
Alisa membereskan sisa makan malam dan membawanya ke dapur. Hari ini terasa panjang dan melelahkan baginya. Seharusnya, dia tidak harus belanja karena harus mengerjakan revisian.
"Al, bikinin kopi ya!" teriak Dika dari ruang tengah dengan MacBook di depannya.
"Iya ..." sambil mencuci piring Alisa membuatkan kopi untuk Dika.
Dapur sudah bersih bersamaan kopi yang sudah siap. Alisa berjalan menghampiri Dika dengan membawa secangkir kopi yang dipesan Dika.
"Ya Allah, Mas Dika ... ! Kenapa berantakan banget?" teriak Alisa kesal saat melihat kemeja, jaket, di sofa dan tas yang tergeletak asal di lantai, belum lagi remot tv dan remot ac. Sungguh, keadaan ruang tengah membuat tekanan darahnya spontan naik.
"Apaan, Al? Nggak usah sehisteris gitulah!" Sahut Dika tanpa menoleh ke arah istrinya yang sedang memunguti barangnya dengan kesal.
"Ya allah.... " hanya kata itu yang keluar dari mulut Alisa, saking kesal yang tak bisa diungkapkan lagi. Bahkan dia hanya berjongkok dengan memeluk barang yang sudah di pungutnya dengan memegang kepalanya dan menangis kesal.
"Al... kamu kenapa?" tanya Dika tanpa Dosa.
Alisa ganti pura-pura tak mendengar, dia masih meluapkan rasa kesalnya. Hingga, Dika datang mendekatinya.
"Kamu, kenapa?" tanya Dika penuh penasaran.
"Kenapa, kenapa? Lihatlah, Mas! Semuanya berantakan, belum lagi abu rokokmu yang tercecer. Aku masih belum ngerjain revisi. Kamu malah seenaknya mengotori ruangan." amuk Alisa saat Dika ada di depannya. Tapi yang dimarahi malah senyum-senyum tanpa dosa dan menggaruk tengkuknya membuat Alisa bertambah kesal.
"Nggak usah sehisteris gitulah, Al!" timpal Dika dengan santainya.
"Aku capek, Mas! Kamu nggak pengertian sama sekali." ucap Alisa masih mengeluarkan air mata kesal dan berdiri bermaksut membawa baju kotor milik Dika ke dalam keranjang.
"Iya, ya maaf! Mana... " Dika mengambil bajunya dari tangan tangan Alisa.
"Kamu tidur dulu saja, kalo udah ngantuk!" saran Dika agar istrinya berhenti mengomel.
"Kalo merokok itu, ya...jangan sejorok itu...."
"Remotnya juga, itu jangan asal di geletakin!"
"Kabel charge itu juga, jangan ke sana ke mari! Pusing aku liatnya!"
Cup....
Dika membungkam omelan istrinya dengan mencium bibir tipis Alisa dan memberi ******* singkat. Seperti sedang di hiptnotis, tubuh Alisa seketika mematung jantungnya berdetak lebih cepat karena shock dengan reaksi yang di lakukan suaminya.
"Nggak usah ngomel ngomel!" ujar Dika yang sukses membuat istrinya bungkam.
"Nanti aku bersihin!" lanjut Dika membawa baju kotor ke ruang loundry.
"Orang macam apa kamu ini Mahardika Setya Praja. Menyebalkan!" umpat Alisa setengah berteriak kesal.
"Ganteng, suami idaman pokoknya!"
Ck...Alisa hanya bisa berdecak mendengar sahutan suaminya. Dia masih memunguti remot dan ponsel yang tergelatak sembarang untuk di taruh dekat rak tv.
"Sana istirahat!"
"Istirahat apaan, aku masih ngerjakan revisi!" ucap Alisa dengan wajah cemberut.
"Atau, aku kerjain saja?" goda Dika membuat Alisa mengepalkan tinju ke
arahnya dan kemudian berjalan menuju kamar.
Jam sepuluh malam Dika masuk kamar. Dan ternyata Alisa malah tertidur dengan laptop menyala dan beberapa tumpuk buku di depannya.
"Dasar!" gerutu Dika sambil memindahkan istrinya di kasur. Dan kemudian melihat apa yang dikerjakan Alisa.
"Oalah udah hampir selesai!" Dika melihat kembali revisian yang ada di draf Thesis Alisa. Dan mulai membenarkannya di laptop milik Alisa. Biar bagaimanapun, laki laki yang pernah kuliah dua jurusan itu dengan mudah mengerjakan revisian Alisa yang tinggal sedikit di bab pertama.
Alisa terkaget saat dia sudah berada di atas tempat tidur. Matanya menatap jam dinding pukul empat pagi.
"Ya Allah ... aku kesiangan, revisianku belum selesai juga!" gumamnya saat akan beranjak . Tapi lengan kekar yang dari tadi melingkar di perutnya pun menahan tubuh kecil Alisa.
"Tidur lagi!" lirih Dika masih dengan memejamkan mata.
