
Pukul tiga pagi Dika baru pulang, lelaki berperawakan tinggi tegap itu berdiri di pinggir tempat tidur menatap istrinya yang sudah tertidur. Sarung bantal yang masih terlihat basah membuatnya menyadari jika belum lama Alisa tertidur sehabis menangis. Tangan kecilnya juga masih memegang ponsel. Sebenarnya, itu tidak biasa Alisa lakukan, tidur dengan memegangi ponsel.
Dika membuka bajunya dan menyisakan boxer kemudian ikut berbaring di dalam selimut di samping istrinya. Berlahan Alisa membuka matanya saat mengendus aroma tubuh maskulin lelaki yang sudah ditunggunya hampir semalam.
"Mas Dika..." lirihnya saat melihat pria yang menyungging senyum tipis di depannya.
"Aku mencemaskanmu, Mas." gumam Alisa membuat Dika terus memeluknya dan mencium kening istri.
"Habis nangis?" tebak Dika.
"Nggak!"
"Ini!" tunjuk Dika di sarung bantal yang masih basah. Sedangkan Alisa hanya tersenyum.
"Dasar cengeng, ayo kembali tidur!" ucap Dika dengan melingkarkan lengan dan kakinya di tubuh Alisa.
###
"Dasar bodoh!" hardik Andres saat mengetahui beberapa orangnya kini di tangkap dengan barang bukti berkilo kilo jenis sabu dan extasi.
Emosinya pun memuncak ketika bersamaan pula salah satu club malam miliknya kini ditutup karena menjadi tempat perjudian.
"Shiiittt ...." umpatnya berkali kali dengan menendang salah satu kursi di dekatnya.
"Kenapa, Ndress?" Suara perempuan itu membuat Andress menoleh. Setelah melihat siapa yang datang, lelaki bertubuh kekar dan selalu tampil necis itu mendengus kesal melihat Liana sudah berada di dalam ruangannya.
"Sepertinya ada yang mensabotase gerak kita." lanjut Liana yang kemudian duduk dengan menyilangkan ke dua kakinya di depan Andress.
"Maksut tante?" selidik Andress dengan kedua lengan bertumpu pada meja.
"Aku curiga jika semua ada hubungannya dengan suami Alisa. Sejak Alisa menikah, langkahku sudah tak semulus dulu. Bahkan saat aku akan menekan lawyernya Mas Handoko untuk pengalihan perkebunan, itu pun sangat susah aku tembus. Aku yakin, ini saling berhubungan." jelas Liana dengan mengetuk ketukan jarinya di meja.
"Yah, mungkin juga tante. Lelaki itu seperti sudah profesional dalam menghadapi situasi apapun. Tapi, jangan harap aku menggunakan Alisa sebagai umpan!" tegas Andress.
"Jangan bodoh, Ndress? Jangan katakan kamu menyukainya."
"Ya, aku menyukainya! Dan aku tidak akan melibatkan wanita dalam urusanku." tegas Andress.
"Jangan munafik, Ndress!" sarkas Liana dengan lirikan sinisnya.
"Untuk uang dan harta, aku sudah punya banyak aset dan kekayaan, Tan. Aku memang mafia dan pendosa. Tapi bisnis prostitusi itu tidak akan masuk dalam daftar kejahatanku karena melibatkan wanita. Apalagi aku juga menyukai Alisa." jelas Andress dengan menatap perempuan baruh baya yang masih terlihat nyentrik.
"Ccckkkk..." Liana berdecak kesal.
"Baiklah, kita akan berjalan sendiri-sendiri! Aku akan menggunakan caraku sendiri." tegas Liana kemudian berlalu meninggalkan ruangan Andress.
###
Alisa mematut dirinya di depan cermin. Bibirnya mengkerut dengan pipi sengaja mengembang saat melihat tubuhnya terlihat semakin gendut. Pandangannya kemudian beralih pada bayangan Dika di cermin, membuatnya kemudian menoleh kebelakang.
"Jangan menatapku seperti itu!" ujar Alisa saat Dika bersedekap menatap tubuhnya yang terlihat semakin berisi.
"Aku suka, kamu terlihat lebih seksi." jawabnya tanpa mengalihkan tatapannya.
