My Husband My Hero

My Husband My Hero
42. Pencemburu



Alisa menyibakan tirai jendela kamarnya agar mentari pagi bisa masuk ke dalam sebelum dia keluar dari kamarnya menuju ke dapur. Pagi yang cerah ini tidak membuatnya terlalu ribet karena stock makanan yang dibawakan Mama Lucy masih banyak tersimpan di kulkas. Perutnya sedikit mual karena itu dia ingin sekali membuat minuman hangat yang mungkin bisa meredakan mualnya.


Alisa keluar dari kamar, dilihatnya Dika sudah sibuk di depan macbook nya. Alisa tau semalam Dika pulang tengah malam. Saat dia berpura pura tidur, lelaki itu berhenti untuk menatapnnya saat keluar dari kamar mandi menuju ranjang. Tapi, Alisa sengaja tidak menyapa suaminya. Bagaimanapun menurutnya jika Dika juga salah, lalu kenapa juga dia yang harus merengek meminta maaf? Menurutnya justru Dika yang harus mengkonfirmasi semuanya, pikir Alisa.


Melihat Dika yang hanya meliriknya tajam,membuat Alisa hanya melewatinya saja. Perang dingin di pagi hari masih memberi kesan sengit untuk dua orang yang masih merasa paling benar.


"Dia pikir dia saja yang bisa marah. " sungut Alisa sambil bergumam dan berjalan menuju dapur.


Alisa memilih membuat air madu yang di tambah sedikit air lemon agar terasa segar. Diliriknya sekali lagi Dika yang masih diam dengan menatap macbook nya. Ternyata tetap saja membuatnya tidak tega untuk tidak membuatkan kopi favoritnya.


Alisa menghampiri Dika dengan meletakkan secangkir kopi di depannya tanpa bicara sepatah katapun, kemudian dia berlalu dan menghampiri segelas air lemon madu hangat yang sudah dia siapkan di meja makan.


Saat meneguk minumannya, perempuan itu melirik suaminya yang beringsut masuk ke dalam ruang kerjanya dengan membawa macbook dan cangkir kopinya.


"Awas ya... Emang enak dicuekin. " kesal Alisa yang masih merasa dicuekin Dika. Lelaki itu memang memilih bekerja di ruang kerjanya agar bisa lebih fokus dengan pekerjaannya. Meski terkesan cuek, tetapi lelaki yang sudah kehilangan konsentrasinya itu masih sering mencuri pandang ke arah Alisa.


"Menyebalkan! " rutuk Alisa dengan meremat tangan dan menghentakan kakinya.


"Bodo amat... yang penting aku siapkan sarapan. Terus ngampus ajalah, sumpek liat muka butek kayak gitu." gumam Alisa yang bergegas menyiapkan menu sarapan di meja. Mau di makan atau nggak terserah Alisa sudah tidak ambil pusing lagi.


Alisa berangkat ke kampus hanya meninggalkan sebuah pesan yang ditulis di kertas dan diselipkannya di bawah gelas yang ada di atas meja makan.


'Aku ngampus dulu, Mas'


Wanita yang saat ini mengenakan dress merah hati itu kemudian keluar apartemen menuju ke kampus.


Ternyata dia cukup lama di dalam ruangan hingga waktu sudah mendekati siang. Dika keluar dari ruang kerjanya, matanya mencari sosok wanita yang sudah menyita titik fokusnya itu. Lelaki berwajah dingin itu melangkah menuju kamar, tapi ternyata kosong. Bahkan, kamarnya sudah tertata sangat rapi. Saat melihat laptop Alisa di tempat biasa tidak ada, membuat Dika yakin jika Alisa sudah berangkat ke kampus.


Lelaki yang masih mencari istrinya itu mengeram kesal karena Alisa tidak berpamitan jika memang sudah pergi. Pandanganya kini tertuju pada sebuah kertas yang ada di bawah gelas. Dan ternyata benar, Alisa hanya menulis pesan saat pergi ke kampus.


"Astaga, Al. Keras kepala benar kamu." gerutunya dengan meremas kertas itu dan membuangnya ke sembarang arah.


