My Husband My Hero

My Husband My Hero
40. Rujak Ilegal



Alisa menatap perempuan yang selalu tampil anggun itu dengan menampilkan senyum yang sedikit di paksa. Yah, mungkin dia hanya sekedar menjenguk sahabat sekaligus tetangga, tapi entah kenapa hati Alisa masih merasakan cemburu saat harus berhadapan  dengan perempuan yang pernah menjadi cinta dari suaminya.


"Maaf , aku masuk dulu! Aku merasa lelah sekali. " pamit Alisa yang kemudian berjalan masuk menuju ke kamar.


Dika menatap Alisa yang berlalu dari ruang tamu. Kali ini dia merasa tersudutkan, satu sisi dia tau jika Alisa sedang tidak baik baik saja. Tapi satu sisi Najwa bertamu ke rumah dengan niat baik ingin menjenguknya.


Alisa merebahkan tubuhnya di ranjang, selain lelah ada rasa sakit seperti sedikit mencubit hatinya saat melihat wanita yang mendekati sempurna itu ada diantara hidupnya.


Siapa sih yang tidak cemburu jika suaminya sering bertemu dengan sang mantan? Tapi dia sadar sangat tidak wajar jika dirinya harus bersikap berlebihan. Alisa mencoba mengalihkan pikirannya, dia memilih mengambilnya ponselnya, kemudian membuka sebuah aplikasi novel online.


"Hik... hik... hik... " Sesekali dia menyeka air matanya. Tidak pernah di bayangkan jika kisah cinta seperti itu benar benar nyata. Hampir setengah jam Alisa menatap ponselnya hingga dia tak menyadari jika Dika sudah berdiri menatapnya dalam diam.


"Al, bukan maksutku membuatmu menangis. Maafkan aku!" Mendengar suara bariton itu membuat Alisa menoleh menyibakkan selimutnya kemudian duduk menatap Dika dengan mata lembabnya.


"Al, aku sudah menjelaskan ke Najwa jika aku sangat mencintaimu, pernikahan kita bukan rekayasa meski tanpa resepsi." jelas Dika dengan duduk di samping Alisa. Menatap istrinya dengan perasaan bersalah, sementara Alisa masih terdiam.


"Jangan menangis lagi karena masa laluku! " ujar  Dika dengan sebelah tangannya mengusap mata istrinya yang masih lembab.


"Aku bukan menangisi itu! " cetus Alisa.


"Terus... kenapa kamu langsung masuk ke dalam? Bukannya cemburu? " tebak Dika dengan mengerutkan dahinya.


"Ichhh... siapa yang cemburu? Aku masuklah... Dari pada ngerecokin mantan kekasih yang saling bernostalgia." cebik Alisa dengan  kembali melengos mencari ponselnya.


"Terus kenapa menangis? " Dika terus mencecarnya dengan pertanyaan yang sama.


"Nih... Baca novel, cerita sedih. Sepasang mantan kekasih yang sulit move on." Alisa menyodorkan ponselnya ke arah Dika.


"Nggak nyindir, kan? " selidik Dika dengan  melirik tajam istrinya


"Ngerasa nggak bisa move on ya?" Goda Alisa membuat Dika tersenyum sinis dan beranjak menuju ke kamar mandi. Tapi Alisa dengan gesit menyekal lengan suaminya membuat lelaki itu berbalik dan kemudian sedikit membungkukkan tubuhnya ke arah istrinya. "Jangan memancing soal masa lalu, sola move on, soal mantan, nanti makan hati sendiri! " jawab Dika dengan mencium puncak kepala istrinya.


"Jadi? " Alisa masih mengejar, menunggu jawaban.


Bukannya menjawab lelaki itu malah menyecap bibir tipis istrinya. "Aku mencintaimu." ucap Dika kemudian beranjak ke kamar mandi dengan menggelengkan kepala. Yah, bagi seorang pria mengungkapkan perasaan dengan bahasa verbal itu sangatlah sulit, tapi kenapa perempuan tak pernah mengerti bahkan menganggap semua itu sangatlah penting.


Dika mencari istrinya saat keluar kamar mandi karena Alisa sudah tidak tampak di dalam kamar. Dia melihat ruang makan yang kosong, kemudian lelaki itu keluar mencari a


Alisa di halaman samping tapi ternyata tidak ada sosok yang di carinya. Dika yang semakin penasaran di mana istrinya pergi pun kembali masuk mencari Alisa ke dalam. Langkahnya saat ini tertuju ke arah dapur.


"Al... Alisa! " Panggilnya tak juga mendapat jawaban.


