My Husband My Hero

My Husband My Hero
26. Terkilir



Dika berjalan tergesa dengan menggendong Alisa menuju UGD. Wajah paniknya tak bisa di sembunyikan lagi. Meskipun, beberapa pasang mata pun telah menatapnya, dia tak peduli. Setelah sampai di klinik mereka langsung di sambut oleh tim medis. Sementara Dika hanya diperbolehkan menunggu di luar.


"Bang, tenang!" ucap Nungky saat melihat abangnya yang masih mondar mandir tak jelas. Sesekali lelaki yang terlihat cemas itu meraup wajahnya dengan kasar.


"Tadi gimana kejadiannya?" selidik Dika yang baru sadar untuk menanyakannya kejadian itu pada adiknya.


"Nggak tau, Bang. Aku tadi sempet lihat sedan itu terparkir di pinggir jalan, ya...seperti mobil-mobil lainnya. Nggak taunya, tiba tiba mobil itu  melaju dengan kencang saat Mbak Al sudah ada di tepi jalan." jelas Nungky menjelaskan sebatas yang dia tahu. Dika hanya terdiam, dia sudah merasa ini pasti unsur kesengajaan. Tapi dia berharap Alisa tak menyadari semuanya. Agar istrinya tidak menjadi paranoid.


Setelah melakukan serangkaian pemeriksaan sekaligus fotorongent akhirnya Nungky dan Dika diperbolehkan masuk.


"Gimana, Dok?" tanya Dika dengan cemas.


"Pergelangan kakinya terkilir, tapi bukan yang jenisnya berat, ibu Alisa bisa langsung dibawa pulang!" ucap dokter tersebut.


"Oh ya,tapi jangan beraktifitas dulu selama 2-3 hari ya, untuk tidak memperlebar robeknya ligamen! Nanti saya akan menuliskan resep untuk pereda rasa nyeri dan bisa diambil sekalian di bagian administrasi. Saya permisi dulu!" Dokter senior itu kemudian pergi meninggalkan mereka.


"Terima kasih, Dok!" ucap Dika kemudian menghampiri Alisa yang sedang terbaring.


"Masih sakit?" tanya Dika pada Alisa.


"Sedikit...".


"Setelah Nungky menyelesaikan administrasi, kita bisa langsung pulang. Tapi kamu nggak boleh jalan dulu selama 3 hari!" jelas Dika yang hanya diiyakan Alisa.


###


Alisa menatap wajah cool  yang saat ini mengendongnya. Seandainya waktu bisa berhenti, aku ingin selalu seperti ini, di dekapmu, menjadi prioritas dari segala kecemasanmu, pikir Alisa dengan menatap dalam wajah suaminya.


Nungky membuka pintu appartemen. Dika langsung masuk ke dalam kamar. Di taruhnya tubuh Alisa di atas ranjang.


"Al, aku mau mandi dulu! Sudah gerah banget." Setelah membaringkan Alisa, Dika berbalik menuju kamar mandi. Alisa melotot saat melihat punggung Dika yang masih membekas luka cakarannya yang semalam. Pantas saja, jika banyak orang menatapnya aneh termasuk perawat yang seperti menahan senyum saat melihat tubuh bidang suaminya yang hanya berbalut kaos singlet.


"Ichh... benar-benar memalukan." gerutu Alisa karena rasa malunya.


Dika keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Kulit exoticnya dan dada bergelombang yang masih basah itu benar-benar terlihat sexy. Melihatnya saja Alisa sudah merona belum lagi jika menyentuhnya.


"Kenapa wajahmu merah kayak tomat, Al?" tanya Dika dengan seringai licik di sudut bibirnya.


"Nggak..." jawab Alisa singkat. Apapun bentuk alasannya, itu tidak bisa memungkiri kenyataan jika wajahnya sudah merona. Jadi Alisa memilih untuk tidak terlalu menanggapi.


"Sexy dan menggoda, kan?" ucap Dika dengan memakai kaos. Alisa tak ingin menjawab suaminya karena menahan rasa malu.


"Bang, ada tamu!" teriak Nungky dari luar, setelah mengetuk pintu kamar beberapa kali.


"Sebentar...suruh tunggu!" jawab Dika yang kemudian melempar handuknya di tempat tidur.


"Mas Dika, kebiasaan...!"


