
"Mas Dika..." lirih Alisa Masih dengan menangis, perempuan yang terlihat lesu itu merasakan jari jari suaminya bergerak bertaut di genggaman tangannya.
Nungky membawa Alisa keluar saat dokter sedang memeriksa kondisi Dika. Mereka kini duduk di depan ruangan. Pandangannya menengadah seolah menahan air mata yang ingin menghambur keluar. Dari jauh nampak wanita setengah baya itu berjalan tergopoh gopoh mendekati dua perempuan yang sedang mencemaskan keadaan Dika.
"Bagaimana keadaan Dika?" tanya Mama Lucy kepada anak dan menantunya dengan rona cemas yang tak bisa disembunyikan lagi. Belum sempat di jawab oleh mereka, dokter dan perawat yang memeriksa Dika keluar. " Bapak Dika sudah siuman. Tapi saya harap, masuknya bergantian agar tidak mengganggu pasien!" ucap dokter itu sebelum meninggalkan mereka. Ada sebuah kelegaan yang kini menghuni hati ketiga wanita yang ada di luar ruangan.
Mama Lucy kini membawa Alisa masuk ke dalam ruangan. Dika sudah membuka matanya. Manik hitam itu semakin terlihat sayu saat menatap arah pintu, senyum tipis terbit dengan samar dari bibirnya saat kedua wanita yang dia sayangi berjalan menghampirinya.
"Anaku, jangan membuat Mamamu khawatir. Mama tidak mau merasa kehilangan lagi." lirih Mama Lucy kemudian memeluk dan menciumi anak lelaki kesayangannya. Netranya kini menitikan air mata bahagia dan haru, rasanya dia seperti menemukan Dika kecilnya saat ini.
"Aku masih hidup, Ma. Doa mama membuatku sekuat ini." lirih Dika terdengar seperti bergumam sambil tersenyum. Mata itu kemudian beralih ke arah wanita yang secara tadi menatapnya sendu.
"Baiklah... Mama akan menemui Nungky di luar. Jangan membuat mama khawatir lagi!" Mama Lucy kembali mencium anak laki lakinya kemudian melangkah keluar ruangan, meninggalkan mereka berdua.
Alisa berdiri, di tatapannya laki laki yang menyita semua rasa khawatirnya itu dengan air mata yang terus membasahi pipinya.
"Apa kau tidak ingin memelukku, Al? Aku sangat merindukanmu."
"Mas Dika... " panggil Alisa kemudian menghambur memeluk laki laki yang sudah dia rindukan. Dengan menangis sesenggukan Alisa masih memeluk suaminya. Rasa putus asa saat melihat orang sangat dia cintai terbaring dengan wajah pucat membuatnya tak ingin menjauh dari pelukan lelaki itu.
"Al, aku merindukanmu! Tapi kamu bisa menyakitiku jika tak bisa mengendalikan dirimu seperti ini. " lirihnya masih menyungging senyum di bibirku membuat Alisa kemudian bangkit.
"Jangan membuatku takut. Aku takut kamu meninggalkanku... Apa jadinya hidupku tanpamu, Mas?" Wajah putih itu sudah lembab karena air mata yang tak mau berhenti menetes.
Dika hanya tersenyum dengan tatapan yang tak mau lepas dari wanita yang sangat dia rindukan. Wanita yang membuatnya selalu berjuang untuk selalu menemaninya.
"Halo... Bang, gimana keadaanmu?" ucap Anggara yang masuk bersama beberapa perawat. Memecahkan romantisme dua sejoli yang sudah saling merindu.
"Kau membuat ketiga wanitamu hampir kehilangan detak jantungnya karena mencemaskanmu!" lanjut Anggara sambil mengawasi beberapa perawat yang akan memindahkan Dika keruangan perawatan VIP.
Alisa yang menolak memakai kursi roda pun akhirnya berjalan mengikuti kemana Dika dipindahkan bersama Nungky dan Mama Lucy.
Mama Lucy dan Nungky kini duduk di sofa melepas semua rasa cemasnya yang hampir setiap detik menderu hatinya. Sedangkan Alisa kini duduk di tepi tempat tidur Dika, bersebelahan dengan suaminya yang masih berbaring.
"Apa kabarnya Al? " ucap Dika dengan mengelus perut Alisa. Wajah oriental itu seketika merona saat memergoki lirikan Nungky ke arah tangan abangnya yang sedang mengelus perutnya.
