
Dika pulang kerja agak malam, hari ini dia mengikuti tim untuk menilik sebuah lokasi yang menjadi jalur gudang penimbunan senjata ilegal.
"Al..." panggil Dika saat melihat suasana sepi. Tak ada jawaban, membuat lelaki itu berjalan ke arah dapur.
Sunyi...
Membuatnya kembali teringat jika Sekarang tidak ada Alisa. Perempuan yang selalu tersenyum saat melihatnya pulang.
"Betapa aku merindukanmu, Al!" lirihnya menatap meja makan. Dimana biasanya Alisa akan menyiapkan secangkir kopi hitam untuk menyambut kepulangannya. Miris sekali, Saat ini dia merasakan rasa kehilangan yang teramat sangat.
Jam sembilan malam lewat, tapi Dika memutuskan untuk pergi ke appartemen Alisa. Selain dirinya yang sudah merindukan istrinya. Itu juga karena Nungky bilang, jika akhir akhir ini Alisa mengeluh tak enak badan.
Dika memencet bel cuma sekali saja, dengan jeda 15 menit jika tak ada yang membukakan pintu, dia akan menerobos keamanan kode pintu appartemen Alisa. Sumpah, baru kali ini dia bertingkah layaknya pencuri. Dika masih menatap jam rolex yang melingkar di pergelangan tangannya. Akhirnya dia memutuskan untuk mengotak atik kode pintu itu.
Yes... senyum tipis tertambat di bibirnya, saat pintu utama appartemen itu bisa dia bobol juga. Matanya mengedar melihat pintu kamar yang terbuka. Dika melangkahkan kakinya dengan pelan menuju kamar yang didesain cantik milik istrinya tapi ternyata kosong.
Dika mencari suara tv yang menyala dan ternyata Alisa meringkuk tertidur di sofa depan tv. Sejenak dia menatap wajah cute yang menguasai rasa rindunya itu. Bibir mungil yang selalu tersenyum lebar dan hidung kecil yang selalu diusap usapkan di dadanya saat mata sipit itu terpejam.
"Alisaku..." lirihnya jika dia bisa sedikit saja tidak menggampangkan perasaan wanita. Tidak akan seperti ini jadinya.
Dika menggendong tubuh kecil itu menuju ke kamar. Alisa sedikit menggeliat saat di taruhnya di ranjang dan itu sempat membuat Dika sedikit panik, takut Alisa akan terbangun. Berlahan dia merangkak di samping Alisa. Rasanya dia teramat sangat merindukannya, dilingkarkannya lengan kokoh miliknya memeluk istrinya, sambil tersenyum konyol. Ini pertama kalinya dia beraksi bagaikan pencuri hanya untuk memeluk wanita yang sangat dia rindukan.
Alisa menggeliat, tubuhnya terasa berat, saat di buka matanya ternyata Dika sudah ada di sampingnya dan menindih tubuh kecilnya.
"Mas Dika!" teriakan Alisa membuat Dika mengerjapkan matanya yang masih mengantuk.
"Apa apaan kamu, Mas? Keterlaluan ... kau selalu saja bertindak seenakmu sendiri." amuk Alisa yang kemudian berdiri di dekat ranjang.
"Setidaknya, kamu menghargai privasiku! Jangan seenaknya keluar masuk di tempat orang !" Mendengar amarah Alisa yang menggebu gebu membuat Dika terdiam. Ntah sejak kapan Alisa jadi segalak ini.
"Kita bukan orang lain, kita sudah terikat dalam sebuah pernikahan, Al!" ucap Dika yang turun dari ranjang.
"Berhenti....!" bentak Alisa saat melihat Dika hanya telanjang dada dan mengenakan celana jeans. Tapi, yang di komando malah justru terus berjalan mendekat.
"Al, aku suamimu." lirih Dika saat jarak mereka hanya terjeda beberapa jengkal saja.
"Suami macam apa kamu Mahardika Setya Praja, meninggalkan istrinya hanya untuk bersama teman temannya? Apa itu perlakuan suami, menampar istrinya di depan mantan kekasihnya yang masih di cintainya? Itu sangat menyakitkan, seandainya kamu bisa mengerti perasaan istrimu..." mendengar ucapan Alisa membuat Dika semakin merasa bersalah. Betapa banyaknya kesalahannya. Dia sudah terlalu menyakiti wanita yang seharusnya dia lindungi.