"Mas aku harus belajar!" ucapnya dengan tubuh tak bisa digerakan.
"Jangan melawan suami!" gumam Dika di telinga Alisa. Lelaki itu malah melingkarkan kaki dan wajahnya mendusel di ceruk istrinya membuat Alisapun menyerah.
Alarm di ponsel milik Alisa berbunyi, membuat Dika mengerjapkan mata dan melihat jam lima pagi. Dia bangun terlebih dahulu sebelum membangunkan istrinya yang masih terlelap.
"Al. Bangun! Sudah subuh." ucap Dika yang hanya di jawab Alisa dengan deheman dan mata tertutup.
Ingat revisian membuat Alisa segera menuju laptop dan tumpukan buku setelah solat subuh yang singkat.
"Ih ...yang benar saja?" Matanya mengernyit berfokus bergantian pada coretan di draf dan laptop. Kali ini dia seperti tak percaya.
"Masak iya, sich?" gumamnya mendetailkan kembali revisian yang sudah dikerjakan dengan bagus. Kali ini senyumnya mengembang. Saat matanya tertuju pada tulisan di sebuah sobekan kertas.
Upahnya nanti malam
"Mas Dika ..." Alisa berlari keluar kamar mencari suaminya. Betapa girangnya dia saat ini.
Ditubruknya tubuh yang sudah mengeluarkan keringat dan memeluknya erat penuh kegirangan.
"Makasih! Oh...my husband my hero. Kamu sweet banget!" ucap Alisa dengan kembali memeluk erat Dika.
"Jangan cuma terima kasih. Di dunia ini kan nggak ada yang gratis."
"Nanti malam kan?" ucap Alisa dengan meregangkan pelukannya dan mendongakkan kepala menatap Dika yang tersenyum penuh arti.
"Dua ronde!"
"Ihh...apaan pemerasan itu namanya."
"Thesismu lumayan susah itu. Jika bukan lulusan teknik elektro juga nggak bakal bisa."
"Bukanya Mas Dika lulusan teknik informatika?"
"Hae, suamimu ini punya IQ 163. Nanggung jika ngambil satu gelar."
"Ihhh ...sombong amat!" Alisa mencubit perut keras Dika dan meninggalkannya umtuk kembali ke kamar.
"Al, jangan lupa dua ronde!" teriaknya membuat Alisa hanya menggelengkan kepala.
###
Wajah Alisa sumpringah saat keluar dari ruang dosen pembimbing. Kali ini dia bisa next bab tanpa harus melalui perdebatan yang cukup pelik.
Dia bisa bernafas lega untuk jeda dua minggu ini. Alisa masih mendekap draf skripsi dengan tas yang menggantung di bahu kirinya. Ah, dia rasa dia akan menunggu Dika di dekat halaman rektorat saja. Wanita berwajah oriental dengan tampilan sederhana tapi memberi kesan elegant itu melewati ruang dosen.
"Hae..." suara lembut itu membuat Alisa menoleh .
"Iya..." jawab Alisa sedikit kaget karena Najwa yang memanggilnya.
"Bukankah, kamu saudaranya Bang Dika? Kita pernah bertemu di rumah Tante Lucy, kan?"tanya Najwa membuat Alisa tersenyum kaku dan mengannguk.
"Kenalkan aku Najwa, aku mengajar pendidikan agama islam di sini!"
"Alisa... masih mahasiswa." jawab Alisa.
"Dulu kuliah di kota ini?" lanjut Alisa.
"Bukan, aku lulusan al-Azhar Kairo Mesir." Mereka berjalan bersama hingga akhirnya tiba di sebuah kelas besar.
"Aku masuk ke kelas dulu!"
"Iya..." jawab Alisa dengan suara melemah. Kali ini dia kembali meragu dengan kehidupannya. Najwa... cantik, pintar dan memang santun. Benar apa yang dikatakan suaminya jika dia adalah figure idaman.
Saat sampai di halaman depan, matanya tertuju pada laki laki yang sudah berada di atas motor sport dengan kaca mata hitam yang yang bertengger di hidung mancungnya. Laki laki yang kini juga menatapnya menyisipkan rasa cemas di hati Alisa.
"Mas Dika... kupasrahkan hubungan dan perasaanku pada, Tuhan!" lirih Alisa sedikit putus asa saat berjalan menghampiri Dika.
"Sudah selesai kan?" tanya Dika saat Alisa berada di depannya.
"Iya..."
Dika memakaikan helm di kepala Alisa dan merekapun meninggalkan kampus.
Motor sport itu melaju diantara ramainya jalan di sore hari.
"Mas Dika, apa kamu sudah mengetahui jika Najwa ada di kota ini?" gumamnya dalam hati kemudian dia mengeratkan lengannya di perut Dika seakan takut kehilangan laki laki di depannya. Dika hanya melirik lengan Alisa. Dia merasakan, sebuah pelukan yang tak biasa itu.
Bersambung