"Jangan khawatir bang, dia seperti aunty nya strong pokoknya." cetus Nungky masih dengan memotong buah apel dan menaruhnya di piring.
"Kamu ini nyela terus." Mama Lucy menjewer telinga anak gadisnya. Membuat Nungky meringis menahan sakit di telingannya.
"Mama istirahat di rumah saja. Biar Al yang menemani Mas Dika. " ujar Alisa tak ingin melihat Mama mertuanya kelelahan.
"Aku temani ya, Mbak Al!? " sela Nungky.
"Mau nemenin apa ingin bertemu pak dokternya?" ledek Alisa yang kemudian mendapat kedipan mata dari Nungky agar tidak membahasnya di depan abangnya.
"Nggak apa apa ya, Mas? " tanya Alisa dengan mengelus lengan suaminya.
###
"Mas, apa kamu tidak Merindukan apartemen?" tanya Alisa dengan membereskan barang barang mereka, karena hari ini Dika sudah di perbolehkan pulang.
"Tentu saja, Al. " Jawab Dika masih menatap ponselnya. Dia akhirnya bisa lega karena targetnya sudah berhasil dan yang paling membuatnya lega adalah sekarang tidak mencemaskan keselamatan Alisa dari Andress.
"Mas, aku ingin kembali mengerjakan Thesisku. Udah bab empat. Kan sayang, kalo di pending terus. Oh ya, apa yang kamu rindukan di appartemen? "
"Tempat gymku. " jawab Dika santai membuat Alisa menoleh. Dika hanya terkekeh saat melihat Alisa melotot ke arahnya. Laki laki yang sejak tadi hanya menatap ponselnya pun kini beringsut dari duduknya kemudian mendekati istrinya dan melingkarkan lengannya di perut Alisa.
"Tentu saja kamar kita!" bisiknya dengan tersenyum tipis yang membuat wajah Alisa merona.
"Maksudnya buk... Hmmpppp! " Kalimatnya menggantung saat menoleh ke wajah suaminya, bibir itu sudah mel***t lembut miliknya.
"Jangan genit mas!" lirih Alisa dengan menahan rasa malu yang kemudian memasukkan kembali barang mereka ke dalam tas.
"Bukan genit, Al. Tapi ungkapan kerinduan pada wanita yang sudah membuatku jatuh cinta." kilah Dika masih memeluk istrinya dari belakang mengecup puncak kepala calon ibu dari anaknya.
Alisa membalikkan tubuhnya menghadap suaminya, jarak tipis diantara mereka membuat Alisa dengan mudah menatap mata sayu suaminya.
"Sejak kapan kamu belajar merayu, Mas? " selidik Alisa.
"Ehm ... Ehm... Mesra mesraanya di tunda dulu sampai di rumah kakak ipar. " Sela dr. Anggara yang tiba tiba berada di ruangan mereka bersama Nungky.
"Kau ini mengganggu saja, Ang. " dengus Dika yang kemudian melepaskan pelukannya.
"Mau pulang nggak? Aku yang akan mengantarmu." tawar Anggara dengan merengkuh bahu gadis yang sedari tadi di sebelahnya. Sementara Nungky masih menunduk takut dengan reaksi abangnya.
"Awas kamu, Ang. Jangan macam macam! Aku masih bisa saja meremukkan tulang -tulangmu! "
Ancaman Dika membuat Anggara tertawa. Yah, sahabatnya itu terlalu posesive dengan ketiga wanitanya.
"Jangan khawatir. Aku akan menjaganya dengan sepenuh hatiku." ucap Anggara membuat gadis di sampingnya tersipu malu.
"Ayo ... Aku sudah selesai." Kalimat Alisa membuat mereka meninggalkan ruang VIP yang beberapa hari ditempati Dika.
Sedan marcy milik Anggara kini memasuki halaman rumah yang terlihat rindang. Alisa dan Dika berjalan ke dalam rumah yang kemudian diikuti Nungky dan Anggara. Dan, ternyata Najwa sudah duduk di ruang tamu bersama Mama Lucy.
"Bang, aku dengar Abang sakit. Aku pikir Abang sudah di rumah. Jadi aku langsung ke sini. " ucap Najwa yang sudah berdiri saat melihat Dika masuk ke dalam rumah.
Tbc
Jangan lupa tinggalkan jejak ya gengs...
hahahh@ nggak cepet up di semprot reader ls aku tercintah hahahah.... tapi tetep I lope u pull selalu menunggu karya aku. Lebih senang lagi author ini jika ada yang ikut pindah lapak untuk MH2 session dua