"Al. Aku sudah tidak mencintainya!" sela Dika dengan suara bergetar.
"Lalu apa? Memujanya...? Mengaguminya? Aku tau dia istimewa ... Dia santun, Pintar masak, cantik, solehah dan smart. Apalah aku ini, hanya gadis setengah gila yang kau pungut." tangis Alisa pun pecah, Air matanya kini menghambur begitu saja.
"Bahkan kau tak pernah memujiku seperti kamu yang selalu memujinya. Apa yang aku lakukan di matamu tak pernah ada artinya. Semua yang baik baik hanya ada dalam diri Najwa." Sela Alisa dengan isakannya yang keras.
"Apalagi untuk mencintaiku hik hik hik" Dika meraih tubuh kecil itu dalam pelukannya saat Alisa menangis tergugu mengeluarkan semua sesak di dadanya.
"Ini memang salahku, aku mencintai seseorang dalam sebuah ikatan rekayasa ini!" ucap Alisa sambil memukul berulang ulang dada bidang yang saat ini mendekapnya.
"Aku mencintaimu, Al! Seharusnya aku mengatakannya dari dulu. Aku ingin kamu merasakan cinta itu, Al! Aku tidak punya banyak kata untuk bisa mengungkapkan perasaan cinta." ucap Dika dengan masih memeluk istrinya.
Alisa meregangkan pelukannya saat mengingat surat cinta di wallpaper laptopnya
"Siapa yang menulis surat cinta di wallpaper laptopku?" ketus Alisa dengan menatap tajam Dika.
"Aku, Al!" lirih Dika.
"Jujur!" desak Alisa.
"Aku yang menulis tapi Anggara yang mengeja." kejujuran Dika membuat Alisa kembali memukulnya berulang ulang dengan sekuat tenaga.
"Al, kamu mau kemana? " Dika mengekor saat melihat Alisa keluar dari kamar.
Alisa mencari rendang yang masih tersisa di kulkas. Kemudian memanasinya sebentar dan membawanya ke meja makan.
"Al, kamu mau ngapain?" Dika menatap istrinya penuh tanya. Dan kemudian melihat jam dinding yang menujukan pukul dua dini hari.
"Al, sejak kapan kamu doyan makan?"
"Sejak lapar!" Mendengar jawaban jutek Alisa, Dika hanya menghela nafas panjang, berharap bisa lebih extra sabarnya.
"Aku juga mau, Al!" Tanpa menjawab Alisa mengambilkan piring dan nasi untuk Dika. Yah, seperti itu satu diantara sifat Alisa yang membuat Dika semakin mencintainya, Alisa tidak pernah mengabaikan orang lain.
"Kodenya... tanggal pernikahan kita. Tidak usah membobolnya!" Mendengar ucapan Alisa sepertinya usahanya tidak sia sia.
Alisa mengambil piring kosong Dika dan membawanya ke dapur. Tanpa bicara lagi, Alisa kembali ke kamar yang dibuntuti Dika.
"Tidak boleh melewati pembatas ini!" ucap Alisa menata guling dan bonekanya di tengah tempat tidur.
"Tapi, Al..."
"Atau tidur di sofa!" ucap Alisa dengan menarik kembali selimutnya dan memunggungi Dika.
Dika's Pov
Aku akan menerima semua aturanmu, Al. Karena aku tidak ingin jauh darimu. Ya, mungkin bahasamu dan bahasaku berbeda untuk mengungkapkan perasaan cinta. Seandainya kau tau, aku sudah tidak mencintai Najwa, bahkan aku sampai melupakan barang barang yang sempat aku simpan untuknya hingga aku lupa menyingkirkannya.
Jika aku masih mengharapkannya, sudah tentu aku mengejarnya di belakangmu. Tapi tidak Al, hatiku sudah tertaut untukmu. Najwa hanya sebuah cerita masa lalu. Dan aku hanya menghormatinya saja. Bukan mencintainya seperti aku mencintaimu dengan cara yang apa adanya. Sekali lagi aku akan menerima hukumanku darimu Al.
Dika menatap punggung istrinya yang terus bergerak. Dia tau Alisa belum sepenuhnya terlelap.
TBC