"Stop ... jangan mendekat! Kita nanti malah nggak jadi belanja kalo Mas Dika terus maju." sergah Alisa saat suaminya kini sudah berjarak beberapa jengkal saja dari tempat dia berdiri. Mendengar peringatan istrinya Dika hanya terkekeh dan tetep saja lelaki itu terus maju mendekat hingga nafas mereka kini saling beradu. Dika menyecap bibir mungil yang selalu membuatnya menagih.
"Jadi keingat, pertama kali aku menciummu!" ucap Dika dengan menyingkirkan anak rambut istrinya yang jatuh terurai di wajah.
"Kenapa?" jawab Alisa dengan wajahnya yang merona.
"Sangat kaku bahkan tak ada reaksi apapun. Hingga nafasmupun seperti ikut berhenti." ledek Dika dengan smilirk licik di sudut bibirnya.
"Sudah- sudah...ayo berangkat!" Alisa mengalihkan rasa malunya dengan mengajak Dika segera berangkat belanja. Melihat rona malu di wajah istrinya membuat Dika kembali terkekeh.
Mereka sampai di sebuah mall yang ada di kota L. Dika masih saja mengekor di belakang istrinya yang berjalan lebih dulu menuju sebuah distro sebuah brand ternama. Saat melihat istrinya sudah masuk toko, Dika memilih berdiri di dekat sebuah escalator yang ada di depan toko itu.
"Bang, sedang apa disini sendiri?" tanya suara yang tidak asing itu membuatnya menoleh. Ternyata, Najwa dan Reni sudah berdiri di dekatnya.
"Lagi mengantar Alisa belanja." jawab Dika dengan melihat ke arah pintu masuk toko.
"Oh... doyan shopping juga ternyata!" cetus Reni.
"Lagi butuh saja!" bela Dika dengan kalimat singkatnya.
"Tapi yang namanya cewek pasti doyan shoppinglah, tinggal ada duit apa nggak." mendengar ucapan Reni, Dika hanya tersenyum sinis.
"Kamu udah kenal istrinya Dika?" tanya Reni kepada Najwa yang dari tadi masih terdiam.
"Sudah." jawab singkat Najwa.
"Nggak habis pikir aku, Dik..."
"Mas..." sela Alisa membuat kalimat Reni menggantung membuat ketiga orang di depannya kemudian menoleh ke arahnya secara bersamaan.
Melihat Alisa yang sudah berdiri menenteng paper bag membuat Dika segera menghampiri Alisa.
"Kita duluan! Oh ya Ren, rekeningmu belum tentu digitnya lebih banyak dari punya istriku." sinis Dika berjalan melewati mereka dengan mengapit pinggang istrinya.
Najwa menatap kepergian sepasang suami istri itu dengan tatapan nanar. Ada sedikit penyesalan yang menggelitik hatinya saat melihat Dika yang begitu menyayangi Alisa. Jika saja, dia langsung menolak perjodohan itu. Mungkin, lelaki yang sudah mengambil separoh hatinya itu menjadi miliknya.
Alisa dan Dika memasuki sebuah resto di lantai tiga mall. Dika masih melingkarkan lengannya di pinggang Alisa meski perempuan itu masih terdiam. Yah, mungkin tidak biasa untuk Dika bersikap semanis itu. Tapi, dia tau jika istrinya sedang merajuk.
"Al, nggak ngambek, kan?" ucap Dika saat duduk di depan istrinya.
"Nggak kok, cuma aku masih cemburu mas saat melihat Mbak Najwa. Aku merasa kecil saat berhadapan dengannya. Dia perempuan yang sesuai dengan tipemu." lirih Alisa, perempuan itu mulai sedikit terbuka dengan perasaannya.
"Tapi, aku mencintaimu. Dan ternyata itu tak butuh tipe." ujar Dika yang kemudian menggenggam jemari mungil istrinya.
Mereka terdiam sejenak saat pelayan membawakan makanan yang mereka pesan. Soup iga ... dari kemarin Alisa sudah menginginkannya. Dia kembali mengingat jika itu kesukaan Papanya.
"Jangan terlalu pedas, Al!"ujar Dika dengan menahan tangan Alisa yang akan menambahkan sambal.
"Hae... kakak ipar. Bagaiamana kabarmu?" Suara bariton itu membuat Alisa dan Dika menoleh bersamaan.
Bersambung.....