"Pyaaarrr.... "Mendengar suara barang pecah dari dapur membuat Dika segera bergegas melihatnya.


"Tunggu...! "Sergah Dika saat melihat Alisa akan memungut pecahan mangkuk sambel rujak yang terjatuh.


Alisa sudah mengkerut saat melihat ekspresi horor suaminya. Perempuan itu hanya diam mematung. Sementara Dika menuju kebelakang mencari sapu.


"Kamu ini ngapain ngumpet ngumpet? " tanya Dika masih dengan menyapu pecahan kaca yang tercecer.


"Sama Mas Dika, pasti nggak boleh kalo makan rujak terus! "


Dika masih terdiam kemudian membawa keluar pecahan kaca memasukkannya pada tempat khusus di belakang.


"Sudah-sudah sana! " usir Dika saat melihat Alisa mengepel sisa sisa sambel yang tercecer. Alisa tak berani membantah, kali ini dia hanya mengerutkan bibirnya sambil berjalan menuju meja makan.


"Dia yang pengen. " kilah Alisa sambil menunjuk ke arah perutnya.


"Jangan alasan terus! Siapa yang ngambilin mangganya? " tanya Dika dengan berdiri di samping Alisa.


"Dokter Anggara! "


"Astaga ... Kalian bersekongkol membuat rujak ilegal." ujar Dika dengan melengos menahan  kesal.


"Puuuffhhh... Apa Mas? Rujak ilegal? " ujar Alisa sedikit terkaget dengan menahan tawanya mendengar istilah yang aneh.


####


Alisa mengerjapkan mata melihat matahari yang sudah mulai redup. Siang tadi dia menghabiskan beberapa jam untuk istirahat sebelum melakukan perjalanan menuju ke kota L. Dari tadi pagi Alisa mulai mempacking barang-barang yang akan di bawa kembali ke apartemen. Alisa meminta Dika untuk kembali ke kota L  agar bisa menyelesaikan thesisnya sebelum perutnya bertambah besar.


Dengan rasa malas perempuan itu kembali mengecheck barang barang yang akan mereka bawa sebelum berangkat.


"Mas, kenapa nggak mas Dika yang bikinin aku thesis? " tanya Alisa saat dirinya membayangkan sulitnya mengerjakan bab empat.


"Emang yang kuliah siapa? "


"Yah, kan yang penting titlenya! "


"Sama juga bohong, Al! Punya title tapi tak faham. " jawab Dika yang kemudian membawa dua kopernya ke dalam mobil. Membuat Alisa mengekor di belakang suaminya.


"Al..." panggil mama lucy yang membawakan rendang yang sudah dibungkus  di kotak makanan.


"Makasih ma,.. Mama sehat sehat ya di sini." Alisa mencium punggung wanita paruh baya itu dan kemudian memeluknya. "Terima kasih, Ma. Aku seperti mempunyai Mama kembali. " gumam Alisa dalam hati.


Saat senja mulai berubah kemerah merahan mereka melakukan perjalanan menuju kota L. Dika mengemudikan mobilnya dengan  santai. Saat ini dia memilih untuk lebih hati-hati.


Jalan mulai berkelok dan menanjak. Dan suasana semakin petang. Sesekali Dika melirik istrinya yang masih menatap ke luar jendela.


"Al, kenapa nggak tidur? Biasanya udah ngiler kalo sampai area hutan ini. "


"Apanya ngiler... bohong banget Mas Dika ini. " ketus Alisa dengan menoleh ke arah suaminya membuat Dika terkekeh. Lelaki itu paling suka menggoda istrinya.


"Al, kenapa kamu mau jadi istriku. Sedangkan aku bukan cowok tajir yang bisa memberi segalanya yang kamu mau." Pertanyaan yang sebenarnya sudah lama ingin Dika tanyakan.


"Aku nggak terlalu miskin untuk mencari cowok tajir, Mas. " dengus Alisa kesal menurutnya pertanyaan Dika kali ini terlalu mengada ada.


Sepanjang jalan mereka menghabiskan waktu dengan mengobrol hingga akhirnya Dika menghentikan mobilnya karena merasakan mobilnya sedikit oleng.


"Kenapa, Mas? "


"Sepertinya bannya kempes" Jawab Dika kemudian lelaki itu turun dari mobilnya untuk mengecheck. Alisa pun ikut turun dari mobil mendekati suaminya.


"Bocor ya? " ujar Alisa saat melihat ban belakang mobilnya kempes.


"Iya... sial banget" Dika mendengus kesal sambil berkacak pinggang sebelum mengeluarkan ban serepnya.


Tbc