bidadari pujaan.


From: Secret  Admirer.


"Kurang ajar! Sepertinya ada yang sengaja bermain-main." geram Dika sambil meremas kertas itu dan membuang ke sampah sekalian dengan bunganya.



Bersambung