My Husband My Hero

My Husband My Hero
41. Pencemburu



Suasana sudah berganti petang tapi mereka masih berada di kawasan hutan. Sebenarnya Dika masih belum diperbolehkan mengangkat beban terlalu berat, tapi mau tidak mau dia harus menganggkat dongkrak untuk mengganti ban mobilnya yang bocor.


"Mas Dika, apa perutmu tidak sakit? tanya Alisa mendekat ke arah Dika menghawatirkan bekas luka tusuk di perut suaminya. Tidak Hanya menghawatirkan Dika, tapi dia sebenarnya juga takut dengan suasana petang di tengah hutan.


"Aku tidak apa-apa, Al. " jawabnya masih dengan mengusap peluh yang membasahi dahinya.


"Kamu takut, Al? " tanya Dika saat melirik Alisa yang mendekatinya. Dia tau jika istrinya paling takut dengan sesuatu yang berbau hantu.


"Nggaklah ... ! " bohong Alisa membuat Dika menyungging senyum tipisnya di sebelah bibir. Masih perempuan yang sama, gengsinya di gedein.


Dika kemudian berdiri, mengambil jaketnya yang di taruh di jok tengah mobilnya.


"Kalo kamu kedinginan masuk saja ke dalam mobil. " ucap Dika dengan memakaikan jaketnya di bahu Alisa. Sejak tadi dia melirik istrinya yang mengelus lengan tangannya sendiri karena hawa dingin di kawasan hutan.


"Makasih, Mas! " ucap Alisa saat Dika memakaikan jaketnya.


"Makasihnya nanti, kalo sampai apartemen! "


"Hehehe ... aku pikir gratis. "


Dika kembali menyelesaikan pekerjaan yang tertunda yaitu mengganti ban serepnya sehingga terpasang sempurna.


Mereka meneruskan perjalanan dengan lancar, hingga pukul delapan malam baru sampai di kota XX. Dika membelokkan mobilnya di sebuah cafe yang dulu menjadi langganan tempat menghabiskan waktunya.


"Kita akan makan dulu! " ujar Dika saat berhenti di parkiran.


"Mas, bolehkah aku bekerja lagi?" Mengingat kafe itu Alisa malah merindukan  masa saat dia masih bekerja.


"Kalo thesismu sudah selesai, dan bisa membagi waktu dengan si baby." jawab Dika saat mereka berjalan memasuki kafe Horison. Kafe yang menjadi langganan keduanya sebelum saling mengenal dan menikah.


"Hae bro... lama lo nggak kesini? Ngilang kemana aja? " sapa kasir cafe yang sudah akrab dengan Dika saat mereka memasuki ruangan full musik itu.


"Kenalin ini istriku Alisa. " ucap Dika memperkenalkan Alisa. Alisa kemudian mengangguk dengan menampilkan senyumnya.


"Bukannya, ini mbak yang dulu sering pesan coffee late kalo pulang kerja, kan? Astaga... Kenapa dunia begitu sempit. " cowok bergigi gingsul itu memukul pelan jidatnya karena merasa luar biasa dengan ketidaksengajaan itu.


"Iya..." jawab singkat Alisa.


Dika memilih duduk di dekat meja kasir. Dia masih ingin mengobrol dengan kasir sekaligus pemilik kafe Horison itu.


"Bro, lo nikah kok nggak ada undangannya? " tanya Arya dengan menyodorkan buku menu kafenya.


"Dulu, istri lo itu incaran banyak pelangganku. Eh, nggak taunya lo yang dapetin." lanjut Arya saat menunggu mereka memilih menu.


"Pelangganmu yang mana?"


"Ada beberapa yang  nanyain tapi yang paling sering itu pemilik hotel sebelah kafe. " ucap Arya meninggalkan meja mereka dengan menyisakan rasa cemburu dalam hati Dika.


"Kamu kenal, Al? " tanya Dika dengan wajah masamnya. Sedang Alisa hanya menggelengkan kepala.


Dika's Pov


Mungkin kamu tak pernah tau, Al. Aku sebenarnya pencemburu berat. Yah, mungkin bisa dikatakan aku cukup posesif. Mendengar cerita seperti itu membuat hatiku panas, padahal itu dulu.


"Mas Dika... Kenapa melamun? " ucap Alisa saat suaminya menatapnya tanpa berkedip.


"Hae Dik... ! " Seorang pria dengan kemeja dan celana bahan kini berdiri di dekat mejanya.