###


Alisa mengintip di mana Dika berada. Malam ini dia sudah menyiapkan sesuatu yang membuat suaminya harus menyerah. Lingerie merah yang cukup terbuka dan berbahan tipis yang belum pernah dipakai itu sudah disiapkan. Senyum licik Alisa terbit di bibirnya saat membayangkan reaksi Dika saat melihatnya dengan pakaian seterbuka itu.


Alisa menyiapkan diri di depan cermin terlebih dahulu sebelum keluar kamar. Sebenarnya dia sendiri merasa risih memakai baju seseksi itu. Tapi, malam ini dia harus mengalahkan keras kepala suaminya.


Dika memainkan game di ponselnya. Mau bekerja pun percuma, saat perang dingin dengan istrinya masih berlangsung hanya membuatnya tidak fokus bekerja.


Setelah mengambil minum, Alisa tidak langsung masuk ke kamar bahkan dia akan mengambil toples camilan yang terletak di meja dekat suaminya duduk.


"Jangan menggodaku, caramu cukup buruk, Al." Akhirnya Dika bersuara juga dan mencekal lengan tangannya.


"Siapa yang menggoda? Lagian kalo nggak suka, ya ... tutup mata saja. " kilah Alisa yang akan membawa toples camilannya tapi ditahan oleh Dika. Laki laki itu kemudian berdiri dari duduknya dan kini posisi mereka sudah tak berjarak lagi.


"Malam ini, kamu yang bertanggung jawab dengan ulahmu sendiri." geram Dika dengan menggendong istrinya ke kamar.


"Apaan mas Dika ini." rengek Alisa pura pura marah saat jebakannya kini berhasil. Mereka melewati malam panas dengan menggebu karena Alisa benar benar sudah membuat hasratnya sudah tidak terkendali.


"Maafin aku, Mas. Kemarin ucapanku sudah keterlaluan. " ujar Alisa masih dengan memeluk dada bidang suaminya setelah aktifitas panas mereka.


"Aku juga tidak benar, Al. Aku sudah melampau kapasitasku. Tapi, percayalah... Aku tidak punya maksut apapun. Aku memang tidak kaya, tapi aku masih punya harga diri sebagai laki laki, Al."


"Kenapa semalam pulang larut malam? Kemana mas Dika pergi? " selidik Alisa masih menempelkan pipinya di kulit dada Dika yang masih lembab karena keringat.


"Temanku ngajakin ketemuan, untuk menyerahkan informasi jika perkebunan teh milik Papa Handoko digunakan Mama Liana untuk menanam ganja. Mungkin itu sebabnya dulu Andress sama Mama Liana ngotot menginginkan perkebunan itu. "


"Apa? " Alisa melonjak dari tidurnya membuat Dika mendengus kasar dengan membuang wajahnya dari Alisa.


"Ditutup dadanya, Al. Kamu bisa membangunkan lagi yang di bawah. Itu bahaya untuk yang di dalam perut kalo aku lepas kontrol. " ucap Dika dengan menarik selimutnya ke atas.


"Hehehe iya, Mas. Aku cuma heran segitunya Mama Liana. Sungguh aku tak pernah menyangkanya."


"Makanya aku harus gerak cepat. Soalnya takut kamu juga akan keseret dalam kasus ini. Sementara kemarin banyak yang aku selesaikan, selain keselamatanmu saat aku di lokasi penangkapan Andress aku juga harus tetap memikirkan keselamatan keluarga Bang Yoga. " jelas Dika dengan melingkarkan lengannya di tubuh telanjang istrinya.


"Maafin aku, Mas. Aku yang terlalu emosi. Kadang aku minder menjadi pasanganmu karena aku tidak bisa apa-apa. Semua kamu yang yang menghandle. Terus apa gunanya aku jadi istrimu? " desah Alisa yang merasa dirinya sangatlah buruk.


"Al, tidak semua orang berfikir Sama sepertimu. Aku hanya memimpikan istri yang mencintaiku, memahamiku dan dia selalu ada untukku. Tugas beratmu akan dimulai saat anak kita lahir. Aku sudah menyukai Alisaku yang sekarang. Aku sudah senang kamu bisa menyeimbangi


karakterku yang juga punya banyak kelemahan. "


"Aku mencintaimu, Mas." lirih Alisa dengan kembali memeluk tubuh kekar di dekatnya.


Tbc