"Sebentar Al, aku keluar dulu!" Mendengar jawaban Dika membuat Alisa mencebikkan bibirnya.


Alisa masih mengotak atik ponsel barunya. Membuat akun baru dan dan melengkapinya dengan fiture aplikasi yang dia butuhkan. Hampir satu jam lebih dia beradaptasi dengan ponselnya hingga Dika kembali masuk ke kamar dengan membawa sebuah kotak makanan.


"Dari mana, Mas?" tanya Alisa dengan menatap ke suaminya yang berdiri di depannya.


"Najwa... Dia yang datang bersama Anggara." Nama itu lagi, kalau boleh jujur rasanya Alisa enggan mendengarnya. Ada kecemasan sendiri jika suatu saat dia kehilangan Dika.


"Nanti saja!" ucap Alisa masih kembali menatap ponselnya.


Dika hanya mengernyitkan dahi merasa heran. Dia mengambil satu potong cake dan kemudian duduk di tepi ranjang.


"Kalo makan jangan di tempat tidur! Nanti banyak semutnya." ucap Alisa dengan nada datar tapi matanya masih menatap ponsel. Dika mulai mencium gelagat aneh pada sikap Alisa. Ah, dia mulai hafal gaya-gaya merajuk istrinya. Setelah menyelasaikan suapan terakhirnya Dika merebahkan tubuhnya di ranjang dengan kepala di atas pangkuan Alisa.


"Mas Dika, jangan begini ...akh!" ucap Alisa sedikit ketus dan menampilkan wajah juteknya.


"Dosa Al, ngusir suami. Apalagi sampe jutek kayak gitu." Kali ini Dika menggunakan senjata terampuhnya untuk menaklukan istrinya. Alisa memang bukan seseorang dengan religi yang kental, tapi hatinya lembut, dia selalu open dengan apa yang dikatakan Dika mengenai kebenaran. Mungkin itulah, yang membuat Dika menyukai Alisa.


Dika memiringkan kepalanya, wajahnya kini mengahadap perut datar alisa dengan jarak yang sangat tipis. Kemudian melingkarkan kedua tangannya di pinggang Alisa. Duch...seperti inilah yang membuat Alisa panas dingin berdebar-debar bahkan lidahnya terasa kelu dan hanya membuatnya salah tingkah.


"Kapan ya, ini ada babynya?" ucap Dika dengan mencium perut datar Alisa. Seketika Alisa menegang, jantungnya serasa tak bisa diajak berkompromi lagi. Bahkan untuk semua jawaban dari ucapan Dika pun dia tak mampu terucap.


"Mas Dika, geli!" Mendengar ucapan Alisa Dika makin mengeratkan kedua lengannya di pinggang Alisa. Menciumi perut datar itu hingga lupa jika Alisa sedang sakit.


Suara ponsel Dika yang berbunyi kali ini menyelamatkan Alisa. Dengan malas Dika beranjak mengambil ponsel yang ada di atas nakas.


"Iya, Ars?" jawab Dika dengan malas.


"Kayaknya lagi ganggu nich!"  goda Arsen dari seberang dengan ketawa ketawa.


"Itu tau, emang ada apa?" tanya Dika sedikit kesal.


"Jangan lupa seminggu lagi syukuran tiga bulanan, lo!"  Arsen kembali mengingatkan Dika agar sahabatnya bisa datang. Ya , arsen memang mengundang semua teman temannya sekolah selain dari sebagian karyawannya. Dia ingin acara itu sekaligus untuk ajang reoni.


"Udah?" tanya Dika saat Arsen terdiam.


"Iya..." jawab Arsen.


"Sialan lo...kirain ada yang penting." Dika langsung mematikan panggilan Arsen.


"Yang kamu sukai dari Ajeng apa, Mas?" tanya Alisa tiba tiba, saat melihat Dika meletakkan ponselnya.


"Emang kenapa?"


"Tiba tiba ingat jika Mas Dika pernah suka Ajeng, kan?"


"Al, kenapa harus membahasnya lagi? Itu kan, dulu ...lagian aku cuma suka saja dengan matanya." ucap Dika yang tak ingin momen berduanya kini kembali rusak dengan pertanyaan pertanyaan konyol.


Bersambung........


Yuk yang baru gabung dengan author remeh di My Husband My Hero, bisa Mampir di 'Merindukan Jingga' yang sudah End dan Rahasia Cinta Zoya.