"Bang Yoga... Apa kabar? " sapa Dika.


"Ada yang  ingin aku bicarakan tentang keluarga Handoko. " ujar Yoga yang merupakan lawyer keluarga Handoko. Alisa menajamkan pendengarannya saat menyebut nama keluarga  Handoko.


"Silahkan duduk, Bang! Kenalkan istriku Alisa. "


"Loh... Dia teman istriku kan?" Melihat Alisa, Yoga pun terkaget, ternyata putri tuan Handoko adalah teman istrinya.


"Ternyata Nyonya Liana adalah orang yang cukup berbahaya. Dia sempat mendesakku bahkan terkesan mengancam. Untung saja kamu sudah mengatur orang-orangmu untuk menjaga keluargaku."


"Maksutnya ini keluarga Handoko papaku? " sela Alisa yang sejak tadi merasa penasaran.


"Iya, Al. Lawyernya Papa ternyata Bang Yoga! "


"Baiklah, aku mau pulang dulu. Kita bahas lagi semuanya saat di rumah saja! " ucap Yoga dengan menepuk bahu Dika dan tersenyum  pada Alisa sebelum keluar dari kafe itu.


Alisa masih terdiam. Pertemuan lawyer papanya di cafe  itu membuat banyak pertanyaan yang saat ini bersarang di otaknya. Siapa sebenarnya Mama Liana? Dan kenapa suaminya bisa bertindak sejauh ini tanpa sepengetahuannya? Dan kenapa hanya masalah kepemilikan saja diributkan? Yang dia tau papanya sudah membagi segalanya  jauh sebelum kejadian tragis itu.


"Al, sudah sampai. " ucap Dika saat melihat istrinya yang hanya terdiam melamun saat mobilnya berhenti di baseman.


Alisa pun turun dan kemudian langsung berjalan menuju lantai tiga belas di mana itu letak unit apartemen Dika.


Dika hanya terdiam saat melihat Alisa yang kemudian masuk ke kamar dan duduk di sofa .


"Al, kamu kenapa? " tanya Dika saat dia menyadari Alisa marah, tapi tidak tau kenapa istrinya marah.


"Bukan begitu caranya, Mas. Kenapa kamu mencampuri semua urusan pribadiku tanpa sepengetahuanku? " Alisa terlihat begitu kesal ternyata Dika bertindak sejauh itu tentang keluarganya.


"Seharusnya kamu bilang ke aku dulu. Bukan lantas kamu handle semua tanpa bertanya dulu denganku. Itu tentang pribadiku bukan kapasitasmu! Aku saja belum membahas semua tentang peninggalan papa, kenapa kamu sudah mengambil alih semuanya? "


Mendengar kata-kata tajam Alisa membuat Dika memilih beranjak keluar kamar dengan menutup pintu dengan keras. Dia berniat pergi ke balkon untuk meredam emosinya. Ya, kata-kata Alisa sudah menyentil hatinya.


Alisa terdiam setelah terjingkat kaget karena Dika membanting pintu kamarnya dengan keras. Dia tau jika Dika sedang marah karena ucapannya yang mungkin berlebihan. Sungguh, itu di luar kendalinya. Saat suaminya melakukan banyak hal tentang keluarganya membuat Alisa emosi karena dia saja belum berfikir kesitu.


Alisa beranjak dari duduknya kemudian berdiri di dekat jendela menatap gemerlapnya lampu malam yang menghias kota . Memikirkan reaksi Dika membuatnya kembali berfikir, apakah ucapannya sudah sudah menyakiti perasaan suaminya?


Alisa menghela nafas panjang. Seharusnya dia menanyakan alasannya dulu. Perempuan itu memutuskan keluar kamar dengan mencari Dika. Dia berjalan menuju arah balkon tapi belum sampai di sana, dia melihat Dika mengambil jaketnya dan akan pergi keluar.


Bisa terlihat rona marah yang nampak dari wajah lelaki bertubuh tinggi tegap itu. Tidak ada kata yang terucap saat matanya melihat Alisa yang sudah berdiri tidak jauh dari nya. Dika hanya melewatinya begitu saja saat Alisa sedang berdiri dengan menatapnya.


Alisa memejamkan matanya yang sudah memanas saat Dika mengabaikan keberadaannya, hatinya terasa ngilu dengan sikap Dika yang mengacuhkannya.


Tbc


Jangan lupa vote or komen ya